Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Transaksi di Sudut Gelap
Hujan rintik mulai turun membasahi jalanan berbatu Distrik Rook, menciptakan genangan air yang memantulkan cahaya temaram dari lampu-lampu gas pendar. Aku merapatkan tudung jubah hitamku, membiarkan rintik hujan mendinginkan pikiranku. Suasana yang basah, suram, dan berbau karat ini... entah kenapa selalu membuat analisis logikaku bekerja jauh lebih jernih.
Di kehidupanku yang dulu, setiap kali aku merancang sistem yang kompleks, aku selalu mencari celah kerentanannya terlebih dahulu. Mengetahui di mana sebuah sistem bisa hancur adalah kunci untuk membuatnya tak tertembus.
Tubuh Arthur Pendelton saat ini adalah sistem tersebut.
Mengonsumsi Elixir dan melahap inti Serigala Bayangan B+ dalam waktu kurang dari seminggu telah membuat kapasitas Mana Core gelapku melonjak drastis. Namun, wadah fisiknya—otot, tulang, dan jalur sirkuit sihir di tubuhku—masih tertinggal jauh. Jika aku menggunakan sihir tingkat tinggi secara terus-menerus di ujian pertengahan semester nanti, tubuhku akan meledak dari dalam. Aku butuh penstabil. Sebuah patch darurat untuk memperkuat fondasi fisikku.
Langkahku terhenti di depan sebuah bangunan kayu reyot yang diapit oleh dua kedai minuman keras. Papan namanya yang sudah kusam dan hampir tak terbaca bertuliskan: Toko Barang Antik Morpheus.
Tentu saja, 'barang antik' di distrik ini adalah bahasa sandi untuk barang selundupan, artefak ilegal, dan bahan alkimia terlarang yang tidak akan pernah lolos inspeksi Kekaisaran.
Aku mendorong pintu kayunya. Suara lonceng karatan bergemerincing pelan. Udara di dalam toko ini terasa pengap, dipenuhi bau belerang, rempah kering, dan sesuatu yang menyerupai bau darah tua. Ribuan botol kaca dengan cairan warna-warni berjejal di rak-rak kayu yang menjulang hingga ke langit-langit.
"Toko sudah tutup, Nak. Kembalilah besok... atau tahun depan," gerutu sebuah suara parau dari balik tumpukan buku tua di meja kasir.
Sesosok pria tua kurus dengan hidung bengkok seperti paruh elang muncul. Matanya yang juling sebelah menatapku penuh curiga. Silas. Salah satu pedagang pasar gelap paling licik di ibukota. Di dalam novel, ia sering menipu murid akademi yang putus asa mencari ramuan peningkat nilai.
Aku tidak membuang waktu. Berjalan ke meja kasir, aku meletakkan sekantung kecil koin emas yang langsung bergemerincing merdu.
Mata Silas seketika berbinar tamak. Sikap kasarnya langsung menguap. "Ah! Pelanggan V-VIP rupanya! Maafkan mata tuaku ini. Apa yang Tuan cari? Ramuan penguat stamina? Racun pelumpuh saraf tanpa jejak? Atau... feromon pemikat untuk para gadis akademi?"
"Aku mencari bahan mentah, Silas," ucapku datar, suaraku kusamarkan dengan sedikit manipulasi mana agar terdengar lebih berat. "Aku tahu kau menyimpan stok yang tidak kau pajang di etalase murahan ini."
Silas tertawa sumbang, menggosok-gosokkan kedua tangannya. "Tentu, tentu. Spesifikasi seperti apa yang Tuan inginkan?"
Alih-alih menjawab, mataku menyapu sekeliling ruangan, mengabaikan botol-botol ramuan bersinar yang sengaja diletakkan di tempat mencolok. Dalam novel, Silas memiliki kebiasaan menaruh barang yang tidak ia ketahui fungsinya di dalam kotak kayu rongsokan di bawah meja kasirnya.
"Tarik kotak kayu di bawah kakimu itu," perintahku.
Silas tersentak. "E-Eh? Di bawah sini hanya ada sampah sisa panen, Tuan. Tidak ada yang berharga—"
"Tarik kotaknya. Atau koin ini kembali ke sakuku."
Dengan wajah cemberut dan enggan, Silas menarik sebuah kotak kayu berdebu. Di dalamnya terdapat tumpukan akar kering, tulang belulang hewan kecil, dan batu-batu kusam.
Tanganku bergerak lincah, menyingkirkan beberapa tumpukan sampah, hingga jari-jariku menyentuh sebuah akar berwarna hitam pekat yang melingkar menyerupai janin manusia. Begitu kulitku menyentuhnya, pusaran Mana Core di dadaku bergetar halus. Sedikit pendaran ungu gelap berkilat di kedalaman mataku, merespons energi yang tertidur di dalam akar tersebut.
