Putri seorang gadis berusia 17 tahun. Harus rela menerima kenyataan dijodohkan dengan seorang tentara berpangkat Lettu dari kesatuan Angkatan Udara skuadron pesawat tempur. Seperti gadis kebanyakan seusainya. Alias lagi masa puber-pubernya, dan zaman sekarang lagi demam-demamnya K-POP. Tentu dia mengidam-idamkan memiliki pacar seperti Oppa-Oppa Korea. Meski calon tunangannya ganteng dan berpangkat. Tapi masa, dia nikah sama om-om?
Ken yang saat ini menginjak usai 33 tahun. Tak menyangka akan mendapatkan malapetaka ini. Sejak ditinggal kekasihnya 5 tahun silam. Dia belum siap menjalin hubungan lagi. Tapi sekarang dia bisa apa? Tambah bikin suntuk lagi, kenapa lah calonnya cabe-cabean?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Boy Menghubungi
Pos RW yang meliputi Poskamling sangat cukup untuk menampung ibu-ibu PKK dari 2 RW. Kegiatan menyulam saat ini membuat taplak meja dan sarung dispenser. Sebenarnya sudah hal biasa sering dilakukan di masing-masing RW. Namun karena ingin mengikat tali silahturahmi antar RW. Jadi pihak kelurahan mengadakan acara ini 2 bulan sekali.
Seorang wanita berambut pendek. Kisaran umur 45 tahun ke atas. Memakai seragam serba cokelat muda. Terus berbicara di depan mereka sebelum kegiatan menyulam di istirahatkannya. Dia adalah staff kelurahan.
“Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia menjadi salah satu upaya pemerintah buat memajukan masyarakat kita. Kita tidak boleh berpangku tangan kepada suami. Kita pun harus bisa menjadi roda ekonomi keluarga.”
“Iya, Ibu...,” jawab mereka.
“Saya lihat kegiatan PKK di dua RW ini terus berjalan baik. Saya harap ke depannya terus begitu, dan semoga juga makin banyak di lingkungan sekitar Ibu-Ibu yang pada mau berpastisipasi. Karena kegiatan ini positif, dan bisa membantu menyejahterakan kehidupan keluarga.”
“Baik, Ibu...”
“Ayo, Ibu-Ibu ajak yang lain bergabung.”
“Baik, Ibu...”
“Di sini pun saya mau menyampaikan. Kalau terjadi masalah dalam hal penjualan, dan pendistribusian ke pengadah. Kami dari pihak kelurahan, selalu siap membantu.”
“Iya, Ibu...”
“Sekarang kita istirahat dulu. Nanti 30 menit lanjut lagi.”
“Iya, Ibu...”
Kotak-kotak nasi dibagikan ke ibu-ibu oleh pengurus makan. Ibu Ken setelah dapat, dia langsung keluar demi mencari tempat yang aman. Maklum, takut suaranya terdengar orang. Setelah dapat posisi yang pas, dia menelpon Wati.
“Iya, Mur?" sapa yang di sana.
“Wat, tolong nanti sore kamu datang ke rumahku ya, bawain celana panjang anakmu. Kamu harus datang ya, ini penting loh!"
Bingung. “Memangnya kenapa, Mur?”
“Soalnya kemarin kata anakmu, dia nggak bawa.”
Mengernyitkan alis lagi. “Nggak bawa?”
"Iya."
“Kok bisa? Eh! Tunggu dulu...”
Lekas Wati bergegas ke kamar anaknya. Karena dia penasaran, perasaannya saat itu sudah dimasukannya. Jadi saat itu dia ikut merapihkan pakaian anaknya ke koper sebelum pergi ke rumah orang tua Ken. Makanya dia tadi bingung. Tapi sebenarnya masih ada yang dibingungkannya karena cara bicara Murni kurang jelas. Lalu sesampainya di sana, di bukanya lemari.
“Astaga... Dasar anak ini! Ternyata memang masih ada. Padahal waktu itu aku udah masukan celana panjangnya ke koper loh, Mur."
