Dijebak oleh kakak tiri dengan seorang pemuda pada malam ulang tahun teman. Siapa sangka, orang yang satu kamar dengan dia ternyata seorang tuan muda yang paling berpengaruh di kota itu.
Bagaimana kelanjutan kisahnya? Ikuti terus kelanjutan kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16
Karena rasa bersalah yang sedang menguasai hati, Dicky bergegas menuju tempat di mana Merlin berada. Dia mengendarai mobil sendiri dengan kecepatan tinggi untuk bisa segera sampai ke tempat tersebut.
Beruntung, dia tidak mengalami kendala karena hari sudah senja. Akhirnya, Dicky samapi setelah menghabiskan waktu kurang dari tiga puluh menit mengendarai mobil miliknya.
Melihat ke datangan Dicky, salah satu anak buah segera menghampiri mobil yang Dicky kendarai. Lalu, membuka pintu mobil dengan cepat.
"Tuan muda," ucap anak buah itu sambil sedikit membungkuk memberi hormat.
"Di mana gadis itu?" tanya Dicky langsung sambil turun dari mobil.
"Dia masih berada di dalam sana, tuan muda. Seperti yang tuan muda perintahkan, kami tidak mengganggunya sama sekali."
"Baiklah. Kalian bisa menepi dari tempat ini. Biar aku sendiri yang masuk ke dalam untuk menemuinya."
"Baik, tuan muda. Kami akan ikuti apa yang tuan muda perintahkan."
Dicky lalu beranjak meninggalkan anak buahnya. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, dia lalu menghentikan langkah kakinya kembali.
"Di mana Hero?" tanya Dicky sambil memutar tubuh.
"Saya di sini, tuan muda. Ada yang bisa saya lakukan?" tanya Hero sambil berjalan mendekat.
"Ada. Kamu ikut aku masuk ke dalam."
"Baiklah."
Dicky lalu kembali melanjutkan langkah kakinya dengan diikuti Hero dari belakang. Belum beberapa langkah mereka berjalan, dari kejauhan, susah bisa mereka lihat keberadaan Merlin yang sedang berbaring di atas salah satu makan.
Melihat keberadaan Merlin, Dicky semkin mempercepat langkah kakinya berjalan mendekat. Lalu, akhirnya sampai ke tempat di mana Merlin berada.
Dicky menyentuh pundak Merlin setelah ia memastikan kalau yang ada di hadapannya saat ini memang benar Merlin yang dia cari.
"Merlin. Ayo pulang!"
Merlin tidak bergeming sama sekali. Hal itu membuat Dicky merasa serba salah, bahkan sedikit takut. Bagaimana tidak? Dia berada di pemakaman saat senja lagi. Hal itu sedikit membuat bulu tengkuknya berdiri.
"Merlin. Ayo pulang! Aku minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan padamu. Ayo selesaikan semua masalah kita di rumah."
Sama seperti sebelumnya, Merlin masih diam tak berucap. Jangankan berucap, bergerak saja tidak.
"Merlin, ayo pulang! Jangan main-main kamu sama aku!" ucap Dicky dengan nada tinggi karena kesal. Dia merasa kesal karena berpikir, sekarang, Merlin sedang mempermainkannya.
Dicky menggoyang-goyangkan tubuh Merlin sekarang. Saat itulah, dia baru menyadari satu hal, Merlin sama sekali tidak dalam keadaan sadar. Tubuhnya terkulai lemah.
Dicky mendadak panik. Tangannya reflek langsung menyentuh dahi Merlin. Ternyata, suhu tubuh Merlin terlalu tinggi. Dahi yang Dicky sentuh terasa cukup panas dari orang normal pada umumnya.
"Ya Tuhan ... dia demam."
"Apa, tuan muda?"
Dicky tidak menjawab pertanyaan Hero. Dia malah membawa Merlin ke dalam dekapannya, lalu kemudian, dia gendong tubuh mungil itu dengan cepat.
"Tuan muda .... "
"Siapkan mobil cepat, Hero! Jangan banyak tanya dulu."
"Baik, tuan muda," ucap Hero bergegas berjalan duluan mendahului Dicky.
Setelah sampai ke mobil, mereka segera membawa Merlin yang masih pingsan ke apartemen. Dicky memilih membawa Merlin ke apartemen dari pada rumah sakit, karena dia tidak ingin urusan menjadi ribet nantinya.
