Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.
Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.
Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.
Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.
Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.
Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Rahasia yang Tersimpan di Lambung Kapal
Pagi hari setelah badai berlalu membawa atmosfer baru di atas The Sky Leviathan.
Kehangatan yang tidak biasa mulai merayap di antara lorong-lorong kayu ek kapal raksasa itu. Pagi ini, Clara berdiri di dekat jendela dek tengah, memperhatikan Leo yang sedang mengajari Rin bahasa isyarat baru dengan canggung, sementara Toby tertawa riang sembari menyusun balok-balok kayu di dekat mereka.
Perubahan sikap anak-anak ini adalah berkah, namun Clara tahu, kedamaian ini tidak akan bertahan lama jika akar masalah masa lalu mereka belum terselesaikan.
Teringat akan larangan Kapten Alden di hari pertama untuk tidak pernah pergi ke dek bawah tanpa seizinnya, rasa ingin tahu Clara justru semakin terusik.
Sebagai mantan Penyembuh Agung, ia memiliki intuisi yang tajam. Gejala kekuatan liar anak-anak dan ketakutan malam Toby bukan sekadar trauma biasa, melainkan ada sisa-sisa energi magis hitam yang terasa familier di kapal ini.
Setelah memastikan anak-anak berada di bawah pengawasan Bernet yang aman, Clara melangkah menuju tangga spiral besi yang menuju ke lambung kapal paling bawah, area kargo dan mesin sihir utama yang jarang dilewati oleh kru kabin.
Suasana di dek bawah sangat berbeda. Cahaya lentera sihir di sini berwarna biru redup, memancarkan hawa dingin yang berasal dari mesin pendingin bertenaga kristal es langit. Bau pelumas mesin, besi tempa, dan aroma debu kuno memenuhi udara.
Suara deru konstan dari turbin magis kapal bergaung berat di bawah telapak kakinya.
Clara berjalan menyusuri lorong kargo yang dipenuhi kotak-kotak kayu besar bersimbol militer. Di ujung lorong, langkah kakinya terhenti di depan sebuah pintu besi berat yang dipenuhi gembok segel magis.
Anehnya, salah satu segel perak di pintu itu tampak retak, memancarkan energi kelam yang sangat tipis, energi yang membuat bulu kuduk Clara berdiri.
"Nyonya Clara?" Sebuah suara berat mendadak memecah kesunyian dari arah belakang.
Clara tersentak kecil dan berbalik cepat. Di sana, berdiri Kapten Alden dengan sepasang mata abu-abu badainya yang menyipit menatap Clara lekat-lekat. Pria itu tidak mengenakan jubah perangnya, melainkan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan otot-otot lengannya yang kekar karena baru saja memeriksa ruang mesin.
"Kapten," ujar Clara, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat karena tertangkap basah. "Saya... saya tidak bermaksud melanggar perintah Anda. Hanya saja, saat berjalan di atas, saya merasakan distorsi energi yang sangat kuat dari arah bawah sini."
Alden melangkah mendekat, langkah sepatu botnya bergaung intimidatif di lorong besi yang sempit. Jarak di antara mereka terkikis hingga Clara bisa mencium aroma samar kayu pinus dan besi dari tubuh suaminya.
Namun, tatapan Alden tidak lagi sedingin hari pertama, ada kilasan rasa cemas dan protektif di sana.
"Aku sudah memperingatkanmu, Clara. Dek bawah bukan tempat yang aman untuk wanita tanpa sihir sepertimu," kata Alden, suaranya rendah namun tegas.
Ia melirik pintu besi di belakang Clara, lalu menghembuskan napas panjang, menyadari bahwa mengusir wanita keras kepala ini tidak akan berhasil. "Tapi melihat kemampuanmu mengusir roh di kamar Toby kemarin, kurasa kau memang sudah menyadari sesuatu."
Alden melangkah melewati Clara, menyentuhkan cincin lambang militernya pada gembok segel yang retak. Pintu besi itu berderit terbuka, mengeluarkan hembusan angin dingin yang membawa aroma kertas tua dan es abadi.
"Masuklah," titah Alden singkat.
Clara mengikuti Alden ke dalam ruangan yang ternyata adalah ruang arsip rahasia sang Kapten. Di tengah ruangan, di atas sebuah meja marmer kecil, melayang sebuah bongkahan kristal memori berwarna hitam legam yang diselimuti kabut ungu tipis.
