NovelToon NovelToon
AMERICAN CROWS

AMERICAN CROWS

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Bad Boy
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kazeo24

Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 ROOK AND KINGS

Gua melangkah menuruni tangga darurat gedung tua itu dengan santai. Sesampainya di gang bawah yang sepi, gua langsung merogoh ponsel di saku celana dan menekan tombol panggilan.

​"Sebas, jemput gua. Gua kirim titik GPS sekarang."

​Tidak sampai sepuluh menit, sedan hitam mewah kami membelah kegelapan jalanan Sukaseri dan berhenti tepat di depan gua. Sebas keluar dari pintu kemudi, membukakan pintu penumpang dengan raut wajah yang tetap tenang meski menyadari ada bekas memar tipis di sudut bibir gua.

​"Petualangan malam yang cukup berkesan, Tuan Muda?" tanya Sebas halus.

​"Bisa dibilang begitu," jawab gua sambil masuk ke dalam mobil. "Pulang yuk, lapar gua."

​Sesampainya di kediaman pusat kota, aroma masakan malam langsung menyambut. Gua, Sebas, dan Denza duduk melingkari meja makan panjang. Gua melahap makanan dengan lelah setelah tenaga gua terkuras habis di jalanan.

​Gua meletakkan sendok, lalu menatap Denza yang sedang meminum kopinya. "Bang Denza, lu tahu soal fraksi namanya Ghost Girl?"

​Denza yang tadinya hendak menyesap kopi mendadak menghentikan cangkirnya di udara. Dia menatap gua dengan alis terangkat. "Ghost Girl? Oh... fraksi cewek itu. Kenapa lu tiba-tiba nanya soal mereka?"

​"Cuma penasaran," jawab gua santai. "Gua dengar mereka bukan fraksi resmi, tapi belakangan ini pemimpinnya ganti?"

​Denza mengembuskan napas pelan, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Isu dari anak-anak jalanan sih gitu. Pemimpin lamanya mendadak digeser sama wakilnya sendiri. Masalah utamanya simpel: si wakil pengin Ghost Girl resmi diakui sama Dewan Kota. Tapi si mantan ketua menolak keras."

​"Kenapa ditolak? Bukannya makin bagus kalau resmi?" sela Sebas penasaran.

​"Sebab syarat buat diakui Dewan itu ada harganya," jawab Denza dengan nada merendah. "Mereka harus bersedia bekerja di bawah perintah pemerintahdi balik layar. Meskipun publik gak bakal ada yang tahu, secara teknis mereka berubah jadi anjing suruhan. Mungkin karena gak sudi dijual kayak gitu, mantan ketua lamanya memilih melanggar aturan, kabur, dan akhirnya dicap ilegal sampai jadi buron."

​Gua manggut-manggut sambil menyipitkan mata. "Jadi... sekarang Ghost Girl itu resmi jadi alat pemerintah di belakang layar?"

​"Bisa dibilang begitu," kekeh Denza sinis. "Harusnya hal semacam itu gak diperbolehkan. Anak-anak brandalan yang terikat sama Dewan gak boleh punya fraksi independen. Tapi karena Ghost Girl ini spesialis intelligence dan pengumpul informasi kelas atas, orang-orang di atas merem. Sah-sah aja buat mereka. Tapi gua sendiri penasaran... apa ada konspirasi atau orang besar yang nyetir ini semua?"

​Denza memajukan badannya, mengetuk-ngetuk meja. "Kalau beneran ada dewan atau Old Generation yang main di belakang si wakil ketua, ini bisa merepotkan. Lagian, kenapa si wakil ketua ngebet banget? Jawabannya simpel: uang. Pekerjaan intelligence buat pihak atas itu menghasilkan uang yang jumlahnya gak berseri."

​Gua tersenyum miring, menyandarkan badan ke kursi. "Oh... gitu cara main nya. Menarik."

​Keesokan harinya, fajar Cikampek menyambut dengan ketegangan baru. Mobil mewah hitam kami berhenti tepat di depan gerbang besi raksasa SMK PGRI Cikampek—atau yang lebih dikenal anak-anak jalanan dengan sebutan Bayoer.

​Suasana di depan gerbang bener-bener liar. Ratusan siswa berseragam kumal dengan kancing terbuka, celana ketat, dan wajah bertato tipis memenuhi trotoar. Saat gua melangkah keluar dari mobil bersama Sebas, puluhan pasang mata langsung tertuju penuh intimidasi ke arah kami.

​"Woy! Lihat tuh! Anak manja dari mana nih?!" teriak salah satu murid berbadan gempal dari atas motornya.

