Seorang pemuda jenius Stefan Abern yang memiliki ambisi balas dendam pada ayah kepar*tnya tanpa sadar mengacaukan rencananya sendiri karena jatuh cinta pada anak perempuan pertama dari wanita selingkuhan ayahnya itu
🔞🔞🔞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RYN♉, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 Cowok Pelit
Selina sedang menuju kembali keruang rawat neneknya, secara kebetulan dia berpapasan dengan Stefan yang sepertinya hendak keluar area rumah sakit
..."Tuan Stefan! tuan Stefan! tunggu sebentar, Mohon tunggu sebentar!" sahut Selina yang memanggil dari arah samping...
Mendengar namanya dipanggil; Stefan kontan menoleh dan saat itu juga dia menghentikan langkah kakinya
..."Kamu?!"...
Selina lalu berjalan mendekatinya; saat melihat Selina berjalan menuju kearahnya, bayangan Selina kecil masih tersimpan jelas di dalam ingatannya
..."Iya ini aku."...
..."Ada apa?"...
..."Maaf, apa boleh aku minta waktunya sebentar? ada sedikit hal yang perlu aku bicarakan dengan tuan."...
..."Mn. boleh saja."...
..."Tuan tidak sedang terburu-buru kan? agar suasananya lebih santai, bagaimana kalau kita bicarakan dikantin rumah sakit?"...
..."Tidak! silahkan bicara disini. waktuku tidak banyak. aku sedang sibuk!"...
..."Ah! ternyata begitu."...
..."Karena aku sedang terburu-buru... jadi 5 menit!"...
..."Apanya???"...
..."Waktumu berbicara padaku! hanya 5 menit! maka dari itu sekarang cepatlah katakan keperluanmu." Jelasnya...
..."Huh? begitu ya."...
..."To the point."...
...Selina mengangguk, mengerti....
...Selina sedikit membungkukan tubuhnya, "Aku dan nenekku sangat berterima kasih atas kebaikan tuan, yang telah membantu kami membayar tagihan rumah sakit." ucapnya...
..."Oh, soal itu... tidak masalah."...
..."Tapi maaf... karena kami memiliki alasan tertentu, kami tidak bisa menerima kebaikan tuan secara cuma-cuma... kami sudah menganggapnya sebagai hutang." Jelas Selina...
..."Apa?"...
..."Maka dari itu, aku...." Selina terlihat sedang mengambil ponselnya dari saku celana; gadis itu berniat meminta nomor rekening Stefan dan lalu dia ingin mencatatnya di ponselnya, namun tiba-tiba saja Stefan mengeluarkan kartu nama dan memberikannya pada Selina...
..."Nih."...
..."Eh? apa maksudnya memberiku ini?"...
Stefan berdeham, kemudian dia memperhatikan jam tangan dan mengetuk-ngetuknya menggunakan jari telunjuk; bermaksud menyadarkan Selina bahwa waktu dia bicara sudah melebihi batas waktu yang telah Stefan berikan
...Pria itu lantas melanjutkan langkah kakinya, Selina mengejarnya dari belakang "Tuan Stefan, dengarkan aku dulu... tunggu sebentar... aku... " Stefan sontak berbalik badan; dia tidak mengatakan apapun, melainkan hanya memberi Selina kode agar gadis itu dapat menghubunginya melalui nomor yang tertera dikartu yang telah diberikannya...
...Malam harinya......
Selina pergi menemui Ivan untuk meminjam uang padanya, tidak ada pilihan lain lagi bagi Selina. walaupun dirinya sendiri dipenuhi oleh keraguan, namun gadis itu tetap pergi mencoba meminta bantuan dari kekasihnya yang terkenal sangat pelit itu
Ivan Pratama, adalah kekasih Selina sejak SMA. saat SMA Selina sering kali dijahili dan mendapat bullying secara verbal dari teman-teman sekolahnya, tentu saja penyebab terbesarnya yaitu karena mereka tahu fakta bahwa ibunya adalah seorang mantan PSK, terlebih lagi isu mengenai Lydia yang santer diberitakan menjadi dalang dari hancurnya rumah tangga Jeffrey dan Jessica selalu menjadi perbincangan hangat dikalangan publik dari tahun ke tahun
Hampir semua murid membenci dan menjauhi Selina, disaat itulah Ivan satu-satunya orang yang mau menjadi temannya. Ivan selalu berani pasang badan membelanya disaat dia mendapat banyak cemoohan dari teman-temannya.
Ivan terkenal sangat pelit, itulah alasan mengapa dirinya bernasib tidak jauh berbeda dengan Selina. Ivan juga tidak memiliki teman saat dia SMA.