Hero mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi atas permintaan Dicky. Karena sekarang, Dicky benar-benar terlihat cemas akan keadaan Merlin yang sedang pingsan dalam pangkuannya saat ini.
Lebih dari tiga puluh menit, mobil itu baru tiba di halaman apartemen. Dicky segera membawa Merlin menuju kamar apartemennya.
Ternyata, di depan pintu apartemen itu sudah berdiri dokter Zaki yang sebelumnya dihubungi Dicky untuk memeriksa keadaan Merlin. Dokter Zaki adalah dokter keluarga Prasetya. Dia dokter besar yang namanya sudah terkenal di kalangan dunia kedokteran meski umurnya terbilang masih sangat muda.
"Siapa dia, tuan muda? Apa yang terjadi dengannya?" tanya dokter itu merasa bingung dengan apa yang baru saja matanya lihat.
"Ceritanya panjang. Sekarang, aku ingin dokter mengobati dia terlebih dahulu. Karena, kesembuhannya lebih penting."
Tanpa banyak bicara, dokter itu langsung melakukan tugasnya setelah Dicky meletakkan Merlin di atas kasur. Dia memeriksa Merlin dengan cekatan dan telaten.
"Bagaimana keadaannya, dokter?" tanya Dicky cepat setelah dokter itu selesai memeriksa Merlin.
"Dia hanya demam ringan, tuan muda. Sepertinya, karena kedinginan. Tapi jangan cemas, dia baik-baik saja sekarang. Hanya butuh istirahat yang cukup, maka dia akan sembuh dengan segera."
"Bagus kalo gitu."
"Iya, tuan muda. Saya izin pamit sekarang."
"Silahkan. Hero akan mengantarkan dokter pulang."
"Tidak perlu, tuan muda. Saya pulang sendiri saja. Karena ada tempat yang harus saja datangi sebelum pulang ke rumah."
"Baiklah kalau gitu."
"Saya permisi, tuan muda," ucap dokter Zaki. Lalu kemudian dia beranjak meninggalkan Dicky.
"Tunggu!" Dicky tiba-tiba menghentikan langkah Zaki yang baru saja berjalan beberapa tapak.
"Ada apa, tuan muda?" tanya Zaki sambil memutar tubuhnya kembali.
"Tolong rahasiakan semua yang terjadi di apartemen hari ini. Jangan ngomong pada siapapun soal apa yang baru terjadi pada papa dan mamaku."
Zaki tidak langsung menjawab. Dia menatap Dicky sejenak. Lalu kemudian mengukir senyum di bibirnya.
"Tuan muda tenang saja. Rahasia aman di tangan saya. Tidak akan ada yang tahu, soal apa yang telah terjadi di apartemen malam ini."
"Bagus. Aku percaya padamu. Kamu jangan kecewakan aku, dokter."
"Tidak akan." Zaki berucap sambil senyum pada Dicky.
Kemudian, dokter Zaki kembali melanjutkan langkah kakinya meninggalkan kamar tersebut. Meski hatinya dipenuhi dengan tanda tanya karena penasaran dengan siapa gadis yang telah mampu menciptakan raut cemas dan panik buat Dicky, namun tidak berani dia tanyakan perihal gadis tersebut. Karena rasa takut lebih besar dari pada rasa penasaran.
nikah muda ny
dpt jodoh putri cengeng lagi 😁😁😁
siapa dia...
wlu pun kau serang nyonya,
tapi kau terlalu Egois, ingin ter lalu mengatur hidup nak mu
picik sekali pemikiran mu
toh yg buat kepurltusan dan bunuh diri kan adek mu sendiri.
tich dicky blom nogmong ke adk mu.
kenapa hrs dicky yg di salah kan atas kematian ny .
uang 20 M, gak ada apa2 ny buat mereka...
ah..awaq wong misqin iki 100 rebu sdh sangat berarti 😁😁😁
klu hdp Meelyn bakal sengsara
dasar emak sana anak sama aja.
sama2 gak tau diri
ini lg papa Merlyn kok bisa nuta y mata hati ny, pada anak kandung Sendiri
target ny salah sasaran ..😀😀😀
malah bunuh diri 😱