KARMA
Sebelum membaca karya ini alangkah baiknya jika membaca karya pertamaku yang berjudul Aku Bukan Pelakor, agar bisa mengikuti jalan ceritanya.
Karya KARMA ini menceritakan tentang pembalasan pengkhianatan yang di lakukan julio kepada istri dan anak-anaknya.
Julio bukan hanya mengkhianati istrinya namun ia membohongi ana dengan mengaku lajang untuk mendapatkan hati dan tubuh ana, selain itu ia juga di duga menggelapkan dana perusahaan tempatnya bekerja serta perusahaan milik istrinya.
Lalu apa sajakah KARMA yang akan di terima oleh julio?
Semuanya akan di ceritakan di Novel ini.
Terima kasih, selamat membaca😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
"Adek kenapa mi?" Tanya julio yang sedari tadi mendengar putra bungsunya menangis, ia menghampiri retno di kamar putra bungsunya.
'Tumben nanya, biasanya marah-marah jika mendengar rama menangis' gumamnya dalam hati, sambil merilik ke arah julio yang berada di belakangnya.
"Aku juga tidak tahu, adek sudah tidak mau minum ASI, padahal baru saja keluar ASInya. Apa mungkin karena selama beberapa hari ini minum susu formula jadi adek lebih memilih susu formula?" Ucap retno dengan nada kecewa, pasalnya ia selalu mengusahakan segala cara agar produksi ASI nya meningkat namun justru putranya enggan meminum ASInya kembali.
"Ya sudah pelan-pelan saja jangan di paksakan, aku sama Rangga berangkat dulu ya, kamu jadi mau antar aku ke bandara?" tanya Julio.
"Tidak, aku mau bawa Rama ke dokter anak untuk imunisasi." jawab retno.
"Ya sudah aku berangkat dulu ya" Julio mencium kening dan bibir istrinya.
"Hati-hati ya" Retno meraih tangan suaminya kemudian menciumnya, ada rasa enggan untuk melepas kepergian suaminya, Retno masih ingin selalu berkumpul bersama keluarga kecilnya dengan formasi yang lengkap dan penuh kehangatan.
"Aku janji hanya tiga hari sayang" Julio membawa Retno kedalam pelukan hangatnya, sambil menciumi pipinya.
Dengan berat hati Retno melepas kepergian suaminya, ia menganggukan kepalanya mengizinkan suaminya untuk pergi ke Jakarta.
"Aku pergi ya, Assalamualaikum" Julio mepangkahkan kakinya keluar dari kediamannya bersama putra sulungnya.
Sebelum ke bandara, pria itu menyempatkan diri untuk mengantar putra sulungnya ke sekolah, barulah setelah itu dirinya berangkat menuju bandara untuk terbang ke Jakarta mengurus penjualan apartementnya.
55 menit terbang dari Jogja menuju bandara akhirnya Julio tiba di Jakarta, tujuan pertama yang ia tuju adalah menemui notaris dan orang yang akan mengover kredit apartement miliknya.
Tak ingin berlama-lama dan membuang-buang waktu, pria itu melepas apartementnya di bawah harga pasar, Ia hanya mendapatkan dua ratus delapan puluh enam juta rupiah dari hasil penjualan apartementnya.
Setelah semua urusan penjualan apartemennya beres, Julio bergegas bertolak menuju Singapore untuk menemui anggel, sudah lama sekali rasanya bagi julio tidak bertemu dengan anggel, rasa rindu akan permainan ranjang anggel sudah tak dapat ia tahan lagi.
Casino Marina Bay Sands (MBS) menjadi tempat anggel dan kawan-kwannya biasa bermain judi, tempat ini merupakan kasino terbesar dan populer. Kasino ini memiliki empat lantai dengan luas 15 ribu meter persegi dan 600 meja judi serta 1500 mesin slot untuk para pengadu keberuntungan.
Setelah melewati pintu masuk, Julio melempar koin kedalam sebuah kolam yang menampung ribuan koin dari berbagai mata uang asing yang sengaja dilempar pemiliknya sebelum bermain, dengan alasan demi peruntungan.
Kemudian ia berjalan menghampiri anggel di tempat biasa anggel bermain kasino, dari kejauhan julio sudah dapat melihat anggel berada di smoking area bersama dengan beberapa teman-temannya.
"How are baby?" Julio memeluk anggel dari belakang sambil mengambil rokok dari mulutnya dan mencium bibir anggel.
"Be empty without you, honey." Anggel membalas ciuman julio lebih panas.
