Sequel : Burning Passion In Love!
Stefano, Casanova bastard yang sangat dingin. Prioritas utama adalah membalas dendam pada keluarga Weldon.
Dengan 2 saudaranya, Stefano berlayar menjadi seperti Ayahnya. Seorang Mafia kejam dan Pengusaha sukses.
Sebuah taktik keji mengharuskan di antara 3 pria kejam maju untuk menikah dengan Putri Mr Weldon. Alhasil Stefano yang maju untuk menikah dengan gadis baru lulus SMA.
Kisah rumit yaitu : cinta, dendam, benci, pembunuh dan gairah melebur menjadi kesatuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose_Crystal 030199, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BPIL 2 - Foul!
Stefano menyulut sebatang rokok sembari menatap depan. Dia menyandarkan tubuh di kusen pintu dengan mata menyorot penuh arti. Mata jade tajam itu melembut melihat Queenaia tengah asyik berlarian mengejar kupu-kupu. Stefano tidak habis pikir Istrinya begitu lucu seperti anak kecil.
Wanita yang sangat dia cintai dan akan selalu begitu. Walau dendam di atas segalanya, tetapi cintanya akan selalu ada untuknya. Stefano langsung menegakan tubuh ketika Queenaia terjerembab. Dia ingin loncat menolong tetapi not itu diurungkan agar Istrinya tidak semakin terluka.
Queenaia merengut sebal gara-gara tersandung sesuatu. Bersyukur saja ia terjatuh di rumput kalau tidak sakit semua. Dia duduk seraya mendumel lucu lalu membersihkan dauan yang menempel di tubuhnya. Queenaia masih betah diam seraya mendumel lucu tanpa tahu kegiatannya di awasi.
Entah kenapa ia dari tadi ada yang menatap begitu intimidasi. Refleks Queenaia menatap atas, tetapi tidak menemukan siap-siap. Sebenarnya siapa yang menatap dengan pandangan tajam? Bulu kuduk meremang membayangkan hal menakutkan. Queenaia dengan enteng pura-pura kesakitan demi melihat siapa orang itu.
Stefano gemang menolong atau membiarkan Queenaia terluka. Tidak bisa begini dia harus menolong Istrinya. Dengan santai Stefano loncat dari lantai dua dan mendarat sempurna.
Queenaia memang sudah menebak itu Stefano. Tetapi, dia pasti salah namun lihat Suaminya langsung loncat tanpa peduli apa pun. Jangan terjebak akal bulus pria iblis itu Queenaia.
Stefano meraih tangan mungil Queenaia yang terluka. Dia langsung menatap sengit Istrinya dan menghempas tangan kasar. Demi apa Stefano paling anti melihat Queenaia jadi begini.
Queenaia menatap Stefano tanpa arti seolah tidak ada apa-apa. Dia tidak habis pikir kenapa pria ini senang sekali membuatnya terluka? Andai bisa Queenaia ingin memaki Stefano atas semua yang terjadi.
"Apa matamu pindah ke lutut?"
Queenaia mendengus mendengar pernyataan Stefano. Dia memilih berpaling tanpa mau meladeni pria kejam. Ringisan keluar ketika Suaminya sedikit menekan luka di telapak tangannya. Queenaia tentu langsung menatap Stefano sengit akibat ulah si gila.
"Kasar sekali, lepaskan aku!"
"Tidak!"
"Apa kamu mau mengobati lukaku? Apa kamu sanggup mengobati lukaku? Katakan padaku, apa Anda sanggup membalut luka yang engkau beri?"
Queenaia menyentak tangan besar Stefano dan langsung bangkit. Dia berlari meninggalkan Suaminya sendiri. Air mata luruh mengingat betapa kejam pria itu menyakitinya. Kenapa harus perhatian jika semua itu busuk tidak ada arti? Buru-buru Queenaia seka air mata dan kembali kuat agar Stefano tidak semena-mena padanya.
