Rinjani Analita (Riri) mahasiswa fakultas keguruan yang merangkap sebagai guru honorer di sebuah sekolah SMP negeri bertemu dengan Abel anak muridnya yang punya seorang ayah berstatus duda anak satu. Abel yang rindu sosok seorang ibu yang meninggalkannya selama 4 tahun berharap sang guru menjadi ibunya. Abel selalu berusaha menjodohkan guru kesayangannya itu dengan Ervan papa nya, sedangkan Ervan punya kekasih dan mereka menjalin hubungan selama 2 tahun.
Apakah Abel berhasil membujuk Riri bersama Ervan atau kah Ervan menolak keinginan abel?
SEASON 2
kisah rumit antara Abelia, Davin dan juga Nolan. Kisah cinta segitiga dua bersaudara yang mencinta satu wanita yang sama.
Davin seorang dirut yang dikenal dengan kebiasaannya sering berganti pasangan. Sedangkan Nolan mahasiswa dingin yang punya jiwa sosial yang tinggi terhadap sesama.
siapa yang akan mendapatkan cinta Abel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Einaz Ajjah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 Kapan nikah?
Setelah melewati perjalanan sekitar 40 menit Ervan dan Riri sampai di depan rumahnya. Sesuai janjinya, Ervan turun menemui ibunya Riri.
"Assalamu'alaikum.. Bu, Pak.." Riri membuka pintu rumahnya yang tidak terkunci.
"Waikumusalam.. Kok lama banget nak pulang nya?" Balas ibu Sinta yang masih menonton TV.
"Bu ada Mas Ervan, Bapaknya Abel. Katanya mau ketemu Ibu." Balas Riri.
Bu Sinta, langsung memakai kerudung dan bangkit dari kursi menuju teras bersama Riri.
"Nggak masuk dulu Mas. Kenapa repot-repot ngantar Riri, bannya kempes lagi ya?" Kata Bu Sinta menemui Ervan.
"Mau langsung Bu. Mau minta maaf, tadi ajakin Riri ngobrol sebentar jadi kemalaman, makanya saya antar pulang Bu." Balas Ervan.
"Oh,ya Mas. Makasih sudah ngantar Riri pulang, jadi merepotkan." Kata Bu Sinta kagum melihat Ervan yang menurutnya tampan.
Ervan pamit pulang dan mulai menghilang dari pandangan Riri dan Ibunya.
"Ganteng ya Ri Bapaknya Abel, kayak masih bujang. Makanya kamu betah ngobrol lama-lama. Tapi inget batasan." Goda ibu Sinta menyenggol Riri.
"Ibu ini, mulai." Riri pergi meninggalkan Ibunya dan masuk kamar.
*****
Pagi yang cerah Ervan melajukan mobil nya kerumah orang tua nya menjemput anak kesayangannya. Perjalanan sekitar satu setengah jam Ervan sampai ditempat tujuan.
Ervan turun dari mobil menuju rumah masa kecilnya. Mengucapkan salam dan membuka pintu. Kemudian menghampiri Ibunya yang duduk di ruang TV.
"Van, sendirian. Tiara gak ikut." Kata wanita paruh bayah yang tak lain adalah Bu Niah ibu Ervan.
"Sendiri Ma, Abel kemana Ma sama yang lain. Papa, Mas Ervin, Mbak Vina."
Ervan adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya Ervin mengurus perusahaan keluarga dibidang kelapa sawit. Sedangkan adiknya Ervira berkuliah di Singapura.
"Lagi di taman belakang kali nanti juga kumpul." Jawab Bu niah, Ervan menggangguk.
"Gimana hubungan kamu sama Tiara masih juga belum mau nikah. Mau apa perempuan itu. umur juga udah nggak muda." Ujar Bu Niah sedikit kesal.
"Ya begitu Ma, katanya nunggu sampai jadi kepala devisi Ma." Balas Ervan santai.
"Ya nanti akan begitu lagi Van. Setelah jadi kepala devisi dia gak akan puas, kamu pasti disuruh nunggu lagi sampai jadi direktur baru dia puas." Kata Bu Niah sedikit emosianal.
Ervan hanya terdiam karena memang begitu kenyataannya.
"Kamu itu ya jadi laki-laki yang tegas Van. Kalau dia nggak mau nikah ya tinggalin aja. Kasian anak kamu. Udah kepengen punya Ibu baru."
"Ya nggak bisa gitu juga Ma. Semua kan ada prosesnya." Balas Ervan bingung tidak bisa memberi alasan yang sebenarnya.
"Memang dia wanita karir sukses Van. Tapi pas nanti kamu nikah sama dia yang nggak tahu kapan. Bisa nggak dia ngurusin kamu sama Abel. Dia kan tahunya karir, naik jabatan tinggi. Gaji banyak."
"Ma.. Udah dong, Tiara nggak seobsesi itu kok dia kan juga wanita pasti masih punya sisi keIbuan." Ervan membela Tiara meskipun terdengar benar semua perkataan Ibunya.
"KeIbuan dari mana Van. Yang ada dia akan semena-mena sama kamu. Cucu mama aja di marahin terus sama dia." Kata Ibu nya lagi-lagi membuat Ervan binggung harus membela bagaimana lagi karena perkataan ibunya lagi -lagi benar.
"Ya Ma, nanti di omongin baik-baik sama Tiara. Mama nggak usah kuantir lagi ya."
"Mama tuh pengen nya kamu punya istri yang tepat Van. Belajar dari pernikahan kamu sama Amanda makanya mama biarin kamu cari pasangan pilihanmu sendiri." Nasehat Bu Niah lagi.
"Van udah lama?" Tiba-tiba Ervin muncul menyusul di belakangnya bersamaan Vina dan pak Toni.
"Baru aja Mas, habis dari mana?"
"Habis dari halaman belakang ngelihat mangga belum ada yang mateng." Balas Ervin.
"Tiara mana, kok nggak sama dia. Pasti sibuk nih Ibu direktur." Sindir Vina menyenggol Ervan.
"Ya Mbak, dia sibuk." Balas Ervan.
"Kapan nikah? segera dihalalin, kasian Abel biar dia ada temannya." ujar Ervin lagi. Ervan hanya diam menggangguk menyiakan.
"Ya Van. Biar Papa bisa tenang, kamu sama Abel ada yang ngurus." Pak Toni ikut memberi nasehat.
"Ya Mas, Pa, InsyaAllah secepatnya."
Ervan berharap Abel segera turun agar tidak di brondong pertanyaan tentang pernikahan oleh orang-orang yang ada diruang keluarga. Beberapa menit kemudian Abel turun dan meminta pulang. Ervan dan Abel berpamitan pulang, Mereka bergegas menuju ke rumah.
.
.
.
.
. Next....