Lima tahun yang lalu dia mengubah identitasnya, membuang jauh masa lalunya karna rasa kecewa pada suaminya.
Dan kini di saat dua buah hatinya menanyakan sang ayah, apakah yang akan di lakukan ALEA, akankah dia berkompromi pada hatinya demi kebahagian buah hati tercinta. Atau dia mengabaikan demi gengsi dan harga dirinya walau sebenarnya dia masih sangat mencintai pria tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvi Barta Jadul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema Leea
Setelah selesai pemeriksaan dan Aiden di nyatakan sehat, Leea pun siap siap untuk bergegas meninggalkan rumah sakit. Dia sudah rindu dengan putri kecilnya yang sejak semalam di bawa oleh Ziga.
Sebelum mereka keluar kamar terdengar ketukan dari arah pintu. Tak lama Erik pun masuk ke dalam.
"Nyonya, semua sudah di urus" lapor Erik.
Leea mengernyitkan alisnya,
"Dimana Zeline?" tanya Leea pada Erik.
"Nona kecil berada di rumah, semalam dia tertidur karna kelelahan jadi Tuan membawa nona kecil pulang" jawab Erik.
Leea mengangguk, kemudian menuntun Aiden menuruni ranjangnya.
"Uncle, Daddy mana ?" tanya Aiden pada Erik.
Erik mengangkat Aiden dalam gendongannya, dia begitu gemas melihat wajah Aiden yang sangat mirip dengan Ayahnya ketika kecil.
"Daddy ada di rumah bersama Zeline Tuan kecil" jawab Erik.
Mereka pun segera bergegas keluar dari rumah sakit untuk menuju kediaman Leea.
Setelah sekitar tiga puluh menit akhirnya mereka pun tiba di kediaman Leea.
Zeline yang mendengar suara mobil pun langsung berlari keluar menyambut mereka.
"Mom" teriak Zeline bersemangat, dia merindukan ibunya walau hanya satu malam mereka berpisah.
Leea menyambut Zeline dengan memeluk bocah tersebut dan mengangkatnya ke dalam gendongan.
"Apa kabar putri Mom yang cantik ?" tanya Leea sambil mengelus rambut putrinya tersebut.
"Zel rindu Mom" jawab Zeline.
"Mom, ayo masuk" ajak Zeline sembari turun dari gendongan Leea.
"Daddy sudah membuat sarapan untuk kita" ucap Zeline bersemangat.
Leea menatap wajah putrinya, tapi dia tidak berkata apa apa. Kemudian dia segera masuk ke dalam menuruti ajakan Zeline.
Zeline mengajak mereka langsung menuju dapur, di mana Ziga tengah sibuk memasak untuk sarapan mereka.
"Daddy" panggil Aiden dan Zeline berbarengan, mereka langsung memeluk kedua kaki Ziga.
Ziga yang tengah sibuk memasak segera mematikan kompornya, kemudian dia mengangkat kedua buah hatinya ke dalam gendongannya.
"Kalian sudah datang, ayo kita sarapan sebentar lagi sarapan akan siap" ucap Ziga sambil mencium pipi Aiden dan Zeline.
Aiden dan Zeline pun segera membalas ciuman Ziga dengan mencium wajah ayahnya bertubi tubi.
Ziga tertawa bahagia mendapat perlakuan seperti itu dari kedua buah hatinya.
Leea yang menyaksikan pemandangan tersebut merasa terharu, Dia tidak menyangka bahwa kedua buah hatinya begitu cepat akrab dengan Ziga, walau mereka baru bertemu selama dua hari. Memang darah lebih kental dari air, walau mereka tidak pernah bertemu selama 4 tahun tapi ikatan ayah dan anak takkan mudah terhapuskan.
Ziga menurunkan kedua buah hatinya,
"Ayo ajak Mom dan Uncle Erik untuk sarapan" perintah Ziga kepada kedua buah hatinya.
"Daddy akan menyelesaikan ini sebentar" tambah Ziga.
Aiden dan Zeline pun menurut, mereka segera menghampiri Leea dan Erik kemudian mengajak mereka untuk sarapan bersama.
Ziga menyiapkan hidangan di atas meja, dia membuat beberapa hidangan khas Ceko diantaranya palacinky (pancake kalau di Indonesia), Svickova na smetane (daging sirloin dengan saus sayur), Kulajda ( sup kentang creamy), Goulash (daging saus pedas ) dan Chlebicek (sandwich cepat saji dengan berbagai toping sehat).
"Aku tidak tahu apa yang kau suka jadi aku memasak semua ini" ucap Ziga pada Leea dengan gugup. Entah mengapa setiap kali dia berhadapan Via dia merasakan kegugupan di hatinya.
"Aku suka apa saja" jawab Leea singkat, kemudian dia mengambilkan Palacinky dan Chlebicek untuk Aiden dan Zeline, sedangkan dia sendiri memilih Svickova untuk dirinya.