Stefano meremas jantungnya yang berdegup ngilu. Semua pertanyaan Queenaia terngiang jelas dan sangat menusuk hati. Dia terkekeh geli dengan pandangan kosong. Stefano akui tidak bisa membalut luka Queenaia. Namun, apa salahnya membalik luka fisik bukan hati?
"Aku tidak bisa membalut luka yang kuberikan. Namun, aku bisa menambah luka lebih dalam. Kita lihat Queen seberapa besar pertahanmu. Rembulanku semoga saja baik-baik saja setelah sinar Matahari menghancurkan kamu."
Lamunan itu buyar bahkan Stefano sampai tersentak merasakan sesuatu. Ia mendengkus melihat Kevin tersenyum ke arahnya. Buru-buru dia menyeret Adiknya menuju rumah kaca. Sejatinya apa mau Kevin datang kemari? Kalau ada sesuatu Stefano akan ladeni keinginan si Adik.
Kevin melihat semua bagaimana Stefano terjun ke bawah. Lalu drama picisan Queenaia yang sok kuat padahal tidak. Semua ia lihat betapa bodoh mereka saling cinta, tetapi menyakiti. Kevin harap Stefano dan Queenaia mampu bahagia suatu hari nanti.
"Ada apa?"
"Melihat perkembangan saja, aku salut wanita kecil itu sangat kuat. Apa rencana Kakak kali ini?"
"Bermain cantik, aku akan menbuat dia lemah akan cinta. Sebentar lagi Evceen datang mungkin 2 bulan lagi, setelah itu aku akan membuat Queen lebih menderita. Terakhir pembunuhan kemudian membebaskan dirinya!"
"Kakak, memang yang terbaik. Memang Kakak yakin mau melepas, Queen setelah dendam terpenuhi? Sepertinya tidak karena Kakak sangat mencintainya. Ah, dari pada pusing ... bagaimana kalau kita pergi ke night club untuk melakukan ml sepuasnya bersama para wanita cantik?"
"Kita lihat hasil akhir, dan hilangkan pikiran kotormu, Kevin. Ini pukul 7 pagi, pergi atau kuledakan kepalamu!"
"Aku hanya memberikan usulan, kenapa sewot sekali? Kak nanti malam senggang mari kita pergi bertiga. Having fun with a woman's hole. I want sex with a sensual rhythm."
"Crazy Boy, selangkang wanita yang ada di pikiran kotormu, Kevin. Tetapi, boleh juga i want sex!"
"Hahaha, terima kasih sanjungnya, Kak Stef. Munafik, tadi menghina sekarang ingin itu."
"Masa bodoh!"
Stefano berdiri kemudian menatap Kevin datar. Dia merogoh saku celana training untuk mengeluarkan rokok. Ia ambil satu batang putung rokok lalu menyulut. Stefano menghembus kumpulan asap ke udara merasa begitu kalut.
Kevin ambil satu kotak rokok mahal milik Stefano. Dia tidak peduli kakaknya menatap protes. Kebetulan rokoknya habis sudah pasti mau minta. Lagian kakaknya punya banyak persediaan jadi tidak masalah. Kevin ikut menyulut sebatang rokok lalu kembali berbicara.
"Kevin, bagaimana perkembangan, Vernon?"
"Baik, dia melakukan hal biasa. Aku khawatir dia berbuat bengis saat ons. Dia sangat gila ml dan candu membunuh. Di antara kita Vernon lebih sadis soal membunuh wanita. Dia bahkan membunuh 100 wanita saat berhubungan intim. Lalu, apa yang akan kita lakukan?"
"Tidak ada, biarkan saja Vernon melakukan kesenangan. Aku pergi dulu!"
"Baik Kak, aku juga mau kencan!"
Kevin langsung menyelonong pergi seraya bersiul nakal. Dia mengedipkan mata seolah mengejek Stefano. Dia bisa kencan sepuasnya dan Stefano sudah terikat.
"Damn," umpat Stefano.
