Kaina Chandrina terpaksa harus menikah dengan seorang CEO perusahaan besar. Ia harus menjadi tumbal akibat perbuatan orang tua, yang tega menukar dirinya dengan saham perusahaan.
Kini ia harus terjebak dalam sebuah pernikahan kontrak dengan Haikal Kusumanegara, CEO yang begitu berkuasa dan juga kejam.
Keluar dari kandang singa, masuk ke kandang harimau. Bagitulah ungkapan kata yang cocok untuk gadis malang itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bucin fi sabilillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benar Mengancam
Kaina mengerjab, sesaat ia masih merasakan pelukan hangat itu hingga ia tersadar siapa yang tengah memeluknya seperti ini.
Namun aroma parfum yang sudah familiar mulai membelai hidungnya. Ia mendongak dan menatap wajah Haikal yang sedang terlelap.
Nafasnya tercekat dan ia membeku seketika. Merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
Glek!
Apa aku masih bermimpi? Padahal aku merasa tengah memeluk bunda dan bercerita banyak hal. Bersama di alam yang sama. Tapi ternyata tidak, ini semua bertolak belakang dengan keinginanku. Batin Kaina sedih.
Tanpa sadar, ia mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajah di dada bidang Haikal. Sehingga membuat pria tampan itu terbangun dari tidurnya.
Isakan pelan mulai terdengar, Kaina menangis dan membuat Haikal terkejut.
"Hiks, Bunda," ucap Kaina terisak. "Kenapa aku masih ada di sini? Padahal aku Ingin ikut bunda saja. Semua orang hanya membentak dan memarahiku, padahal aku tidak berbuat apa-apa. Aku ingin ikut bunda," ucap Kaina begitu lirih dan hanya terdengar samar-samar.
Haikal hanya terdiam dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia mengeratkan pelukannya kepada Kaina, seolah memberikan rasa aman kepada gadis itu.
Kaina terdiam, wajahnya mulai memerah ketika menyadari apa yang tengah ia perbuat. Gadis cantik itu mencoba untuk merenggangkan pelukannya.
"Tenanglah, atau aku akan marah!" ucap Haikal tegas tanpa membuka matanya.
Kaina membeku, ia terdiam dan tidak bergerak lagi mendengar suara Haikal.
"Peluk lagi, yang erat!" ucap Haikal.
Kaina mencari aman, ia kembali memeluk Haikal dengan jantung yang berdebar. Aroma pria tampan itu membuatnya candu dan ingin terus bernafas dengan jarak dekat seperti ini.
Tangan Haikal mulai mengusap punggungnya. Ia merasakan sebuah kenyamanan dalam setiap usapan itu.
"Maaf, aku terlalu sering membentakmu," ucap Haikal.
Kaina tersentak dan terdiam mendengar ucapan Haikal. Ia tidak menyangka jika pria tampan ini mau meminta maaf kepadanya.
"Saya, sudah biasa dibentak oleh orang lain, Tuan. Jadi, anda tidak perlu meminta maaf," ucap Kaina lirih.
"Kau tidak mau menerima permintaan maaf orang lain?" tanya Haikal mengernyit.
"Bukan begitu, Tuan. Tapi...,"
"Sudah, jangan menolak! Saya tidak ingin berdebat sekarang!" uxaoo Haikal kembali memejamkan matanya tanpa melepas pelukan mereka.
"Tuan?" Panggil Kaina lirih.
"Hmm?" Haikal berdeham tanpa membuka matanya.
"Jangan marah-marah lagi," ucapan Kaina sedikit takut.
"Baiklah!" ucap Haikal mulai mengantuk.
Kaina terdiam, ia merasa cukup takut untuk berbicara, mengemukakan keinginan. Takut jika Haikal kembali marah dan membentaknya.
"Apa tuan berjanji?" tanya Kaina.
"Iya. Tidurlah sebelum aku kembali marah!" ucap Haikal.
"Janji dulu, Tuan!" ucap Kaina.
Haikal bangun dan menindih Kaina. Ia menatap gadis itu sambil tersenyum tipis.
"Tidurlah, atau aku akan menciummu seperti tadi pagi!" ucap Haikal mengusap bibir Kaina.
Glek.
"Baiklah!" ucap Kaina menutup mulut Haikal dan memejamkan mata.
Pria tampan itu merasa gemas melihat tingkah Kaina. Ia kembali berbaring dan memeluk gadis kecil itu hingga mereka terlelap.
🥕🥕
Sementara itu di kediaman Leo, semua orang panik ketika sang pemimpin keluarga itu harus segera dilarikan ke rumah sakit karena tiba-tiba saja tidak sadarkan diri.
Sisca terkejut dan mengambil vidio agar bisa mengirimnya ke pada Kaina untuk membungkam gadis itu.