Mendelik. “Oh! Ada kamu masukan?”
"Iya. Jadi waktu itu aku ada bantuin dia merapihkan baju-bajunya sebelum tinggal di rumahmu. Kayaknya diam-diam dikeluarinnya deh, Mur. Eh! Tapi ini ngomong-ngomong ada apa ya?”
Ini yang Wati ingin tahu. Karena kalau anaknya hanya tinggal di rumah orang tua Ken seharusnya nggak masalah pakai celana pendek. Ya, walau pun tetap tidak sopan. Tapi sebenarnya bukan itu juga yang buat Wati heran. Karena tadi Murni bilang, 'penting', dan kenapa harus cepat di antar. Kan bisa menunggu besok-besok.
“Hari ini anakmu buat kaget anakku. Tiba-tiba dia datang ke kantor anakku."
Melotot. “Hah?!”
“Hari ini anakmu nggak sekolah. Tadi malam anakku dan anakmu pergi ke mall, terus mereka ada pergi nonton, dan pulang tengah malam. Pagi ini aku ada kegiatan PKK. Jadi anakmu kutinggal di rumah."
Meski dapat kabar mengagetkan begitu. Tapi ada hal yang membuat Wati jadi kembali mengernyitkan alis.
“Tapi kok, anakku bisa tahu kantor anakmu?”
“Nah, itu! Untuk hal itu, aku pun nggak tahu. Makanya tadi aku minta sore ini kamu sudah harus antar. Soalnya takutnya anakmu besok-besok ada ke sana lagi."
“Oo... Gitu. Aduh... Aku minta maaf banget ya, Mur... Pasti anakku buat masalah ya, di sana. Dia memang demen pakai bawahan pendek. Ya, kamu tahu sendiri lah anak remaja demen pakai pakaian begitu. Makanya waktu itu aku ikut merapihkan pakaiannya. Karena tahu, dia gak suka pakai celana panjang. Eh, tahunya... Malah diam-diam dikeluarinnya. Aduh... Ampun deh anak itu. Duh...Aku benar-benar minta maaf ya, Mur..."
Wati menutup matanya. Nggak sanggup membayangkan kelakuan anaknya sudah pasti buat malu calon mantunya di sana.
"Ya sudah, nggak apa-apa, Wat. Kata anakku, anakmu dikunciin di ruangannya biar Komandannya gak lihat. Yang kutakutkan hanya besok-besok dia ke sana lagi aja, dan takutnya karena gak ada celana panjang. Dia ke sana pakai bawahan pendek lagi. Kan kalau udah ada celana panjangnya. Kapan pun dia mau ke sana enak."
“Oo... Gitu. Ya udah, ntar sore aku antar."
Ok, dua manusia ini tidak tahu apa sebenarnya yang selanjutnya terjadi. Karena ibu Ken berbicara dengan mami Putri berdasarkan pengetahuannya setelah dapat telepon dari anaknya. Sekarang, kita kembali ke markas.
Setelah berbicara begitu, Putri di suruh Komandan Ken pergi ke ruangan Ken. Sedangkan Ken masih bersama Komandannya di ruangannya. Dia masih bersikap dengan kepala tertunduk malu.
“Memang anak umur segitu pikirannya masih labil. Anak saya juga begitu. Senangnya pakai rok mini dan celana mini. Apa lagi di rumah, aduh... Pusing saya! Setiap hari setel musik aneyo, aneyo. Kamu tahu kan, itu... Musik Korea. Ya, itu lah kelakuan anak zaman sekarang.”
Ini kenapa Komandan jadi curhat? Ken mendelik. Kemudian Komandannya menepuk-nepuk pundaknya.
“Yahhh... Biar begitu, kamu harus tetap kasih tahu. Biar dia tahu cara menempatkan diri. Kamu tahu sendiri kan, anak saya kalau ke sini pakaiannya sopan. Pelan-pelan saja kasih tahunya. Lagi pula, nanti kamu akan berkeluarga kan. Jadi biar dari sekarang kamu belajar cara medisplinkan anak.”
