Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.
Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.
Tidak ada pesta.
Tidak ada cinta.
Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.
Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.
Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Bersinggungan
Naya terbaring di kamar dengan banyak pikiran yang memenuhi kepala. Entah bagaimana, rasanya ada perasaan aneh dan terus mengganggunya usai melihat sosok Ibra yang bersama Nadya.
Jika dilihat sekilas, mereka tampak akrab. Oh, ataukah mereka berkencan?
Pikiran itu membuat dada Naya berdesir tak nyaman. Jika dugaan itu benar, situasi ini sungguh tidak bagus. Kehadirannya di antara bayang-bayang malam itu bisa menjadi ancaman yang menghancurkan hubungan orang lain.
Denting nyaring dari layar ponsel memecah keheningan persis ketika Naya menarik selimut dan bersiap untuk tidur. Sempat terbersit ketakutan bahwa itu adalah pesan atau panggilan dari Ibra, namun nama yang tertera di layar membuat napas Naya kembali berembus lega.
Kak Bian.
Entah sejak kapan, Bian jadi semakin sering menghubunginya setiap malam—sekadar untuk menanyakan kabar atau memastikan pekerjaannya hari ini berjalan lancar. Cukup manis sebenarnya, tetapi di saat yang sama juga terasa aneh dan tak terbiasa bagi Naya.
Naya menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, Kak Bian..."
"Oh, halo Naya. Kamu di mana? Sibuk, enggak?" suara renyah Bian terdengar dari seberang telepon.
Naya menjauhkan ponselnya sejenak untuk melirik angka digital di sudut layar. Pukul setengah sebelas malam.
"Aku baru mau tidur, Kak. Ada apa, ya?"
"Masa jam segini udah tidur? Tumben banget," kekeh Bian pelan. "Kepala kamu gimana? Masih benjol yang tadi siang?"
Naya refleks menyentuh pelan plester yang tertempel di dahi kirinya. "Udah mendingan kok, Kak. Udah enggak gitu nyut-nyutan lagi berkat salep tadi."
"Bagus deh. Tadi pas kamu balik ke ruangan habis dari klinik, wajahmu makin pucat. Aku khawatir takut kamu mendadak pingsan di jalan," ucap Bian, ada helaan napas lega yang halus di balik ucapannya. "Aku cuma mau mastiin kamu baik-baik aja."
"Makasih ya, Kak Bian. Aku enggak apa-apa, kok," gumam Naya canggung. Perhatian-perhatian kecil Bian belakangan ini memang berhasil memberi rasa aman tersendiri di tengah tekanan kantor, walau terkadang membuat dadanya berdebar serba salah.
"Sama-sama, Nay. Oh iya..." Bian menjeda sejenak, membuat keheningan membentang beberapa detik. "Coba kamu turun sebentar deh ke bawah."
Dahi Naya bertaut rapat. "Turun? Ke mana, Kak?"
Tepat setelah pertanyaan itu terlontar dari bibirnya, suara bel rumah di lantai bawah mendadak berbunyi, menembus sunyinya malam.
Ting tong.
Naya tersentak kaku di atas kasurnya. "Lho, kok?"
"Enggak usah bingung, itu makanan yang ku pesan buat kamu, kayaknya udah sampai," potong Bian cepat sebelum Naya sempat menduga yang tidak-tidak.
"Tadi siang kamu enggak sempat makan yang bener, kan? Itu aku pesenin bubur ayam hangat sama teh manis. Dimakan ya, biar besok pas ngantor kepalanya udah enggak pusing lagi."
Mata Naya mengedip lambat, meremas selimut di pangkuannya. Rasa tersanjung dan tak enak hati berbaur menjadi satu. "Kak Bian... ini kebanyakan, enggak usah repot-repot padahal..."
"Enggak repot sama sekali, Naya. Udah, buruan turun, kasihan abang ojolnya nungguin di depan pagar," ujar Bian diselingi tawa tipis. "Jangan lupa dimakan ya. Good night, Naya."
Panggilan terputus. Naya menatap layar ponselnya yang meredup dengan perasaan campur aduk. Ia akhirnya menyibak selimut, melangkah turun untuk mengambil makanan itu, sementara pikirannya justru tak bisa dihentikan untuk melayang kembali pada adegan Ibra dan Nadya di klinik.
Kenapa dadanya harus terasa sesak saat melihat Ibra perhatian pada perempuan lain? Bukankah seharusnya ia bersyukur jika Ibra tidak mengusiknya lagi? Naya menggelengkan kepala keras-keras, berusaha membuang jauh-jauh bayangan pria itu dari benaknya.
Sementara itu, beberapa kilometer dari kediaman Naya. Suasana apartemen milik Ibra terasa teramat lengang dan dingin. Hanya lampu pijar redup di sudut ruang tamu yang menyala, membiarkan sudut-sudut lain tenggelam dalam bayangan kelabu.
Ibra duduk mematung di tepi sofa, bertelanjang dada dengan celana kain santai, menampakkan otot-otot perutnya yang bebas. Jemari tangannya meremas cangkir keramik berisi teh hangat yang kini sudah mendingin.
Pikirannya sepenuhnya tertumpu pada detik-detik mencekik saat di klinik.
