Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"Mas, mereka mesra sekali," bisik Tarmi.
"Iya, Dek. Astagfirullah..." Tarjo memusatkan pandangannya ke arah Edo yang sesekali mencium kepala gadis yang dirangkulnya. "Si Edo ternyata selingkuh," lanjutnya geleng-geleng kepala.
"Iya, Mas, kasihan Mia." Tarmi menatap nanar ke arah pemandangan mesra di depannya. "Ini tidak bisa dibiarkan, Mas. Aku harus mengabadikannya," putus Tarmi mengeluarkan ponsel, buru-buru mengarahkan kamera HP-nya ke arah Edo. Memotretnya beberapa kali. "Aku juga harus memvideokannya," ujarnya lagi.
"Iya, Dek. Bagus." Tarjo mendukung apa yang dilakukan istrinya.
"Yah, ketutupan, Mas!" pekik Tarmi. "Ayo kita dekati mereka-" Namun ucapan itu keburu terpotong oleh gelengan kepala dari Tarjo.
"Sudah cukup, Dek! Kita tidak usah mengikuti Edo dan wanita itu. Berabe."
Tarmi yang awalnya menggebu-gebu, akhirnya menuruti perintah suaminya. "Baiklah, Mas."
"Bukti itu sudah cukup. Nanti, kita perlihatkan ke Mia. Kalau suaminya selingkuh di belakang dia," usul Tarjo penuh penekanan.
"Iya, Mas. Dasar lelaki tidak tahu diri dan tidak bersyukur. Sudah punya istri baik, penurut dan rajin bekerja seperti Mia... masih saja mencari perempuan lain. Gedeg aku, Mas. Ingin kutonjok saja tuh wajah si Edo kontol itu!" umpat Tarmi menggertakan giginya.
"Sttt! Jangan keras-keras, Dek. Malu didengar orang," tegur Tarjo sambil menyenggol lengan istrinya.
Tarmi menyengir, melirik kanan kiri dan melihat beberapa pengunjung tengah melirik ke arahnya. "Mas, kita pergi ke tukang bakso, yuk!" ajaknya kikuk.
Tarjo mengangguk. "Ayo."
"Aa... aku mau beli tas itu."
Edo mengangguk, "Boleh, Yang. Beli apa saja yang kamu mau."
Bela tersenyum lebar. "Makasih Aa." Ia segera memilih-milih tas yang diinginkannya. Edo dengan setia menemani kekasih gelapnya itu. "Aku mau yang warna pink dan hitam ya, A."
"Iya, Sayang. Ambil saja."
Bela memeluk Edo penuh kegembiraan. "Aa memang pacar paling baik sejagat raya," kata gadis belia itu.
"Iya, dong. Kan Aa sayang sama kamu." Edo mencubit pelan ujung hidung Bela. "Setelah ini, kita ke tempat biasa, ya," bisik Edo nakal.
Bela tergelak, memukul lengan Edo pelan. "Iya, Aa. Tapi aku mau beli dulu baju, sendal sama boneka?"
"Oke, Sayang. Siap."
______
"Ya Allah... besok aku gajian. Tapi kebutuhan rumah sudah menunggu. Mudah-mudahan aku bisa nabung lebih banyak dari bulan kemarin. Sekaligus bisa ngirim uang buat jajan Malik," gumam Mia sambil memandangi kartu ATM di tangannya. "Edo besok pasti pulang. Dia pasti bakal minta uang ke aku," kesahnya. "Ya Allah..." Mia memasukan kartu ATM itu ke dompetnya. "Sejujurnya aku sudah lelah menghadapi sikap Edo. Sampai kapan dia akan terus bersikap seperti ini ke aku?" Mila merebahkan badan di kasur. "Aku selalu berusaha memahami dia. Mengerti keadaannya dan memaklumi semua tentangnya. Tapi dia..." Kepala Mia menggeleng pelan. "Dia tak pernah mau mengerti aku, peduli padaku layaknya suami ke istri. Aku merasa berumah tangga sendirian. Memperjuangkan masa depan ini dengan usaha dan pengorbananku sendiri. Edo sepertinya nggak berminat menata masa depan. Dia santai-santai saja. Aku yang capek banting tulang ke sana kemari."
Untuk beberapa detik, Mia terdiam. "Ya Allah... salahkah kalau aku meminta Engkau menunjukan jalan terbaik bagi rumah tanggaku? Meskipun aku ingin rumah tanggaku dan Edo langgeng sama maut memisahkan, tapi melihat kenyataan saat ini... aku merasa ragu. Bolehkah aku meminta... tolong tunjukan jalan terbaik. Jika Edo memang jodoh dunia akhiratku... maka aku mohon Ya Allah..." Mia menghentikan ucapan itu sejenak. Ia menarik napas panjang dan membuangnya. "Aku mohon... tolong bukakan pintu hidayah untuknya. Buatlah dia berubah menjadi suami yang lebih baik. Tetapi jika dia memang bukan jodoh dunia akhiratku..." Rasa sesak tiba-tiba menyentak dada Mia seusai mengatakan hal itu. "Aku mohon... tunjukan sesuatu yang membuatku yakin untuk meninggalkanya. Mengakhiri rumah tangga ini." Setitik cairan bening lolos dari pelupuk matanya. Tak bisa ia pungkiri, jika rasa cinta dan sayangnya pada sang suami masih ada. Bahkan masih besar.