Stefano memejamkan mata rapat mengingat dunianya yang sangat kotor. Darah, pembunuhan, making love, alkohol, judi dan perampokkan sering terjadi. Betapa hina kehidupan Stefano tanpa cahaya suci. Tanpa memikirkan itu lebih baik berenang menetralkan pikiran.
***
Queenaia habis pulang dari rumah orang tuanya. Dia memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar perumahan elit. Dia meminta Stefano menemaninya untuk menghilangkan panat, tetapi Suaminya malah pergi tanpa peduli.
Senyum manis terukir indah tatkala melihat gemerlap kemewahan rumah mewah dan gedung di perumahan elit. Queenaia tersenyum tipis ketika melihat ada kedai es krim. Makan manis di kala hati pilu itu pasti sangat menyenangkan.
Queenaia pesan cup besar es krim rasa cokelat. Dia juga makan cake rasa stroberi. Setelah semua habis ia membayar. Rasanya menyenangkan menikmati malam ini. Sudah lama tidak keluar dengan nyaman tanpa beban.
Langkah kaki jenjangnya membawanya untuk membeli aksesori di toko. Queenaia membeli gelang, tas, sepatu hak tinggi dan pakaian. Setelah semua terbeli ia memutuskan untuk pulang.
Saat melewati jalan sepi, Queenaia di todong 5 preman. Tubuhnya menggigil ketakutan melihat mereka. Dengan cepat dia berlari meninggalkan tempat itu tetapi sepatunya lepas menyebabkan Queenaia tersungkur.
"Gadis kaya, bagaimana kalau kamu serahkan tubuhmu!"
Queenaia mengambil sepatu hak tingginya dan siap memukuli mereka. Dia sangat ketakutan melihat 5 orang yang sangat sangar. Queenaia harap.mereka tidak melakukan apa pun padanya.
"Jangan mendekat atau kalian menyesal!" gertak Queenaia.
"Apa yang kami takuti, Nona cantik. Ayo kita cicipi tubuh mungilnya. Sepertinya liangnya sangat rapat!" seru preman dengan postur tubuh kekar dengan wajah lumayan tampan.
"Boleh juga, kita perkosa ramai-ramai. Ayo sini cantik kita bersenang-senang!"
Queenaia ketakutan mengingat betapa berbahayanya mereka. Di situasi ini ia langsung memukuli oelaku saat salah satu dari mereka menyentuh tangannya. Dia pukuli mereka dan berusaha mencari perlindungan. Queenaia wanita kuat maka harus berani walau hanya sekadar perlawanan.
"Stef, tolong aku," lirih Queenaia penuh harap.
Para preman geram sontak menarik tangan Queenaia dan membuang sepatu. Tetapi, wanita bak boneka ini malah menendang kejantannya. Karena sangat marah preman satunya menarik Queenaia dan menamparnya.
Queenaia tersungkur dengan pandangan berputar-putar. Kepalanya pusing dengan kesadaran menipis. Dia tidak kuat hingga salah satu dari mereka menyiram air dingin. Queenaia kembali sadar sontak meringkuk ketakutan.
"Hebat sekali, bagaimana jika kalian main dengan, ku!" seru seseorang dengan suara berat penuh penekenan.
Queenaia membuka mata saat mendengar suara seseorang familiar. Dia melihat Stefano penuh harap akan sebuah pertolongan. Senyum bahagia terukir indah akhirnya ada yang menolongnya. Terima kasih ya Tuhan.
Stefano tadi memang pergi, tetapi kembali pulang karena merasakan hal buruk. Sampai rumah dia tidak menemukan Queenaia, dan memutuskan mencari. Bahkan dia tanpa peduli berlari ke sana kemari agar cepat menemukan Istrinya. Saat menemukan Istrinya, Stefano melihat Queenaia di tampar keras.
Berani sekali mereka menyakiti Istrinya begitu kasar. Bahkan ia tidak pernah main tangan pada Queenaia. Mereka akan mati di tangannya dan tangan kotor itu akan hancur. Stefano memasang tampang biasa, tetapi hatinya begitu bergejolak tinggi.
