NovelToon NovelToon
Jina Si Gadis Bodoh

Jina Si Gadis Bodoh

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Petualangan / Contest / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.6
Nama Author: oppusunggu

Seorang gadis dari desa kecil menjalani hidupnya dengan banyak harapan. Sejak kecil dia selalu menderita dan tertekan. Hingga dirinya beranjak remaja, tekanan dan kesulitan ekonomi selalu ada dan erat bersamanya.

Hingga suatu hari, tanpa menyelesaikan sekolah, atau berbekal pendidikan yang terbatas, dia memberanikan diri pergi merantau ke tempat yang jauh. Tempat yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Dia berharap, suatu saat hidupnya bisa berubah menjadi lebih baik.

Tapi yang ada hanyalah kekecewaan dan sakit hati. Semua kerja kerasnya tak pernah dipandang.
Sampai suatu ketika, kekecewaan terbesar datang dari teman dekatnya sendiri. Teman dekat yang dia sudah anggap seperti saudara, tega meninggalkannya dengan semua kerugian yang harus dia tanggung sendiri.


Seperti apa kisah selanjutnya?
Silahkan baca cerita, dan jika suka, jangan lupa vote yah teman-teman
😆😆😆
Terima kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oppusunggu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15. Tahap Awal

Setelah acara makan itu, Andi memohon kepada Doni agar kembali ke hotel. Dia menarik tangan Doni dan membawanya sedikit menjauh dari kekasihnya agar pembicaraan mereka tidak didengar oleh kekasihnya. Sebenarnya saat itu Doni belum ingin pulang dan masih ingin menikmati acara festival itu. Namun Andi memohon dan membuat wajahnya terlihat malang agar permohonannya tampak berkualitas. Dia ingin berkencan dengan kekasihnya. Dia berkata,

"Ayolah pak. Aku mohon. Aku bisa jalan berdua dengan kekasih ku sepuluh tahun sekali. Makanya sekalinya kami bertemu, kami seperti lepas kendali dan lupa diri. Seperti dua kucing yang dimabuk asmara. Meski sangat berisik dan mengganggu tetangga, tapi tetap saja dua kucing itu merajalela. Bapak lihat sendiri kan? Apa bapak tidak kasihan melihat ku?"

"Ckckck... astaga...." Balasnya sambil geleng-geleng kepala.

Kemudian dia menambahkan,

"Aku bahkan tidak melihat kucing disini dan tidak pernah tahu seperti apa kucing pacaran."

"Aduh... pak! Kenapa malah membahas kucing?"

"Aduh Andi...

Lama-lama aku bisa gila. Kucing bercinta, bertemu sepuluh tahun sekali, dan lain sebagainya. Bagaimana mungkin bertemu sekali dalam sepuluh tahun sementara kalian tinggal di daerah yang sama dan tidak berjauhan?

Berhenti menggunakan majas hiperbola dan majas yang lain-lain. Padahal aku membayar mu untuk menemani ku melihat festival ini dan melihat tempat wisata lainnya. Aku bisa rugi kalau seperti ini caranya."

"Bapak Doni yang tampan dan baik hati, jangan khawatir dan terlalu perhitungan pada sesama. Bapak tidak akan rugi. Bapak ingat kan? Aku bahkan tidak meminta komisi untuk membantu asmara bapak. Jadi bisa dikatakan kita impas.

Ini yang dinamakan simbiosis mutualisme."

"Sudah! Sudah!

Baiklah, antarkan aku kembali ke hotel!

Lihat! Kekasih mu sudah menunggu sejak tadi.

Ingat! Pacaran boleh, tapi jangan sampai lepas kendali yah!"

"Iya pak guru."

Andi, ditemani kekasihnya mengantarkan Doni si guru sejarah kembali ke hotel. Sesampainya disana, dia melihat gadis pujaannya duduk termenung di koridor hotel. Wajahnya tertunduk sedih seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Bagaimana bisa seseorang sibuk bersedih ditengah-tengah keramaian festival seperti ini?" Gumam Doni.

