NovelToon NovelToon
Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:75.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.

Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.

Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.

"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

04

"Astaga, Mas! Nggak bisa apa kamu diemkan anakmu itu?!" Suara Carolin Baskara menggema dari dalam kamar utama.

Wanita itu menutup telinganya kesal saat tangisan bayi kembali terdengar dari kamar sebelah. Sudah hampir setengah jam dan suara itu belum juga berhenti.

Di atas ranjang, Evan Cristian yang baru saja mengenakan jas kerjanya mengusap wajah dengan frustrasi.

"Udah ku bilang cari pengasuh yang benar."

"Bukan aku yang nyari?" balas Carolin ketus.

Tangisan bayi kembali terdengar, semakin lama semakin keras dan semakin membuat kepala keduanya berdenyut.

Sudah dua bulan sejak bayi perempuan itu lahir. Namun, kehidupan yang mereka bayangkan sama sekali tidak sesuai kenyataan. Mereka mengira memiliki anak hanya akan menjadi pelengkap sempurna dalam keluarga kecil mereka.

Terlebih bayi itu akan menjadi pewaris keluarga Baskara sekaligus alat untuk memperkuat posisi Evan dalam keluarga tersebut.

Namun, yang tidak mereka duga, merawat bayi ternyata jauh lebih merepotkan daripada menghadiri rapat bisnis atau sesi pemotretan.

"Kamu aja yang ke sana." Carolin melirik suaminya.

Evan langsung menggeleng. "Aku ada meeting pagi."

"Aku juga ada pemotretan."

"Lalu siapa?"

Keduanya saling diam. Tangisan bayi kembali pecah, lebih keras dari sebelumnya. Membuat wajah Carolin semakin jelek.

"Aku nggak tahan lagi!" Wanita itu berdiri dari depan meja riasnya. Hari ini ia memiliki jadwal syuting iklan untuk salah satu merek internasional.

Semalam ia hanya tidur dua jam. Dan semua itu gara-gara bayi yang terus menangis. Pelayan tak ada yang bisa menenangkan bayi itu.

Rambutnya sudah ditata sempurna. Riasannya hampir selesai. Namun, suasana hatinya benar-benar berantakan.

"Aku bahkan nggak bisa kerja dengan tenang." Carolin meraih tas bermerek di atas meja.

"Tiap malam dia nangis, tiap malam tidurku terganggu. Kalau begini terus, wajahku bisa rusak."

Evan menghela napas panjang. Meski tidak mengatakannya, ia juga mulai kelelahan. Bayi itu sangat sulit ditangani. Beberapa pengasuh sudah datang dan pergi. Tidak ada yang bertahan lama.

Apalagi setelah dokter menyatakan bahwa bayi mereka memiliki alergi terhadap sebagian besar susu formula yang dicoba.

Setiap kali diberi susu tertentu, tubuh bayi itu langsung menunjukkan reaksi. Bahkan, pernah sampai harus dibawa ke rumah sakit. Karena itulah dokter menyarankan satu solusi, memberinya ASI.

Mereka harus mencari ibu susu. Atau setidaknya mendapatkan donor ASI yang cocok. Namun, masalahnya tidak semudah itu.

"Mama sudah pasang iklan di mana-mana." Carolin menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan dengan kesal.

"Banyak yang datang. Tapi nggak ada satu pun yang benar-benar cocok."

Evan memijat pelipisnya.

"Keluarga Baskara punya banyak koneksi, kenapa tak menemukan yang pas?"

"Aku juga lagi cari." Carolin mendecak.

"Kalau gampang, dari kemarin sudah dapat."

Tangisan bayi kembali terdengar. Kali ini disertai suara pengasuh yang mencoba menenangkan. Namun, tetap gagal Carolin menutup mata beberapa detik.

Kesabarannya hampir habis. "Kadang aku heran." Wanita itu bergumam pelan.

"Evan..."

"Hm?"

"Kok dia lebih sering nangis daripada bayi lain?"

Evan mengangkat bahu. "Aku mana tahu."