​"Sekolah ini bukan tempat buat orang kaya kayak lu, bajingan! Pulang sana main gundu!" cemooh yang lain disambut gelak tawa riuh.

​Gua tidak membalas sepatah kata pun. Gua cuma berjalan santai menyusuri halaman sekolah, mendengarkan semua makian itu dengan sudut bibir terangkat.

​"Ah... nikmat sekali raungan para pecundang ini," gumam gua pelan.

​Tiba-tiba, seorang cowok berambut gondrong dengan seragam kelas 3 berdiri tepat memotong jalur jalan gua. Tingginya hampir menyamai gua, dengan tatapan mata yang tajam dan aura memusuhi yang kental.

​"Apa lu anak baru di sini?" tanyanya dengan suara berat.

​"Yap. Gua siswa pindahan dari Jakarta," jawab gua santai, bersedekap dada.

​Cowok itu memiringkan kepalanya. "Lu datang ke sini berniat mau menguasai sekolah ini? Atau lu cuma berandalan gak punya otak kayak anak-anak dunia malam? Mana yang mau lu pilih... dunia malam atau dunia siang?"

​Gua terkekeh kecil, menatap tepat di dalam manik matanya. "Gua gak tertarik buat memilih kedua hal picisan itu. Yang gua pilih... seluruh dunia, mau siang atau malam, bakalan jadi milik gua."

​Suasana halaman sekolah seketika hening. Detik berikutnya, ledakan emosi membumbung tinggi.

​"Sombong banget lu, Keparat!" teriak cowok itu.

​Nama cowok itu adalah Erik, ketua salah satu fraksi dari kelas 3 SMK—seorang senior yang usianya setahun lebih tua dari gua yang baru masuk kelas 2.

​"Jangan remehkan gua! Gua ini salah satu dari 10 Besar pemegang hierarki di sekolah ini! Gua bakal habisin lu, Bocah!" jerit Erik seraya memberi isyarat tangan.

​Seketika, sekitar sepuluh orang anggota fraksi Erik langsung melompat mengeroyok gua dari segala arah! Pukulan dan tendangan melayang membabi buta.

​Gua menggeser posisi kaki, bergerak cepat menepis setiap pukulan yang datang. Jujur, melawan sepuluh orang anak kelas 3 yang sudah terbiasa bertarung di jalanan sedikit membuat gua harus ekstra fokus. Tapi gerakan mereka masih terlalu mudah dibaca. BAM! DUAAGH! Satu per satu anak buah Erik tumbang bergelimpangan di ubin halaman sekolah setelah menerima serangan balik yang presisi dari gua.

​Dalam waktu singkat, yang tersisa di halaman itu cuma gua dan Erik.

​"Bangsat!" amuk Erik. Dia melesat maju, melayangkan pukulan lurus yang keras.

​TAKH!

​Pukulan pertama Erik sempat mengenai rahang gua hingga wajah gua terlempar ke samping. Tapi bukannya tumbang, gua malah menyeringai. Gua menyapu darah di bibir, lalu mulai bergerak.

​Gerakan gua berubah total. Dari yang tadinya defensif, gua menjadi sangat gesit. Erik makin panik karena setiap pukulan kerasnya cuma mengenai angin. Sebaliknya, balasan dari gua mulai bekerja. Satu pukulan di perut, satu uppercut di rahang, dilanjutkan kombinasi pukulan mematikan yang makin lama makin bertenaga.

​Sorakan dan makian murid-murid yang tadinya membahana di halaman sekolah perlahan-lahan lenyap. Hening total. Mereka semua melongo menatap seorang anak baru kelas 2 sedang membantai salah satu dari 10 Orang Terkuat di Bayoer tanpa ampun.

​Erik sudah terhuyung-huyung, wajahnya babak bunur penuh darah. Gua menarik tangan kanan gua ke belakang, siap melayangkan pukulan terakhir untuk menuntaskan permainan ini.

​Tiba-tiba... SRET!

​Sebuah cengkeraman tangan yang sangat kuat menahan pergelangan tangan gua dari belakang.

​"Cukup sudah, Erik. Lu udah kalah," suara santai namun berwibawa terdengar dari belakang gua.

​Gua menoleh. Cowok yang menahan tangan gua berpenampilan rapi dengan jaket sekolah yang disampirkan di bahu. Dia adalah Nadeo, salah satu anggota 10 Besar lainnya di Bayoer.

​Nadeo melepaskan genggamannya dari tangan gua, lalu bertepuk tangan pelan sambil tersenyum kagum. "Hebat sekali lu, Bocah... Bisa mengalahkan seluruh fraksi Erik dan Erik-nya sekaligus dalam sekali jalan. Siapa nama lu?"