“Uhuk!” Ken batuk kecil.
Komandannya nggak tahu saja gadis yang di ruangannya itu siapa. Mungkin nanti satu tahun kemudian tahu bakal pingsan. Dan mungkin saat itu tiba, dia bakal habis diomelin sama Komandan lagi karena sudah berbohong.
Kemudian Komandan menurunkan tangan, berubah bicara serius.
“Atas kejadian ini. Saya memberi sanksi kepadamu. Lari lapangan 50 kali, squat jump 50 kali, dan push up 50 kali.”
“Baik, Komandan!" Ken mendongakan kepala.
“Masalah inspeksi, biar Letda Aryo dan Letda Budi saja yang urus. Sekarang kamu bisa keluar menjalani hukumanmu.”
“Siap, Komandan!” Ken memberi hormat.
Kemudian dia keluar, dan berjalan ke lapangan. Lalu setiba di sana, dia langsung menjalani hukumannya. Sebenarnya nggak masalah dia di strap. Toh, dia tentara memiliki fisik yang kuat. Cuman pasalnya dia sudah lama tidak menjalani hal ini. Terakhir saat dia baru jadi tentara.
Ken curi-curi pandang memperhatikan rekan-rekannya. Yang sedang hilir mudik di samping lapangan dan pada memperhatikannya. Bahkan ada yang menertawakannya. Asli, dia malu sekali. Namun rupanya kemaluannya tidak sampai di situ. Beberapa saat kemudian. Letda Aryo dan Letda Budi, bersama Komandan, dan anak buah mereka. Mereka jalan bersama-sama melintasi dirinya. Para tentara berkepala pelontos berpangkat Prajurit dan Kopral lulusan Tamtama pada memandanginya. Hancur... Hancur sudah wibawa dan harga dirinya. Anak buahnya melihat dia begini.
Squat jump sudah mencapai finish, dia beralih ke hukuman terakhir. Saat mau memulai, tanpa sengaja matanya bersirobok dengan si Kencur yang sedang memandanginya di jendela sambil mengulum permen lolipop. Rasanya dia ingin terbang ke sana, mengacak-acak rambutnya, dan mengkremes mukanya. Gara-gara anak itu dia jadi menjalani semua ini.
Jadi ruangan kerja pria itu tidak jauh dari lapangan.
“Fiuh!”
Ken keluar dari lapangan setelah menyelesaikan hukumannya. Lalu sesampainya di ruangan, dia terkejut Kencur hilang lagi tidak ada ditempat.
“Astaga... Kemana lagi anak ini... Masih kurang apa, kalau belum satu batalyon lihat pahanya.”
Kemudian dia bergegas keluar. Namun sebelum mencari, dia pergi ke parkiran dulu untuk mengambil jacketnya, dan salep lebam buat tangan dan paha Putri. Semalam obat itu tidak diturunkannya dari mobil di taruhnya di dashboard.
Setelah mengambil, baru dia pergi mencari. Satu persatu tempat ditelusurinya. Akhirnya dia menemukan si Tuyul lagi makan di kantin sambil bercengkrama bersama rekan-rekannya.
Di meja gadis itu paling ramai sendiri. Karena 1 meja dikerubutin 10 tentara.
“Iya, Tentara-Tentara Om. Om Ken galak, sebel deh Putri," adu Putri.
“Ho oh! Om-mu memang menyebalkan!" sahut satu dari mereka.
“Iya, tangan Putri dibuat merah. Dan paha Putri juga dicubit-cubitin sama Om Ken. Tuh, tuh, tuh, lihat...”
“Iya, iya, iya." Mereka serempak pada mengangguk-angguk dengan pupil mata love.
Ken darahnya langsung naik ke ubun-ubun. Mungkin jika pakai pengukur suhu, panas di tubuhnya bisa membuat jarum di alat itu patah. Lekas cepat-cepat dia ingin sampai ke sana.
