Perusahaan keluarga nyaris bangkrut, keuangan menipis lantaran terbiasa hidup mewah.Nabila harus menerima takdir Siska menolak dijodohkan dengan pak tua mesum dari keluarga Gunawan yang terkenal. Demi keluarga dia rela berkorban, dia rela di gadaikan, dinikahkan dengan pak tua mesum ituh yang terkenal kaya raya. Namun ituh tidak menujukan dirinya, sebelum hari penikahan mereka tiba. Sosoknya yang misterius dan selali sembunyi di balik kamera,akhirnya terungkap saat ia menikahi Nabila dengan cara hormat. " Kk-kamu.... masih muda? " tanya Nabila dengan polosnya. " kamu kira saya sudah tua gituh? " Nabila menggeleng panik. " tapi kata kaka siska, kamu orang tua yang mesum dari keluarga Gunawan yang terkenal. "Ituh hanya rumor palsu tentang saya, kamu jangan percaya rumor sebelum kamu liat langsung sendiri buktinya. "Apakah Nabila yang selalu menderita bisa hidup bahagia setelah menikah dengan suaminya Devan? Ataukah Siska akan menjadi duri dalam penikahan Nabila dan Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Annisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
"APA yang kamu rencanakan, Rangga ?" Devan bersedekap dada sewaktu Rangga sampai di parkiran rumahnya, hendak menyerahkan dokumen yang perlu Devan periksa dan tanda tangani seperti biasa.
Rangga tampak mengernyitkan dahi. Dia baru saja sampai dan menemukan Devan berada di garasi. Memang hal itu cukup biasa bagi orang lain, tapi bosnya satu ini lebih suka di ruang kerjanya daripada harus menunggu orang di garasi. "Apa yang Tuan maksud?"
"Siska ... apa yang kamu rencanakan soal dia?"
Devan melirik rumah, dia baru saja pulang dari kantor bersamaan dengan datangnya Rangga ke rumahnya. Dia terpaksa mengajak Rangga bicara di sana, karena Nabila berada di rumah sekarang.
Bagaimanapun juga, dia tidak mau Nabila tahu kabar terkini dari seorang Siska Atmawijaya . Terutama kabar Bambang dan Farah yang telah meninggalkan rumah besar mereka dan menetap di luar kota.
"Saya hanya sedikit menyibukkannya dengan cara membiarkan dia bekerja di
perusahaan Gunawan . Dengan begitu, kita bisa leluasa mengawasi pergerakannya dan juga, dia akan sedikit melupakan tujuannya untuk mencari-cari Nabila."
Devan mengatupkan bibirnya. Ditatapnya Rangga dengan wajah serius. "Apakah kamu tertarik pada Siska, Rangga?"
Rangga menggeleng tegas. "Tidak, Tuan."
"Jangan berbohong. Jika kamu sampai menyukainya dan masuk dalam perangkap wanita itu, kamu tahu apa yang akan terjadi, kan?"
Rangga mengangguk mantap. "Untuk itu saya ingin mempermainkannya.
" Selamanya, saya akan menjadi kaki tangan Anda yang paling setia, Tuan."
Devan menganggukkan kepala. Dia pun merasa, Rangga tidak akan mungkin mengkhianatinya. Walaupun kemungkinan itu memang ada, tapi ia cukup bisa mempercayai Rangga layaknya dia mempercayai keluarganya.
Dia bertemu Rangga beberapa tahun yang lalu. Usianya saat itu masih cukup muda, tapi dia tetaplah Devan dengan otak cerdasnya.
Dia menemukan Rangga sedang menggendong ibunya yang sakit parah dan saat itu Devan berinisiatif membantu mereka.
Rangga yang miskin dan tidak punya apa-apa dibantu olehnya. Devan merawat ibu Rangga sampai sekarang dan Rangga mengabdikan diri padanya. Devan pun menjadikan Rangga sebagai kaki tangan yang paling ia percayai. Sampai sekarang ... tidak ada yang berubah.
"Bagaimana keadaan ibumu?"
Rangga tersenyum tipis. "Beliau masih hidup, walaupun saya sudah pasrah apabila beliau pergi meninggalkan saya hidup sendiri."
"Kamu tidak akan sendiri, karena
kamu memiilikiku." Devan berlalu dari mengangguk seraya tersenyum bahagia.
Hal yang paling menyenangkan baginya adalah dianggap berarti oleh orang yang ia hormati, orang yang telah memberinya hidup, dan orang yang telah memberi pertolongan pada mereka saat ia tidak sanggup berbuat apa-apa.
Bagi Rangga, Devan adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menyelamatkan ibu serta dirinya. Sama halnya dengan apa yang Nabila alami saat ini.
Devan adalah malaikat yang telah melepaskan belenggu hidup perempuan itu. Akan sangat kurang ajar jika mereka berdua berani mengkhianati Devan yang begitu baik pada mereka.
Tentunya, Rangga tidak akan pernah melakukannya. Dia akan setia, bahkan sampai ajal menjemputnya.
Dia bahkan sudah menganggap Devan layaknya kakak yang begitu baik dan
bisa diandalkan.
