"Lu ngapain tidur di samping gue?"
Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Pagi itu suasana di rumah besar keluarga Deni dan Anggun terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.
Anggun duduk di ruang keluarga sambil memegang cangkir teh yang sejak tadi tak juga disentuh. Pandangannya kosong menatap taman depan.
Entah kenapa, ucapan sahabatnya, ibu Cindy, semalam terus terngiang di kepalanya.
"Ranu itu kelamaan koma. dia tidak normal, spermanya pasti sudah lapuk."
"Astaga..." gumam Anggun pelan sambil memijat pelipisnya. "Kok bisa-bisanya ngomong begitu."
Ia menggeleng kuat. "Tapi... bagaimana kalau memang benar?"
Anggun meyakinkan diri lagi,"Tidak! Anak sulungku sehat! Tidak ada yang salah dengan spermanya. Dia subur! Koma selama itu tidak membuatnya jadi pria menyedihkan. Enak saja bilang Ranu lapuk!"
Tapi, semakin dipikirkan, semakin gelisah hatinya.
"Tidak. Tidak bisa begini."
Anggun segera mengambil ponselnya. Jemarinya langsung mencari nama suaminya. Tak lama kemudian panggilan tersambung.
"Halo, Mah?" suara Deni terdengar dari seberang.
"Pah, lagi sibuk?"
"Sedikit. Ada apa? Kok pagi-pagi sudah telepon?"
"Aku mau minta izin."
Deni tertawa kecil. "Izin apa lagi?"
"Aku mau ke tempat Ranu."
Deni yang sedang menandatangani berkas langsung menghentikan tangannya.
"Hah?" kagetnya.
"Aku mau ke sana, papah Deni."
"Kamu baru saja pulang dari sana beberapa hari lalu," ujar papa Deni.
"Iya. Tapi, mama mau ke sana lagi, Pah."
Deni menghela napas sambil tersenyum geli. "Memangnya ada apa?"
Anggun berdiri lalu mulai mondar-mandir di ruang tamu. "Aku kepikiran omongan Bu Susi."
"Ibunya Cindy?"
"Iya."
Deni langsung mengusap dahinya. "Ya ampun, Mah. Kamu masih dipikirin?"
"mamah nggak mikirin, pah. Cuma, Mama mau matahin omongan dia yang bilang Ranu itu lapuk! Enggak ada spermanya."
"Itu cuma asal bicara karena dia kesal, Mah," bujuk Pak Deni legas.
"Tetap saja, aku tidak terima. Pokoknya Ranu harus bikin Galuh hamil!"
Deni tertawa pelan. "Mah..."
"Apa?"
"Terus kamu mau ke sana ngapain? Yang bisa hamilin Galuh juga kan,si Ranu. Mamah nggak bisa."
"Pah, mama tuh cuma mau pantau aja," kilah Mama Anggun. "Ranu kan masih perjaka, bisa aja dia nggak tau caranya. Galuh juga. Dia pun masih gadis walau udah bawa Arkan. Tapi, si Arkan itu kan bukan anak Galuh juga. Jadi, mereka sama-sama masih ting-ting. Mama mau lihat hubungan mereka, sklian kasih trik biar cepet hamil."
"Ya ampun, Mah." Deni menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Mamah tetap nggak bisa ikut campur. Urusan hamil itu udah urusan Tuhan, Mah."
Anggun langsung mendelik walau suaminya tak bisa melihat.
"Iya, tau. Tapi kita kan bisa usaha, Pah." Anggun jadi tambah jengkel. "Udah. Papa bilang aja. Kasih ijin atau tidak?"
Deni tersenyum tipis. "Kamu ini pintar mencari celah."
"Jadi boleh?"
Deni sengaja diam beberapa detik.
"Pah...."
"Iya, iya."
"Boleh?"
"Boleh."
Wajah Anggun langsung berbinar."Nah, gitu dong. Lama amat bilang bolehnya."
"Tapi ada syaratnya."
Anggun langsung memasang wajah curiga. "Syarat apa?"
"Jangan lama-lama."
