NovelToon NovelToon
Mirage

Mirage

Status: tamat
Genre:Romantis / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Romansa Modern / Konflik etika / Tamat
Popularitas:154.4k
Nilai: 5
Nama Author: Shan_Neen

Mira, seorang wanita yang harus hidup berkubang di lumpur penuh dosa. Mengubur semua impiannya atas masa depan dan cinta. Bukan karena alasan klise, melainkan sebuah pembalasan dendam atas orang tuanya di masa lalu.

Masa kecilnya yang begitu keras, membuat Mira menjadi pribadi yang tangguh dan tak mudah menyerah.

Hingga ia bertemu dengan pria masa lalunya, yang selalu hadir di dalam mimpi buruknya.

Akankah pria itu akan selalu menjadi mimpi buruknya? Ataukah justru menjadi penerang jalannya yang gelap gulita?

⚠️Novel ini mungkin mengandung beberapa hal-hal negatif, mohon bijak dalam memilih bacaan🙏 jika berkenan, silakan mampir dan baca ya, jangan lupa tinggalkan kritik dan saran juga di kolom komentar😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan_Neen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan siapa-siapa

Makin hari, Arya dan juga Maru semakin dekat. Justru Riri yang sekarang sudah tak lagi sedekat dulu dengan Mari.

Riri sering pulang sekolah terlambat, dengan alasan pergi jalan-jalan dengan teman-temannya ke mall.

Arya selalu menasehati adiknya, agar jangan terlalu dekat dengan benalu, begitu sebutan Arya untuk teman-teman sang adik. Namun, Riri akan sangat marah ketika kakaknya menyebut teman-temannya dengan kata itu.

Sedangkan orang tua mereka, tak terlalu peduli dengan hal semacam itu. Menurut mereka, selama Riri selalu dalam pantauan kedua orang tuanya, maka semuanya boleh dilakukan.

Meski pun Riri pukang telat, bahkan kadang sampai malam, namun dia selalu diantar ke mana pun oleh sang supir, yang sudah pasti akan memberikan informasi kepada tuannya tentang keberadaan si tuan putri.

Arya tak lagi menegur kelakuan Riri, yang kian hari makin tak karuan, meski usianya masih terbilang anak-anak.

"Ayah dan Ibu saja tidak peduli, kenapa aku mesti repot-repot. Toh dianya juga suka dikadalain benalu-benalu itu," begitu pikir Arya.

Mari pun kini tak lagi bisa bertemu Riri, meskipun dirinya selalu datang ke rumah besar itu, hampir setiap hari.

Dia seperti biasa akan selalu menyibukkan diri dengan pasangan tukang kebun yang sudah menganggap Mari kecil seperti anak mereka sendiri. Ditambah, keadaan mereka yang memang tidak memiliki anak, membuat keduanya sangat menyayangi Mari.

Mari pun demikian. Dia selalu dengan senang hati membantu keduanya. Matanya selalu berbinar, kala harus bergumul dengan tanah bercampur kompos yang kadang baunya sangat menyengat hidung, namun tak sedikit pun membuat gadis itu mengeluh.

Dia dan Arya pun kerap kali menghabiskan waktu bersama di gazebo, sambil menggambar sesuatu. Pemuda itu beberapa kali memberinya sepaket pewarna, untuk memperindah gambar buatan Mari.

Gadis itu pun begitu senang menerimanya, karena gambarnya tak lagi berwarna hitam dan putih atau abu-abu.

Suatu hari, saat Mari sedang asik menikmati waktu sore di gazebo bersama Pak Parman, Bu Sri dan juga Arya, Riri datang bersama teman-temannya dengan menggunakan mobil milik keluarganya.

Nampak terlihat jelas jika mereka baru saja pergi jalan-jalan entah kali ini ke mana, yang jelas satu persatu dari mereka menenteng satu tas belanjaan yang bisa dipastikan berasal dari kartu ajaib milik Riri, yang diberikan oleh sang ayah sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke tiga belas tahun beberapa bulan yang lalu.

Mereka berjumlah empat orang, lima beserta Riri, berjalan dengan tawa cekikikan dan tak melihat jika kelakuan mereka sangat mengganggu penghuni rumah.