"Keh, apa kamu pahlawan? Hahaha, kau pulang dan pakai rok saja!" cela satu dari mereka.
Stefano berjalan santai ke arah mereka. Tidak ada hawa membunuh bahkan terkesan tenang. Saat di dekat mereka Stefano dengan kecepatan kilat meninju mulut orang yang menghinanya. Alhasil orang itu terpelanting jauh dengan gigi rontok. Dia salto di udara lalu menyerang mereka dengan kecepatan tanpa mereka perediksi.
4 preman melongo melihat kecepatan Stefano. Saat mereka melawan tetapi tidak mampu mengalahkan Stefano. Kuat sekali pria itu, sebenarnya siapa dia?
Mereka terlempar dengan mengenaskan. Stefano tetap sama tanpa aura, bahkan terkesan santai. Dia menarik tangan orang yang tega menampar Queenaia.
Stefano dengan kejam mematahkan tulang jari preman. Hal kasar terjadi akibat menyakiti Istrinya. Sebelum darah memuncrat mengenai tubuhnya, Stefano menghindar. Dia tenang saja saat mendengar ruangan kesakitan.
"Stefano Eugene Demetrius, ingat namaku. Kalian berani menyentuh Istriku dan itu balasan untuk kalian. Jika berani menampakan wajah yakinlah aku akan menghancurkan tanpa sisa!" cetus Stefano dengan suara rendah.
5 orang menggigil ketakutan mendengar suara rendah Stefano. Dan sangat tahu siapa Demetrius itu. Mereka meminta maaf lalu berjalan tertatih meninggalkan tempat kejadian.
Stefano langsung menghampiri Queenaia dengan pandangan sinis. Dia telisik penampilan Istrinya tampak berantakan. Lutut berdarah, kaki kanan membiru dan sudut bibir pecah. Bahkan pipi mulusnya terdapat bekas tamparan.
Queenaia meringkuk semakin takut menyaksikan perkelahian Stefano. Bahkan dia tidak kuasa berteriak saat Suaminya menembak mereka. Semua begitu mengerikan ketika Suaminya marah. Queenaia menangis tersedu diakala Stefano menatapnya sinis.
Stefano merubah pandangannya jadi lembut agar Queenaia tenang. Dia memilih membereskan kekacauan dengan membereskan belanjaan Istrinya. Kemudian Stefano kembali menatap Queenaia penuh arti.
"Maaf terlambat menyelamatkan kamu. Aku sangat khawatir, maafkan aku tidak menemani kamu pergi."
Stefano tidak berani merengkuh Queenaia atau sekedar menenangkan. Dia takut tubuh mungil Istrinya terluka jika ia rengkuh. Stefano sangat sakit melihat Queenaia terluka karena orang lain.
Queenaia langsung merengkuh erat Stefano dengan tangis memilukan. Dia sangat ketakutan dan sangat senang hidupnya tertolong. Semua terasa menyakitkan ketika teringat mereka yang hendak menodainya. Bersyukur orang yang sangat dicintai datang tepat waktu.
Stefano membalas pelukan Queenaia lembut. Dia tidak mau mengeratkan pelukannya karena takut tubuh ringkih Istrinya terluka. Mata Stefano membulat sempurna merasakan Queenaia tidak bergerak dan benar saja Istrinya pingsan.
"Queenaia, ya Tuhan."
Stefano menelepon bawahan-nya untuk nengurus kekacauan dan membereskan lima orang tadi. Dia memerintahkan untuk menyekap para preman tadi. Usai melakukan itu Stefano menbawa paper bag belanjaan Queenaia.
Semua harus membayar mahal atas kesakitan yang mereka berikan pada Istrinya. Walau Stefano lebih banyak memberikan kesakitan pada Queenaia. Hanya saja ia tidak pernah main tangan bahkan terkesan melindunginya. Kini amarah di atas ubun-ubun maka saksikan bagaimana seorang Stefano bereaksi.
****
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan Rose_Crystal_030199
sukses
semngt
mksh
keren