"Hanya beberapa hari, kok Pah."
"Jangan sampai rumah itu kamu ambil alih," canda pak Deni terdengar serius.
Anggun tertawa kecil. "Ya udah. Mama tutup ya. Makasih papa Deni."
Deni menggeleng sambil tersenyum. "Baiklah. Berangkat saja. Tapi jangan terlalu mengatur mereka."
Anggun mengangguk mantap. "Aku tahu batasnya."
Setelah panggilan berakhir, Anggun langsung bergegas menuju kamar. Ia membuka lemari lalu memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper. Salah seorang asisten rumah tangga yang melihat itu sampai bingung.
"Ibu mau pergi lagi?"
"Iya."
"Baru kemarin pulang."
"Ada urusan."
"Asal jangan lupa makan ya, Bu."
Anggun tersenyum.
"Iya."
****
Sementara itu, di kantor pusat. Deni baru saja meletakkan ponselnya ketika Yuda menoleh ke arahnya. Saat ini mereka baru meeting tentang program karyawan.
"Ada apa, Pah?"
"Hm?"
"Mama kan tadi yang telpon."
Deni mengambil dokumen di ujung meja, sambil tersenyum. "Iya."
"Apa katanya?"
"Mau berangkat lagi."
Yuda mengernyit.
"Ke tempat Mas Ranu?"
"Iya."
"Lho, bukannya baru pulang?"
Deni mengangguk.
"Katanya mau membantu Ranu."
"Membantu apa?"
Deni tak mampu lagi menahan tawanya.
"Katanya supaya Galuh cepat punya anak menyusul Ning."
Yuda langsung terdiam beberapa saat.
"Lho?"
"Iya."
"Beneran?"
"Iya."
Yuda ikut tertawa.
"Mama memang enggak ada lawan."
"Makanya itu."
"Khawatir banget sama Mas Ranu."
Deni mengangguk.
"Padahal menurutku mereka baik-baik saja."
"Aku juga begitu."
"Tapi ya sudahlah."
"Biarkan saja."
****
Enam jam lebih perjalanan akhirnya terlewati.
Mobil yang ditumpangi Anggun memasuki kota tempat tinggal Ranu.
Ia melihat jam di pergelangan tangannya.
"Hampir sore."
Sopir menoleh lewat kaca spion.
"Langsung ke rumah, Bu?"
Anggun menggeleng.
"Enggak."
"Ke mana?"
"Ke kantor dulu."
"Baik, Bu."
Tak lama kemudian mobil berhenti di depan gedung perusahaan.
Anggun turun sambil merapikan tas tangannya.
Belum sempat melangkah menuju lift, telinganya menangkap suara beberapa karyawan yang sedang mengobrol di dekat lobi.
"Kasihan juga Mbak Cindy."
"Iya."
"Katanya dicampakkan Pak Ranu."
"Padahal sudah dijodohkan."
"Tapi Pak Ranu malah lebih dekat sama sekretarisnya."
"Ih, jangan keras-keras."
"Lho memang salah?"
"Semua orang juga tahu."
"Galuh itu pintar cari perhatian."
"Iya."
"Kalau enggak menggoda bos, mana mungkin bisa sedekat itu."
"Kasihan Mbak Cindy."
"Pak Ranu juga kejam banget."
"Iya. Habis manis sepah dibuang."
"Jangan-jangan memang ada hubungan khusus."
"Tuh kan, kemarin juga ada yang lihat leher Galuh."
"Iya."
"Fix itu."
Anggun yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka perlahan mengepalkan tangan.
Wajahnya berubah dingin.
Tatapannya menyapu satu per satu wajah para karyawan yang masih asyik bergosip tanpa menyadari kehadirannya.
"Dari tadi..." ucap Anggun pelan dengan nada tajam.
Seketika semua menoleh.
"...kalian dibayar perusahaan untuk bekerja atau mengurusi kehidupan pribadi atasan kalian?"
eh malah bumer udah minta mantunya cepetan hamil, ayo di gas ranu jgan kelamaan 😂😂
double up