Julio duduk di sebelah anggel ikut bermain Blackjack besama anggel dan kawan-kawannya, ia tersenyum melihat kartu-kartu yang berada ditangannya, kemudian ia melirik ke arah anggel, anggel pun tersenyum sambil mengedipkan mata genitnya.
"You see, I won." Ucap julio sambil memenaruh kartu-katunya di atas keja, kemudian ia tersenyum penuh kemenangan kepada anggel, ia mendapatkan skor 21 poin.
Di permulaan julio memang memenangkan permainan, namun di permainan berikutnya ia kalah hingga menghabiskan uang ratusan juta rupiah.
Kesalahan terbesar julio sebelum bermain di kasino, ia tidak menentukan seberapa besar uang yang ingin ia habiskan, sehingga pria itu sangat terlena dengan kemenangan di permulaan, merasa yakin bisa melipatgandakan uang dengan menambah beberapa kali permainan, sayangnya keyakinan julio tersebut salah besar.
"The house will always win." Ucap salah seorang teman anggel dengan nada mengejek julio.
Tak ingin julio memiliki konflik dengan temannya, anggel mengajak julio ke kamar hotelnya masih satu kawasan yang sama dengan tempat mereka bermain kasino.
Di dalam kamar hotel keduanya menikmati red wine sambil melepas kerinduan.
"I miss you babe." Anggel duduk di pangkuan julio, kemudian mencium bibirnya, julio menaruh gelas red winenya di atas meja kemudian membalas ciuman anggel dengan penuh gairah.
Anggel memiliki fantasi sek*ual yang liar dan menantang, sehingga julio merasa tertantang dan tak pernah bisa lepas dari anggel.
"Sure?" Tanya julio ketika anggel meminta julio untuk melakukan an*l se*s.
"Come on, babe." Anggel sudah memposisikan dirinya merangkak di atas tempat tidur, ia meminta julio untuk memasukan bagian sensitifnya di area belakang tubuhnya yang sebelumnya sudah ia beri pelu*as agar tidak menimbulkan iritasi.
Dengan penuh gairah julio pun melakukannya, hanya butuh dua kali hentakan, bagian sensitifnya masuk secara sempurna.
"Akkh..." Julio mendesah merasakan kenikmatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, ia pun semakin mempercepat ritmenya hingga ia mencapai *******.
"you're so amazing, babe." Julio mencium bibir anggel dan memeluknya, anggel pun menelusup masuk kedalam pelukan hangat tubuh julio yang penuh peluh keringat.
Sementara itu di tempat berbeda Retno tengah menggendong rama yang seharian rewel usai imunisasi.
"Cup... cup.. sayang." Retno mencoba menengkan babynya.
"Biar saya saja yang mengendong adek" Asisten rumah tangga Retno mencoba membantu Retno menenangkan Rama, namun Rama semakin menangis kencang ketika di gendong oleh asistennya, ia hanya ingin di gendong oleh uminya saja.
"Tidak apa-apa bi, biar saya saja yang gendong." Retno mengambil rama kembali dari tangan asistennya.
"Bagaiman mas PRnya, sudah selesai?" Sambil memangku rama, retno mengecek tugas sekolah rangga.
"Sudah umi, benar tidak?" Rangga mengelus adiknya yang tengah di pangku oleh uminya.
"Umi, badan adek panas. Apa adek sedang sakit?"
"Adek habis imunisasi jadi agak demam. PR nya benar semua, sekarang mas beresin ya semua buku-bukunya habis itu bobok agar besok tidak terlambat ke sekolah." Retno mengelus kepala rangga.
"Baik umi." Rangga merapihkan buku-bukunya, sebelum masuk ke dalam kamarnya rangga bertanya kepada retno tentang janji abinya yang akan mengajaknya ke kebun binatang minggu depan.
"Nanti umi tanyakan ke abi, sekarang mas istirahat ya sudah malam." Retno mengecup kening rangga.
"Baik umi, good night." Rangga mencium pipi uminya kemudian beralih ke adiknya.
"Good night adek." Rangga juga mencium rama.
Setelah rangga masuk ke dalam kamarnya, retno mengambil handphonenya ia berharap ada pesan atau panggilan masuk dari suaminya, namun sayangnya tidak ada sama sekali.
Tidak dapat dipungkiri saat-saat anaknya rewel seperti ini, ia membutuhkan suport dari suaminya.
'Harusnya aku tidak pernah berharap dia bisa berubah' gumam retno, wanita itu menyeka air mata di sudut matanya.
sungguh menguras air mata, tapi sangat puas n byk pelajaran yg bisa diambil dlm cerita ini
sungguh sangat terharu dgn novel ini