Carolin berdiri. Kemudian berjalan menuju jendela. Tatapannya mengarah ke taman luas di halaman belakang rumah keluarga Baskara. Rumah mewah itu memiliki segala hal yang diinginkan banyak orang. Namun, tidak ada satu pun yang bisa menghentikan tangisan bayi berusia dua bulan itu.

Tangisan yang kini mulai terasa seperti hukuman.

"Hari ini ada kandidat baru."

Suara Evan memecah keheningan.

Carolin menoleh. "Dari mana? Rekomendasi salah satu agen."

"Kapan datangnya?"

"Siang ini,"

Carolin mengembuskan napas panjang.

"Semoga saja berhasil. Aku benar-benar sudah muak."

Di tempat lain.

Mobil yang dikendarai Elang perlahan berhenti di depan sebuah rumah berlantai dua yang berada di kawasan elite Jakarta.

Amelia yang duduk di kursi penumpang langsung menatap bangunan itu tanpa berkedip. Rumah tersebut tidak semegah kediaman keluarga Baskara.

Namun, cukup besar, nyaman, dan terlihat sangat tenang. Elang keluar lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Amelia.

"Bagaimana?" tanyanya.

Amelia tersenyum kecil. "Bagus."

"Hanya bagus?"

Amelia tertawa pelan. "Sangat bagus."

Mereka berjalan memasuki rumah. Begitu masuk, Amelia langsung melihat ruang tamu yang telah tertata rapi. Perabotan lengkap, dapur sudah terisi berbagai kebutuhan. Bahkan, kamar tidur sudah siap ditempati.

Jelas semuanya dipersiapkan dengan sangat baik. Amelia berbalik menatap Elang.

"Jangan bilang semua ini juga kamu yang siapkan."

Elang memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Kalau bukan aku, siapa lagi?"

Amelia menggeleng sambil tersenyum. "Terima kasih."

"Tidak perlu."

"Perlu." Amelia menatap sekeliling rumah sekali lagi.

"Sungguh, terima kasih."

Elang hanya menghela napas. Pria itu tahu Amelia bukan sedang berterima kasih karena rumah ini. Melainkan karena selama beberapa bulan terakhir ia tidak pernah meninggalkannya sendirian.

"Aku akan mengembalikan semuanya." Ucapan Amelia membuat Elang mengernyit.

"Mengembalikan apa?"

"Uang yang kamu keluarkan."

Elang langsung memijat pelipisnya. "Amelia..."

"Aku serius."

"Aku juga serius."

Amelia berjalan menuju sofa lalu duduk perlahan.

"Sekarang aku hanya punya satu rekening yang tersisa."

Senyumnya memudar. "Dulu aku memiliki segalanya." Amelia tertawa hambar.

"Aku bahkan harus memulai hidup dari nol."

Elang menatap wanita itu beberapa saat. Kemudian duduk di hadapannya.

"Kau tidak memulai dari nol."

Amelia mengangkat kepala.

"Kau masih hidup, kau masih punya kesempatan. Kau masih punya seseorang yang harus kau perjuangkan."

Mata Amelia langsung berkaca-kaca.

"Aku akan mengambilnya kembali." Suaranya pelan tetapi penuh keyakinan.

Elang mengangguk. "Aku tahu."

Suasana kembali hening beberapa saat. Hingga Elang melirik jam tangannya.

"Ngomong-ngomong."

"Hm?"

"Siang ini kau harus pergi."

Jantung Amelia langsung berdebar. "Ke mana?"

"Kediaman keluarga Baskara."

Amelia langsung menegakkan tubuhnya.

Elang mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan sebuah alamat.

"Aku baru mendapatkannya pagi tadi. Mereka mengirim alamat untuk wawancara ibu susu."

Amelia mengambil ponsel itu. Matanya langsung terpaku pada layar. Tangannya perlahan mengepal. Alamat tersebut terasa begitu familiar. Bukan karena ia pernah datang ke sana. Melainkan karena di sanalah putrinya berada.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Elang saat melihat Amelia terlalu lama diam.

Amelia menarik napas panjang. Kemudian mengangguk.

"Aku baik-baik saja."

"Kau gugup?"

"Tentu saja." Jawaban Amelia membuat Elang tersenyum tipis.

"Aku juga akan gugup kalau harus bertemu orang yang menghancurkan hidupku."

