NovelToon NovelToon
Mafia Cacat Untuk Amira

Mafia Cacat Untuk Amira

Status: tamat
Genre:Mafia / Anak Genius / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:39.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Pagi itu, rumah Kaizar terasa sedikit berbeda.

Beberapa pelayan tampak lebih sibuk dari biasanya. Ada yang membawa bunga, sebagian lainnya keluar masuk ruang tengah sambil membawa beberapa berkas.

Amira yang baru turun dari tangga memperhatikan pemandangan itu dengan dahi berkerut.

"Kenapa semua orang sibuk sekali?"

Tidak ada yang langsung menjawab. Seorang pelayan hanya menunduk sambil membawa beberapa kotak ke ruangan sebelah.

Amira semakin penasaran. Ia baru saja hendak bertanya ketika melihat Kaizar keluar dari ruang kerjanya.

Pria itu mengenakan kemeja gelap dengan celana panjang yang rapi. Wajahnya kembali seperti biasa, tenang dan sulit ditebak.

Amira langsung menghampirinya.

"Kenapa rumahmu seperti mau mengadakan acara besar?"

Kaizar menggerakkan kursi rodanya menuju ruang tengah. "Memang ada acara sebentar lagi.

Amira mengikuti sambil terus bertanya. "Acara apa?"

"Pernikahan."

Langkah Amira langsung berhenti. "Pernikahan siapa?"

Kaizar menoleh. "Kau."

Amira berkedip. "Lho?"

"Kau dan aku."

Amira masih berdiri di tempat, kata-kata barusan seolah sulit untuk di cerna. Sementara Kaizar melanjutkan pergerakannya seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sangat biasa.

Amira buru-buru mengejarnya. "Tunggu!"

"Apa?"

"Jangan ngomong begitu dengan wajah datar."

"Memangnya harus bagaimana?"

"Minimal kelihatan serius."

"Aku serius."

Amira menatapnya. "Jadi... benar?"

"Benar."

"Yang kemarin kamu bilang?"

"Aku sudah menghubungi keluargamu."

Amira mengerjapkan mata beberapa kali. "Secepat itu?"

"Aku tidak suka menunda."

"Tapi aku kira kita masih punya waktu."

"Kita masih punya waktu."

"Berapa lama?"

Kaizar menjawab tenang. "Dua minggu."

Amira hampir tersedak. "Hah! Dua minggu?"

"Iya."

"Kaizar!"

"Apa?"

"Itu bukan lama!"

"Menurutmu berapa lama?"

"Entahlah. Sebulan. Dua bulan. Tiga bulan."

Kaizar menatapnya. "Kenapa selama itu?"

"Karena aku belum siap."

"Untuk menikah?"

Amira mengangguk. Kaizar tidak langsung menjawab. Ia melihat perempuan di depannya yang kini mulai gelisah.

"Kalau begitu, apa yang membuatmu belum siap?"

Amira membuka mulut. Lalu menutupnya lagi. Sebenarnya ia sendiri tidak tahu. Selama ini pernikahan itu terasa seperti sesuatu yang akan terjadi karena keputusan dua keluarga. Ia menerimanya karena tidak punya pilihan.

Tetapi setelah tinggal bersama Kaizar, semuanya berubah. Sekarang pernikahan itu terasa seperti keputusan yang akan menentukan sisa hidupnya.

"Aku cuma..." Amira mencari kata yang tepat. "Aku belum terbiasa dengan semuanya."

Kaizar mengangguk. "Aku mengerti."

Amira justru terkejut. "Kamu tidak memaksaku?"

"Aku sudah pernah bilang. Aku tidak akan memaksamu."

"Lalu kenapa dipercepat?"

Kaizar terdiam. Tatapannya beralih ke arah jendela. Ada jawaban yang sebenarnya bisa ia berikan. Tetapi ia sendiri belum yakin dengan jawaban itu.

Ia hanya tahu satu hal. Sejak Amira datang, rumah yang selama bertahun-tahun terasa kosong mulai memiliki suara. Dan ia tidak ingin kembali seperti sebelumnya.

