Aleeya telah dijatuhi talak tiga oleh suaminya karena melakukan kesalahan yang tidak disengaja.
Namun setelah Marco menyadari bahwa kesalahan itu tidak sepenuhnya salah Aleeya, ia pun ingin kembali rujuk.
tapi apalah daya, Marco terlanjur menjatuhkan talak tiga pada Aleeya. jadi menurut hukum agama, Aleeya bukan perempuan yang halal lagi untuk Marco nikahi lagi, kecuali Aleeya menikah dahulu dengan pria lain lalu bercerai, maka ia akan kembali halal untuk Marco nikahi kembali.
Marco meminta Marcell untuk menjadi suami kontrak Aleeya.
akankah Marcell menyetujui permintaan kakaknya itu ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiny Flavoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
undangan Ronald
Marcell kembali ke kamar setelah kepergian Ronald dari kediamannya. ia mendapati Aleeya tengah membaca novel dengan duduk berselonjor diatas tempat tidur. ia memperhatikan wajah sang istri yang tengah serius membaca buku tebal tanpa melirik sekilas pun padanya.
" Aleeya...."
sapa Marcell menyapanya terlebih dulu.
" hhmm."
sahut Aleeya tanpa mengalihkan pandangannya.
" kamu masih marah ?"
Marcell mendekati sang istri dan duduk disampingnya. Aleeya terdiam, ia masih kesal dengan sikap suaminya tadi. lalu Marcell menyentuh dagu Aleeya, mengangkat wajahnya agar ia bisa leluasa memandang wajah istrinya yang tampak sembab dan masih basah itu.
" kamu menangis ?"
Marcell mengusap linangan air yang masih terlihat basah disekitar mata sang istri oleh kedua ibu jari tangannya.
Aleeya masih terdiam, ia berusaha menenangkan hati dan pikirannya saat kembali melihat wajah sang suami dihadapannya.
" iya, aku menangis karena membaca cerita di Novel ini."
jawab Aleeya berbohong seraya menunjukan buku yang tengah dipegangnya. Marcell langsung menarik buku itu dari genggaman Aleeya, lalu melemparnya ke atas nakas.
" hey, kembalikan bukunya !!"
reflek Aleeya membentaknya.
" untuk apa kamu membaca buku yang membuat mu malah jadi menangis seperti ini ? konyol."
sahut Marcell.
" dasar bodoh. bukan buku itu yang membuat ku menangis. tapi kamu, Marcell."
umpat Aleeya dalam hatinya menggerutu kesal.
" tidak peka sekali."
gumam Aleeya kemudian.
" apa katamu ? siapa yang tidak peka ?"
ternyata gumaman Aleeya masih terdengar jelas ditelinga Marcell.
" bukan siapa-siapa. aku saja yang tidak peka karena membiarkan perutku keroncongan begini."
ucap Aleeya jengah lalu beranjak dari tempat tidurnya.
" mau kemana ?"
Marcell menarik tangan Aleeya hingga terjatuh ke pangkuan suaminya. Aleeya dengan cepat mengubah posisi tubuhnya kembali berdiri.
" ya mau makan lah, kamu pikir mau tidur disaat perut lapar begini ?"
sahut Aleeya lalu segera beranjak pergi dari hadapan Marcell.
" dasar wanita aneh. kalau dia laki-laki sudah habis hingga babak belur."
umpat Marcell gemas seraya memperhatikan sosok tubuh sang istri hingga tak terlihat lagi dikamarnya. tak lama kemudian ia pun menyusul Aleeya karena dirasa perutnya juga sudah sama-sama lapar.
******
tidak ada suara selama mereka berdua menyantap makan malam yang telah Bi Yola siapkan. mereka asik menikmati makanannya sendiri-sendiri. sesekali mereka beradu pandang namun tidak saling melemparkan satu katapun.
Aleeya lebih dulu menghabiskan makanannya. setelah meneguk segelas air putih, ia pun kembali beranjak dari tempat duduknya.
" aku duluan."
ucapnya.
