Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.
Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.
Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.
Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.
Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...
“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ongkos becak
Ada hal-hal kecil yang berubah di rumah itu, meski tak seorang pun mau mengakuinya.
Sejak sore ketika sehelai nota lusuh mendarat di meja dapur, Rizal tak lagi menyahut boros! setiap kali Danti menyebut kata beras. Ia hanya mendengus, merogoh dompet, dan menyodorkan uang dengan wajah masam. Tentu saja tidak banyak. Rizal punya batas yang ia tentukan sendiri, entah berdasarkan apa. Seratus ribu untuk dua hari. Lima puluh ribu kalau katanya masih ada stok. Tidak pernah cukup, tapi tidak pernah lagi nol.
Danti menerimanya tanpa banyak bicara. Ia sudah belajar, sedikit demi sedikit, bahwa kemenangan kecil tetap kemenangan.
Pagi itu, Rizal berangkat kerja dengan dasi yang kali ini terpasang rapi, karena Danti membangunkannya tepat waktu dan tidak sedetik pun lebih lambat. Mobilnya baru saja menghilang di tikungan gang ketika sebuah suara yang sangat Danti kenali terdengar dari luar pagar.
"Danti! Buka pintunya! Ibu mau masuk!"
Danti menghela napas, meletakkan lap piring, dan membuka pintu.
Bu Sumarni berdiri di sana dengan dagu terangkat dan kacamata hitam bertengger di hidung, seolah ia sedang berkunjung ke hotel, bukan rumah anaknya. Gelang emas di pergelangan tangannya berkilau ketika ia melambai.
"Lama banget bukanya. Ibu hampir kepanasan."
"Maaf, Bu. Silakan masuk."
Bu Sumarni melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan dua kali, duduk di kursi tamu, lalu mengibaskan kipas lipatnya. Matanya menelusuri ruangan dengan tatapan menilai, mencari-cari sesuatu yang bisa dicela. Tak ketemu, ia kembali pada Danti.
"Besok di rumah Ibu ada arisan keluarga. Semua hadir. Tante-tantemu, om-om, sepupu-sepupu Rizal, tetangga sebelah juga Ibu undang." Ia mengatakan itu dengan kebanggaan seorang pemilik hajatan besar. "Jadi kamu beli ayam. Dua puluh lima kilo."
Danti mengerjap. "Dua puluh lima kilo, Bu?"
"Iya. Kenapa? Kamu pikir Ibu mau kasih makan semua orang pakai tempe?"
"Bukan begitu, Bu. Tapi... uangnya?"
Kipas di tangan Bu Sumarni berhenti bergerak. Alisnya terangkat tinggi. "Uang apa?"
"Uang buat beli ayamnya, Bu. Dua puluh lima kilo itu harganya..."
"Ya kamu yang bayar dong." Bu Sumarni berkata seolah itu hal paling jelas di dunia. "Kamu kan menantu. Masa Ibu terus yang keluar uang? Lagian Rizal itu kerja, gajinya ada. Pasti dia kasih kamu uang belanja."
"Bu, Mas Rizal hanya kasih uang belanja pas-pasan untuk makan kami berdua saja. Saya sendiri nggak punya uang sebanyak itu."
"Itu bukan urusan Ibu." Bu Sumarni menutup kipasnya dengan bunyi yang tajam. "Pokoknya, bagaimanapun caranya, nanti sore ayam itu harus sudah ada di rumah Ibu. Fresh, bersih, sudah dipotong. Titik."
Hening sejenak.
Danti menatap mertuanya. Biasanya, di titik ini, ia akan menunduk dan berkata baik Bu dengan dada yang sesak. Tapi hari ini ada sesuatu yang bergerak di balik matanya, sesuatu yang sedang menghitung, menimbang, dan tersenyum.
"Baik, Bu," katanya lembut.
Bu Sumarni menyipitkan mata, sedikit curiga pada kepatuhan yang terlalu cepat. Tapi egonya menang, dan ia hanya mendengus puas.
"Satu lagi. Besok pagi kamu datang ke rumah Ibu. Bantu-bantu masak. Kamu kan yang paling bisa. Jangan telat."
"Baik, Bu."
"Bagus." Bu Sumarni bangkit, merapikan tas jinjingnya yang mengilap, lalu melangkah ke pintu. "Awas kalau ayamnya kurang. Malu Ibu sama keluarga."
Setelah pintu tertutup dan suara sandalnya menjauh, Danti menatap pintu itu cukup lama. Lalu pelan-pelan, bibirnya melengkung.
Ia mengambil dompet kecilnya yang nyaris kosong.
"Baik, Bu," ulangnya pada ruangan sepi. "Ayamnya pasti sampai."
Los daging di ujung pasar kecil itu selalu ramai dan berbau darah segar bercampur air es. Di antara deretan penjual, satu lapak paling menonjol... bakul besar penuh ayam, talenan kayu setebal dua telapak, dan di belakangnya berdiri seorang perempuan bertubuh tegap dengan celemek plastik berbercak merah.