Dia berjalan menuju kamarnya sambil melirik gadis pujaannya. Rasanya ia ingin menyapanya. Tapi ketidakpercayaan diri selalu mengganggunya. Dia berdiri cukup lama di depan pintu kamarnya seraya meyakinkan diri untuk berani. Dia berkata dalam hati,

"Aduh... Rasanya aku seperti pria bodoh. Andi yang punya tampang pas-pasan saja bisa berani dan percaya diri, masa aku tidak? Aku lebih tampan dan lebih baik darinya.

Ah... baiklah. Aku akan berusaha."

Setelah merasa yakin, dia pergi menghampiri gadis itu. Dia menepuk bahu gadis itu dari belakang dan berkata,

"Hei, kenapa kamu disini?"

"Tidak kenapa-kenapa." Balasnya lalu pergi meninggalkan Doni.

"Tunggu!

Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu dan tampak terbebani. Yah... aku hanya menebak saja. Maaf kalau tebakan ku salah."

Gadis itu hanya diam saja dan tertunduk sedih.

Kemudian Doni berkata lagi,

"Kata orang, kalau permasalahan dibagi, bebannya bisa berkurang. Itu teori yang aku tahu. Mmm... kalau kau mau aku bisa jadi pendengar yang baik. Itu pun kalau kau mau. Jika tidak, juga tidak masalah.

Gadis itu masih diam dan tak merespon. Sementara Doni terus berusaha menciptakan suasana akrab dengan terus berbicara sambil memikirkan rangkaian kata dari perbendaharaan katanya yang siap untuk diungkapkan memecah keheningan yang terjadi. Dia berkata lagi,

"Festival kali ini sangat luar biasa.

Memang aku belum pernah melihat festival di tanah Papua ini. Tapi aku rasa ini sangat luar biasa. Kau lihat sendiri kan?"

Gadis itu masih tetap diam membisu. Belakangan Doni pun mulai habis pikir dan kebingungan. Akhirnya dia berkata,

"Ok, baiklah! Mungkin aku salah waktu. Sejak tadi aku hanya bicara pada diriku sendiri. Yah sudahlah!" Balasnya lalu pergi.

Namun ketika dia berbalik badan dan melangkah, suara yang sejak tadi dia ingin dengar pun akhirnya terlontar. Gadis itu berkata,

"Tunggu!"

Doni terdiam sebentar. Apakah itu suara yang nyata atau hanya sekedar halusinasi? Doni langsung berbalik badan melihat Jina dan berkata,

"Yah? Kau memanggil ku?"

"Sejak tadi bapak selalu berbicara dan aku tidak menjawab. Aku merasa bersalah dan ingin minta maaf. Dan terima kasih karena bapak menyempatkan waktu untuk memperhatikan orang seperti ku."

"Jangan terlalu dipikirkan. Itu hanya perhatian biasa sebagai sesama manusia. Tapi kau terlihat tidak baik. Apa kau punya masalah?

Yah... setiap orang punya masalah."

"Aku hanya kelelahan bekerja saja. Tidak ada masalah yang lain."

"Kenapa kau tidak istirahat?"

"Pekerjaan ku sangat banyak pak."

"Mmm... Biasanya kamu selesai bekerja jam berapa?"

"Kenapa pak?"

"Mmm... yah...

Tidak ada. Hanya bertanya saja." Balasnya mulai gugup.

"Jam 7 malam pak."

"Artinya, dua jam lagi selesai."

Doni terdiam sesaat memikirkan apa yang harus dia katakan selanjutnya. Dia berkata dalam hati,

"Kira-kira kalau aku ajak makan, dia mau tidak yah? Tapi kalau dia bertanya 'kenapa?' Apa alasan ku nanti?

Ah... sudahlah. Aku coba dulu saja. Hasilnya belakangan."

Lalu dia berkata,

"Oh yah, apa kamu tahu tempat makan yang enak di sekitar sini?"

"Ada banyak pak."

"Yang paling enak yang mana?"

"Menurut ku semuanya enak pak."