"Karena aku sudah mengambil keputusan."

Amira menghela napas. "Jawabanmu selalu sesingkat itu."

"Karena tidak semua hal perlu dijelaskan panjang."

"Padahal aku suka penjelasan panjang."

"Aku tahu."

Amira menatapnya curiga. "Kamu mulai mengenalku, ya?"

Kaizar mengangkat alis. "Mungkin."

Jawaban itu membuat Amira tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa detik. Kemudian salah satu pelayan datang membawa beberapa map.

"Tuan, keluarga Abraham sudah dalam perjalanan."

Kaizar mengangguk. "Biarkan mereka masuk."

Amira langsung panik. "Tunggu. Keluarga Abraham mau datang?"

"Iya."

"Untuk membahas pernikahan?"

"Iya."

"Dan aku harus ada di sini?"

Kaizar menatapnya. "Ini pernikahanmu."

Amira memijat pelipis. "Kenapa semuanya mendadak sekali?"

"Kau sendiri yang bilang aku harus lebih spesifik ketika membuat aturan."

Amira menatapnya. "Itu bukan berarti kamu harus membuat seluruh hidupku bergerak secepat ini."

"Sudah terlambat."

"Kenapa?"

"Pernikahan sudah diputuskan."

Amira mendengus. "Tuan Dingin."

Kaizar menatapnya. "Apa?"

"Kamu menyebalkan."

"Aku tahu."

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Tidak lama kemudian, beberapa mobil berhenti di depan rumah. Tuan Abraham datang bersama beberapa anggota keluarga dan orang yang mengurus persiapan pernikahan.

Pertemuan berlangsung di ruang keluarga.

Amira duduk di samping Kaizar. Salah satu wanita dari keluarga Abraham membuka beberapa dokumen.

"Untuk tanggal, kami sudah memeriksa beberapa pilihan. Kalau memang ingin dipercepat, tanggal dua minggu dari sekarang masih bisa digunakan."

Amira langsung menatap Kaizar.

"Dua minggu?"

Kaizar mengangguk. Wanita itu melanjutkan.

"Kami juga sudah menghubungi pihak gedung dan beberapa vendor. Tinggal menentukan konsep dan kebutuhan lainnya."

Tuan Abraham menatap putranya. "Kau benar-benar ingin secepat ini?"

"Ya."

"Apakah kau yakin?"

Kaizar menjawab tanpa ragu. "Aku sudah memutuskan."

Kemudian Tuan Abraham mengalihkan pandangan kepada Amira. "Bagaimana denganmu?"

Pertanyaan itu membuat semua orang menunggu jawabannya. Amira menatap Kaizar sebentar. Pria itu tidak mengatakan apa pun. Ia juga tidak memberi isyarat agar Amira menerima atau menolak. Untuk pertama kalinya, keputusan itu benar-benar berada di tangan Amira.

Amira menarik napas pelan. "Aku setuju."

Salah satu pelayan langsung mencatat tanggal. Dua minggu lagi. Kalimat itu terasa nyata. Amira benar-benar akan menikah. Dan pria yang akan menjadi suaminya duduk hanya beberapa sentimeter di sampingnya.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Siang harinya, rumah mulai dipenuhi aktivitas. Amira dibawa melihat beberapa pilihan gaun.

Ia mencoba satu per satu, tetapi tidak ada yang benar-benar membuatnya yakin.

"Yang ini terlalu ramai."

"Yang ini terlalu mengkilap."

"Yang ini seperti gaun untuk menghadiri pesta orang lain."

Perancang gaun yang berada di hadapannya hanya tersenyum sabar. "Kalau begitu, Nona Amira menginginkan gaun seperti apa?"

Amira berpikir. "Yang sederhana."

"Untuk pernikahan?"

"Iya."

"Biasanya pengantin ingin terlihat mewah."

Amira menggeleng. "Aku ingin terlihat seperti diriku sendiri."