"Mari sarapan" ajak Leea pada mereka yang duduk di meja makan.
Ziga memilih Goulash sebagai menu sarapannya, dan Erik kebagian sisanya.
Mereka pun memulai sarapan dengan tenang.
Suasana di meja makan terasa canggung, terutama antara Ziga dan Leea. Mereka masing masing tak dapat menutupi rasa gugup yang mereka rasakan.
"Mom, bagaimana?" tanya Aiden memecah keheningan.
"Bagaimana apanya sayang?" tanya Leea yang tidak mengerti akan pertanyaan Aiden.
"Apa Daddy akan tinggal bersama kita?" tanya Aiden lagi sekaligus menjawab pertanyaan ibunya.
Leea dan Ziga serempak terdiam, mereka masih belum menemukan solusi untuk mengatasi masalah ini.
"Saya sudah selesai, saya akan berkeliling sebentar " ucap Erik, dia berusaha memberi kebebasan kepada keluarga kecil itu untuk membicarakan masalah mereka secara terbuka. Erik pun bergegas keluar meninggalkan Ziga dan Leea yang kini tengah di bingungkan dengan pertanyaan putra putri mereka.
Ziga dan Leea saling berpandangan, mereka tidak tahu harus menjawab apa.
"Yey, asyik" teriak Zeline penuh dengan semangat.
"Benarkah Daddy akan tinggal bersama kami?" tanya Zeline pada Ziga sambil menatap wajah ayahnya dengan mata bulatnya.
Ziga tidak tahu harus menjawab apa, tapi melihat tatapan mata Zeline yang penuh pengharapan membuat Ziga tak tega untuk mengecewakannya.
"Jika Mom mengizinkan Daddy akan tinggal bersama kalian" jawab Ziga akhirnya, dia tidak berani mengambil keputusan karena takut Via akan marah.
Leea memutar bola matanya, dia kesal akan jawaban Ziga yang menyerahkan keputusan padanya. Tentu saja dia tidak tega untuk mengecewakan kedua buah hatinya, tapi jika Ziga tinggal di sini yang di fikirkan Leea adalah di mana Ziga akan tidur. Rumahnya hanya memiliki dua kamar. Jangan bilang dia harus berbagi kamar dengan Ziga. Leea benar benar dilema.
"Mom"panggil Aiden dan Zeline berbarengan membuyarkan lamunan Leea, mereka berdua sudah tidak sabar menunggu jawaban ibunya.
"Baiklah, Daddy akan tinggal di sini bersama kita" jawab Leea yang pada akhirnya hanya bisa mengalah demi melihat kebahagiaan putra dan putrinya.
"Yey hore" teriak Aiden dan Zeline berbarengan mereka pun segera turun dari kursinya dan menghampiri Leea kemudian memeluk dan menciuminya.
Ziga tertawa melihat kelakuan kedua buah hatinya, dan dia juga merasa bahagia karna pada akhirnya Via mengizinkannya untuk tinggal bersama. Setidaknya ini adalah langkah awal untuk Ziga agar dapat memenangkan hati Via.
Leea sendiri memeluk gemas kedua buah hatinya, dia bahagia melihat senyum yang terpancar di wajah mereka. Baginya tidak apa dia harus mengalah, asalkan kedua buah hatinya merasa bahagia.
"Biar aku yang mencuci piringnya" ucap Leea setelah mereka menyelesaikan sarapannya.
Ziga pun mengangguk, dia tak melarang Leea melakukannya. Sebagai gantinya dia mengajak kedua buah hatinya bermain di halaman belakang rumah Leea.
Ziga mengajak mereka bermain lempar bola, mereka berlari saling berkejaran untuk merebut bola. Leea yang menyaksikan pemandangan itu menitikkan air mata bahagia. Akhirnya dia bisa melihat senyum kebahagiaan anak anaknya bersama ayah kandung mereka. Kebahagiaan yang selama ini hanya dapat dimimpikannya. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, Dia memberikan jalan agar mereka dapat bertemu setelah berpisah sekian lama.
Sementara itu Erik yang tadi pamit untuk berkeliling ternyata telah berjalan sejauh beberapa blok, dan tanpa ia sadari dia telah sampai di apartemen tempat Mia tinggal. Dia melihat gadis mungil tersebut sedang tergesa gesa keluar dari apartemen.
"Mia" panggil Erik kepada Mia yang sedang berjalan tergesa gesa.
"Oh, hai Uncle" jawab Mia segera menghentikan langkahnya.
"Sepertinya kau tergesa gesa, apa yang terjadi?" tanya Erik kemudian.
"Maaf Uncle, aku harus segera ke apotek membeli obat untuk Nenek" jawab Mia sembari melanjutkan kembali langkahnya.
Erik pun mengikuti gadis itu diam diam, dia merasa mungkin Mia akan membutuhkan pertolongannya. Maka dari itu tanpa bicara dia membuntuti Mia dari belakang.