"Kamu mau tidak menemani ku makan di salah satu tempat itu?

Maksud ku bukan menemani. Tapi makan bersama. Yah, anggap saja ini sebagai ungkapan terima kasih ku karena kamu sudah membersihkan kamar ku setiap hari."

"Itu sudah tugas ku pak."

"Kalau begitu anggap saja itu sebagai ucapan terima kasih karena kau sudah membantu ku mencari tour guide sekaligus supir. Atau anggap saja sebagai acara perpisahan.

Yah, perpisahan. Karena sebentar lagi aku akan meninggalkan tanah papua ini. Bagaimana menurut mu?"

Sementara gadis itu terdiam, dia berbicara lagi dalam hatinya,

"Astaga Doni, sejak kapan kau pandai bicara begini? Kalau begini, kau tidak perlu meminta bantuan Andi lagi.

Masa hanya memikat gadis saja minta bantuan orang lain. Dimana harga diri ku sebagai lelaki?"

Lalu dia menatap gadis itu lagi dan berkata,

"Bagaimana? Kenapa sejak tadi kau hanya diam? Apa itu terlalu sulit?"

"Aku hanya tidak terbiasa pak."

"Ah... kau tenang saja. Aku bukan laki-laki sembarangan. Maksud ku anggap saja kau makan bersama teman mu. Jangan terlalu formal.

Baiklah aku tunggu jam 7. Sepertinya kita bicara terlalu lama. Lebih baik kau kembali bekerja agar atasan mu tidak marah."

"Baiklah. Permisi pak."

Setelah gadis itu pergi menjauh, Doni terdiam sejenak seolah masih tak percaya. Dia berkata pada dirinya sendiri,

"Apa itu Don?

Kau berhasil mengajaknya makan?

Ckckck... pendekatan tahap pertama berhasil.

Kau memang lelaki sejati.

Hal seperti ini seharusnya tak perlu minta bantuan dari orang lain."

Ah... dasar!

Buktinya, kau berhasil kan?

Kenapa tidak dari dulu?

Penyesalan selalu datang terlambat."

Setelah itu dia kembali ke kamarnya. Hatinya sangat bahagia.

1
Becky D'lafonte
kerasnya hidup jina
Shinta Dewiana
hhh...🤔😐😠
Shinta Dewiana
kejamnya....
Kiki Emil: terima kasih udah baca novelnya. semoga bersedia baca yang lainnya juga yah😀😀😀
total 1 replies
Shinta Dewiana
hmmmm
Shinta Dewiana
aduh ngerinya....
Kiki Emil: terima kasih yah sudah baca novelnya dan komen. 😀😀😀
total 1 replies
Shinta Dewiana
emang cinta itu buta ya thor....he..he..he..
Kiki Emil: yah.... kadang2 begitulah
total 1 replies
Shinta Dewiana
sedih banget ya ampun....
ROSIDAH
aku juga suka sama novelnya mba🙂
Kiki Emil
makasih yah udah komen😬😬😬😬
Jenna Joni
gw pikir cuma gw yg ngerasa gak nyambung....ternyata bnyak wkwkwkwk
Kiki Emil: makasih yah udah bersedia komen😬😬😬🙂🙂🙂
total 1 replies
Dita
smngat jina
Dita
smngat jina
Dita
yg sbr y.jina
Elvipangau
jaan hidup tiap orang memang berbeda, tapi jika kita mendapat bagian yg sulit artinya kita diberikan ALLAH kemampuan yg lebih
Elvipangau
bingung masih bingung ceritra apa ini
lanjut
Sahmiran
wkkkk
Harlina Sb
ceritanya bgs nggak EA. 😄
Kiki Emil: selamat baca.
jangan lupa baca karya yang lainnya juga yah.
terima kasih🙂🙂🙂
total 1 replies
Joemiati
kok jd ngeri2 sedap bgni ya alur cetanya
Kiki Emil: terima kasih yah udah komen
total 1 replies
Qurniadi Syah Putra Putra
terus lah berjuang
Qurniadi Syah Putra Putra
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!