NovelToon NovelToon
Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Tamat
Popularitas:377.7k
Nilai: 5
Nama Author: wurikart

Menceritakan tentang Sandra seorang fashion jurnalist. Bagaimana ia di dunia kerjanya dan trauma dengan kisah percintaannya di masa lalu.

Kehidupan Sandra di dunia jurnalistik merupakan jiwanya, apalagi dia ditempatkan di desk fashion. Hubungannya dengan desainer tanah air terjalin dengan akrab dan menyenangkan.

Tapi itu tidak sejalan dengan kehidupan percintaannya, yang selalu dibayangi trauma masa lalunya. Banyak pria jatuh cinta padanya, namun semua ia tolak.

Hingga Bimo, teman baru di kantornya mengajaknya bicara, dan mengurai permasalahannya.

Dengan pria mana kira - kira cintanya disematkan?

Bagaimana lika - liku cintanya?

Apakah setelah ini Sandra akan menemukan cintanya dan berakhir bahagia atau terungkit lagi masa lalunya?

Inilah kisah Kasandra Putri Jingga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wurikart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Side Job Kami

Aku terbangun dari tidurku. Aku masih berusaha mengingat saat ini ada dimana. Aku membalikkan tubuhku dan ternyata ada Mas Bim yang sedang tiduran di sampingku. Ingat aku sekarang. Kita ada di cottage nya keluarga Mas Bim.

Dia yang sedang nonton film menoleh ke arahku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya. Harum citrus tercium dari jarak kami yang dekat ini. Tubuhku mendadak kaku, jantungku tiba-tiba berdetak cepat. Aku deg-degan. Gak tahu apa yang aku rasakan saat ini.

"Sudah bangun? Minum dulu ya." Dia langsung duduk dan menyodorkan air mineral botol yang langsung dia bukakan tutupnya.

Aku belum niat duduk. "Nanti aja deh Mas. Masih mau tiduran."

"Bangun sebentar yuk, nanti setelah minum, tiduran lagi gapapa kok."

Aku pun akhirnya duduk. Lalu mengambil air mineral yang dia sodorkan dan langsung meminumnya sampai kosong. Kemudian tiduran lagi.

"Haus Bu. Sampai habis. Tadi di suruh minum gak mau."

"Hehehe gak taunya aku haus."

"Lapar gak? Aku sudah buatin sop, macaroni schotel, dan ayam goreng."

"What? Kapan buatnya?"

"Ya waktu kamu tidur tadi. Tapi macaroni schotel-nya sih sudah jadi dari rumah, cuma tinggal menghangatkannya tadi."

"Keren. Aku benar-benar di jamu dengan baik ya disini."

"Ya udah, yuk makan. Jadi nanti kalau kita kepantai, makanan di perutnya sudah turun."

"Tapi aku males gerak nih."

"Mau digendong ke dapur?"

"Enggak mau."

"Bangun yuk, Mas Bim gak ada temennya nih."

"Mas, badan Sandra pegel-pegel, Sandra mau tiduran dulu boleh ya?"

"Ya udah, Mas Bim ambilin ya makannya."

"Enggak ah. Sandra belum mau makan."

Mas Bim langsung berdiri dan dia ke dapur. Tidak lama kemudian dia datang dengan piring di tangannya.

Dia menyodorkan jarinya ke mulutku. "Ini cobain deh."

Aku memakan, makanan yang disodorkannya. Oh dia kasih aku macaroni schotel.

"Lagi?" tanyanya. Aku mengangguk. Mas Bim kembali menyuapi aku.

Akhirnya aku bangun dan duduk bersandar sofa yang di ganjal bantal. Kalau boleh memilih, aku ingin tidur malas-malasan dan bersantai. Tapi rasanya itu mustahil dilakukan saat ini, saat ada Mas Bim disampingku. Dia masih terus menyuapiku sambil dia pun makan dari piring yang sama. Ya, kayak lagu dangdut itu loh, Sepiring Berdua.

Piringnya sudah kosong, dan Mas Bim ke dapur lagi. Lalu dia datang membawa dua piring.

"Temani aku makan ya San."

"Iya Mas. Makasih dah diambilin."

