Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Kebenaran yang Terungkap
Fadel mengambil ponselnya, lalu menghubungi nomor baru dengan nada memerintah. "Kumpulkan orang-orang sekarang untuk melacak mobil terakhir yang lewat di gang belakang restoran semalam. Cari sampai ketemu kemana si Rudi dibawa."
Sementara itu, di dalam mobil Rayven. Dia mematikan audio sarapan tersebut saat mendengar Fadel menyuruh anak buahnya berkumpul. Rhea menoleh ke arah Rayven dengan raut wajah tegang.
"Rayven, Fadel mulai bergerak. Gimana kalau mereka menemukan bukti kalau mobil kamu semalam masuk ke gang itu," kata Rhea cemas.
"Tenang. Semalam saya pakai mobil operasional tanpa plat resmi milik firma hukum. CCTV jalanan biasa gak bakal bisa melacak kepemilikan mobil itu," Rayven menyunggingkan senyum tipis.
"Tapi, Mas Rayven si Fadel itu benar-benar kayak orang kesetanan. Dia bilang mau bikin Rudi bungkam selamanya," dela Zora panik dari belakang.
"Justru kepanikan Fadel ini yang bakal jadi senjata utama kita. Begitu dia makin terdesak karena Rudi hilang, Fadel bakal melakukan tindakan gegabah," potong Rayven mantap.
Mobil Rayven perlahan memasuki area ruko biro Rhea. Mereka turun bertiga turun dari mobil dengan membawa seluruh berkas penting tersebut.
Langkah kaki Rayven, Rhea, dan Zora berderap cepat memasuki ruko. Pintu kaca dibanting rapat, disusul dengan helaan napas dari Zora yang langsung menumpahkan tubuhnya di sofa tamu.
"Sekarang Rudi aman di safe house. Pak Noto juga sudah siap bersaksi. Dan semua dokumen asli ada di tangan kita," ujar Rayven dengan tenang namun dingin.
"Tapi kita gak bisa cuma mengandalkan persidangan yang butuh berminggu-minggu, Rayven. Fadel itu nekat. Jelas-jelas dia mau melenyapkan Rudi. Kalau Fadel sadar Rudi kita tahan, sasaran berikutnya pasti Bima," sahut Rhea serius.
"Bener banget," sela Zora sambil mengacungkan jarinya dari kursi. "Si Bima itu anak polos yang dipukulin terus di sana. Gimana kalau Fadel melampiaskan kepanikannya ke Bima."
Rayven memiringkan kepalanya, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja. "Kita harus amankan Bima dulu. Tapi tanpa bikin Fadel curiga kalau kita sudah memegang bukti asli."
"Kita harus temuin Bima di luar restoran. Kita jelaskan semuanya ke dia," Rhea mengangguk mantap.
Sementara itu, suasana di area dapur belakang mendadak mencengangkan.
Fadel melangkah kasar menembus pintu dapur. Matanya bergerak luar dan tajam menyapu setiap sudut ruangan dapur.
"Ada yang melihat Rudi? Ada dimana dianya?" bentak Fadel keras tanpa basa-basi.
Pak Yudi yang sedang mengaduk kuah soto di kuali besar menghentikan kegiatannya. Ia mematikan kompor perlahan lalu membalikkan badan, menatap Fadel dengan raut tenang namun waspada.
"Rudi gak ada disini daritadi, Mas Fadel," kawan Pak Yudi sopan.
"Kalian bercanda ya? Masa gak ada satu orang pun yang lihat dia?" Fadel meremas pinggiran meja dengan kencang.
"Beneran, Mas Fadel. Kami semua dari pagi fokus persiapan bahan makanan. Rudi sama sekali gak ada kelihatan," sahut Pak Yudi jujur.
Di sudut dapur dekat rak bahan kering. Bima sedang berlutut merapikan karung-karung beras. Mendengar hentakan Fadel yang begitu panik dan tidak biasa. Bima perlahan menegakkan tubuhnya.
Dari balik sela-sela rak kayu, Bima menatap Fadel dengan pandangan aneh dan penuh rasa curiga. Sejak Bima menemukan pintu besi belakang sedikit terbuka tadi pagi, ia sudah merasa ada yang tidak beres. Ditambah lagi, Fadel sangat frustasi dan ketakutan, sebuah pemandangan yang sangat langka dari pria yang biasanya selalu bertindak arogan itu.
"Kenapa Fadel sebegitunya nyari Rudi? Ada apa sebenarnya?" batin Bima
Fadel menyadari tatapan itu. Ia menoleh cepat, menangkap Bima yang sedang mengawasinya dari balik rak.