Belum lagi aku bertindak, tapi laki-laki tua ini sudah mengantarkan dirinya ke rumah sakit terlebih dahulu. Setelah ini, kau tidak bisa mengelak lagi, pembawa sial! Berani-beraninya kau melawan kepadaku!. Batin Sisca.
Mereka segera pergi ke rumah sakit yang sama dimana Kaina juga berada. Ia harus memasang wajah sedih dan khawatir sepanjang jalan.
Hampir dua puluh menit, mobil tiba di loby rumah sakit. Leo segera mendapatkan penanganan intensif yang bersebelahan dengan bilik Kaina.
Hanya tirai yang membatasi mereka, namun tidak ada yang menyadari satu sama lain.
"Mas, bangunlah!" ucap Sisca khawatir.
Dokter memeriksa keadaan Leo yang masih belum sadarkan diri.
"Suami ibu tidak apa, hanya tekanan darah saja yang rendah dan kelelahan. Mohon diperhatikan lagi kesehatan suami ibu setelah ini," ucap Dokter.
"Hiks, iya dokter. Tapi suami saya tidak kenapa-kenapa, 'kan?" tanya Sisca berkaca-kaca.
"Tidak, Buk. Nanti akan saya pasangkan infus dan juga resep obat," ucap Dokter beransur pergi dari sana.
"Terima kasih banyak, Dokter," ucap Sisca.
"Tanpa bekerja pun, laki-laki ini membuat dirinya sakit hingga pingsan. Hanya menambah sedikit drama, aku yakin gadis bodoh itu akan memberikan uang untukku! Ucap Sisca tersenyum jahat.
Ia menatap wajah pucat Leo, merasa enggan untuk merawat pria tua yang sudah berpenyakitan ini.
Namun hatinya mulai berkata, jika ada rasa sayang yang tersimpan dalam relung hati untuk sang suami. Ia hanya menghela nafas dan duduk di atas kursi tunggu yang telah disediakan
Setidaknya selama ini dia begitu menyayangiku, bahkan melebihi putrinya sendiri. Batinnya.
Ia langsung mengirim video itu kepada Kaina, dengan menambahkan beberapa keterangan yang tidak benar namun biasa membuat orng terkejut ketika membacanya.
"Kau masih tidak mau memberikan aku uang? Mungkin minggu depan, aku bisa berbuat lebih kejam lagi. Ini baru permulaan! Kirim uangnya sore ini, atau laki-laki tua itu akan tinggal nama besok pagi! Jangan bermain denganku anak bodoh!" Tulisnya kepada Kaina melalui pesan.
Ia tersenyum licik dan merencanakan sesuatu yang bisa membuat Kaina menyerah dan membuat gadis itu mau memberikannya uang yang lebih banyak.
Haikal terbangun dan mendengar apa yang dikatakan oleh Sisca. Namun ia tidak mengetahui jika mereka adalah keluarga Kaina.
Ia hanya menggeleng mendengarkan suara lirih Sisca namun masih bisa terdengar jelas olehnya.
Haikal memandang wajah pucat Kaina dan mengernyit. Kenapa perkataannya persis seperti apa yang di alami oleh gadis ini?. Batinnya.
Namun ia tidak terlalu mempedulikannya. Bibir mungil Kaina terlihat lebih menggoda dari apapun.
Perlahan ia mengecup bibir kecil itu dengan lembut. Haikal tersenyum tipis dan merasakan sesuatu yang membuatnya candu untuk menjelajahi bibir merah ceri itu.
Cup.
Ia meraup manisnya bibir Kaina dengan begitu lembut, takut jika gadis ini terbangun dan mengganggu waktu istirahatnya.
Namun sayang, gadis itu sudah lebih dulu membuka mata dan langsung mendorong Haikal agar menjauh darinya.
"Tu-tuan," ucap Kaina terkejut.
"Ah, kenapa kau bangun?" ucap Haikal yang kesal karena ia belum merasa puas.
"Ta-tadi...," ucap Kaina terhenti ketika Haikal kembali mengecup bibirnya.
"Diamlah, atau semua orang akan datang ke sini!" ucap Haikal berbisik di telinga gadis itu dengan sedikit menjilatnya.
Kaina membeku dan membiarkan Haikal kembali mengecup bibirnya. Ia hanya memejamkan mata dan perlahan ia mulai menikmati aktivitas yang dilakukan oleh sang suami.
Setelah merasa puas, Haikal melepaskan pagutannya. Nafas mereka terengah, namun pria tampan itu tersenyum manis sambil mengusap bibir Kaina yang basah dan terlihat lebih merah.
"Ayo kita lanjutkan di rumah!" ucap Haikal tersenyum dan mengecup sekilas bibir Kaina.
Sayang bgt lho gak dilanjutin mana ceritanya bagus bgt..
Ayo kk semangat buat lanjutin lg ceritanya