Mia masih berharap Edo berubah dan rumah tangganya bisa dipertahankan. Itulah harapan yang selama ini membuatnya bertahan dengan keadaan yang memilukan.
Ketukan di pintu terdengar, membuat Mia refleks menyeka air matanya. "Assalamu'alaikum, Teh Miaaa!"
"Eh, A Iki?" Mia gegas bangkit dari posisinya. Ia menyambar kerudung yang tergolek di dekat mukena. Memakainya dengan cepat. "Wa'alaikumsalam!" balasnya sambil berlari ke depan untuk membuka pintu.
Saat pintu dibuka, wajah tampan Rifki menyambut. "Ada apa, A?" tanya Mia melempar senyum kecil.
Rifki membalas senyum Mia sekaligus menjawab pertanyaan wanita itu. "Ini ada sedikit oleh-oleh dari Gedebage, Teh," kata Rifki sambil memberikan kantong keresek hitam yang ada di tangan kanannya.
Mia menerima kantong keresek itu dengan mata berbinar. Ia sama sekali tidak menyangka Rifki akan memberinya oleh-oleh. "Ini apa, A?" tanyanya penasaran.
"Buah mangga sama kue rumahan buatan Umi, Teh," jawab Rifki ringan.
Mia tersenyum lebar. "Terima kasih, A."
"Sama-sama, Teh."
Mia menatap kantong di tangannya, lalu kembali memandang Rifki. "Memangnya A Iki kapan pulang ke Gedebage?"
"Kemarin, Teh. Mumpung besok shift siang." Rifki terkekeh kecil.
"Oh, iya." Mia mengangguk-angguk. "Sekali lagi terima kasih, A. Semoga kebaikan Aa dibalas oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala."
"Aamiin." Rifki mengangguk sopan. "Aku pamit dulu, Teh. Mau istirahat."
"Oh, iya. Silakan, A."
"Iya, Teh." Rifki berbalik dan berjalan menuju kontrakannya yang berada tepat di seberang kontrakan Mia.
Mia masih berdiri di ambang pintu sampai pemuda itu masuk ke kontrakannya. Setelah itu, barulah ia menutup pintu dan membawa kantong keresek pemberian Rifki ke dalam.
Rasa penasaran membuat Mia segera membuka ikatannya. "Ya Allah..." Di dalamnya terdapat empat buah mangga yang sudah matang. Selain itu, ada beberapa bungkus kue rumahan yang dikemas sederhana menggunakan plastik bening.
Mia mengambil salah satu bungkus kue itu. Aroma manis dan gurih langsung tercium dari dalam kemasan. Senyumnya mengembang. "A Iki baik sekali." Mia kembali memperhatikan semua pemberian tersebut. Ia tahu, mungkin bagi orang lain buah mangga dan beberapa kue bukanlah sesuatu yang istimewa. Namun, bagi Mia, perhatian kecil seperti itu terasa begitu berarti. Apalagi di tengah kehidupannya yang belakangan terasa semakin berat.
"Beruntung sekali nanti wanita yang menjadi istrinya A Iki," gumam Mia. Senyumnya perlahan berubah menjadi senyum penuh harapan. "Semoga A Iki mendapatkan jodoh yang baik. Perempuan yang bisa menghargai kebaikan dan ketulusan A Iki." Mia mengangkat kedua tangannya sebentar. "Aamiin." Setelah itu, ia membawa mangga dan kue tersebut ke dapur.
_____
"Mas... kayaknya Mia sudah tidur deh. Lampu kontrakannya sudah dimatikan," ucap Tarmi melirik ke arah kontrakan Mia.
"Iya, Dek. Besok saja lah kita tunjukan foto dan video tadi," timpal Tarjo seraya memasukan motornya ke garasi.
"Iya, Mas." Tarmi mengangguk.
"Ayo kita masuk!" Tarjo mengajak istrinya masuk ke kontrakan mereka.
______
"Aa, besok istri Aa gajian, kan?" tanya Bela sambil mengeluarkan belanjaan yang tadi dibelinya di pasar malam.
"Iya." Edo menyahut. "Kenapa emang, Yang?"
"Mmm..." Bela menggumam manja. "Aa lupa ya, sama janji Aa yang waktu itu?" lanjutnya.
Alis Edo menukik. "Janji yang mana, Sayang?"
"Tuh, kan lupa?" Bela merajuk.
Edo memijat pelipis. Mencoba mengingat-ingat janji yang pernah ia ucapkan pada Bela.
"Aa beneran nggak ingat?" desak Bela manyun.
Edo menyengir. "Iya, Aa lupa."
"Ihh, itu lho, A. Yang Aa janji mau membelikan cincin emas buat aku," tutur Bela akhirnya.
Edo menepuk jidat. "Ya ampun... Maaf ya, Sayang."
Bela mencubit perut Edo yang polos. "Pokoknya aku mau Aa membelikan cincin itu besok!" pintanya memaksa.
Edo mengusap kepala Bela, "Iya, Sayang. Aa pasti akan membelikannya."
Bela bersorak gembira, lalu memeluk Edo. "Makasih, Aa."
😁😁🤭
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