Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Ruang utama istana Duke Ardent terasa begitu dingin. Di tengah ruangan, duduk Duke Adrian, pria dengan rambut perak dan mata biru sedingin es yang menatap Kayna dengan tatapan muak yang begitu familiar.
Tatapan yang sama seperti ayahnya. Tatapan yang seolah mengatakan bahwa keberadaan Kayna di dunia ini adalah sebuah kesalahan kosmik.
Di samping Adrian, Freya duduk dengan lengan kanan diperban, matanya sembab, dan sesekali terisak pelan memainkan peran sebagai korban yang tak berdaya.
"Kau akhirnya turun juga, Kayla," suara Adrian terdengar berat, dipenuhi oleh kebencian yang tak ditutupi. "Aku pikir kau akan melarikan diri seperti pengecut setelah melihat apa yang kau lakukan pada Freya."
Kayna berdiri di tengah ruangan. Ia tidak menunduk. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap Adrian, lalu menatap Freya, dan akhirnya menatap sebuah pisau buah perak yang tergeletak di atas nampan teh di meja sampingnya.
Pisau buah. Lebih kecil dari pembuka surat, tapi tajam. Jika aku iris nadi karotisku, aku akan mati dalam dua menit. Sempurna..
"Freya," ucap Kayna tiba-tiba, membuat gadis di samping Adrian itu tersentak kaget.
"A-Apa... apa yang ingin kau katakan, Kak Kayla? A-Aku memaafkanmu..." Freya menutupi wajahnya dengan tangan yang tidak terluka, bersikap seolah Kayna akan memarahinya lagi.
Adrian berdiri, tangannya sudah menyentuh gagang pedang di pinggangnya. "Jika kau berani mengancamnya lagi, Kayla, aku akan memotong lidahmu di tempat."
Kayna mengabaikan ancaman itu. Ia melangkah maju, mengabaikan Adrian, dan berjalan lurus ke arah meja teh.
"Kau... mau apa?!" Adrian mencabut pedangnya setengah dari sarungnya, matanya waspada. Freya menjerit kecil dan bersembunyi di balik punggung tunangannya.
Kayna tidak menjawab. Ia meraih pisau buah perak itu. Logam dingin itu terasa menenangkan di genggamannya. Ini dia. Akhir dari penderitaan dua puluh tahun di kehidupan pertamanya, dan akhir dari kekacauan di kehidupan keduanya.
Dengan gerakan cepat, Kayna tidak mengarahkan pisau itu ke Freya. Ia tidak mengarahkannya ke Adrian.
Ia menekan ujung pisau yang tajam itu tepat di leher jenihnya sendiri, menekan sedikit hingga setetes darah merah merembes keluar, membasahi kerah gaun abu-abunya.
Ruangan itu mendadak hening. Sangat hening.
Adrian terkesiap, pedangnya jatuh kembali ke dalam sarung dengan bunyi *klik*. Wajah dinginnya retak, digantikan oleh keterkejutan yang luar biasa. Freya melongo, lupa dengan peran sakitnya.
"Kau..." suara Adrian terdengar serak, kehilangan semua arogansinya. "Apa yang kau lakukan, Kayla?"
Kayna menatap Adrian, lalu tersenyum tipis. Senyum yang tulus, senyum pertama yang dimiliki tubuh ini dalam waktu yang sangat lama.
"Tuan Duke," ucap Kayna dengan suara lembut, mengabaikan rasa perih di lehernya. "Sebelum aku mati, bolehkah aku meminta satu hal?"
Adrian menelan ludah, matanya terpaku pada pisau yang menempel di leher wanita yang ia benci. "A-Apa?"
"Jangan biarkan pelayan-pelayanmu menghalangiku lagi," bisik Kayna, lalu ia menekan pisau itu lebih dalam. "Aku sedang sibuk mati."
Rasa perih itu tajam, namun bagi Kayna, itu adalah rasa perih yang menjanjikan. Darah hangat mulai merembes, membasahi kulit lehernya dan menetes ke gaun abu-abunya. Ia memejamkan mata, menunggu kegelapan yang menenangkan itu datang. Menunggu tiket menuju kehidupan selanjutnya yang lebih baik.
Namun, kegelapan itu tidak pernah datang.
Sebaliknya, sebuah tangan besar dan kasar mencengkeram pergelangan tangannya dengan kekuatan yang nyaris meremukkan tulangnya.
BRAK!
Pisau buah perak itu jatuh berdenting di atas lantai marmer. Kayna membuka matanya, menatap dengan tatapan datar dan sedikit kesal ke arah tangan yang menahannya. Tangan itu terhubung pada lengan Duke Adrian, yang kini sedang menatapnya dengan mata membelalak, napas tersengal, dan raut wajah yang sama sekali tidak mencerminkan sikap dinginnya tadi.
"Kau... kau gila!" suara Adrian terdengar parau, kehilangan semua arogansi bangsawannya. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena syok murni.
"Lepaskan aku, Tuan Duke," ucap Kayna datar, mencoba menarik tangannya. "Itu tadi sudah hampir mengenai arteri. Kalau kau terlambat satu detik lagi, aku sudah masuk ke fase berikutnya."
"Fase berikutnya?!" Adrian hampir berteriak, suaranya memecah keheningan ruangan. "Kau baru saja mencoba memotong lehermu di ruang tamuku! Di depan mataku!"
"Secara teknis, itu ruang utama," koreksi Kayna santai, sambil memijat pergelangan tangannya yang memar. "Dan aku tidak mencoba. Aku sudah melakukannya. Kau yang menginterupsi."
..gagal terus🤣