" tunggu !!"
cegah Marcell dan membuat Aleeya menghentikan niatnya.
" anaknya Ronald berulang tahun. besok sore dia mengundang kita kerumahnya, kau mau kan ?"
tutur Marcell. dan Aleeya hanya membalasnya dengan anggukan, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
" tunggu Aleeya !!"
cegah Marcell lagi.
" apa lagi ?"
Aleeya menoleh kembali dengan malas.
Marcell malah terdiam, menurunkan pandangannya seraya mengaduk-aduk sisa sup di mangkuknya.
" mau bicara lagi apa tidak ?"
Aleeya berdecak kesal.
" malam ini aku akan tidur dikamar Marco."
ucap Marcell dengan berat hati.
" hanya itu ?"
Aleeya menautkan sebelah alisnya keatas.
" iya Aleeya."
sahut Marcell kembali menatap wajah sang istri.
Aleeya membuang nafasnya kasar.
" terserah."
jawab Aleeya terdengar kecewa, lalu melanjutkan langkahnya dengan perasaan yang kacau.
" selamat tidur."
lirih Marcell, namun Aleeya tak menyautinya.
******
keesokan harinya mereka sudah bersiap-siap akan menghadiri undangan dari Ronald. Marcell lebih dulu selesai dan menunggu Aleeya diruang tengah sambil mengotak-atik ponselnya.
" aku sudah siap. berangkat sekarang ?"
suara Aleeya barusan membuat Marcell langsung berdiri dari duduknya.
" Aa----"
Marcell sesaat menghentikan kalimatnya. ia begitu terkesiap melihat Aleeya yang nampak lebih cantik dengan balutan dress hitam klasik tanpa motif yang masih menjadi andalan untuk makan malam resmi. memakai sepatu high heels dan tak lupa menenteng clutch untuk kesan yang lebih feminin dan formal. dan rambut panjangnya dibiarkan tergerai begitu saja.
" kenapa ? penampilan ku terlalu norak ya ? kalau begitu aku akan menggantinya."
Ucap Aleeya hendak beranjak kembali namun Marcell segera mencegahnya.
" tidak usah !! nanti kita terlambat."
" aku takut membuatmu malu, Marcell."
tutur Aleeya.
" ini hanya undangan makan malam biasa. bukan ke pesta."
tutur Marcell. Aleeya pun akhirnya menurut saja.
" kamu cantik, Aleeya."
gumam Marcell dalam hati seraya menelan salivanya.
*****
sebelum menuju ke kediaman Ronald, Marcell terlebih dulu mampir ke toko mainan. Aleeya memilihkan boneka beruang besar berwarna putih sebagai kado untuk anak dari sahabat suaminya itu.
setelah kurang lebih 30 menit dalam perjalanan, Mobil mewah Marcell berhenti disebuah rumah yang terbilang besar dan mewah berlantai dua. Desainnya memang minimalis yang ditunjukkan dengan permainan aksen pada atap, pilar, dan balkon.
Bukan hanya itu, penggunaan list cat abu-abu pada tepian atap terlihat kontras dengan dinding bangunan sehingga menjadi daya tarik tersendiri. Rumah gaya Asia yang artistic.
" ayo turun !"
perintah Marcell. Aleeya pun turun sambil menenteng paper bag besar berisi kado yang tadi mereka beli.
" kelihatannya sepi sekali. jangan-jangan mereka sedang tidak berada dirumah."
ucap Aleeya seraya mengedarkan pandangannya.
" mana mungkin mereka pergi. tadi sebelum berangkat kemari aku sudah lebih dulu menghubunginya."
Tutut Marcell.
" Om Marceeellll !!!"
suara cempreng memekik meneriaki nama Marcel. keduanya langsung mencari keberadaan sumber suara tadi.
" aku dibalkon, Om !!!"
teriaknya lagi.
Marcell dan Aleeya reflek menaikkan kepalanya.