Mari beranjak dari duduknya, dan berjalan menghampiri Riri.

"Mari!" panggil Arya yang tak dihiraukan oleh gadis itu.

Arya memandang pungung Mari dengan raut wajah khawatir. Entah apa yang di khawatirkannya. Dia pun lalu membereskan peralatan gambarnya, dan memasukkan semua ke dalam tas.

Pemuda itu pamit kepada sepasang suami istri itu, dan berlari menyusul Mari.

Di ruang tamu, Mari berhasil menyusul rombongan Riri dan teman-temannya.

"Ri!" panggil Mari dengan senyum yang mengembang sempurna.

Dia menghampiri Riri, yang justru menoleh kenanan dan kiri, memperhatikan satu persatu teman-temannya.

"Ri, kamu ke mana aja sih? Beberapa hari ini, kamu katanya pulang malem terus yah? Aku …,"

"Iuuuuhhhh … siapa sih gembel ini, Ri? Kok dia sok deket ama kamu? Temen kamu?" potong salah satu dari ke empat teman Riri.

"Masa sih, seorang Riri punya temen kaya gitu? Nggak level banget. Nggak mungkin kan, Ri?" tambah yang lain.

Mari terdiam mendengar omongan kedua gadis yang telah berdiri di depannya, sambil melipat kedua lengannya di depan dada, dan memandang rendah ke arah Mari.

Begitu pun Riri. Dia bingung harus menjawab apa. Di satu sisi, dia masih menganggap Mari sebagai teman baiknya, di sisi lain, dia pun ingin agar teman-temannya tidak lantas menjauhinya, hanya karena dia dekat dengan seseorang yang tidak selevel.

"Ri, kok bengong sih? Dia siapa? Temen kamu?" cecar gadis tadi.

"Ih … gue sih ogah yah kalau disamain ama gembel kaya dia, mending gue nggak usah temenan lagi sama elu, Ri. Jijik tau nggak!" sarkas yang lain.

"Ehm … dia … dia …," ucap Riri yang dilanda kebingungan, antara mengakui jika Mari adalah temannya, atau memilih teman-teman barunya dan meninggalkan Mari.

"Ri!" panggil Mari lirih sembari menatap ke arah bola mata Riri.

"Gini deh, Ri. Kalau kamu emang masih mau temenan ama kita, usir dia jauh-jauh dari sini!" seru seseorang dari keempatnya, yang sedari tadi diam dan menatap sinis ke arah Mari.

Riri nampak mengepalkan tangannya, dan menatap wajah Mari lekat-lekat. Dia kemudian melangkah maju dan menghampiri Mari.

"Kamu dengerkan tadi temen ku bilang apa? Mending sekarang kamu pergi aja deh dari sini, dan jangan pernah datang lagi ke rumah ini. Ngerti!" ucap Riri dengan bentakan di ujung kalimatnya.

Mari diam bergeming di tempat, sedangkan Riri langsung berbalik dan naik ke atas menuju kamarnya, tanpa menoleh sekali pun ke arah Mari.

Teman-teman barunya itu pun kemudia berjalan menyusul si tuan putri, dengan seringai kemenangan, karena telah berhasil menyingkirkan Mari.

"Ri!" panggil Mari lirih nyaris tak terdengar.

Arya yang datang tepat saat Riri mengucapkan kata-kata menyakitkan itu pun, berjalan menghampiri Mari.

"Kamu nggak papa?" tanyanya sambil menepuk pundak gadis itu.

Mari masih terdiam memandangi pintu kamar Riri yang telah tertutup rapat. Tanpa sadar, air matanya menetes.

Itu adalah air mata pertama yang ia jatuhkan selalin untuk sang ibu tercinta. Mari merasa jika selama tiga tahun ini, Riri adalah bagian penting dalam hidupnya, yang akan selalu ada bersamanya.

Tapi, kejadian hari ini menyadarkannya, jika sejak awal, dirinya memang bukan lah siapa-siapa. Mari kembali harus menelan kenyataan pahit, jika dirinya memang tak pernah benar-benar diinginkan di mana pun ia berada.