"Ini... Kristal Obsidian," bisik Clara, matanya membelalak lebar. "Ini adalah alat perekam sihir terlarang yang hanya digunakan oleh para penyihir hitam dari Sekte The Obsidian Dawn."
"Benar," jawab Alden, bersandarkan tangannya pada tepian meja marmer dengan rahang yang mengeras. "Benda ini aku temukan di kamar mendiang istriku setelah tragedi lima tahun lalu. Selama ini, seluruh Kekaisaran Langit mengira istriku meninggal karena kecelakaan jatuhnya kapal patroli barat. Namun, kenyataannya jauh lebih mengerikan."
Alden menatap kristal hitam itu dengan pandangan yang sarat akan kemarahan yang tertahan. "Dia adalah korban eksperimen kutukan dari sekte tersebut. Mereka menyusup ke dalam militer langit, mengincar darah mistis di dalam rahim istriku saat ia mengandung Rin dan Toby. Kutukan hitam itu ditanamkan ke dalam inti sihir anak-anakku sejak mereka belum lahir, membuat kekuatan mereka menjadi liar dan tidak stabil seperti sekarang."
Mendengar kenyataan pahit itu, jantung Clara terasa seolah berhenti berdetak. Pengetahuan medis magisnya langsung merangkai semua potongan teka-teki. Alasan mengapa Leo mengalami Overheat, mengapa suara Rin mengandung hipnotis berbahaya, dan mengapa Toby dikejar oleh roh-roh pemakan jiwa, itu semua bukan karena darah blasteran mereka, melainkan karena ada sisa kutukan hitam yang terus menggerogoti jiwa mereka dari dalam.
"Mereka tidak akan berhenti sampai anak-anakku hancur atau diambil oleh mereka," lanjut Alden, suaranya bergetar samar menahan badai emosi di dadanya. "Itulah alasan mengapa aku terus membawa mereka di atas kapal perang ini, menjauhkan mereka dari daratan. Di langit lepas, perisai sihir The Sky Leviathan adalah satu-satunya hal yang bisa menyembunyikan keberadaan mereka dari radar sekte tersebut."
Clara melangkah mendekati Alden. Tanpa ragu, ia mengulurkan tangannya yang terbalut sarung tangan perak tipis, lalu menyentuh pundak tegap Alden, memberikan dukungan emosional yang sangat dibutuhkan pria itu.
"Sekarang aku mengerti mengapa Anda begitu protektif dan menutup diri dari dunia luar, Alden," kata Clara dengan nada suara yang melunak dan penuh kehangatan. "Anda sedang berperang sendirian melawan musuh yang tak kasat mata demi melindungi buah hati Anda."
Clara beralih menatap kristal hitam di atas meja, seulas senyum penuh tekad terbit di bibirnya yang pucat. "Tetapi Anda tidak perlu bertarung sendirian lagi. Sihir penyembuhku mungkin telah hancur, tetapi pengetahuan saya tentang anatomi kutukan kuno dari Kuil Agung masih utuh. Kristal ini memiliki retakan pada segelnya, itu berarti energi kutukan di tubuh anak-anak sedang bereaksi dengan sesuatu di luar sana. Kita harus mencari tahu apa memori yang tersimpan di dalam kristal ini untuk menemukan penawarnya sebelum Gerhana Abadi tiba."
Alden menoleh, menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih milik Clara. Keberanian dan ketulusan wanita di hadapannya ini kembali meruntuhkan bagian lain dari dinding es di hatinya.
Di saat semua orang akan lari ketakutan setelah mengetahui bahwa keluarganya diincar oleh sekte sihir hitam terlarang, Clara justru memilih untuk berdiri tegak di sampingnya, siap ikut memikul bahaya tersebut.
"Kau... benar-benar wanita yang luar biasa, Clara," bisik Alden rendah, tangan besarnya terulur untuk menggenggam jemari Clara yang berada di pundaknya, meremasnya lembut dengan rasa terima kasih yang teramat dalam.
Pertemuan di lambung kapal yang dingin itu tidak hanya mengungkap rahasia gelap yang selama ini menghantui keluarga sang Kapten, melainkan juga memperkokoh fondasi kepercayaan dan keterikatan emosional di antara Clara dan Alden.
Mereka kini bukan lagi sekadar pasangan dalam ikatan pernikahan kontrak di atas kertas, melainkan dua orang sekutu yang siap menerjang badai sihir hitam demi masa depan anak-anak mereka.
Mohon dukungannya untuk karya saya. Berikan like dan juga hadiah, ya. Biar sy semangat. Dan jangan lupa follow...