" Sherley !!"
gadis kecil yang masih berada dibalkon itu pun melambaikan tangannya pada Marcell. lalu segera beranjak dari balkon, sepertinya akan turun untuk menemui tamu yang baru saja datang itu.
tak lama kemudian pintu rumah pun terbuka dengan lebar. gadis kecil bernama Sherley itu langsung memeluk pinggang Marcell.
" Om, kenapa tidak pernah bermain kemari lagi ?"
tanya Sherley masih memeluk erat sang Om.
Marcell tertawa, lalu menggendong tubuh kecil itu sekejap dan menurunkannya lagi.
" berat sekali. kamu sudah besar ya ternyata, cantik pula nih pacar Om."
goda Marcell lalu mencium kening bocah berkulit putih itu hingga membuatnya tersipu malu.
" Sherley, kenapa Om nya tidak diajak masuk sih ? malah diajak ngobrol diluar."
ucap Theana yang entah sejak kapan sudah berada diambang pintu bersama Ronald.
" Thea, apa kabar ?"
sapa Marcell.
wanita yang berdiri berdampingan dengan Ronald pun tersenyum.
" baik."
jawabnya. lalu pandangannya beralih ke arah Aleeya yang terdiam dan hanya melemparkan senyuman kecil.
" ini istrimu ? cantik sekali."
sapa Theana lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Aleeya pun reflek menyambutnya.
" aku Theana, teman SMA Marcell, istrinya Arnold, Mamanya Sherley."
" Aleeya."
balas Aleeya tersenyum.
" jadi Om Marcell sudah menikah dengan Tante ini ? Om jahat. katanya mau nungguin Sherley gede dulu. aku benci Tante ini."
ucap Sherley terlihat kecewa seraya menatap Aleeya dengan tatapan tidak suka.
" Sherley !! tidak boleh ngomong begitu nak."
tegur Theana.
" Sherley mau ke kamar aja."
anak itu pun beranjak kembali masuk kedalam rumah meninggalkan semuanya.
" Sherley !!!"
teriak Theana. ia pun berpamitan terlebih dulu untuk menyusul anaknya kedalam.
Aleeya jadi merasa tidak enak hati dengan suasana seperti ini. tapi tidak begitu dengan Marcell. ia terlihat santai-santai saja melihat kondisi tadi.
" Ayo sebaiknya kita duduk di dalam saja !"
ajak Ronald mempersilahkan tamunya untuk masuk.
mereka pun akhirnya duduk disofa ruang tamu sambil menunggu minuman yang tadi dipesan Ronald pada asisten rumah tangganya.
" kau pernah menjanjikan apa pada Sherley ? sampai dia semarah itu."
tanya Ronald pada Marcell.
" aku ? tidak. aku tidak pernah menjanjikan apa-apa sama Sherley."
sahut Marcell dengan wajah seperti tanpa dosa.
" awas ya, jangan macam-macam. mau kau ku adukan sebagai pedofil ?"
ancam Ronald.
" astaga, nald. apa kau gila ? tuduhan mu itu berlebihan. aku pria normal, beristri pula. "
sanggah Marcell tak terima, apalagi saat melihat wajah Aleeya yang tiba-tiba menatapnya penuh curiga.
Ronald pun malah tertawa.
" takut bener Aleeya tidak mempercayai mu, Cell."
tutur Ronald terkekeh melihat mimik wajah Marcell.
" sialan !! gak lucu itu, nald."
Marcell mendengus kesal.
Aleeya pun menyunggingkan senyuman lega.
.
.
.
.
ya thor...lanjut..
klo marscel sampai memilih sabrina,
marchel pastikan menyesal ...
klo sampai marscel melepas mu aly pasti menyesal...marscel ..
soalnya dia gak tau apa2 dan gak jahat pula
dia hanya emosi krn tersakiti
author, buat cerita khusus utk sabrina dong
kyaknya seru deh, soalnya dia ada di posisi tersakiti, di kecewakan dan kehilangan kepercayaan utk org yg di cintainya
prmpuan yg bodoh mau rujuk blik di suruh lki lain bru rujuk balik
trllu ribet
lki yg bodoh maunya gitu