Arya melihat lelehan bening itu, dan semakin mengeraskan tepukannya di pundak Mari.

"Mari!" panggilnya.

Mari pun seketika mengerjap untuk menghentikan air matanya, agar tak terus menerus turun. Ia mengusap kasar lelehan yang terlanjur melintas di pipinya, dengan punggung tangan.

"Kamu nggak papa kan?" tanya Arya yang semakin merasa khawatir.

"Aku ngga papa kok, Kak." Mari berusaha mengulas senyum ke arah Arya, yang sudah berdiri tepat di sampingnya.

"Ehm … aku, pulang dulu yah. Nanti, pewarnanya bakal ku balikin lagi ke kakak." Lanjutnya kemudian.

"Kamu nggak usah balikin pewarna itu, karena aku emang niat ngasih buat kamu. Kamu simpen aja dan pakai setiap kali kamu ada waktu buat menggambar," ucap Arya.

"Makasih ya, Kak." Mari tersenyum simpul ke arah Arya, yang masih memandang lekat bola mata hitam itu.

"Mari pamit!" ucap Mari kemudian.

Gadis itu pun pergi, berlalu dari ruangan yang sepi itu. Ia berjalan menuju gazebo, dan nampak berpelukan dengan Bu Sri, layaknya orang yang akan melakukan sebuah perpisahan.

Arya menoleh kembali ke arah pintu kamar adiknya. Kedua tangannya mengepal dan rahangnya mengeras, karena begitu geram dengan kebodohan yang telah dilakukan sang adik.

.

.

.

.

Next eps kemungkinan end flash back, jadi kan mulai terpecah nih, kenapa Mira dingin banget sama Riri, salah satu alasannya adalah karena yang di atas tadi.

Disini, siapa hayo yang pernah kek gitu ke temennya? Atau ada yang malah dapet oerlakuan kek gitu? Attiiiiiiitttt tau😭

Jangan lupa like komen yah, kopi ma kembangnya juga😁✌

1
Verlit Ivana
Mungkin seulas Kak kalau senyum, seutas cocok untuk tali.
*cmiiw
🐌KANG MAGERAN🐌: iya bener 😅 maaf ken🤭
total 1 replies
Verlit Ivana
mantap Kak, penggambaran tragisnya kena. /Smile/
🐌KANG MAGERAN🐌: makasih kak
total 1 replies
Verlit Ivana
Kak, mungkin karena pake tanda seru ya, aku bacanya si petugas kayak sambil bentak. /Frown/.
🐌KANG MAGERAN🐌: gemes kan lihat tulisan acak-acakan
total 5 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Mercenary of El Dorado
Bundanya Pandu Pharamadina
terimakasih mbak Author sudah di ijinin baca Marathon 👍🌹❤
Bundanya Pandu Pharamadina
Lingga junior mau lounching
Bundanya Pandu Pharamadina
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
❤❤❤❤❤❤
Bundanya Pandu Pharamadina
perasaan sudah baca, otw lagi 👍❤
Bundanya Pandu Pharamadina
mundur alon alon sing penting tetep gadi konco yo mbak Author
Bundanya Pandu Pharamadina
semoga nanti bahagia Lingga Mira
Bundanya Pandu Pharamadina
part ulang yah kaka Author👍❤
Bundanya Pandu Pharamadina
ternyata yg nolong Arya(Lingga) tek kira Thomas
Bundanya Pandu Pharamadina
Lingga Mira 👍❤❤❤❤
Bundanya Pandu Pharamadina
Mira😭😭😭😭
Bundanya Pandu Pharamadina
ada teka teki hubungan apa antara mama Mirna (Shofia) sama Thomas dan mami Ge*mo
Bundanya Pandu Pharamadina
tMira itu bukan teripang tapi anak konda
Bundanya Pandu Pharamadina
per*ek teriak per*ek duhhh🤭🤭
Bundanya Pandu Pharamadina
ihhh sampai ikutan gos²an bacanya
Bundanya Pandu Pharamadina
Mungkin Mari /Mari belum siap untuk kembali seperti dulu Lingga
Bundanya Pandu Pharamadina
mungkinkah dia(Lingga) anak dan keluarga yg di tolong Mira🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!