Aku menggeser tubuhku dan meletakkan piring ke atas meja ruang tengah. Saatnya makan dengan tubuh tegak. Mas Bim pun meletakkan piringnya tepat di depan ku, dan kami duduk berhadapan, dan masih sama-sama duduk di karpet.

"Mas, terakhir kamu pacaran kapan?" Aku membuka percakapan disaat kami makan nasi.

Dia menatapku. Aku yang salah tingkah ditatap seperti itu akhirnya nunduk, pura-pura sibuk dengan nasi di piring.

"Maaf mas. Gak perlu dijawab."

"Sudah lama San. Tiga atau empat tahun yang lalu. Aku sendiri sudah lupa."

"Kami mengakhiri hubungan dengan diskusi yang cukup panjang, intinya perbedaan prinsip dalam beribadah."

Kini aku yang menatapnya. Tanganku menggenggam tangannya diatas meja. Ya, aku memberi dukungan untuknya supaya jangan sedih lagi.

Dia tersenyum dan berkata, "its oke. Aku sudah menerima kondisi ini. Sampai bulan lalu aku masih enjoy dengan kesendirianku."

"Kok, sampai bulan lalu? Gak sampai saat ini?"

"Bulan lalu kedua orang tua Mas ngajak ngomong, membicarakan soal pasangan hidup. Mungkin karena Renata sudah mau nikah dan aku akan dilangkahi, jadi mereka khawatir."

"Intinya, sekarang Mas harus mulai memikirkan siapa yang pantas jadi Mamanya anak-anak Mas nanti. Sekarang Mas sudah gak enjoy dan gak bisa santai dengan kesendirian mas. Dulu Mas bisa cuek dengan ngalihin ke kerjaan, tapi setelah bicara dengan Mama Papa, Mas jadi mulai mikir."

"Ooh gitu. Oh ya Mas, waktu itu bilang Mas juga punya kerjaan dibidang grafis dan arsitektur. Sebenernya mas kuliah apa sih? Terus sekarang malah kerja jadi fotografer."

"Aku lulusan arsitektur di Technical University of Munich, Jerman. Aku senang belajar, dan aku pun belajar desain grafis saat kuliah. Begitupun dengan dunia foto. Kebetulan ada mata kuliahnya juga kalau fotografi."

"Kenapa gak kerja di kantor arsitek aja?"

"Saat masih kuliah, Mas magang di kantor arsitek, lalu juga freelance ke mana-mana. Begitu lulus, sekitar lima tahun Mas kerja dikantor arsitek, disana aku kenalan banyak klien, tidak hanya dari Munich saja kliennya, tapi dari beberapa kota di Jerman juga jadi klien perusahaan Mas. Banyak yang suka dengan desain Mas. Pelan-pelan, Mas menerima side job desain arsitek yang Mas kerjakan setiap malam di rumah."

"Oh ya, dikantor ini pula bakat fotografi Mas ke asah. Karena banyak yang minta gedung atau rumah yang telah selesai dibangun di fotoin. Rata-rata mereka minta foto yang mengandung art. Mas mulai nyicil perlengkapan kamera, karena fasilitas kantor menurut mas kurang lengkap. Mas juga bisa membeli apartemen dari gaji dan job sampingan ini. Mas awalnya berfikir akan tinggal disana, makanya beli apartemen."

"Dunia foto dan arsitek sangat berkaitan erat, San."

"Menarik ya perjalanan hidup mas Bim."

"Iya, Mas sangat menikmatinya San. Lama-lama klien dari side job Mas semakin banyak. Lalu Mas memutuskan berhenti dari kantor. Lalu selain mengembangkan usaha dalam dunia arsitek Mas melebarkan sayap pekerjaan Mas ke dunia grafis dan foto juga."

"Kemudian Mas bikin web, dan mulai meng-hire tenaga freelance, tapi dari orang-orang yang mas kenal ya, karena inikan bergerak dalam jasa dan kita bicara art, jadi harus satu benang merah untuk desainnya."

"Wuih keren banget!"

"Ketika mas diminta balik ke Indonesia, mas pikir kenapa enggak, toh usaha yang mas bikin bisa dikerjakan dari mana saja. Cuma sekarang ada yang mas balik, biasanya mas ke Indonesia setahun tiga kali, nah sekarang mas yang ke Jerman setahun mungkin bisa lebih dari tiga kali, untuk meeting dengan teman-teman freelance dan klien-klien Mas."

