NovelToon NovelToon
NADYA

NADYA

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Tamat
Popularitas:237.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bundew

Saat bunda kandung dari gadis yang kamu cintai ternyata adalah calon istri papamu yang artinya juga adalah calon mama sambungmu.
Apa yang akhirnya akan kamu lakukan?

Mempertahankan hubunganmu dengan gadis yang kamu cintai dan meminta papamu yang mundur, atau mengalah demi kebahagiaan papamu?

Reza Hutomo akan menjawabnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CURIGA

Pak Teddy dan Bunda Maya masih menikmati es teler mereka, saat Nadya keluar dari kamar seraya membawa sebuah bungkusan di tangannya.

"Itu apa, Nad?" Tanya Bunda Maya menyelidik pada putrinya yang hanya cengar-cengir.

"Nadya mau nawarin baju ke Pak Teddy, Bund!" Jawab Nadya yang langsung membuat Pak Teddy menatap ke arah gadis remaja tujuh belas tahun tersebut.

"Pak Teddy!"

"Pak Teddy pasti sering ke kondangan, kan? Jadi pasti butuh baju batik buat gonta-ganti, kan? Ini Nadya punya kemeja batik bagus, Pak!" Tutur Nadya seraya menunjukkan kemeja batik yang masih terbungkus plastik pada pak Teddy.

"Kamu yang jahit, Nad?" Tanya Pak Teddy yang langsung menerima keneja yang disodorkan oleh Nadya.

"Iya, Pak!" Jawab Nadya seraya meringis.

Pak Teddy tanpa sungkan membuka plastik kemasnya, lalu membentangkan kemeja batik warna coklat motif kawung kecil-kecil tersebut.

"Bagus! Ukuranya apa?" Tanya Pak Teddy seraya membuka kancing kemeja.

Sepertinya hendak mencoba untuk memakainya.

"Ukuran L, Pak! Kalau kebesaran bisa dikecilin, kok!" Jawab Nadya sambil memberikan alternatif.

"Pas!" Ucap Pak Teddy yang sudah mencoba kemeja hasil jahitan Nadya.

"Wuiih! Pak Teddy jadi makin ganteng dan terlihat lebih muda!" Puji Nadya seraya menunjukkan kedua jempolnya pada juragan Bunda Maya tersebut.

"Bisa saja kamu, Nad!" Sahut Pak Teddy seraya terkekeh.

"Jadi, Pak Teddy mau membelinya?" Tanya Nadya yang langsung berhadiah delikan dari Bunda Maya.

"Kalau Pak Teddy nggak mau, ya jangan dipaksa, Nad!" Nasehat Bunda Maya seraya melipat kemeja yang sudah selesai dicoba oleh Pak Teddy.

"Ya, kan Nadya lagi usaha, Bund!" Kilah Nadya mencari pembenaran.

"Jangan dimarahi, May! Itu kan bagian dari yang diajarkan di sekolah Nadya. Kewirausahaan atau apa itu, Nad namanya?" Pak Teddy bertanya pada Nadya.

"Iya Kewirausahaan, Pak! Bagaimana caranya menawarkan produk pada pelanggan," jawab Nadya sedikit menjelaskan.

"Tu! Nadya udah pinter itu!" Puji Pak Teddy seraya terkekeh.

"Jadi?" Nadya masih menatap harap pada Pak Teddy.

"Kamu jual berapa kemeja batiknya?" Pak Teddy balik bertanya pada Nadya.

"Modal buat kain dan bahan lainnya, sih lima puluh ribu, Pak! Untuk ongkos jahitnya, seikhlasnya Pak Teddy saja," Jawab Nadya seraya meringis.

"Bayar modalnya saja, Pak!"

"Jahitannya Nadya juga masih semrawut," saran Bunda Maya yang langsung membuat Pak Teddy terkekeh.

"Nggak semrawut, Bund! Udah rapi itu jahitannya Nadya! Udah sanggit bagian depan dan sakunya pasang kerah juga rapi," elak Nadya memuji hasil karyanya sendiri.

"Ini!" Pak Teddy tiba-tiba sudah menyodorkan lembaran uang berwarna merah pada Nadya.

"Mau kembali berapa, Pak?" Tanya Nadya sedikit bingung.

"Loh! Katanya modal lima puluh ribu? Ya sisanya ongkis jahit berarti," jawab Pak Teddy yang langsung membuat kedua mata Nadya berbinar senang.

"Pak, itu kebanyakan!" Protes Bunda Maya merasa sungkan pada sang juragan.

"Enggaklah, May! Ini kalau beli di toko juga harganya diatas seratus ribu," ujar Pak Teddy dengan nada santai.

"Jadi ini buat Nadya semua, Pak?" Tanya Nadya dengan raut wajah yang masih setengah percaya.

"Iya, Nad! Rezeki kamu itu!" Jawab Pak Teddy seraya mengusap kepala Nadya.

"Alhamdulillah! Terima kasih banyak, Pak Teddy!" Nadya langsung mencium punggung tangan pria paruh baya tersebut.

