[Terbit Novel]
Perjalanan cinta unik antara Psikiater dan CIA bernama Justin, untuk mendapatkan informasi mengenai mafia yang menjadi targetnya ia harus berpura-pura menjadi pasien dari Psikiater cantik bernama Jessy.
Bukannya berjalan dengan lancar sesuai rencana, ia malah harus terjebak bersama Jessy. Pertengkaran layaknya Tom & Jerry selalu mengisi pertemuan mereka. Tak menyangka, hal itu justru membuat mereka saling jatuh cinta.
Saat keduanya memutuskan untuk menikah, Justin tidak bisa menjawab pertanyaan Jessy 'Apa pekerjaan mu?' semua semakin rumit saat Justin mendapatkan misi tentang pembunuhan berantai yang disusul oleh kematian Larissa, sahabat Jessy. Kesalahpahaman dan kecurigaan mulai muncul. Akankah semuanya terpecahkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhea Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Koper
Setelah keluar dari tangga darurat mereka bergegas masuk kedalam kamar inap Alicia, berpamitan dan menyampaikan pesan tidak akan pulang hari ini. Mungkin beberapa pertanyaan kini melayang di pikiran Alicia dan Richard. Tapi untuk saat ini tidak ada yang bisa dijelaskan, Jessy pun masih bingung dengan kelanjutan masalah ini. Pikirannya pun mulai bertanya-tanya, kenapa Justin bisa kenal dengan Alicia, apakah data yang pria curi itu adalah data Alicia?.
°°°
"Sebentar! Koper ku." Jessy ingat ia belum membawa kembali kopernya, ia berlari keluar dari mobil, menghampiri security yang tadi ia titipkan kopernya.
"Terimakasih pak." Pekik Jessy sambil menarik kembali kopernya. Ia kembali berlari menuju mobil hitam.
"Kau benar-benar merepotkan." Decak Justin, ia keluar dari mobil dan membantu Jessy memasukkan kopernya kedalam bagasi.
"Kalau kau tidak tulus membantu ku bilang! Aku akan menggunakan taxi." Desis Jessy sinis, bagimu saja ia tak sabaran, bagaimana jika mereka benar-benar dinikahkan dan setiap harinya akan ada pertengkaran seperti ini.
"Aku memang tidak pernah tulus." Jawab Justin santai. Ia menutup kembali bagasi, meninggalkan Jessy yang sudah sangat kesal.
Sam yang sedari tadi didalam mobil, menunggu mobil Justin berangkat, namun yang ia lihat hanyalah kedua orang itu bertengkar.
"Ada apa?" Sam menghampiri Jessy yang masih dia dibelakang mobil, sedangkan Justin diam didepan mobil, hendak masuk kedalam mobil.
"Aku tidak ingin semobil dengan dia! Aku akan mencari taxi saja." Jessy melipatkan kedua tangannya didada.
Terdengar kembali decakan Justin yang mulai kesal dan tak sabar.
"Tidak bisakah sekali saja tidak membuat repot orang?"
"Justin." Peringat Sam, tidak bisa kah ia lembut sedikit pada wanita cantik ini? Bahkan jika dilihat-lihat wanita ini sangat cantik, sedangkan Justin malah lusa kemarin menggoda wanita di dalam lift dengan bahasa lembut.
Perdebatan mereka tampaknya menjadi tontonan bagi beberapa orang yang berlalu lalang, dan itu membuat Sam sedikit malu.
"Nona, bagaimana jika semobil bersama ku?" Jessy tampak berfikir, ia lalu mengangguk dan berjalan kearah mobil Sam.
"Baiklah. Itu lebih baik daripada harus satu mobil dengan pria menyebalkan itu." Gerutu Jessy membuat Justin sedikit membuat mulutnya dengan sedikit tawa masam.
Sam tersenyum pada Justin dan ikut masuk kedalam mobil, mungkin ia bisa mendapatkan identitas Jessy untuk dilaporkan ke Alex.
Sedangkan Justin, ia masuk dengan kesal.
"Sebenarnya apa yang direncanakan wanita itu?" Gumam Justin, ia menyalakan mesin mobil dan melaju dengan kencang.
"Jual mahal, galak, kasar... Apalagi yang aku tak suka darinya?" Justin sedikit berfikir. Sebenarnya ini semua salah dirinya, tapi wanita itu tidak bisa diajak kerja sama dan malah membawa masalah besar seperti ini.
Justin melirik kearah kaca, memperhatikan mobil Sam yang mengikuti nya.
"Bahkan dia lebih memilih duduk disamping pria beristri dari pada duduk disebelah pria tampan seperti ku." Gumam Justin.
Sesampainya di hotel, mereka duduk dikursi meja makan bundar. Jessy melirik jam diponsel nya.
"Apakah masih lama?" Tanya Jessy. Ia bingung dengan keheningan yang tercipta.
"Sekitar 40 menit lagi nona." Jawab Sam.
"Kalau begitu aku ke toilet dulu."
"Haruskan membawa koper kedalam toilet?" Tanya Justin, ia yang hanya melihat saja sudah merasa kerepotan dengan koper itu.
"Ya! Aku takut ada yang mencuri barang ku lagi." Sindir Jessy sukses membuat Justin mengepalkan tangannya.
"Sial." Gumam Justin pelan.
bingung aku...
mohon pencerahannya para readers sekalian
semangat terus berkarya author
tp aku lebih suka visual jessy yg di cerita tentang Alicia