Dari pintu, Kaizar yang sejak tadi memperhatikan akhirnya berkata, "Itu pilihan yang bagus."

Amira menoleh. "Kamu dengar?"

"Sejak tadi."

"Kenapa tidak ikut memilih?"

"Aku tidak mengerti soal gaun."

Amira menunjuk salah satu gaun. "Kalau menurutmu yang ini bagaimana?"

Kaizar melihatnya beberapa saat.

"Terlalu ramai."

Amira langsung menoleh kepada perancang.

"Tuh, kan."

Kaizar mengangkat alis.

"Aku baru bicara sekali."

"Tapi pilihan kita sama."

"Jangan terlalu bangga."

Amira kembali memperhatikan gaun-gaun itu. Kemudian matanya berhenti pada satu gaun sederhana dengan potongan elegan.

Ia menunjuknya.b"Yang itu."

Kaizar ikut melihat. "Bagus."

Amira tersenyum. "Berarti selesai."

"Sesederhana itu?"

"Iya."

Kaizar mengangguk. Dan saat ini ia merasa dalam hidupnya, persiapan pernikahan tidak terasa seperti urusan keluarga atau perjanjian bisnis.

Ada seorang perempuan di sampingnya yang sedang memilih gaunnya sendiri. Dan anehnya, Kaizar ingin melihat seperti apa Amira nanti ketika mengenakannya.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Di rumah keluarga Wijaya, kabar tentang pernikahan itu sudah lebih dulu sampai. Ambar meletakkan cangkirnya dengan sedikit keras.

"Dua minggu?"

Ganjar mengangguk.

"Begitu keputusan keluarga Abraham."

Alika yang sejak tadi duduk di sofa menatap ayahnya. "Dipercepat sampai dua minggu?"

"Iya."

Alika tersenyum kecil. "Baguslah. Setidaknya Amira tidak perlu terlalu lama menunggu."

Nada suaranya terdengar seperti kakak yang ikut bahagia.

Tetapi jemari yang berada di pangkuannya menggenggam kain gaunnya erat.

Ambar menatap putrinya. "Kamu baik-baik saja?"

"Aku?"

Alika mengangguk. "Tentu."

Kemudian ia tersenyum. "Aku hanya sedikit khawatir."

"Khwatir apa?" tanya Ganjar.

Alika menunduk. "Amira belum lama tinggal di keluarga Abraham. Pernikahan secepat itu mungkin cukup berat untuknya."

Kalimat itu terdengar penuh perhatian. Ganjar justru mengangguk. "Mungkin kau benar."

Alika segera menambahkan, "Tapi aku yakin Amira bisa menghadapinya."

Ia tersenyum lagi. Tidak ada yang melihat perubahan kecil pada matanya. Pernikahan Amira yang seharusnya menjadi jalan keluar justru membuat Alika merasa ada sesuatu yang mulai terlepas dari kendalinya.

Sementara di tempat lain... Ricki baru saja mendengar kabar yang sama.

Dua minggu.

Amira akan menikah dengan Kaizar dua minggu lagi. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia tidak mengerti kenapa berita itu membuat dadanya terasa sesak.

Bukankah seharusnya ia bahagia? Amira sudah menemukan jalan hidupnya sendiri.

Bukankah itu yang selama ini ia inginkan?

Tetapi ketika membayangkan perempuan yang pernah menjadi bagian terbesar hidupnya benar-benar menjadi istri pria lain...

Ricki justru merasa takut. Takut Amira benar-benar meninggalkannya. Dan kali ini, mungkin untuk selamanya.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Malam hari, Amira berdiri di balkon kamarnya. Di tangannya ada kertas kecil berisi daftar persiapan pernikahan.

Dua minggu. Ia membaca angka itu berulang kali.

"Benar-benar cepat."

Suara roda kursi terdengar dari belakang. Amira menoleh. Kaizar berhenti di dekat pintu balkon.

"Kau belum tidur?"

"Belum."

"Memikirkan pernikahan?"

Amira mengangguk.

