NovelToon NovelToon
Istri Butaku Direbut Sahabatku

Istri Butaku Direbut Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.

Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.

Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 - Strategi Halus

Pintu ruangan VIP rumah sakit terbuka.

Brian melangkah masuk.

Setelah keluar dari ruang ICU, Tuan Barra kini dipindahkan ke kamar pasien VIP. Kondisinya sudah jauh lebih stabil, meskipun tubuh pria tua itu masih membutuhkan banyak istirahat.

Begitu melihat cucunya, wajah Tuan Barra langsung berubah cerah.

"Brian..." Pria tua itu berusaha bangkit dari tempat tidurnya.

"Kakek." Brian segera menghampiri.

Tuan Barra langsung menarik tubuh cucunya ke dalam pelukan.

Beberapa detik mereka hanya diam. Pelukan itu terasa hangat.

Brian bahkan tidak mampu menyembunyikan rasa leganya melihat kakeknya sudah sadar.

"Akhirnya kau datang juga," ucap Tuan Barra lirih.

Brian menghela napas. "Kakek seharusnya tidak banyak bergerak."

"Aku hanya ingin memeluk cucuku," jawab Barra.

"Dan dokter sudah mengatakan Kakek harus banyak beristirahat."

Tuan Barra tertawa kecil. "Kau semakin mirip ayahmu."

Brian mengerutkan kening. "Jangan mulai."

"Kenapa?"

"Karena Kakek baru saja sadar dari koma. Jangan membuatku harus berdebat dengan Kakek sekarang."

Tuan Barra justru terkekeh.

Robby yang sejak tadi berdiri di samping tempat tidur akhirnya ikut menyela. "Sudahlah, Tuan Muda. Kakek Anda baru saja sadar. Jangan membuat suasana menjadi tegang."

Brian mengembuskan napas kasar. Kemudian ia menatap kakeknya dengan serius. "Aku hanya ingin Kakek cepat pulih."

"Aku tahu."

"Jadi jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu," ucap Brian.

Tuan Barra tersenyum. "Baiklah, baiklah."

Brian akhirnya mengangguk. Namun belum sempat ia duduk, Tuan Barra tiba-tiba menoleh kepada Robby.

"Robby," ucap Tuan Barra.

"Ya, Tuan Besar?"

"Ambil berkas yang sudah kupersiapkan."

Robby langsung mengangguk. "Baik."

Robby berjalan menuju sebuah tas yang berada di atas meja kecil di sudut ruangan. Ia mengambil sebuah map hitam yang cukup tebal.

Kemudian kembali mendekati tempat tidur, ia meletakkan map tersebut di atas meja di hadapan Brian.

Brian menatapnya dengan kening berkerut. "Apa itu?"

Tuan Barra tersenyum penuh arti. "Buka."

Brian mengambil map tersebut. Ia membuka perlahan. Beberapa lembar dokumen terlihat di dalamnya.

Brian membaca halaman pertama. Matanya langsung berhenti pada sebuah alamat, di kota Laven.

Tatapannya berubah. "Rumah siapa ini?" Brian mengangkat wajah

Tuan Barra tersenyum, "Kakek membangun satu unit Rumah di Kota Laven."

Brian kembali membaca dokumen tersebut. "Lokasinya, tidak jauh dari PT. Herbalife."

Brian terdiam, untuk sesaat, senyum tipis muncul di wajahnya. "Untuk Rania?"

Tuan Barra menggeleng. "Lebih tepatnya..." Pria tua itu menatap cucunya. "Untuk keluarga kecilmu kelak."

Brian terdiam beberapa detik. Kemudian ia menyeringai kecil. "Terima kasih, Kakek."

Tuan Barra mengangguk puas. "Bagaimana? Cukup bagus?"

"Lebih dari cukup." Brian menutup kembali map tersebut.

Tatapannya kemudian beralih kepada Robby. "Jadi ini rencana kita selanjutnya?"

Robby tersenyum. "Benar, Tuan Muda."

Brian mengangguk pelan. "Bagus."

