NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku Ternyata Pewaris Konglomerat

Suami Kontrakku Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Menikahi tentara
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Ambisi Sang Mantan

Calista Sia masuk ke lobi Kho Group dengan langkah yang sudah ia latih di depan cermin.

Blazer putih, sepatu hak tipis, rambut disanggul rendah. Ia tahu cara membuat orang menoleh tanpa terlihat meminta perhatian. Anna Sia, sepupunya yang bekerja sebagai manajer senior di divisi pemasaran, berjalan di sampingnya sambil menjelaskan struktur departemen.

"Jangan membuatku malu, Cali," kata Anna pelan. "Aku merekomendasikanmu karena CV-mu bagus, bukan karena kita keluarga."

Calista tersenyum. "Aku tahu. Aku tidak akan mengecewakan."

Ia memang tidak berniat mengecewakan. Ia datang ke Kho Group bukan hanya untuk posisi brand planning specialist. Posisi itu hanyalah pintu. Tujuan sebenarnya berada jauh di atas: lantai eksekutif, ruang rapat utama, dan pria yang disebut seluruh Jakarta sebagai pewaris paling berbahaya sekaligus paling misterius.

Edric Kho.

Tidak banyak foto jelas tentangnya. Wajahnya jarang muncul di media, sering dikaburkan oleh alasan privasi. Justru itu membuat namanya lebih menggoda. Pria kaya yang misterius selalu lebih mudah diisi fantasi.

Calista tidak pernah takut pada target tinggi.

Rapat orientasi divisi pemasaran dimulai pukul sembilan. Belasan karyawan baru duduk rapi. Anna memperkenalkan struktur kerja, target kuartal, dan beberapa proyek besar. Calista mendengarkan setengah hati sampai pintu ruang rapat terbuka.

Semua orang berdiri.

"Selamat pagi, Pak Edric."

Calista mengangkat wajah.

Cangkir kopi di tangannya hampir jatuh.

Pria yang masuk memakai setelan abu gelap, dasi hitam, dan ekspresi yang membuat seluruh ruangan langsung menahan napas. Wajah itu lebih matang daripada ingatannya, garis rahangnya lebih keras, matanya lebih dingin. Namun Calista mengenal cara pria itu berjalan. Mengenal tangan yang pernah mengikat tali sepatu rusak di trotoar London. Mengenal suara yang dulu memesan kopi murah karena mereka harus menghemat uang sewa.

Ric.

Edric.

Mantan pacarnya.

Tiga tahun lalu, di London, Edric hanyalah mahasiswa pendiam yang tinggal di apartemen kecil dekat stasiun. Ia menyetir mobil bekas yang pintunya harus ditutup dua kali agar terkunci. Ia memasak pasta instan, memakai jaket lama, dan selalu bilang uang bukan ukuran hidup.

Awalnya Calista menganggap itu romantis.

Setelah setahun, romantis berubah menjadi sempit. Ia lelah menghitung diskon supermarket. Lelah naik bus saat teman-temannya datang dengan mobil mewah. Lelah mendengar Edric bicara tentang prinsip sementara ia membayangkan hidup yang lebih besar.

Malam terakhir mereka, hujan turun di luar apartemen.

"Aku butuh laki-laki yang bisa memberiku kehidupan yang layak," kata Calista saat itu. "Bukan janji kosong dan idealisme."

Edric hanya menatapnya lama. "Jadi itu yang kamu cari?"

"Aku mencari masa depan."

Seminggu kemudian, Calista mulai dekat dengan seorang pengusaha Inggris yang mengajaknya makan di restoran mahal. Ia tidak menoleh lagi.

Sekarang, masa depan yang ia tinggalkan berdiri di depan ruangan sebagai Direktur Utama Kho Group.

Calista merasakan wajahnya panas. Penyesalan datang dulu, tajam seperti pecahan kaca. Lalu datang sesuatu yang lebih kuat: perhitungan.

Kalau Edric masih sendiri, ia bisa diperbaiki. Kalau Edric sudah punya seseorang, masih ada cara. Yang penting, ia pernah memiliki posisi pertama di hati pria itu.

Edric memulai rapat dengan singkat. Ia membahas arah kampanye regional, kerja sama dengan Linguara, dan peluncuran identitas baru untuk beberapa anak perusahaan. Tidak sekali pun matanya berhenti pada Calista lebih lama dari karyawan lain.

Di sudut ruang, Valen Kho menyandarkan punggung ke kursi. Sebagai direktur pengembangan bisnis, ia tidak perlu hadir di rapat pemasaran level ini. Namun ia suka melihat orang baru. Orang baru sering membawa celah baru.

Ia melihat wajah Calista berubah ketika Edric masuk.

Terkejut. Terluka. Lapar.

Valen tersenyum tipis.

Menarik.

Setelah rapat selesai, para karyawan keluar dengan tertib. Calista menunggu sampai koridor agak sepi, lalu melangkah cepat.

"Ric."

Edric berhenti.

Jerry yang berdiri di belakangnya langsung menajamkan tatapan. Anna, yang masih membawa map, membeku di tempat.

Calista memaksakan senyum lembut. "Aku tidak tahu kamu..."

"Ibu Sia," kata Edric datar, memakai sebutan formal yang membuat wajah Calista memucat. "Untuk urusan pekerjaan, silakan hubungi atasan langsung Anda."

"Kita perlu bicara."

"Tidak ada urusan pribadi di kantor."

