NovelToon NovelToon
14 Days

14 Days

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:300
Nilai: 5
Nama Author: justjeha

❝Let's meet in the future. Kita pasti akan bertemu kembali di masa depan. Setelah itu, mari kita buka time kapsul kita bersama-sama.❞

Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.

Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.

Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sweet Dream

🎶 It's gonna be another day with the sunshine

Haessareun naui changeul balkge bichugo

Banjjeum nuneul tteosseul ttaen

Geudae misoga nareul bangyeoyo 🎶

🎶 It's gonna be another day~ yeah~ 🎶

"Uh!"

Tangan Ara meraba-raba meja di samping tempat tidurnya, berusaha mencari ponsel yang sejak tadi berbunyi. Lagu Sweet Dream milik Jang Nara memang sudah menjadi alarm yang selalu menemaninya setiap pagi.

Entah apa alasannya, Ara hanya menyukai lagu itu. Liriknya selalu berhasil membuatnya bersemangat untuk menyambut hari yang baru.

Namun, pagi ini terasa berbeda. Alih-alih merasa bersemangat seperti biasanya, Ara hanya mengambil ponselnya dengan malas, mematikan alarm, lalu kembali menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.

"Dek! Bangun! Udah siang!"

Pintu kamar terbuka. Banyu Biru, kakak kandung Ara Moana, masuk dengan suara lantang sebelum akhirnya menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh adiknya.

Kakaknya yang terpaut usia empat tahun itu hanya bisa menghela napas ketika melihat Ara tetap enggan beranjak dari tempat tidur.

"Dek! Bangun, dong. Mau sampai kapan kamu kayak gini terus?"

"Sampai kapan-kapan," sahut Ara tanpa semangat.

Biru mengacak rambutnya sendiri dengan kesal. Ia paham betul kalau Ara sedang berduka. Namun, sampai kapan adiknya itu akan terus mengurung diri seperti ini? Sudah tiga hari berlalu, tetapi Ara masih saja kehilangan semangat untuk menjalani hidup.

"Mama sama Papa khawatir, loh, Dek. Abang paham kamu lagi sedih, tapi jangan sampai berlarut-larut kayak gini. Memangnya kalau kamu terus sedih seperti ini, dia bakal hidup lagi? Jangan buang waktumu. Mending sekarang kamu makan dulu. Mama juga sudah menyiapkan sarapan di meja makan."

"Aku bukannya pengin larut dalam kesedihan, Bang. Aku cuma nyesel karena semuanya sudah terlambat." Suara Ara terdengar bergetar. "Aku bahkan nggak bisa melihat dia untuk yang terakhir kalinya. Padahal aku masih pengin ngomong sesuatu sama dia."

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Ara. Melihatnya, Biru hanya bisa mendekat lalu memeluk adik semata wayangnya itu. Tangannya menepuk punggung Ara perlahan, berusaha menenangkan gadis yang sudah tiga hari terakhir ini lebih banyak menangis daripada melakukan apa pun.

Wajah Ara bahkan masih terlihat sembap karena terlalu banyak menangis. Ia juga menolak bertemu teman-temannya yang datang untuk menjenguk.

Orang tua mereka pun tidak bisa berbuat banyak. Berkali-kali dinasihati, Ara tetap memilih mengurung diri di kamar.

"Abang paham," ujar Biru pelan. "Tapi kamu juga nggak boleh kayak gini terus. Kalau dia tahu keadaanmu sekarang, memangnya dia bakal tenang di sana?"

Biru melepaskan pelukannya dan menatap Ara.

"Hari ini kamu nggak ada kuliah, kan? Mending ikut abang jalan-jalan ke toko buku."

"Aku males, Bang. Lagi nggak mood juga."

"Kamu mau nggak mood sampai kapan, hmm? Tahun depan?" Biru mengangkat alis. "Mumpung abang sekarang punya duit, kamu boleh beli buku apa aja yang kamu mau."

"Serius? Boleh beli banyak, nggak, Bang?"

"Secukupnya duit abang aja, ya, Dek."

"Cih!"

Ara menatap kakaknya dengan tatapan datar sembari mengusap sisa air mata di pipinya. Kakaknya yang terkenal superpelit itu tiba-tiba menawarkan diri untuk membelikannya buku.