Namun apa yang ia lakukan belum tentu sama dengan apa yang akan Rangga lakukan pada Devan di masa depan.
*****
Bagaimanapun juga ia telah berjanji, maka dia akan menepatinya.
Nabila sudah membuat sepuluh mangkuk puding dan ia sudah memasukkan semuanya ke lemari pendingin. Nabila mencuci kedua tangannya sebelum akhirnya bisa mengembuskan napas lega. Dia pergi menuju kamar berniat belajar untuk ulangan besok.
Perempuan itu menghela napas kasar. Hari ini dia tidak masuk. Dia tidak bisa menyimak pelajaran, dia juga tidak tahu apakah ada PR atau tidak.
Andaikan dia punya teman, maka semuanya akan menjadi lebih mudah. Hanya tinggal menghubungi mereka dan bertanya, maka dia akan mendapat jawabannya. Masalahnya, Nabila tidak punya satu pun teman di sekolah.
Lagi-lagi ia menghela napas kasar.
Dia mengeluarkan buku pelajaran hari ini dan mulai membaca, walau dia tidak bisa memahaminya sama sekali.
"Gimana cara jadi juara kelas, kalau belajar sendiri aja nggak paham?"
Nabila jadi ingin menangis. Dia rindu adik-adiknya di panti dulu. Sudah sekian lama, apakah mereka masih mengingatnya? Apakah mereka baik-baik saja? Nabila hanya bisa berdoa kalau mereka baik-baik saja di sana dan berharap bisa lekas mendatangi mereka. Namun, bagaimana? Harapan menjadi juara kelas terdengar mustahil dikepalanya.
"Harusnya aku tidak pingsan. Harusnya aku tetap sekolah. Harusnya aku belajar dengan giat. Kenapa ... aku malah begini?"
Nabila menjatuhkan wajahnya ke atas meja belajar yang baru datang kemarin, lalu dengan pelan dia mengetuk-ngetukkan jidatnya ke meja.
Devan masuk ke kamar saat Nabila sedang melakukan tindakan konyol yang bisa membuat kepalanya gegar otak. Devan langsung mendekat dengan cepat, memegangi kedua sisi kepalanya dan memaksa Nabila untuk kembali duduk tegak dengan cara."Aduh! Aduh, Kak!" Nabila menjauhkan tangan Evan dari kepalanya lalu menatap suaminya.
"Kamu sedang apa?" Devan bertanya dengan nada tajam, bahkan matanya melotot ke arah Nabila yang cemberut menatapnya.
"Lagi protes sama meja, kenapa otakku nggak bisa pintar kayak otak Kak Devan."
Devan mengambil pena dan memukulkannya ke jidat Nabila.
"Kamu tahu, apa yang kamu lakukan itu berbahaya?"
Nabila meringis, sembari memegangi jidatnya yang sakit. "Kakak tahu, apa yang kakak lakukan juga bahaya?"
"Tidak sebahaya kamu yang memukul-mukul kepala sendiri ke meja. Pantas kamu tidak pandai-pandai, kalau cara kamu memperlakukan kepalamu begitu." Nabila semakin cemberut mendengarnya. Dia memalingkan muka, menghindari Devan yang sepertinya terlihat amat sangat murka karena ulah kecilnya beberapa saat lalu.
"Aku hanya ... tidak bisa belajar sendiri. Aku tidak masuk sekolah tadi, aku tertinggal, dan aku tidak bisa mengejar." Nabila menundukkan wajahnya.
"Aku juga tidak punya teman, aku tidak tahu harus bertanya pada siapa kalau tadi ada PR yang ditinggalkan guru saat aku tidak masuk sekolah, kan? Bagaimana cara aku bisa mengejar semua ketertinggalan itu? Aku tidak tahu caranya, Kak."
Devan menghela napas kasar. "Aku akan mengajarimu, kalau kamu sudah selesai membuat pudingnya."
"Ah!" Nabila menatap Devan dengan mata berbinar-binar. "Kakak serius?"
Devan mengangguk. "Kalau kamu sudah membuatnya, aku akan mengajari--"
"Aku sudah membuatnya. Tunggu sebentar, aku akan mengambilnya. Tapi Kak Devan harus janji, Kakak harus mengajariku sampai mengerti!"
Devan membelalakkan mata. Kapan Nabila membuat puding-puding yang ia minta semalam? Devan menatap horor istrinya.
Namun, Nabila hanya tersenyum lebar sebelum pamit ke bawah, hendak mengambil puding yang beberapa saat lalu baru ia buat.
Dan Devan merasa ... dia harus menunda pekerjaannya sendiri untuk mengajari Nabila sampai istrinya itu mengerti.
Bersambung
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa jadiin favorit ya, biar bisa dapat notifikasi saat novel ini up. Dan jangan lupa like, vote, dan komentar yang positif. Terimakasih, kalau mau ngasih kritik dan saran juga boleh, itu bagus. Jadi saya tahu mana yang salah dan mana yang benar. Salam hangat dari saya. 🤗
Oh iya, kalau mau lebih dekat dengan sang penulis, teman-teman bisa Follow ig aku @Aisyahsnisa.07atau fb aku Aisyahanisa
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...