"Kalau Sandra, kenapa milih jadi wartawan? Sudah cita-cita Sandra kah?"

"Aku jadi wartawan mah kecebur Mas."

"Loh kok?"

"Aku lulusan desain mode. Jadi desainer cuma sebentar, sekitar satu setengah tahun, karena ternyata aku ga betah kerja dibelakang meja terus menerus."

"Terus ngelamar kerja lagi yang ada hubungannya dengan fashion. Dapet deh di majalah ini, dan cocok."

"Tapi sejak dulu aku memang suka mendesain baju. Terus mba Santi, kakakku yang sekarang tinggal di Malaysia ngajakin buka toko online. Dia memang lulusan managemen bisnis. Jadi kita bagi tugas deh. Sampai baju jadi dan di foto itu urusan aku, selanjutnya sampai barang habis itu urusan mba Santi."

"Paling kalau ada baju yang laku keras baru deh kita repeat desain. Tapi aku dibantu mama juga di sini. Yang ngawasin penjahit sampai quality control, itu mama. Kita punya beberapa karyawan dan orang kepercayaan juga. Makanya aku masih bisa kerja diluar."

Nasi kami sudah habis, dan pembicaraan seputar pekerjaan sampingan kami pun selesai.

"Habis Ashar, jadi ya kita ke pantai."

"Oke Mas. Mas, ada celana pendek ga? Enakan nyebur pakai celana pendek, aku ga bawa."

"Sebentar, Mas cari di lemari Renata," Mas Bim pun pergi ke kamar Renata.

"Oke." Aku pun membereskan piring bekas makan kita dan ke dapur, mencuci piring dan alat-alat dapur yang tadi habis di pakai."

***

1
Munawaroh
klo Bimo vc ma cewek, jalan ma cewek jangan marah ya san
Munawaroh
Sandra masih labil..
Fariyetmi Purnomo
part pavorit aku tor 💕💕
Anwar Sinurat
kocak jg suka bacanya
Q Queen
aduuhh jadiin sm Rakaaa thor 🙏😍
Q Queen
ko aku malah seneng sm Bosnya ya Sandra 😁
Suci Yuliah Avc NuAmoorea
keren...keren.....kereenn, boong banget klo ini novel pertama, gaya bahasany bagus, ini mah dah profesional. aku padamu thor😘😘
Siti Ledong
hamil tu sandra....
mei_resta
Izin promote thor...

Baca novelku judulnya 'Cinta sejati'. Tentang dua orang yang menemukan cinta sejatinya serta lika-liku perjalanannya. Klik foto profilku buat baca...
Baca dulu sinopsisnya dan 3 episode awal.
noviana vina
Main characternya hampir sama seperti di novel buatan saya, Perfect Figurine, berkarir di majalah. Jadi merasa terkoneksi ☺
Nur aja
koq tidak ke Giri Trawangan Liat bule bule pada telanjang 😂 😂 😂 😂
Nur aja
Jadi ingat makan Ayam Taliwang ama kangkung memang enak banget sampai ketagihan selama Wisata di Lombok jadi pingin ke Lombok Lagi 😂 😂
Nur aja
jadi ingat waktu ke Lombok 😂 😘 💕
ika tisnawati
sandra egois g bs diajak musyawarah🤭
ika tisnawati
sandra pemarah bgt
Adinni mizzana Qisti
ok
ika
koq udah tamat aja 😥😥😥
suka bgt ma critanya, simple n mudah dipahami n bahasanya jg gampang dicerna...
ayo nulis trus thor...💪💪💪
Dhea Denox
keren eh cerita nya
Meyliawati
Bahasanya apik
mega keyna
judul sm jln ceritanya kurang nyambung thot,jagan mencintaiku,td kata sandra bukan karna raka udh perna nikah dan jg bukan karna anak raka si abel,sdgkan sandra jg tau raka itu siapa dr sblm ada bimo,tp knp mlh menerima bimo bukan raka,sedangkan judulnya JAGAN MENCINTAIKU tp msh terima bimo,,, nyambung ngk,,,???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!