Sebenarnya Ara masih malas untuk keluar rumah. Namun, ia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan emas seperti ini. Ara memang sangat gemar membaca buku. Terlebih jika buku tersebut bergenre fantasi, thriller, atau horor. Bisa-bisa ia langsung memborongnya tanpa pikir panjang.

"Oke, Bang. Aku mandi dulu."

"Akhirnya!" Biru langsung tersenyum puas. "Kalau tahu bakal mau kayak gini, harusnya abang ajak dari kemarin-kemarin. Kalau begitu, habis mandi sarapan dulu. Baru setelah itu kita berangkat."

"Iya, bawel."

Ara dengan malas turun dari ranjang, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sebenarnya ia sadar bahwa mengurung diri tidak akan membuat seseorang yang telah pergi kembali kepadanya.

Ara juga harus melanjutkan hidupnya, meskipun masih ada penyesalan yang begitu dalam terhadap seseorang yang telah meninggalkannya.

Seandainya ia bisa mendapatkan satu kesempatan lagi... Ia ingin kembali ke masa lalu. Ia ingin memperbaiki semuanya.

Namun, semua itu hanyalah khayalan. Semuanya sudah terlambat. Orang itu tidak akan pernah tahu bagaimana perasaan Ara yang sebenarnya.

Maafin aku yang terlalu bodoh ini. Maaf karena aku nggak sempat membuat kamu bahagia. Maaf karena aku nggak ada di sisimu waktu itu. Maaf karena aku sama sekali nggak tahu. Dan maaf juga karena aku terlalu egois.

"Bagaimana? Adikmu sudah baikan?"

"Sudah, Pah. Habis ini mau Biru ajak ke toko buku. Untung saja Ara mau."

"Tumben kamu mau membelikan adikmu buku. Kesambet apa kamu?"

"Astaga!" Biru memutar bola matanya. "Sebagai kakak yang baik, Biru cuma mau bikin Ara melupakan kesedihannya, Mah. Biru cuma nggak tega lihat Ara murung terus kayak begitu."

"Uangnya sudah cukup? Atau mau Papa kasih lagi?"

"Kalau Papa mau kasih lagi, ya Biru jelas akan menerimanya dengan tangan terbuka, Pah."

"Dasar mata duitan! Aku masih bingung kenapa abang tiba-tiba mau beliin aku buku. Padahal yang aku tahu, abang kan pelit."

Suara Ara membuat ketiganya menoleh. Ara yang baru selesai mandi langsung bergabung di ruang makan bersama orang tua dan kakaknya.

Rasanya seperti sudah lama sekali ia tidak berkumpul bersama keluarganya seperti ini.

"Terserah apa katamu, Dek. Mumpung abang lagi punya duit."

"Ara, makan dulu, sini." Mamanya menggeser piring ke hadapannya. "Mama sudah membuatkan makanan kesukaan kamu."

"Iya, Mah."

Ara duduk, lalu menatap kedua orang tuanya.

"Ah, Ara juga mau minta maaf sama Mama dan Papa. Kemarin-kemarin Ara sudah mengurung diri terus."

Ara bangkit dan memeluk Mama serta Papanya secara bergantian, kemudian mengecup pipi mereka.

Mama dan Papanya hanya tersenyum. Mereka memahami keadaan Ara. Kehilangan seseorang yang dicintai memang bukan sesuatu yang mudah untuk dilewati.

"Jangan sedih terus, ya, Sayang," ujar Mama sambil mengusap rambut Ara. "Masih ada Mama, Papa, Abang, sama teman-teman Ara yang akan selalu ada buat Ara. Kita semua sayang sama Ara. Jadi kalau ada apa-apa, Ara harus cerita, ya? Jangan dipendam sendiri."

"Iya, Mah."

Ara tersenyum tipis.

"Ara sayang kalian semua."

...---...

"Dek, beli satu aja, ya? Jangan banyak-banyak."

"Bukannya tadi abang sudah dikasih uang tambahan sama Papa?" Ara menunjuk deretan buku di hadapannya. "Mumpung ada banyak buku bagus, nih, Bang."

"Iya, sih." Biru menghela napas. "Ya sudah, tiga buku aja, ya? Sisa uangnya mau abang pakai buat jalan sama temanmu itu."

"Siapa? Si Sora?"

Ara langsung menyipitkan mata.

"Duh, jangan sampai dia mau sama abang yang pelit ini."

"Bantuin abang, dong, Dek. Abang suka sama temanmu itu. Soalnya dia lucu."

"Hmm."