Karena bernasib sama, Selina dan Ivan kemudian sepakat menjadi teman. Siapa yang menyangka kedekatan mereka ternyata berkembang menimbulkan rasa saling suka dan setelahnya timbul rasa ingin memiliki; beberapa bulan menuju kelulusan, Ivan dan Selina resmi menjadi sepasang kekasih
Setelah resmi menjadi sepasang kekasih, saat mereka ingin bertemu, haruslah Selina yang menghampiri Ivan. Ivan sangat jarang menjemput Selina. alasannya beragam. lebih sering pakai alasan; kalau dia memaksakan menjemput Selina, besoknya dia tidak akan memiliki bensin motornya lagi untuk berangkat bekerja.
Ivan telah menerapkan gaya hidup hemat dalam hidupnya selama bertahun-tahun, dan Selina mau memaklumi hal itu.
..."Kenapa dari tadi siang ponselmu sulit sekali dihubungi?" tanya Selina...
..."Ayolah sayang, tentu saja akan sulit... kamu kan menghubungiku disaat jam kerja."...
..."Loh, bukannya hari ini seharusnya kamu pulang jam 5 sore? tapi kenapa kamu baru menelpon balik aku jam 7 malam?" tanya Selina...
..."Oh... soal itu... i-iya seharusnya, tapi rekan kerjaku ada yang sedang bertulang tahun. dia merayakannya dengan mentraktir kami semua, rekan kerjanya... pergi ke tempat karaoke. dia orang yang sangat royal kan?" Ivan menjelaskan dengan riang...
Setelah mendengar penjelasan darinya, Selina menjadi diam seribu bahasa, dia tidak memberinya respon apapun; Ketika sadar melihat ekspresi wajah Selina yang sepertinya tidak senang, Ivan latas mengernyit merasa kebingungan sendiri; biasanya gadis itu selalu pengertian
..."Sel-selina?"...
..."Mn."...
..."Maaf ya?"...
...Selina mengangguk "Ya, tidak apa!"...
..."Kamu marah, kan? Selina, tadi sore ponselku benar-benar mati karena kehabisan baterai... aku baru bisa mengisi ulang baterainya setelah pulang ke kontrakan, kenapa kamu tidak bisa mengerti?" Jelas Ivan...
..."Loh Aku mengerti, aku kan sudah bilang tidak apa."...
..."Selina... Aku..."...
...Selina menghela nafas panjang; daripada harus mempermasalahkan hal itu lebih baik Selina akan langsung saja pada tujuannya "Ivan, kamu tahu kan? Aku kan sudah memberitahumu soal nenekku yang masuk ke rumah sakit?" tanya nya...
Ivan yang sedang duduk di sebrang Selina kontan memutari meja dan mendekatinya; pria itu tiba-tiba saja memeluknya erat
..."I-ivan? apa yang kamu lakukan? kenapa tiba-tiba saja memelukku?" Selina tentu saja dibuatnya kebingungan...
Rupanya Ivan menduga Nadia telah meninggal dunia, Selina kemudian menjelaskan kondisi Nadia yang sebenarnya.
..."Ma-maaf, Selina aku... aku pikir..." Ivan merasa amat bersalah karena telah menduga hal yang salah...
..."Hufft... tidak apa-apa."...
..."Oh, iya... Ngomong-ngomong, apa kamu sudah makan?" tanya Ivan canggung...
..."Ng Su-sudah." jawab Selina cepat, namun dia berbohong...
..."Yakin? kamu tidak berbohong padaku kan?" tanya Ivan memastikan...
...Selina mengangguk cepat "Iya, iya."...
..."Huft sayang sekali... padahal, aku ingin mengajakmu makan malam bersama..." ucap Ivan menyayangkan...
Faktanya Selina belum makan dari tadi siang, karena terlalu banyaknya pikiran Selina sampai melupakan jam makannya; Selina berbohong bukan karena dia takut Ivan akan menghawatirkannya, melainkan lebih karena dia sudah tahu ajakan Ivan itu benar-benar hanya sekedar mengajaknya saja, setelahnya pun Selina akan disuruh membayar makanan yang telah dia makan sendiri
..."Jadi kamu belum makan?" tanya Selina...
..."Rekan kerjaku yang berulang tahun itu hanya memesan dua porsi pizza untuk 14 orang, hufft" keluhannya...
...Selina tertawa "Rekan kerjamu benar-benar orang yang sangat royal ya? hihi." sindirnya membalas pujian Ivan sebelumnya...
..."Hmph."...
...Selina bangun dari tepat duduknya, dia mendekati Ivan dan lantas menarik lengan pria itu "Ayo, aku temani kamu makan?" ajaknya...
...Bukannya berdiri menerima ajakan Selina; Ivan justru bersikap manja dengan menempelkan lengan Selina pada pipinya, menjadikannya seolah-olah seperti bantal "Untuk malam ini, aku akan makan dengan mie instan saja" ucapnya...
..."Lagi? tidak boleh! kamu sudah hampir satu minggu ini makan mie instan terus." omel Selina...