"Iya, Bapak juga makasih, udah dibikinin kemeja bagus begini," jawab Pak Teddy menunjuk ke arah kemeja batik yang sudah dilipat rapi kembali oleh Bunda Maya.

"Ambilkan plastik, Nad!" Titah Bunda Maya pada Nadya yang langsung bergerak lincah untuk mengambil plastik baru untuk membungkus kemeja batik Pak Teddy.

"Ini, Pak!" Nadya memberikan kemeja batik yang kini sudah kembali terbungkus rapi di dalam plastik pada Pak Teddy, seraya tersenyum manis.

Pak Teddy balas tersenyum pada gadis remaja tujuh belas tahun tersebut.

Punya putri seperti Nadya sepertinya begitu membahagiakan. Anaknya ceria dan murah senyum.

Suara ponsel Pak Teddy membuyarkan lamunan pria paruh baya tersebut. Segera Pak Teddy mengangkat telepon dan berbicara sebentar.

"Ada tamu," lapor Pak Teddy setelah selesai bicara di telepon.

Juragan Bunda Maya tersebut segera menghabiskan es teller di mangkuknya yang memang tinggal sedikit.

"Aku pamit pulang dulu, May!" Pamit Pak Teddy selanjutnya pada Maya yang langsung bangkit berdiri dan mengantar sang juragan ke teras depan.

"Terima kasih banyak karena sudah diantar pulang dan dibelikan es teler, Pak," ucap Maya tulus sebelum Pak Teddy masuk ke dalam mobil pick up-nya.

"Sama-sama, May! Besok lagi kamu telepon saja kalau sudah selesai jahitannya, jadi tak perlu panas-panasan mengantarnya ke pabrik!" Pesan Pak Teddy sekali lagi pada Maya.

"Iya, Pak!" Jawab Maya seraya mengangguk.

Mobil Pak Teddy sudah melaju meninggalkan rumah kontrakan Maya. Segera Maya masuk kembali ke dalam rumah dan menghampiri Nadya yang masih duduk-duduk di sofa ruang tamu seraya memainkan ponselnya.

"Ciyee, Bunda!" Goda Nadya oada sang bunda.

"Tadi ditraktir sama siapa? Dimana? Acara apa?" Cecar Bunda Maya yang kini sudah duduk di samping Nadya. Tatapan bunda kandung Nadya tersebut terlihat serius dan menyelidik.

"Teman, Bund!" Jawab Nadya seraya meringis.

"Teman siapa namanya? Laki-laki atau perempuan?" Bunda Maya masih menatap serius pada sang putri.

"Namanya Reza," Nadya menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Laki-laki?" Tebak Bunda Maya yang sepertinya sudah hafal dengan gelagat Nadya.

"Iya! Tapi beneran cuma teman, Bund!" Nadya mengangkat tangan kanannya, lalu jari gadis itu membentuk tanda V.

"Kamu itu masih kelas sebelas, Nad! Belajar dulu sungguh-sungguh, dan nggak usah mikirin pacaran!" Nasehat Bunda Maya tegas namun ada kelembutan dibalik nasehat tegasnya tersebut.

"Nadya nggak pacaran, Bund!" Kilah Nadya berdusta.

Jelas-jelas tadi Nadya sampai pegangan tangan dan memeluk pinggang Mas Reza, masih bilang nggak pacaran!

Dasar Nadya!

"Trus kenal Reza Reza itu dimana? Anak STM sebelah?" Tebak Bunda Maya kembali menyelidik.

Bukan rahasia lagi kalau anak-anak SMKK banyak yang punya pacar atau sekedar pedekate dengan anak STM di sebelahnya.

Lucu juga kalau dipikir-pikir. Yang sebelah sekolah SMKK yang mayoritas muridnya adalah perempuan dan sebelahnya lagi sekolah STM yang mayoritas muridnya adalah laki-laki. Sekolahnya berjejer dan hanya dipisahkan pagar tembok pula.

"Nggak ada! Itu kemarin nomor nyasar. Trus ngajakin kopdar, eh ternyata dia mas ganteng penjual kain di BTC yang kemarin Nadya ceritain ke Bunda itu," tutur Nadya menjelaskan.

"Ck! Itu lagi! Nomor nyasar tapi kamu ladeni!" Bunda Maya berdecak tidak senang.

"Kalau dia sudah menikah atau berkeluarga bagaimana? Kamu mau dilabrak sama istrinya?" Cecar Bunda Maya yang langsung dijawab Nadya dengan gelengan kepala.

"Nadya cuma iseng, Bund! Pas diajakin kopdar juga Nadya nge-less melulu, kok! Baru tadi aja tiba-tiba Mas Reza nyamperin Nadya ke sekolah."

"Padahal Nadya juga udah bilang kalau Nadya sekolah di SMAN 4, eh, ternyata Mas Reza tahu kalau Nadya sekolahnya di SMKN 4 dan bukan di SMAN 4. Akhirnya tadi disamperin," kelit Nadya sekali lagi yang masih berusia mencari pembenaran.