Tatapannya kembali kepada dokumen tersebut. "Semuanya berjalan dengan baik."

Namun tiba-tiba Tuan Barra bersuara. "Tapi ada satu masalah."

Brian mengangkat wajah. "Apa?"

Tuan Barra menatapnya serius. "Aku ingin melihat menantuku."

Brian terdiam.

"Yang sedang mengandung cicitku itu," lanjut Tuan Barra.

Brian menghela napas panjang. "Kakek..."

"Aku ingin bertemu Rania," lirih sang Kakek.

Brian menatap kakeknya beberapa detik. "Akan kupastikan Rania datang menemui Kakek."

Wajah Tuan Barra sedikit berbinar.

"Tapi..." Brian mengangkat satu jari. "Bukan karena aku memaksanya."

Senyum Tuan Barra perlahan menghilang.

"Dia harus datang karena keinginannya sendiri." Brian menatap kakeknya dengan tenang. "Aku tidak ingin membuat Rania merasa bahwa dirinya kembali terikat padaku hanya karena Kakek sedang sakit."

Tuan Barra terdiam.

Kemudian ia mengangguk pelan. "Itu benar."

Robby yang melihat perubahan ekspresi Tuannya segera menambahkan. "Percayalah, Tuan Besar. Tuan Muda akan mengatur semuanya."

Tuan Barra menatap cucunya. Kemudian tersenyum tipis. "Baiklah."

Brian mengangguk, dalam hatinya, ia sudah memiliki sebuah rencana. Ia tidak akan mengejar Rania.

Setidaknya...

Tidak dengan cara yang membuat wanita itu semakin menjauh.

Sementara itu...

Di kamar Rania.

Daffa sudah meninggalkan ruangan setelah pembicaraannya dengan Tuan Daniel.

Keputusan pria itu tampaknya benar-benar sudah bulat, pria itu ingin menjadikan Rania istrinya.

Bahkan ancaman pertunangan dengan Meyra dari ayahnya tidak mampu membuatnya mengubah keputusan.

Tuan Daniel kemudian duduk di samping Rania. "Jangan terlalu memikirkan ucapan kakakmu."

Rania hanya mengangguk.

"Ayah akan menyelesaikan semuanya," ucap Tuan Daniel.

"Terima kasih, Ayah," sahut Rania.

Tuan Daniel tersenyum. "Kau butuh istirahat, ayah akan bicara dengan kakakmu."

Rania mengangguk.

Tidak lama kemudian, Tuan Daniel meninggalkan kamar untuk menyusul Daffa.

Malam semakin larut.

Keheningan kembali memenuhi ruangan kamar Rania. Rania membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.

Matanya menatap langit-langit. Etah kenapa, ucapan Daffa tadi terus terngiang di kepalanya.

Aku akan menikahi Rania terlebih dahulu.

Rania memejamkan mata, ia mencoba mengosongkan pikirannya.

Namun semakin ia mencoba...

Semakin banyak wajah yang muncul di kepalanya. Hingga akhirnya rasa lelah membuatnya tertidur.

Dan malam ini Rania tenggelam dalam sebuah mimpi...

"Rania..." Suara itu terdengar samar.

Rania membuka matanya. Brian berdiri di hadapannya, tongkat hitam di pegang dengan satu tangannya, dan ekspresinya dingin. Hanya menatapnya dengan tatapan yang membuat dada Rania terasa sesak.

"Kenapa kau tidak memberitahuku?" tanya Brian.

Rania membeku. "Brian..."

"Kenapa kau menyembunyikan kehamilan kita?" tanya Brian.

Rania membuka mulut. Namun tidak ada suara yang keluar.

Brian melangkah mendekat. "Kenapa, Rania?"

Air mata Rania mulai mengalir. "Aku..."

Namun sebelum ia bisa menjawab, Rania terbangun.

"Hah!" Napasnya memburu.

Matanya langsung terbuka lebar, ia menatap sekeliling kamar.

Gelap.

Sunyi.

Tidak ada Brian.