"Ric, aku..."

"Pak Edric," koreksi Jerry dingin.

Calista menelan kalimatnya.

Edric berjalan pergi tanpa menoleh. Calista berdiri di koridor dengan kuku menekan telapak tangan. Ia pernah membayangkan jika bertemu Edric lagi, pria itu akan terkejut, mungkin marah, mungkin masih menyimpan rasa. Ia tidak pernah membayangkan diperlakukan seperti karyawan baru yang salah mengisi formulir.

Dari ujung koridor, Valen melihat semuanya.

Ia tidak mendekat. Belum.

Di sisi lain Jakarta, Eve sedang menerjemahkan dokumen kontrak di kantor Linguara ketika Dan menjatuhkan satu map ke mejanya.

"Selamat, Nyonya Serius."

Eve mengangkat wajah. "Apa ini?"

"Undangan makan malam Kho Group. Mereka mengadakan welcome dinner untuk eksekutif baru, Rangga Prasetya."

Nama itu membuat ujung pena Eve berhenti.

Dan langsung sadar. "Maaf. Aku lupa dia..."

"Tidak apa-apa." Eve membuka map. "Kenapa aku dapat?"

"Karena ada tamu asing dari Singapura dan Jepang. Bu Mira butuh penerjemah yang bisa tampil rapi, bicara jelas, dan tidak pingsan di depan pejabat. Jadi, kamu."

"Aku bisa pingsan kalau sepatunya terlalu tinggi."

"Tenang. Aku ikut."

Eve menatapnya.

Dan mengangkat dua tangan. "Sebagai pengawal. Murni. Aku tahu kamu sudah menikah, aku masih sayang nyawaku."

Eve tertawa. Sejak Rangga dipermalukan di kantor, Dan menjadi salah satu orang yang paling bisa membuatnya bernapas normal di Linguara. Ia usil, cerewet, tetapi tidak pernah melewati batas.

"Baik," kata Eve. "Tapi jangan pilihkan gaun yang terlalu heboh."

"Kamu meminta hal yang bertentangan dengan agama profesiku."

Sore itu, Feli menelepon Edric saat ia baru masuk mobil.

"Kakak," katanya tanpa salam, "sudah tahu soal welcome dinner?"

"Tahu."

"Sudah tahu kakak ipar akan datang?"

Edric diam.

Jerry yang duduk di depan langsung menoleh sedikit.

"Siapa yang mengundangnya?" tanya Edric.

"Linguara. Dia datang sebagai penerjemah. Dan mungkin bersama teman laki-lakinya yang stylist itu."

Suhu di dalam mobil turun.

Feli terdengar sangat puas. "Jangan cemburu di telepon. Aku bisa dengar napasmu berubah."

"Saya tidak cemburu."

"Kak, kamu pernah menyuruh tiga orang memeriksa pria yang mengantar kakak ipar pulang dari kantor. Itu bukan kegiatan meditasi."

Edric memijat pangkal hidung. "Aku punya masalah lain."

"Calista?"

Kali ini Edric benar-benar diam.

Feli menghela napas. "Jadi benar. Dia kerja di kantor?"

"Karyawan baru."

"Dan kakak ipar akan datang ke acara yang sama dengan mantanmu, mantan suaminya, dan kamu yang masih pura-pura bukan CEO. Kakak, hidupmu seperti sinetron mahal."

"Terima kasih atas analisisnya."

"Sama-sama. Aku akan pakai anting berlian. Kalau Jess macam-macam, aku yang maju."

Panggilan terputus.

Jerry menunggu tiga detik sebelum bicara. "Bos, untuk makan malam nanti, apakah Anda tetap hadir di meja utama?"

"Tidak. Saya di lantai dua saja."

"Tapi kartu tempat duduk sudah dicetak."

Edric membuka mata.

Jerry menyerahkan tablet. Di layar ada rancangan meja utama dengan satu nama tercetak jelas:

Edric Kho, Direktur Utama Kho Group.

Untuk pertama kalinya hari itu, Edric terlihat benar-benar lelah.

"Jerry."

"Ya, Bos?"

"Cari cara agar istri saya tidak melihat kartu itu."

Jerry menatap jalan di depan. "Dengan hormat, Bos, mungkin lebih mudah memindahkan Hotel Mulia."

1
aku
🌹 lgi biar semangat 😁
aku
next tor 🌹
aku
kok malah ingat masha yg dihukum berdiri di pojokan sama bear?? 🤣🤣
aku
lagi mewek ini, malah dikasih istilah kocak 😭😭
aku
OMG eevveeeee 😭😭 sabar
aku
msh ada rahasia besar lg ed 😭
aku
wow!! 😃🤣
aku
haih jgn smpe ya eve mati rasa ed.
aku
minta bonus jer 😁
aku
mewakili jerry 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
aku
eveee 😭😭😭
aku
halal disantet gunawan ini 🤬🤬
aku
fix kamu dieleminasi otomatis calista 😃
aku
gpp ed, meriah jd nya 😂
aku
mamvu* 😃 puass kali duo sampah kena malu 🤣
aku
cocok pasangan sm ed, killer 😭😭
aku
ada satu yg tegasnya ngalahin guru killer ya fel 🤣
aku
nah kan syokk semua 😃
aku
klo masih ngomel brti msh strong ya ed 🤣🤣
aku
jemput bahagyamu eve 😭😭 bawang oey bawang 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!