"Sedikit."

Kaizar mendekat. "Kau menyesal?"

Amira menatapnya. Pertanyaan itu membuatnya berpikir cukup lama. Kemudian ia menggeleng.

"Enggak."

"Yakin?"

Amira tersenyum kecil. "Aku memang takut."

Kaizar menunggu. "Tapi bukan karena menikah denganmu."

"Kalau begitu?"

Amira memandang halaman rumah yang diterangi lampu. "Aku takut semuanya berubah."

Kaizar memahami maksudnya. "Kehidupan memang berubah."

"Aku tahu."

"Dan kau tidak bisa mengendalikan semuanya."

Amira mengangguk. Kemudian ia menoleh kepada Kaizar.

"Tapi kalau aku boleh memilih satu hal..."

"Apa?"

Amira tersenyum. "Aku ingin setelah menikah nanti, kamu tetap menjadi Tuan Dingin yang sama."

Kaizar mengangkat alis. "Kenapa?"

"Karena kalau kamu tiba-tiba jadi romantis, aku mungkin tidak mengenalimu."

Kaizar menatapnya beberapa detik. "Tenang."

"Apa?"

"Aku tidak akan berubah."

Amira mengangguk puas. "Bagus."

Kaizar menggerakkan kursi rodanya hendak pergi. Sebelum keluar, ia berhenti.

"Amira."

"Ya?"

"Dua minggu lagi."

Amira menatapnya.

"Kita menikah."

Jantung Amira berdetak sedikit lebih cepa lalu perlahan ia mengangguk.

"Iya."

Kaizar pergi meninggalkan balkon. Amira masih berdiri di sana ia tidak lagi memandang pernikahan itu sebagai akhir dari kebebasannya.

Mungkin justru... pernikahan itu akan menjadi awal dari kehidupan yang selama ini tidak pernah ia miliki.

Sementara di tempat lain, seseorang sedang memikirkan cara agar pernikahan itu tidak berjalan semulus yang mereka bayangkan.

Dan dua minggu...mungkin tidak akan menjadi waktu yang tenang bagi siapa pun.

Bersambung...

1
Tengku Nafisa
hati2 dengan papa ganjar bakal dia yg jadi tempat balas dendam mereka berdua demi menjatuhkan amira
Tengku Nafisa
bagus ceritanya
Ungu Acova
koq tamat, musuh kaizar yg atasannya Marcus gak tau siapa donk
Ungu Acova
rasakan alika yg sombong
Ungu Acova
seruuu nih
Ana Akhwat
Eneg betul ceritanya bikin muak
Ungu Acova
nanti karma akan mndatangi alika
Sayekti 0519
ceritanya bagus, bahasanya apik.
top lah
Sayekti 0519
apakah Alika mulai terlibat...g mungkin diam3 baee
Sayekti 0519
gmana g kyak iblis sifatnya,emak yg ngajarin
Sayekti 0519
dasar sakit jiwa,mati aja kkauu
Sayekti 0519
kau pikir bisa menutup cela,bahwa kau bukan darah dagingnya.kebenaran seperti udara bisa masuk dr celah manapun
Ilham
lanjut
Yasinta Niken
libas habis musuh2 yang tidak bisa di toleransi lindungi Amira semangat kaisar saya dukung ha ha ha ha ha
Ilham
Amira terlalu bodoh sudah jelas di Alika jahat masih mau saja menerima hadia dari nya goblok
Ilham
aku yakin emang si Ganjar yang merayu ibu Amira jadi si Ganjar tidak mau mengakui ke salahannya..KLO emang ibu Amira menjebak si Ganjar ngk mungkin si Amira punya sifat baik
Oma Gavin
alika ikut juga dalam komplotan ini segitu ngga suka nya sama amira
Enz99
bagus
Yasinta Niken
lanjut KK makin seru
Oma Gavin
musuh dalam selimut memang susah dilacak tapi percaya kaizar lebih cerdas meskipun phisik nya terbatas tapi otak nya yg bekerja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!