Bu Duma.
Seluruh pasar tahu namanya. Bukan karena ayamnya paling segar, meski memang begitu, tapi karena lidahnya yang setajam golok. Konon, pernah ada pembeli yang menawar harga sampai tiga kali, dan Bu Duma menjawab dengan menyuruhnya "pulang minta ke ibumu, sekalian belajar berhitung". Pernah pula ada pelanggan yang menunggak seminggu, dan namanya diumumkan oleh Bu Duma ke seluruh pasar dengan pengeras suara toko sebelah.
Danti menelan ludah, merapikan rambut, dan mendekat.
"Permisi, Bu Duma."
"Hm?" Bu Duma menoleh sambil terus mengayunkan golok ke potongan ayam. "Oh, Danti. Menantunya Bu Sumarni. Mau beli apa?"
"Ayam, Bu. Dua puluh lima kilo."
"Thak!" Golok itu berhenti di tengah ayunan.
Bu Duma mengangkat wajah. Matanya yang tajam mengamati Danti dari atas ke bawah. "Dua puluh lima kilo? Kamu mau buka warung?"
"Bukan, Bu. Besok ada arisan keluarga di rumah Ibu Sumarni. Beliau yang menyuruh saya beli." Danti menunduk sedikit, mengatur suaranya agar terdengar bimbang. "Tapi Bu, beliau bilang saya disuruh berutang dulu ke Ibu. Nanti setelah arisan selesai, uangnya langsung dibayar."
"Berutang?"
"Iya, Bu. Kata Ibu mertua saya, beliau yang akan bayar. Cuma karena uang arisannya baru cair besok, jadi hari ini belum ada."
Bu Duma memicingkan mata. Ia menatap Danti lama, lalu mendengus pendek. "Bu Sumarni itu ya... gayanya selangit." Ia mengelap tangan di celemek. "Tapi ya sudah. Rumah kalian satu lingkungan juga, nggak mungkin kabur ke mana-mana."
"Terima kasih, Bu."
"Tapi dengar ya." Bu Duma mengacungkan golok, ujungnya hampir menunjuk hidung Danti. "Selesai arisan, langsung bayar. Bukan besoknya, bukan minggu depan. Jangan bikin aku ngomel di depan seluruh pasar. Aku nggak pandang bulu, mau mertua mau menantu, kalau utang ya utang."
"Iya, Bu. Pasti."
"Ya sudah. Duduk, tunggu. Aku timbang."
Danti duduk di bangku plastik kecil di sebelah lapak. Ia memperhatikan Bu Duma bekerja, golok melayang, daging terbelah rapi, potongan demi potongan masuk ke kantung plastik besar dan ditimbang di atas neraca gantung. Orang-orang berlalu-lalang, tawar-menawar bersahutan, dan Danti tersenyum.
Bukan senyum jahat. Hanya senyum kecil dan sabar dari seseorang yang akhirnya paham bahwa selama ini ia selalu menanggung beban yang bukan miliknya.
"Aku sama sekali nggak bohong," pikirnya geli. "Ibu memang menyuruhku beli ayam. Ibu juga nggak kasih uang. Dan aku memang bilang ke Bu Duma kalau Ibu yang bayar. Semua itu benar."
Ia membayangkan ekspresi mertuanya besok, di tengah arisan, di depan seluruh keluarga dan tetangga, ketika Bu Duma muncul di ambang pintu dengan suara menggelegar, menagih utang dua puluh lima kilo ayam.
Danti nyaris tertawa. Ia menggigit bibir dan buru-buru menunduk.
Rumah Bu Sumarni siang itu seperti gudang logistik.
Meja makan penuh karung beras, bungkusan santan, tumpukan sayuran, rempah-rempah dalam wadah berlapis-lapis, minyak goreng dua jeriken, gula, tepung, kecap, bumbu instan beraneka merek. Di lantai dapur, panci-panci besar berjajar bak barisan prajurit. Bu Sumarni sesuai wataknya, tak pernah setengah-setengah dalam urusan pamer. Biar tekor asal tersohor adalah mottonya dan hari ini ia ingin seluruh kompleks mengingat arisan keluarganya sebagai arisan paling mewah.
Di ruang tengah, Rani adik bungsu Rizal, duduk selonjoran sambil memainkan ponselnya. Rambutnya digerai, kukunya baru dicat, dan alisnya berkerut ketika memandangi tumpukan bahan di dapur.
"Bu, ini belanjaan banyak banget," katanya malas. "Siapa yang mau masak semua ini? Aku nggak mau ya. Kuku baru."
"Tentu saja Danti." Bu Sumarni menjawab ringan sambil menata piring-piring keramik. "Siapa lagi? Dia kan yang biasa masak."