"Mas? Panggilnya udah Mas segala!" Bunda Maya kembali berdecak tak percaya.

"Ya kan dia udah umur dua lima, Bund! Nggak sopan kalau Nadya manggil nama doang!" Kilah Nadya memberikan alasan.

"Nah itu! Udah umur dua lima! Udah punya anak istri jangan-jangan! Udah, kamu stop berhubungan sama dia!" Ucap Bunda Maya tegas seraya merebut ponsel Nadya yang masih digenggam oleh sang empunya.

Nadya sontak merengut dan membiarkan sang bunda mengotak-atik ponselnya.

Bunda Maya membuka kontak di ponsel Nadya dan mencari kontak bernama Reza. Tapi tidak ada.

"Kamu kasih nama siapa, Nad?" Tanya Bunda Maya menyelidik.

"Eza," jawab Nadya masih merengut.

"Eza? Kok namanya seperti tidak asing, ya?" Bunda Maya tampak mengingat-ingat nama Eza.

Tapi nama siapa?

Entahlah! Bunda Maya juga tak ingat.

Wanita empat puluh tahun tersebut langsung menghapus kontak Eza dari ponsel Nadya beserta riwayat pesan yang hanya beberapa.

Sebagian besar riwayat pesan Nadya dan Eza memang sudah Nadya hapus agar tak ketahuan sang bunda.

"Belajar yang benar dan tidak usah pacaran dulu!" Nasehat Bunda Maya sekali lagi seraya mengembalikan ponsel sang putri.

"Iya, Bunda," jawab Nadya yang masih merengut.

Bunda Maya sudah beranjak dan membereskan mangkuk bekas es teler yang tadi memang masih bergelimpangan di atas meja, lalu segera membawanya ke dapur.

.

.

.

Terima kasih yang sudah mampir.

Jangan lupa like biar othornya bahagia.

1
Janah Husna Ugy
lucu demi si littt
Janah Husna Ugy
tak tunggu neng solo square thor
Janah Husna Ugy
q solo Thor,bagian utara🤭🤭
Pisces97
baru tau aku perempuan anak diluar nikah binti nya tetap ibu 🥺
Pisces97
hahahaha tapi Nadya dulunya suka bohong sama Reza 😀😀
Pisces97
kurang gimana gitu ya nad kamu sama Zikri 🤭
jiwa bar² mu hilang sudah beda sama Reza ya 😅😅
mungkin karena sifat kalian sama
Pisces97
gimana Nad angan² tidak sesuai itulah hidup kita tidak boleh terlalu berharap karena berharap itu sakit 😅🤭🤭
Pisces97
gengsi banget sih nad 😂😂😂
Siti Dede
Enak dibaca
Ameerah Khair
bagaimana kah rasanya deg deg kan saat di lamar...????
sebab sy dulu gak dilamar, mas bojo datang ujuk ujuk ngajak nikah...?????
kamarnya cuma via telepon yongalahhhhhhh.....
heheeeee tp Alhamdulillah udah 8th lewat membina rumah tangga... mudah mudahan hingga akhir nafasku 🖤
Bundew: rasanya sampe nggak berani liatin wajah mas bojo 🤣🤣
cuma sibuk ngitungin ubin
total 1 replies
Ameerah Khair
huaaaa hahaaaaaa....
aku juga pernah begitu dulu salah nomer....
lebih tepatnya sengaja ngacak nomer... terus nyambung ke nomer lelaki ya huhhuuuuyyyyy...🤭🤭🤭🤭
Ameerah Khair
serasa refresh baca novel yg ini....
kalo novel yg semalam saling berhubungan, rajut merajut, kadang Ampe lupa...
yg ini anak sapa😁😁😁😁
"kadang malah bisa muter balik, flashback ke novel yg udah finis"
ahhh ..segitu gak ada kerjaan nya diriku???
keke global
loch judule kok ganti.. pantesan diriku bingung perasaan ga prnh baca judulnya Nadya.. 😂😂
Bundew: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Ronny Napintor Siregar
kayaknya si Eza anaknya pak Teddy nih, si bapak naksir emaknya Nadya dan si anak naksir anaknya Maya 😂
Winda Nurmayani
cerita merakyat..bukan cerita CEO2 ganteng..suka suka
Nadia Laili
wah kalau Nadya sm Reza saudara lain ibu jadi ingat kata-kata Lita waktu Nadya pertama di jemput Reza di sekolah, Lita sempat bilang kalau jodoh itu mmg mirip ya kayak Nadya sm Reza
Nadia Laili
galfok sm hp nya yg di pakai sebentar langsung demam hahaha
Nadia Laili
kalau dulu sekolah SMK mmg identik maaf ekonomi lemah,tapi 10 th terakhir SMK sdh banyak yg favoritin secara banyak SMK yg bekerja sm dengan perusahaan untuk job desk
Nadia Laili
jadi ingat masa SMA nih nunggu bus kota, sering kali berdesakan,yg penting sampai hehe
Yulia
kurang greget ga kaya waktu ama mas res😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!