Akar Mandragora Kematian.
Bahan alkimia yang sangat langka dari Hutan Keputusasaan. Kebanyakan alkemis menganggapnya sebagai racun mematikan tingkat tinggi yang tidak berguna karena tidak ada penawarnya. Namun, jika direbus dengan suhu yang tepat dan dipadukan dengan teknik pernapasan Vespera, racun ini akan berubah menjadi cairan penempa tulang terkuat yang pernah ada. Ramuan ini akan menghancurkan tulang lamaku dan menumbuhkannya kembali menjadi sekeras baja hitam.
"Aku ambil rongsokan ini," kataku santai, mengangkat akar kering yang tampak menjijikkan itu. "Berapa harganya?"
Silas mengerjap, menatap akar hitam itu, lalu menatap sekantung koin emasku. Insting penipunya langsung bekerja.
"Ah! Mata Tuan sungguh tajam!" seru Silas, berakting seolah terkejut. "Itu adalah Akar Pohon Suci dari Pegunungan Utara! Sangat langka! Butuh waktu puluhan tahun untuk mencarinya. Harganya... sepuluh koin emas!"
Itu bohong besar. Dia bahkan tidak tahu apa nama benda itu sedetik yang lalu. Di pasar gelap sungguhan, nilai akar ini bisa mencapai ribuan koin emas, tapi di matanya, ini hanyalah sampah yang bisa ia jual mahal kepada bangsawan bodoh.
Aku mendengus pelan. "Dua koin emas. Kau pikir aku idiot, Silas? Ini hanyalah akar beracun yang kau temukan di pinggir rawa. Aku hanya membutuhkannya untuk bereksperimen dengan racun tikus."
"L-Lima koin emas! Ini barang impor!" Silas berkeras, meski matanya menunjukkan kepanikan karena takut aku membatalkan transaksi.
"Tiga koin perak. Terima atau aku pergi."
"Tiga koin emas! Deal!" Silas buru-buru menyambar tiga koin emas dari kantungku sebelum aku berubah pikiran, wajahnya tersenyum lebar seolah baru saja memenangkan lotre. "Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Tuan! Silakan datang kembali!"
Aku memasukkan Akar Mandragora itu ke dalam jubahku dan berjalan keluar dari toko. Seringai tipis mengembang di bibirku. Silas mungkin berpikir dia baru saja menipu seorang bangsawan amatir, tapi dialah yang baru saja menyerahkan kunci pertahananku yang paling krusial secara cuma-cuma.
Begitu pintu toko tertutup, aku kembali melangkah ke jalanan berbatu yang masih diguyur hujan.
"Tiga koin emas untuk artefak tingkat Calamity," bisik sebuah suara dari genangan air di bawah kakiku.
Bayangan dari lampu jalan tiba-tiba memanjang, dan dari sana, sosok Nox muncul. Gadis berambut perak itu berjalan di sampingku, tangan disilangkan di belakang kepala, sama sekali tidak basah meski hujan turun dengan deras.
"Kau benar-benar perampok berdarah dingin, Arthur," kekeh Nox, mata emasnya berkilat-kilat menatap saku jubahku. "Kau tahu kan, proses asimilasi Mandragora Kematian itu rasanya seperti dikuliti hidup-hidup dan direndam dalam lahar panas? Yakin tubuh pangeran manjamu itu sanggup menahannya?"
"Rasa sakit hanyalah sinyal saraf yang dikirim ke otak, Nox," balasku tenang, menatap lurus menembus tirai hujan. "Jika rasa sakit itu bisa mengubahku menjadi sesuatu yang tidak bisa dibunuh oleh pedang sang Pahlawan Suci... maka aku akan menyambutnya dengan tangan terbuka."
Nox bersiul pelan. "Sangat rasional. Sangat mengerikan. Aku semakin menyukaimu."
Aku mempercepat langkahku menuju titik penjemputan kereta kuda. Ujian pertarungan pertengahan semester semakin dekat. Pangeran Julian pasti akan menggunakan arena itu untuk balas dendam atas penghinaan di Hutan Emerald, dan Leon pasti sedang mati-matian berlatih dengan pedang barunya untuk membuktikan bahwa dirinya lebih baik dariku.
Mari kita lihat, seberapa jauh 'Keadilan' dan 'Kerja Keras' sang protagonis bisa bertahan ketika berhadapan dengan perhitungan mutlak seorang penjahat yang telah meretas sistem dunia mereka.
Malam ini, transformasi sesungguhnya akan dimulai.