Tepat di usia pernikahan yang ke lima, diceraikan oleh suami yang selama ini dicintainya hanya karena tidak bisa hamil. Namun dia tiba-tiba hamil setelah perceraian itu datang...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La-Rayya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mas Al Datang
Mandi air dingin sepertinya terdengar menyegarkan. Mungkin itu bisa saja menjadi jalan yang baik untuk menurunkan level stres yang ada dalam diriku.
Setelah selesai mandi, mungkin aku bisa berbaring dengan nyenyak di tempat tidurku sampai aku tertidur. Dan aku tidak perlu mengkhawatirkan kedamaian ku untuk beberapa jam ke depan. Aku hanya ingin beristirahat dengan tenang.
Aku mengambil handuk mandi di dalam tas ransel ku dan membawanya dengan sebuah tas kecil berwarna hitam yang merupakan tempat aku menaruh peralatan mandi ku. Lalu aku menyisir rambut ku untuk merapikan nya. Aku lantas mengusap tubuhku untuk menenangkan diriku akan apa yang terlihat dari belakang pintu kamar mandi yang tertutup itu.
Jemari ku mendorong pintu dan itu perlahan terbuka dan memperlihatkan lantai kamar mandi yang tampak begitu bersih. Ruangan kamar mandi itu mengejutkan ku dan semuanya melebihi dari apa yang aku pikirkan. Kamar mandi itu sangat bersih dan bebas dari kesan menyeramkan dari kotoran dan debu yang sebelumnya ada di dalam pikiranku.
Bu Amelia tidak hanya membersihkan kamar itu, dia juga sangat baik karena sudah membersihkan kamar mandi sebelum aku tiba. Aku sangat bersyukur atas kebaikan Bu Amelia dan aku bisa menciumnya sekarang jika dia berdiri di hadapanku.
Pakaian yang aku kenakan dengan cepat terlepas dari tubuhku dan langsung berada di lantai. Aku tidak bergerak untuk mengambil pakaian yang berserakan di lantai itu dan aku langsung melangkah ke arah bawah shower.
Air itu mengejutkan ku karena terasa hangat menyentuh kulitku yang dingin. Cuacanya sangat dingin dan air yang keluar dari shower itu sangat hangat dan bisa menenangkan pikiranku.
Saat aku membuka mataku, aku mendapati bayangan tubuhku di sebuah cermin. Aku terkejut setelah melihat ada banyak tanda merah yang terdapat di seluruh leher, pundak dan tubuhku yang lainnya.
Aku perlahan menyentuh satu persatu tanda merah yang ada di tubuhku itu dan perlahan tubuhku bergidik ngeri.
Bayangan akan apa yang terjadi tadi malam menjadi bukti apa yang sudah terjadi di tubuhku. Bukti yang membuatku merasa tertampar dengan kebenaran ini. Hal itu membuatku membeku saat berada di bawah shower yang airnya terus meluncur ke tubuhku seolah tengah membersihkan pikiranku.
Semua memori yang aku ingat bukan hanya sebuah mimpi yang erotis saja, itu memang terjadi. Dan akulah orang yang membiarkan itu terjadi. Aku memang benar-benar bodoh.
Aku menempatkan telapak tanganku di pipiku. Air mataku yang mulai terjatuh di pipiku dengan bebas. Mas Al memberikan kepada ku rasa sakit yang tidak terbayangkan. Tapi meski begitu, aku tidak bisa menolak bahwa aku masih mencintai pria bajingan itu.
Saat aku merasakan semua gejolak yang ada di dalam diriku perlahan menurun, aku mengangkat wajahku untuk membiarkan air membasuh air mata yang ada di pipiku. Air mata yang keluar dari mataku itu, entah kenapa membuat dadaku terasa sesak.
Aku mencoba menghapus Mas Al dari pikiranku. Aku sudah cukup dengan dirinya. Untuk sekali saja, aku ingin membuat diriku sendiri merasa damai dalam pikiranku karena aku pantas untuk melupakan semua tentang kehadirannya.