Ara hanya bergumam, tidak terlalu tertarik dengan kisah percintaan kakaknya.

"Mending sekarang abang lihat buku-buku yang lain dulu. Kamu tahu sendiri, abang alergi sama tema buku kesukaanmu ini."

Biru pun meninggalkan Ara dan berjalan menuju rak buku di bagian lain.

Ara tidak memedulikannya. Ia kembali asyik dengan dunianya sendiri, menelusuri satu per satu buku yang sekiranya menarik perhatiannya.

Sampai kemudian, matanya tertuju pada sebuah buku dengan judul yang cukup menarik.

Time Travel.

"Novel baru?"

Ara mengambil buku tersebut dan membolak-baliknya.

"Kenapa cuma ada satu?"

Ia melirik rak di belakangnya.

"Jangan-jangan tinggal satu karena sudah habis dibeli orang. Mending gue ambil aja."

Ara kemudian membaca sinopsis yang tertera di belakang buku itu. Beberapa buku lain yang menurutnya menarik juga ia periksa satu per satu.

Saking fokusnya, Ara tidak menyadari ada seseorang yang berjalan dari arah berlawanan.

Bruk!

Tubuh Ara tidak sengaja menabrak seorang wanita tua.

"Aduh, maaf, Bu. Saya nggak sengaja."

Buku Time Travel yang berada di tangan Ara terjatuh ke lantai.

Wanita tua itu justru menatap buku tersebut dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Oh, Time Travel?"

Ia membungkuk untuk mengambil buku yang terjatuh, lalu menyerahkannya kembali kepada Ara.

"Pilihan yang bagus, Nak. Ini buku terlaris minggu ini. Ibu juga kebetulan sudah membelinya. Isinya sangat bagus."

Ara menerima buku tersebut dengan bingung.

"Oh... iya, Bu. Terima kasih."

Wanita tua itu tersenyum.

"Kebetulan Ibu ingin memberikanmu ramuan ajaib yang Ibu punya ini."

Ara mengerutkan kening.

"Ramuan ajaib?"

"Iya. Kamu bisa kembali ke masa lalu dengan membaca mantra yang ada di dalam buku Time Travel itu sambil meminum ramuan yang Ibu berikan khusus untukmu."

Ara menatap wanita tua tersebut seolah sedang memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

"Maksud Ibu apa? Saya nggak mengerti."

"Sudah, ambil saja ramuan ini. Gratis untukmu."

Wanita tua itu menyerahkan dua botol kecil kepada Ara.

"Ramuan pertama akan membuatmu kembali ke masa lalu. Sedangkan ramuan kedua harus kamu minum agar kamu bisa kembali lagi ke masa sekarang."

Ara memperhatikan kedua botol tersebut dengan bingung.

"Waktumu hanya empat belas hari," lanjut wanita tua itu. "Jika sampai hari keempat belas kamu tidak kembali, perjalananmu akan sia-sia."

Wanita itu tersenyum tipis.

"Jadi, pergunakan waktumu dengan sebaik-baiknya."

Ara masih tidak memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.

"Siapa tahu..."

Tatapan wanita tua itu tiba-tiba berubah sendu.

"...orang yang kamu cintai sekarang masih ada bersamamu."

Ara terdiam.

Bagaimana wanita tua ini tahu bahwa ia baru saja kehilangan seseorang yang dicintainya?

Ia kembali menatap dua botol kecil di tangannya. Cairan di dalamnya tampak begitu biasa, tetapi entah mengapa membuat Ara merasa tidak nyaman.

"Ibu, ini sebenarnya-"

Ara mendongak. Namun, wanita tua itu sudah tidak ada.

Ara langsung menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada. Wanita itu benar-benar menghilang begitu saja.

Ara semakin bingung.

"Dek, udah selesai milih bukunya?"

Suara Biru dari kejauhan membuat Ara tersentak.

"Hah? Oh, udah, Bang."

Ara buru-buru memasukkan kedua botol kecil tersebut ke dalam tasnya agar tidak diketahui Biru.

"Aku beli satu aja."

Kemudian, ia segera menyusul kakaknya menuju kasir.

Namun, sepanjang perjalanan, pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan perkataan wanita tua tadi.

Empat belas hari...

Dan satu kalimat yang terus terngiang-ngiang di kepalanya.

Siapa tahu orang yang kamu cintai sekarang masih ada bersamamu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!