"Oh, bener juga." Rani mendengus, melempar ponselnya ke sofa. "Terus, kenapa sih Abang tuh nggak cerai-cerai juga sama dia? Aku capek lihat mukanya. Memalukan banget, Bu. Waktu kemarin di reuni, teman-teman Abang nanyain, 'Itu istrimu, Zal? Kok beda banget sama dulu?' Aku sampai pengen ngumpet."
"Ibu juga heran." Bu Sumarni menghela napas dramatis. "Udah lama Ibu bilang, cari yang lebih pantas. Yang cantik, mandiri, bisa dibanggakan. Tapi Abang mu itu keras kepala."
"Pokoknya dia nggak cocok jadi menantu keluarga kita."
"Betul."
Ibu dan anak itu saling mengangguk kompak, dua pikiran dalam satu kepala. Mereka bahkan tidak melirik ke pintu depan, tempat sebuah suara tiba-tiba terdengar dari kejauhan.
"Buuuu! Ibuuuu!"
Suara itu lantang, bersemangat, dan menarik perhatian seluruh gang.
Bu Sumarni mengernyit. Itu suara Danti. Biasanya menantunya itu bahkan tak berani bicara lebih keras dari bisikan. Ia bergegas ke jendela, menyibak tirai, dan melihat pemandangan yang membuat matanya melebar.
Sebuah becak berhenti di depan pagar. Di atasnya, Danti duduk tegak dengan dua kantung plastik raksasa di pangkuan dan di kiri-kanan, isinya penuh ayam yang sudah dipotong rapi. Wajahnya cerah, hampir riang.
Di belakang, tukang becak tua dengan topi lusuh sedang mengatur napas setelah mengayuh kendaraan yang kelewat penuh muatan.
"Ibuuuu! Ayamnya sudah datang! Dua puluh lima kilo, lengkap!"
Pintu rumah-rumah tetangga mulai terbuka satu per satu. Beberapa kepala menyembul. Ibu-ibu yang sedang menyapu halaman berhenti menyapu. Anak-anak berhenti bermain.
Bu Sumarni dan Rani bergegas keluar. Bu Sumarni masih sempat merapikan sanggulnya dan memasang senyum lebar, senyum wanita terhormat di depan tetangga.
"Alhamdulillah, sudah sampai, Danti," katanya manis. "Bawa masuk ke dalam saja..."
"Tunggu sebentar, Bu."
Danti turun dari becak dengan hati-hati, lalu berbalik pada tukang becak itu, tersenyum ramah, dan berkata dengan nada yang cukup keras untuk didengar seluruh gang.
"Pak, itu ibu mertua saya yang akan bayar ongkos becaknya, ya. Beliau sendiri yang menyuruh saya beli ayam banyak-banyak, jadi sekalian beliau yang tanggung. Betul kan, Bu?"
Danti menoleh pada mertuanya dengan wajah polos tak berdosa.
Bu Sumarni membeku.
Mulutnya terbuka. Kipas lipat yang tadi tergenggam di tangan hampir terlepas. Rani di sebelahnya terperangah, matanya berpindah-pindah antara Danti dan tukang becak.
"Apa...?" Bu Sumarni baru hendak membantah, tapi ia melihat ke kiri dan kanan. Tiga ibu tetangga berdiri di pagar masing-masing, memperhatikan. Di seberang jalan, Bu RT berhenti menyiram bunga. Dan tukang becak itu sudah menengadahkan tangan dengan sopan, menunggu.
"Ongkosnya dua puluh lima ribu, Bu," katanya pelan. "Soalnya jauh dan muatannya berat."
Bu Sumarni menelan ludah. Seluruh darah seakan naik ke wajahnya. Ingin sekali ia berteriak, "dua puluh lima ribu untuk becak? Itu kan tugasmu, Danti!" Tapi tatapan para tetangga menancap seperti jarum. Ia sudah menyebut-nyebut arisan mewah itu ke mana-mana. Mana mungkin ia kelihatan pelit tepat di depan hajatan?
Dengan gerakan kaku ia merogoh tas jinjingnya, mengeluarkan selembar dua puluh ribu dan selembar lima ribu. Lalu menyodorkannya ke tangan si tukang becak dengan senyum yang membuat rahangnya hampir kram.
"Ini, Pak. Terima kasih."
"Terima kasih, Bu. Semoga berkah arisannya."
Tukang becak itu mengayuh pergi. Para tetangga bubar pelan-pelan, sebagian berbisik-bisik, sebagian menahan senyum. Bu Sumarni masih berdiri di tempat, wajahnya antara merah dan pucat.
Danti mengangkat dua kantung ayam itu dengan ringan, melewati mertuanya, dan berkata ceria
"Aku taruh di dapur ya, Bu. Biar nggak keburu bau."
Ia melangkah masuk melewati Rani yang masih melongo. Tak ada yang melihat bibirnya yang bergetar menahan tawa, dan senyum kecil yang diam-diam tersungging di sudutnya.
Satu per satu, pikirnya sambil menenteng ayam masuk ke dapur. "Satu per satu."
Nadia kamu juga kerennn 😍😍😍😍😍😍😍😍