​Gua merapikan kerah seragam gua yang agak kusut, lalu menyunggingkan senyum tipis tanpa rasa takut.

​"Apa gunanya menyebutkan nama... kepada orang yang bahkan gak memperkenalkan dirinya dulu?" ucap gua dingin.

​Tanpa menunggu responsnya, gua berbalik dan berjalan santai menuruni lorong sekolah menuju kelas gua, meninggalkan kerumunan yang masih terpaku.

​Nadeo berdiri mematung di tempatnya. Matanya membelalak kaget sebelum akhirnya terkekeh pelan. "Menarik... Bener-bener orang yang menarik."

​Di saat yang sama, jauh di atap gedung tertinggi SMK PGRI Cikampek.

​Aura di tempat ini sangat berbeda. Terasa berat, pekat, dan mendominasi. Di atap ini berkumpul empat orang yang kekuatannya berada di level yang sepenuhnya berbeda dari siswa mana pun di sekolah ini.

​Tiga di antaranya dikenal dengan sebutan Trio Raja Langit—fraksi legendaris yang hanya berisi tiga orang penguasa puncak: Argantara sang ketua yang berambisi menguasai seluruh Bayoer, Hyto Immanuel, dan Kairi Shinki.

​Sementara orang keempat yang duduk santai di seberang mereka adalah sebuah anomali: Maruyama Ken, atau yang akrab dipanggil Ken. Seorang lone wolf tanpa fraksi yang kekuatannya diakui berada di atas Trio Raja Langit.

​Karena bosan bertarung, keempat monster ini sedang duduk melingkar di atas ubin atap... bermain catur.

​Secara aturan, Argantara sudah diakui seluruh siswa sebagai penguasa sekolah. Tapi secara Hukum Rimba Bayoer, Argantara belum resmi menjadi Penguasa Sejati karena dia belum bisa menumbangkan Ken. Dan Ken sendiri tidak peduli soal takhta—dia cuma peduli pada kesenangan.

​TAK.

​Ken memindahkan bidak kudanya. Tiba-tiba, seorang siswa melompat dari pintu atap dengan napas terengah-engah, mendekati Hyto Immanuel.

​"Lapor, Bang! Fraksi Erik dari 10 Besar baru aja dibantai habis sama budak pindahan baru!" bisik siswa itu heboh.

​Hyto tertawa pelan, menggeleng-gelengkan kepala. "Begitu ya... Ternyata sekolah ini gak bakal pernah habis kedatangan orang-orang kuat."

​Kairi Shinki menopang dagunya, menatap papan catur. "Mengingat tahun kemarin aja kita kedatangan seorang bocah yang berhasil jadi penguasa pas zaman SMP-nya. Punya julukan lumayan, tapi pas masuk sini malah milih jadi lone wolf dan gak tertarik bertarung. Itu aja udah hoki buat kita... Lawan Ken aja udah setengah mati, apalagi ditambah kedatangan monster kayak gitu."

​Kairi merujuk pada sosok anak kelas 1 tahun lalu yang langsung meratakan seluruh angkatannya di hari pertama masuk.

​Ken, yang sedang memegang bidak raja, menyunggingkan senyum tipis. "Mengingat abang nya adalah orang yang sangat kuat di luar sana... gak aneh bukan kalau dia sekuat itu?"

​Argantara menyipitkan matanya menatap Ken. "Lu kenal sama bocah itu, Ken?"

​Ken tidak menjawab. Dia cuma tersenyum misterius seraya menjatuhkan bidak raja milik Argantara di papan catur.

​"Skakmat."

1
DANZ XYZ
/NosePick//NosePick//Applaud/
Arashiii22
keren bangat sialan
Dongo Dipelihara
siapa yang di maksd maruyama abang nya zela kah?
Kazeo24: Yap itu abang nya zela
total 1 replies
Dongo Dipelihara
prolog yang keren
Kada Wijaya
DAMN BROO
Ekaa
/Plusone/
damai kami sepanjang hari
THISS IS PEAK BRO!!
AZIKAZUE
GOKSS PARAH SELAMA INI 22 BAB TERNYATA CMN PROLOG🤭
Kazeo24: BENER SEKALII
total 1 replies
AZIKAZUE
terus bekarya bang✌🏻
Kada Wijaya
OH GITU🤭
Kada Wijaya
👍👍👍
Kada Wijaya
lanjutt perang nya
Kada Wijaya
BADASSS🔥🔥🔥
kaka pelenger
GOKILLL
RezaFitra
/Casual//Casual/
Dongo Dipelihara
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!