...Ivan lalu berdiri, dia menyentuh lembut pipi Selina dan kemudian memberinya pengertian "Tidak apa-apa Selina. Justru, aku harusnya bisa lebih irit lagi... tentu saja semua yang kulakukan ini demi masa depan yang kita mau" jelasnya...
..."Tapi, Kamu terlalu sering mengonsumsi mie instan... itu tidak baik buat kesehatanmu." omel Selina...
Selina dan Ivan telah berencana menikah diusia mereka ke 23 tahun, namun rupanya hal itu ditentang oleh Lydia.
Lydia tidak setuju Selina menikah dengan Ivan, lantaran Ivan hanyalah buruh disebuah pabrik makanan yang tidak cukup terkenal.
Lydia menentang bukan berarti dia menginginkan yang terbaik bagi anak tirinya itu, melainkan karena Lydia memiliki tujuannya sendiri; dia ingin menagih semua uang yang sebelumnya sudah dia dikeluarkan untuk membesarkan Selina pada suaminya kelak.
..."Tidak apa-apa, Selina. tubuhku sudah mulai terbiasa." Jawab Ivan sambil tersenyum...
..."Ivan... beli nasi goreng didepan juga harganya tidak begitu mahal kan? ayolah hanya 10 ribu" Omel Selina...
..."Sayang uangnya tahu! lebih baik kan ditabung... ingat tujuan kita? aku ingin segera menikahimu" Jawab Ivan...
Lydia tidak akan menentang lagi hubungan mereka setelah Ivan berhasil memenuhi syarat yang diberikannya, yaitu dengan mengganti semua uang yang telah dikeluarkannya untuk membesarkan Selina selama 21 tahun; dia meminta 3 miliar pada Ivan
...Selina kontan memeluk Ivan "Maaf, aku membebanimu." ucapnya merasa bersalah...
..."Selina, aku mencintaimu. sudah pasti aku akan memperjuangkanmu." ucap Ivan terdengar sangat manis...
Selina yang bertujuan meminjam uang pada kekasihnya itu, berakhir merasa tidak enak hati dan kemudian mengurungkan niatnya tersebut.
..."Oh iya... Ngomong-ngomong soal nenekmu..."...
..."Ah! bukan apa-apa! aku hanya ingin memberitahumu kalau nenek sudah keluar dari rumah sakit. itu saja."...
..."Jangan berbohong padaku? apa kamu sedang dalam kesulitan? katakan saja?" tanya Ivan memastikan...
...Selena menggeleng "Tidak kok." jawabannya cepat...
...Ivan mengelus-ngelus lembut rambut Selina "Syukurlah kalau begitu." ucapnya terdengar lega...
..."I-iya."...
Tak lama terdengar suara guntur yang menandakan akan turunnya hujan
...Ivan melepaskan dekapannya dari Selina "Sepertinya, sebentar lagi akan turun hujan." ucapnya...
..."Iya..."...
...Ivan kemudian mengelus lebut pipi Selina "Sebaiknya kamu segera pulang?" ucapnya...
..."Ah!"...
...Ivan meletakan tangannya dikedua bahu Selina, lalu memberinya pengertian "Selina, maaf bukannya aku mengusirmu... kamu tahu sendiri kan kita belum menikah? jangan sampai jadi gunjingan tetangga disini... dan maaf... huft! lagi-lagi, aku tidak bisa mengantarmu pulang..." Ivan terlihat sedikit menunduk merasa tidak enak hati "Kamu tahu kan karena apa?"...
...Selina memotong penjelasannya "Aku sudah tahu. tidak apa-apa kok, aku mengerti." ucapnya tersenyum...
Mendengarnya Ivan lantas tersenyum, gadis dihadapannya ini selalu mengerti dirinya. Ivan merasa sangat beruntung memiliki Selina dalam hidupnya.
...Ivan menggandeng tangan Selina "Pacarku yang paling pengertian, Terima kasih... Aku antar kedapan, ya?" ucapnya...
..."Tidak perlu! aku bisa sendiri kok... kamu pasti capek kan? setelah selesai makan, kamu langsung istirahat ya?" ucap Selina penuh perhatian...
..."Lebih baik kamu pulang naik ojek, agar lebih cepat sampai kerumah... nanti kalau sudah sampai kamu harus langsung kabarin aku ya?" saran Ivan...
..."Iya, kalau kamu mau bayarin aku ongkos ojeknya." gumam Selina...
..."Apa? maaf aku kurang jelas mendengarnya? barusan kamu ngomong apa?" tanya Ivan yang tidak mendengar jelas apa yang baru saja Selina gumam kan...
...Selina mengangguk cepat "Ah! bukan apa-apa! i-iya." jawabnya...
..."Iya? iya apa?" tanya Ivan...
..."I-iya, aku akan pulang naik ojek hehe" jawab Selina...
...Ivan lalu mencium kening Selina "Hati-hati dijalan, Selina." ucapannya...
dia kaya apa gk bs minta bantuan anak buahnya