Setelah menaruh banyak sampo di rambutku, aku dengan cepat membasuh tubuhku dengan sabun dan menggosok kulit ku dengan kasar untuk menghapus semua bekas ciuman yang diberikan Mas Al dan juga bau tubuhnya yang masih menempel di tubuhku.
Aku lalu membasuh tubuhku dengan cepat, berharap bahwa perasaan yang ada dalam diriku untuk suamiku itu akan dibawa pergi menjauh oleh air yang membasuh tubuhku. Bahkan jika itu mungkin bagi diriku untuk bisa move on darinya, semua ini tidak akan terlalu sulit bagiku lagi.
Aku hanya begitu lelah dari perasaan stress ini. Aku lantas mengatakan kepada diriku sendiri, "nanti, saat aku keluar dari kamar mandi aku akan langsung tidur. Setelah tidur beberapa saat, aku akan merasa lebih baik..."
Setelah itu aku melingkar kan handuk di seluruh tubuhku yang polos ini.
Aku lalu mengambil pakaianku yang tergeletak di lantai dan menaruhnya di keranjang tempat mengumpulkan pakaian kotor.
Aku lalu mendorong pintu kamar mandi untuk dibuka. Tatapan seseorang menyapa diriku, hingga membuat aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Mas Al!!!" Ucap ku dengan begitu terkejut
Dia tampak duduk dengan tenang di atas tempat tidur. Namun dia juga tampak tidak sabar menunggu diriku untuk keluar dari dalam kamar mandi. Mendengar suara gerakan ku, dia langsung berbalik menatapku. Dia langsung melihat kearah mataku yang membuat suasana kamar menjadi begitu berbeda.
Aku hampir saja tidak sadarkan diri karena mendapatkan serangan jantung saat dia bangun dari atas tempat tidur. Suara kayu dari tempat tidur terdengar berderit saat berat tubuhnya sudah tidak ada diatas tempat tidur. Tempat tidur yang kecil itu menjadi jauh lebih kecil dengan ukuran tubuh Mas Al yang besar karena ototnya itu.
'Kumohon ini hanyalah sebuah mimpi.' ucap ku dalam hati..
Aku lalu menutup mataku dengan perlahan, berdoa dan berharap bahwa dia akan menghilang di hadapanku.
Ketakutan terus semakin membesar seolah aku tengah melihat monster saat dia tetap berdiri di hadapanku setelah aku membuka mataku.
Ini memang nyata dan aku begitu bodoh.
Kamar ini menjadi jauh lebih kecil saat dia berada didalamnya. Bahkan udara yang aku hirup menjadi berkurang. Sekarang jemari ku yang gemetar memegang erat ke arah gagang pintu saat Mas Al perlahan membuat langkah mendekat ke arah ke arahku.
Tatapan mematikan terlihat di wajahnya. Aku bersumpah bahwa aku tidak pernah melihat dirinya yang seperti ini sebelumnya.
"Halo istriku sayang. Apakah kau terkejut melihat ku?" Ucap Mas Al bernafas dengan berat.
Tatapan matanya terus melihat kearah tubuhku dari kepala sampai ke kaki yang membuatku merasa tidak nyaman.
Jemari ku beralih ke arah dadaku dan memegang handukku dengan erat. Aku merasa gagal untuk menutupi semuanya. Rambutku yang basah turun ke karpet lantai di dalam ruangan kamar yang senyap ini.
"Apa yang kau lakukan disini?" Teriakku dengan mataku yang begitu marah saat menatap ke arahnya.
Mendengar suaraku yang dingin, Mas Al perlahan membuat langkahnya semakin mendekat ke arahku. Setiap langkah yang dia buat terdengar seperti sebuah bom waktu di telingaku.
"Kita harus berbicara Putri." Bisik Mas Al.
Jemari nya menyentuh wajahku dan menyibak rambutku ke belakang. Sentuhan nya yang begitu cepat, terasa membakar tubuhku dengan begitu sakitnya.
Mas Al semakin mendekat. Bau tubuhnya dan juga nafasnya menusuk hidungku. Aroma tubuhnya hampir membuatku menutup mataku.
"Kita harus berbicara." Ucap Mas Al lagi yang kemudian mencuri sebuah ciuman dengan cepat dari bibirku.
Plak!
Bersambung....