Bayangan Naya yang panik setengah mati, matanya yang membelalak penuh ketakutan, hingga kepanikan konyol gadis itu yang sampai menjatuhkan salep dan lari terbirit-birit menembus tubuhnya... berputar berulang kali di kepalanya seperti kaset rusak yang terus menyiksanya.
Naya begitu membencinya. Naya begitu takut padanya.
Ibra memejamkan mata erat-erat, menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa seraya menghembuskan napas panjang yang terasa begitu mengimpit dada.
Ponsel di meja kaca di depannya menyala singkat. Ibra meraih benda itu, membuka ruang obrolan dengan nomor Naya. Deretan pesan yang ia kirimkan beberapa hari belakangan tak satu pun yang berstatus dibaca, apalagi dibalas. Naya telah menguncinya rapat-rapat di luar garis kehidupannya.
Kecemasan mulai merayapi dada Ibra seperti jerat yang makin lama makin mencekik. Ia tidak tersinggung karena terus-menerus dihindari, ia hanya merasa sangat... tidak berdaya. Itu saja.
Ibra teringat pesan sang Papa untuk terus memberi Naya ruang dan waktu. Namun, melihat betapa gilanya ketakutan Naya setiap kali mereka tak sengaja berpapasan, Ibra mulai ragu pada dirinya sendiri.
Apakah diam dan menjauh seperti ini benar-benar langkah yang tepat? Atau justru diamnya membuat Naya semakin menganggapnya sebagai monster yang menakutkan?
Ruas-ruas jari Ibra memutih saat ia mengepalkan tangannya di atas sofa. Suasana sunyi di apartemennya terasa kian mencekik, meninggalkan pria dingin itu bertarung sendirian dengan rasa bersalah yang tak tahu harus diluapkan ke mana.
***
Lady, senior bossy itu tak melepaskan Naya dari perintah yang seharusnya jadi tanggung jawabnya sendiri. Meminta tanda tangan dari orang seberang, ah itu memuakkan. Sosok kepala engineer itu, Lady tidak menyukai wataknya, yang menurut Lady agak kasar dan sombong meski wajahnya rupawan tanpa bisa ditolak pesonanya.
Dan ide untuk memanfaatkan Naya kembali, selalu.
Naya sendiri ditempatnya sedang berusaha fokus menatap layar komputernya, mengetik laporan mingguan meski sesekali dahinya masih terasa agak nyeri.
Di seberangnya, Bian sempat melemparkan senyum tipis seraya menggeser sebuah kotak susu cokelat ke mejanya tanpa bersuara—perhatian kecil yang langsung dibalas Naya dengan anggukan terima kasih secara canggung.
Namun ketenangan kecil itu tak bertahan lama.
"Nay," panggil Lady tajam dari arah kubikelnya. Perempuan itu berdiri membawa satu map tebal berkulit keras. "Tolong minta tanda tangan sama stempel berkas ini ke ruang seberang dong."
Naya mendongak, menghentikan ketikannya. "Ke Divisi Engineering, Kak?"
"Iya, sama Pak Rafael," suruh Lady santai, menyandarkan sebelah tangannya di sekat kubikel. "Aki malas ke sana. Orangnya ketus, dingin, dan enggak ramah banget. Mukanya lempeng kayak papan padahal tampan."
Naya mengangguk pelan tanpa rasa curiga sedikit pun. "Iya, Kak Lady. Nanti Naya antar."
Dengan langkah pelan dan menunduk, Naya membawa berkas itu keluar dari ruangannya, menyeberangi koridor yang lumayan panjang, yang memisahkan dua divisi tersebut.
Ia mendorong pintu kaca Divisi Engineering perlahan. Suasana di dalam tampak sibuk dengan gulungan kertas desain dan suara ketikan papan ketik dari beberapa orang yang terlihat sibuk. Naya berjalan, perlahan, dan makin dalam mendekati meja paling ujung—meja kepala tim, yang sempat Lady katakan sebelumnya tentang tempat atau meja dari kepala divisi.
Disana terduduk seorang pria yang sedang menunduk fokus membaca dokumen, memegang pena mahal di jemari tangannya.
"Permisi... M-maaf, Pak... saya mau minta tanda tangan..." bisik Naya pelan, berusaha bersikap sopan.
Pria itu menghentikan bacaannya, suara itu, suara yang tidak asing. Segera ia mendongakkan kepala, dan tepat disaat mereka saling melihat, dimana bola mata mereka menangkap satu sama lain.
Pandangan mereka beradu secara langsung. Sangat dekat.
Deg!
Mereka, bersinggungan, secara tidak sengaja.
Dunia Naya terasa berhenti berputar seketika. Seluruh pasokan udara di paru-parunya menguap tanpa sisa.
Iris mata yang tajam itu... garis rahang yang tegas itu...
Ibra?!
Sensasi dingin mendadak menjalar hebat dari telapak kaki hingga merayapi puncak kepalanya. Otaknya seperti dihantam sesuatu yang besar.
Rafael? Pak Rafael? Ibra?!
Pria yang selama seminggu lebih ini membuatnya ketakutan setengah mati, pria yang menghantuinya malam demi malam... adalah ketua tim di divisi yang letaknya tepat di seberang ruangannya?
Tapi maksudnya? Rafael?
Pandangan mata Naya turun, untuk melihat, untuk membaca nama di atas meja.
Benar, Rafael. Rafael Ibra.
Naya mulas seketika.
Makasih thor lanjut up ya