"Lihat-lihat apa kami, Bima? Kamu liat Rudi semalam," bentak Fadel murka, melangkah mendekat dengan tatapan mengintimidasi.
"Nggak, Mas Fadel. Saya gak liat," Bima menundukkan kepala cepat.
"Gak usah bohong kamu. Kalau kami berani sembunyiin sesuatu atau main-main di belakang saya, habis kamu," Fadel menunjuk wajah Bima kencang.
"Mas Fadel, Mas Bima beneran gak tau apa-apa. Dari tadi pagi Mas Bima bareng saya di sini," potong Pak Yudi mencoba melindungi Bima.
Fadel menggeram rendah, membuang muka dengan kasar lalu berbalik pergi menaiki tangga menuju lantai dua dengan napas memburu.
Setelah Fadel menghilang. Bima berdiri perlahan. Perasaan ganjil di benaknya makin menjadi-jadi.
"Pak Yudi. Saya izin keluar sebentar ya ke gang belakang. Mau buang sampah sekaligus beli barang di luar," bisik Bima pelan.
"Iya, Mas Bima. Hati-hati ya," pesan Pak Yudi iba.
Bima melempar kantong sampah ke dalam bak kontrol besar di ujung gang belakang. Saat ia baru saja menyapu keringat di dahinya dan hendak melangkah menuju jalan raya.
Sebuah mobil hitam mendadak berhenti di sampingnya. Pintu tengah mobil tergeser terbuka secara cepat.
Bima terlonjak kaget, refleks mundur dia langkah dengan wajah pucat pasi dan tatapan penuh ketakutan. "Siapa? Kalian siapa?" jerit Bima bergetar, siap berlari.
Rhea memajukan tubuhnya sedikit dari pintu mobil, menatap Bima dengan pandangan teduh dan menenangkan. "Bima, tolong jangan takut. Kami bukan orang jahat. Saya Rhea, dan ini Rayven sama Zora. Kami kesini mau bantu kamu."
"Bantu apa? Saya gak kenal kalian. Tolong jangan macam-macam, nanti kalau ada yang liat..."
"Bima, kita gak bisa bicara disini. Ikut kami sebentar. Ada hal sangat penting soal almarhum ayah kamu yang harus kamu tahu," pangkas Rayven tegas dari kursi kemudi.
Mendengar kata almarhum ayah kamu, langkah Bima tertahan. Rasa ragu dan penasaran mengalahkan rasa takutnya. Dengan tubuh gemetaran, Bima akhirnya menyanggupi dan melangkah masuk ke dalam mobil.
Sepuluh menit kemudian, di sebuah kedai kopi kecil yang tenang dan tersembunyi tak jauh dari kawasan restoran.
Bima duduk kaki di sudut ruangan yang sepi. Tangannya yang dipenuhi bekas luka memegang cangkir teh hangat dengan gemetaran. Matanya bergerak gelisah menatap Rhea, Rayven dan Zora yang duduk di hadapannya.
"Jadi kalian ini siapa sebenarnya?" tanya Bima pelan dengan raut cemas.
Rayven menyodorkan sebuah kartu nama elegan berstempel Utomo Law Firm. "Saya pengacara. Dan kami bertiga sudah menyelidiki kasus kematian Pak Bambang."
Rhea lalu mengeluarkan bundelan salinan berkas dari tasnya dan membukanya tepat di depan Bima.
"Bima, dengarkan saya baik-baik," ujar Rhea lembut. "Selama ini Fadel dan ibunya menekan kamu karena mereka mengaku memegang surat warisan tinggal, kan? Itu semua bohong."
"Maksud Mbak, bohong gimana?" Bima mendongak kaget, matanya membelalak lebar.
"Surat warisan yang dipegang Fadel dan ibunya itu draf palsu yang sengaja dibuat untuk menipu kamu," cerocos Zora tak tahan untuk menimpali. "Pak Bambang gak pernah menyerahkan restoran ini ke mereka."
Rayven menunjuk lembaran sertifikat tanah asli dan akta resmi di atas meja. "Seluruh aset restoran Restu Ibu, tanah, dan sahamnya secara mutlak diserahkan Pak Bambang kepada kamu, Bima. Kamu adalah ahli waris tinggal yang sah di mata hukum."
Bima membeku seketika. Cangkir teh di tangannya bergetar hebat hingga airnya sedikit tumpah. Wajahnya yang pucat dipenuhi rasa syok yang luar biasa.