“Putri...!” teriaknya sebelum tiba.
Serentak yang ada di sana menoleh, dan satu dari tentara di sana komplain setelah tahu siapa yang teriak.
"Astaga... Bikin kaget aja!"
“Hei! Hei! Hei! Bubar kalian!" usir Ken setibanya.
“Ya ampun... Gitu aja ngusir-ngusir," protes lagi satu dari mereka.
“Iya, ini... Orang kita lagi prihatin juga sama keponakanmu," tambah yang satu lagi.
“Jangan galak-galak dong Mas Bro sama ponakan," tambah yang lainnya.
Ken tak peduli tetap saja mengusir. Ya, wong dia juga laki-laki tahu apa yang dipikirkan mereka.
“Ayo, cepat, cepat, bubar!”
“Ah, gimana sih! Ganggu aja!"
Rekan-rekannya pada bergerak malas-malasan membubarkan diri. Kemudian setelah mereka pergi, Ken berbicara dengan Putri.
“Berdiri!"
“Mau apa sih, Om?” Putri berdiri.
Lalu Ken seperti semalam melilitkan jacketnya ke pinggang Putri. Namun saat ini dia melakukannya sambil mengomel.
“Di suruh diam di ruangan malah jalan-jalan."
“Putri kan lapar, Om.”
"Terus malah pamer-pamer paha melulu kerjaannya."
"Kan, emang merah-merah Om."
“Nyahut aja! Sudah! Sekarang duduk, dan duduk yang benar!"
“Iya, iya." Putri kembali duduk.
Lalu Ken menyusul duduk di depan Putri. Kemudian dia melambaikan tangan memanggil pelayan. Dia pun belum makan siang. Pada saat bersamaan terdengar dering di Hp Putri. Putri melihatnya, rupanya itu dari Boy.
Tentu ya, kemarin bukan hanya gadis itu yang tahu nomor cowok itu Cowok itu pun tahu nomornya. Karena sahabatnya kan ada ngasih.
Tiba-tiba Putri dilanda keringat dingin mau menerimanya. Kemudian dia beralih melihat pria di depannya yang lagi berbincang dengan pelayan. Entah kenapa, dia begini... Yang pasti dia takut sekali. Karena itu, lebih baik dimatikannya saja. Namun rupanya Boy menelpon lagi.
Kring...
Putri lompat dari tempat duduknya saking kagetnya, dan buru-buru dimatikannya lagi. Namun ternyata Boy nggak menyerah masih menelpon lagi.
Kring...
Sontak Putri kembali terpana, dan mematikan lagi.
“Bunyi terus itu... Kenapa nggak diangkat? Malah terus dimatiin.” Ken berbicara, setelah urusannya selesai dengan pelayan.
Kikuk. “T-eman Putri”.
Mengangkat alis. “Lantas, kenapa nggak diangkat?”
“P-utri kan, l-agi makan.”
“Tadi kamu lagi makan, bisa ngobrol sama teman-teman Om.”
“T-adi kan, Putri b-ingung mau mengusir tentara-tentara Om.” Putri terus gugup.
Namun sebaik dia bicara begitu. Ternyata Hp-nya berdering lagi, dan dari Boy lagi. Tapi kali ini berupa pesan yang berbunyi...
“Kok dimatiin mulu, Put? Elo sakit ya, Put? Kok nggak sekolah?”
Ken mengamati Putri yang membaca, dan mengirim pesan sambil curi-curi mata melihatnya. Kenapa anak ini? Mencurigakan sekali.
Biar Boy tidak mengganggunya lagi. Maka Putri membalas...
“Gak sakit kok! Gue lagi sama Om gue. Om gue galak! Udah ya.”
maaf othor sekedar koreksi menurut saya🙏
sampai sekarang kalo baca pasti lupa kasih like karwna keasyikan baca
tengah malam tahan2 Tawa 🤣🤣🤣🤣
tengah malam ketawak2 sendiri Thor..
semangat trus ya