Rania mengusap dadanya. "Astaga..." Ia menghela napas lega. "Hanya mimpi."

Tangannya segera meraih gelas air di atas nakas, ia meneguknya beberapa kali.

Namun ketika gelas itu diturunkan...

Satu nama kembali terlintas dalam pikirannya. "Brian..."

Rania terdiam.

Bayangan pria itu berjalan menggunakan tongkat kembali muncul di kepalanya.

Ia menatap kosong ke depan.

Kemudian tangannya perlahan turun menyentuh perutnya yang masih datar.

"Sayang..." Suaranya bergetar. "Maafkan Mama."

Air mata perlahan menggenang di matanya. "Ayahmu jadi seperti itu karena Mama."

Rania mengusap perutnya dengan lembut, ia memejamkan matanya, ia seolah merasa bersalah atas cedera yang di alami Brian.

"Tapi Mama tidak ingin kembali bersama Ayah," gumam Rania, ia menarik napas panjang. "Mama hanya ingin hidup berdua denganmu."

Senyum kecil muncul di wajahnya meskipun matanya masih basah.

"Tapi..." Tangannya tetap mengusap perutnya. "Mama berjanji akan menyembuhkan kaki Ayahmu."

Rania menunduk.

"Entah bagaimana caranya." Ia mengusap perutnya sekali lagi. "Tapi Mama akan berusaha."

Setelah itu, Rania kembali membaringkan tubuhnya. Ia memejamkan mata.

Berusaha tidur kembali.

Namun satu hal telah berubah, untuk pertama kalinya...

Rania mulai memikirkan cara untuk menyembuhkan pria yang ingin ia tinggalkan.

Keesokan paginya...

Matahari mulai menyinari Kota Laven.

Di halaman kediaman Aristama, Brian menuruni tangga menuju mobilnya.

Rio sudah menunggunya.

"Rio."

"Ya, Tuan."

"Jadwal pertemuanku dengan istriku sudah diatur?"

"Sudah, Tuan."

Brian mengangguk. "Ada balasan dari Rania?"

Rio melihat layar tabletnya. Kemudian menggeleng. "Belum ada, Tuan."

Brian melihat jam tangannya. "Kalau begitu, tidak masalah." Ia berjalan menuju mobil.

Namun sebelum masuk, Brian berhenti. "Rio."

"Ya?"

"Rumah pemberian Kakek, segera rapihkan."

"Sudah saya urus Tuan," jawab Rio.

"Pastikan semuanya sudah siap sebelum Rania melihatnya." Titah Brian.

Rio mengangguk. "Tuan Muda, rumah itu bahkan sudah dilengkapi seluruh perabotannya."

Brian menoleh. "Benarkah?"

"Benar. Robby sendiri yang mengatakan kepada saya," jawab Rio.

Senyum Brian langsung muncul. ,XDasar pak tua." Ia menggeleng kecil.

Brian masuk ke dalam mobil, dan senyumnya belum menghilang.

"Seluruh perhatian kakek sekarang hanya untuk cicitnya," gumam Brian.

Pikirannya kembali kepada Rania. Brian lalu menatap tangannya sendiri, tangan yang pernah menyentuh pertama kali perut Rania, tempat darah dagingnya sedang tumbuh.

Brian mengepalkan tangannya perlahan. Entah kenapa, ia kembali ingin merasakan hangat tubuh wanita itu.

Ingin kembali menyentuh perutnya. Sekadar memastikan bahwa anak mereka benar-benar ada di sana.

Namun kali ini, Brian tahu satu hal, ia tidak boleh terburu-buruz karena jika ia ingin Rania kembali...

Rania harus memilihnya sendiri.

Brian tersenyum tipis. "Pelan-pelan saja, Rania."

Mobil mulai bergerak meninggalkan halaman.

"Pada akhirnya, kau akan kembali menoleh kepadaku."

Bersambung...

1
Nisa Nisa
cerita nya seru, baru awal aja udah buat penasaran
Michelle Azahrah
응 anooo ini serius judulnya itu? sarkas bet, tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!