ANDI ALDA MAROLAH merupakan putri tunggal mantan Anggota DPRD. Ia terlahir dari garis keturunan bangsawan suku bugis. Andi Alda berprofesi sebagai ASN PNS. Guru di salah satu SMA di Kota Makassar.
Suatu hari ia dipertemukan dengan seorang pria yang bernama IBNU RAJAB. Keduanya jatuh cinta. Namun, orang tua Alda tidak merestui. Mereka memilih menjodohkan putrinya dengan ANDI PANGERANG ADAM. Seorang pria berusia 45 tahun dan menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata.
Bagaimana akhirnya? Yuk mampir! Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komentar🥰
Salam
AAH❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AAH♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENUJU INTI
Ruang keluarga Andi Shadam kini diisi oleh dua keluarga yang memiliki niat dan tujuan sama. Bak pertemuan para pejabat. Ruangan luas tersebut diisi oleh orang-orang memiliki strata sosial yang tinggi.
"Bagaimana keadaannya Andi Baso?" Andi Shadam mulai membuka pembicaraan tersebut.
Sang Pemilik Nama tertawa. "Alhamdulillah! Seperti yang dilihat sekarang," ucapnya dengan semangat.
"Umur boleh lanjut. Tapi semangat masih sama," imbuh Andi Sabita yang merupakan istri dari Andi Baso.
Ruangan tersebut pun dipenuhi oleh gelak tawa. Sedangkan Pangerang Adam, sedari tadi mengedarkan pandangan mencari sosok yang akan dijadikannya sebagai istri.
Dia tak terlalu memedulikan percakapan hangat yang mulai menjalari sekitarnya. Bahkan, saat Andi Shadam memanggilnya pun harus mengulang sebanyak dua kali.
"Adam."
"Iya Puang," jawab pria itu, seraya memperbaiki posisi duduk.
"Bagaimana urusan pekerjaannya, Nak?"
"Alhamdulillah ... lancar Puang." Pria itu menjawab sekenanya tanpa bermaksud untuk bertanya kembali. Sedari tadi, pikirannya hanya dipenuhi oleh Alda seorang.
"Bagus, Nak. Semoga kedepannya semakin sukses," harap Andi Shadam.
"Aamiin ...."
Sebagai calon mertua, tentu harapan-harapan baik selalu ia lontarkan. Bukan tanpa alasan, karena kedepan, Andi Pangerang Adam pun akan menyeret puteri semata wayangnya masuk ke dalam kehidupan pria itu.
"Dimana calon menantuku?"
Hal yang ditunggu-tunggu Adam sejak tadi kini disuarakan oleh Sang Ibu. Senyum smirk terbit dari bibirnya.
"Sebentar ... akan kupanggilkan." Andi Erna bergegas menuju kamar puterinya.
Wanita paruh baya itu begitu bersemangat saat ia menatap anaknya telah berdiri dengan dress berwarna biru muda. Sangat menyatu dengan kulit putih Andi Alda.
"Anak saya memang sangat cantik." Puji Andi Erna. Dia mendekati Alda yang kini balik menatapnya dengan sendu.
"Andi Pangerang Adam telah menantimu sejak tadi, Nak. Dia tak pernah berubah. Wibawanya selalu terpancar."
Andi Erna menggenggam jemari Alda. "Ibu mohon ... berikan kesan yang baik kepada mereka Andi Alda Marolah."
Wanita cantik itu menghela napas panjang. Namun sesaat kemudian, anggukan kecil pun tampak. Mau tak mau ia harus melakukan demi kedua orang tuanya.
******
Andi Alda beserta ibunya menuruni tangga dan memasuki ruang tamu. Tak butuh waktu lama, seluruh mata tertuju pada kedua wanita yang berbeda generasi itu.
Terlebih Andi Adam. Matanya tak pernah lepas walau seinci pun dari wanita yang akan dipersuntingnya.
Selalu memesona.
Sedari dulu, dia tak pernah meragukan rupa Andi Alda Marolah. Terlebih pertemuannya kali ini, sungguh membuatnya jatuh hati.
"Andi Alda Marolah." Tak sadar dia menyebut nama wanita itu dengan suara yang berat.
"Sangat cantik!" puji Andi Sabita. Dia berdiri dan mengulurkan tangan hendak menyambut wanita cantik itu.
Andi Alda mendekat dan mereka pun berpelukan. "Apa kabarnya, Nak?" bisik Andi Sabita.
"Alhamdulillah ... baik, Puang."
Saat keduanya terlepas, Alda kembali bersalaman dengan Andi Baso. Pertanyaan yang sama pun ia dapatkan.
Terakhir.
Andi Pangerang Adam berdiri saat Alda mendekati dirinya. Mereka saling berpandangan. Jelas terlihat bahwa, tubuh pria itu lebih mendominasi.
Jarak mereka yang begitu dekat hingga aroma parfum satu sama lain, dapat tercium. Pria itu sangat menikmatinya.
Dia begitu wangi.
"Andi Alda Marolah." Kembali Adam menyebut nama dengan hati-hati. Seolah tak ingin ada yang salah walau satu huruf saja.
Alda hanya membeku menatap pria yang lebih tinggi di depannya. Tak ingin membalas atau mengatakan apapun.
"khm!"
Mereka tanpa sadar menjadi pusat perhatian yang ada di ruangan itu. Tak terkecuali Andi Shadam. Dia sengaja berdehem untuk memecah keheningan yang tercipta diantara mereka.
"Duduklah Alda," titah Andi Shadam.
Sofa kosong yang berada tepat di samping Sang Ayah menjadi pilihan wanita cantik itu. Sesekali ia melirik Andi Adam yang tak pernah berhenti menatapnya dengan senyuman.
"Tujuan kami kesini, mungkin Andi Shadam sudah mengetahuinya."
.
.
.
.
.
Yuhuuuuu .... Otor up lagi tuh😁 Sehat selalu untuk readers tersayang 🤗
Igeh : asriainunhasyim
Salam
AAH♥️
smg ibnu jg bisa mncintai nana