Amelia terkekeh pelan. Namun senyumnya segera menghilang. "Bagaimana kalau mereka mengenaliku?"

"Mereka tidak akan."

"Bagaimana kalau aku kehilangan kendali?"

"Kau tidak akan."

"Bagaimana kalau—"

"Amelia..." Elang memotong ucapannya. Wanita itu langsung terdiam.

"Kau sudah melewati operasi. Kau sudah melewati masa terburuk dalam hidupmu. Kau bahkan berhasil bertahan setelah kehilangan segalanya."

Elang menatapnya serius. "Jadi jangan meragukan dirimu sendiri sekarang."

Amelia memandang pria itu beberapa detik. Lalu tersenyum tipis.

"Kapan kamu berubah jadi bijak seperti ini?"

"Aku memang selalu bijak."

"Bohong."

"Kau baru sadar."

Amelia tertawa kecil.

Elang berdiri lalu merapikan jasnya.

"Siapkan dirimu. Kita berangkat satu jam lagi."

Amelia mengangguk.

Setelah pria itu pergi ke lantai atas, ia kembali menatap alamat yang tersimpan di ponselnya. Perlahan senyum dingin muncul di bibirnya.

1
merry
laras peka dikit napa jgn minder lgian elang bantu kmu dr awal,,, kshn loh ayo lang ungkapin donk perasaan mu jgn diem ajjj,,
Pjjmakkem
mau dong kisah elang yg udah move on genre komedi, biar ga sedih2 amat..
jd pas ketemu laras lg, elang da bs tersenyum tanpa rasa cinta sendirian, krn dia da merasa dunia nya gong dicintai ugal2an sm wanita lain
Pjjmakkem: trus laras ttp jd wanita kuat tanpa rasa pelakor 😍
total 1 replies
Nurjannah Rajja
Hancurin juga perusahaan bagaskara dong, dia kan bersekongkol pada waktu itu.
Runi Mayantri
suka critany
Runi Mayantri
buat jodoh elang yg badas ya thor,biar mkin seru,gak usah ma laras gpp thor,yg pntg elang bsa move on n bhgia
vania larasati
lanjut
Ita rahmawati
kok ya nyesek amat sih Lang nasib cintamu 😔
kasih jodoh elang dong thor
Ita rahmawati
sidangnya masih berlanjut
Ita rahmawati
gimana hubungan antara Amelia dn Evan dulu ya saat jd suami istri 🤔
apakah aurora bener bener bibitnya Evan SM Caroline,, kasian Amelia ya ya😔 tp mau bagaimanapun dia yg mengandung jd ttep kasih sayangnya GK main main
May Satibi Satibi
yuhuuu Thor ku tunggu jlanya mau maju mundur kiri atau kanan🤭🤭🤭🤭💪💪💪💪💪💪💪
Les Tary
Laras ga peka
Jaya Fandi
elang,,,luar biasa sekali kamu,,semoga mendapatkan jodoh yg luar biasa juga elanh
Aysah Meta
Bener sih apa kata elang,kenapa gak test DNA.
Takutnya emang bukan anak Caroline tapi anak Evan dan Amelia..tapi bener² di rahasiakan sama si Evan.
wihhh..jadi penasaran.
Masih ada yg janggal dr sekian episode ini
SasSya
kasihan sekali anak sulung Bu Araaa
kisah cintanya mengsediiihh 🥲
SasSya
Laras 🫂🫂🫂
semoga menemukan kebahagiaan dan tidak trauma untuk menjalin hubungan baru
bersama siapapun
Elang atau yg lain
SasSya
paiiiiittttt kisah mu Eeelllll
SasSya
😔🥺🥺🥺🥺🥺😭😭😭😭
sampai akhir jadi Sad boy Eeellll
sini peluk siniiiii🫂🫂🫂🫂
SasSya
Sampai Akhir persidangan Rahasia Amelia yg berubah jdi Laras tidak di ungkap
memang sebaiknya begitu
SasSya
wawwwww
seumur hidup Za iniii
👍👍👍👍
SasSya
persidangan ternyata melelahkan memakan waktu lama sekali zaa
ber bulan2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!