NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Imut

Transmigrasi Gadis Imut

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadia Utari

Lily adalah gadis biasa yang suka makan kue dan membaca novel, tiba-tiba masuk ke dalam dunia buku yang baru saja ia baca! Dan yang lebih parah—ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan penjahat sampingan yang nasibnya berakhir sangat menyedihkan di akhir cerita.

Dengan wajah imut, sifat polos, dan hobi makan kue, Lily bertekad mengubah takdirnya. Tapi siapa sangka, rencana hidup tenangnya malah berubah jadi rumit—karena siswa paling dingin di sekolah, ketua OSIS yang tegas, dan bahkan pewaris perusahaan besar… semuanya jadi terpesona padanya!

"Kau ini sebenarnya makhluk apa?" tanya siswa dingin itu dengan wajah datar, tapi tangannya tak melepaskan pinggangnya.
Lily tersenyum polos sambil memegang kue: "Aku cuma gadis yang suka makan, Mas~"

Apakah Lily bisa selamat dari akhir cerita yang tragis? Atau malah menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Utari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 13: Keterimaan dan Persahabatan yang Tetap Utuh

Keesokan paginya, langit cerah kembali tanpa satu pun awan mendung, seolah hujan semalam telah membersihkan segalanya—termasuk keraguan dan ketegangan yang selama ini tersembunyi di antara kami bertiga. Aku berjalan masuk ke gerbang sekolah dengan perasaan yang berbeda dari biasanya. Hatiku tidak lagi gelisah atau bimbang, melainkan penuh ketenangan dan kebahagiaan yang mendalam. Tangan kananku masih terasa hangat, seolah genggaman tangan Ethan semalam belum hilang. Namun di samping kebahagiaan itu, ada sedikit rasa cemas—bagaimana dengan Mark? Bagaimana kami akan menghadapinya setelah semuanya terungkap?

Pertama kali yang kulihat saat memasuki lorong sekolah adalah Ethan. Dia berdiri di dekat lokerku, mengenakan seragam rapi dengan senyum yang lebih lembut dan hangat dari sebelumnya. Begitu melihatku, ia berjalan mendekat tanpa peduli siapa pun yang melihat, lalu menggenggam tanganku dengan lembut namun pasti.

"Pagi, Lily," sapanya pelan, matanya bersinar bahagia. "Kau tidur nyenyak semalam?"

"Pagi, Ethan. Iya, sangat nyenyak," jawabku sambil tersenyum tulus, merasakan ketenangan yang luar biasa hanya dengan berada di dekatnya. "Kau?"

"Begitu juga. Karena tahu kau milikku sekarang," jawabnya lembut, lalu kami berjalan berdampingan menuju kelas. Siswa-siswi yang lewat menatap kami, berbisik-bisik dengan senyum penuh arti, namun aku tidak lagi merasa canggung. Biarlah mereka tahu. Aku tidak lagi menyembunyikan perasaanku.

Namun saat kami sampai di ruang istirahat, jantungku kembali berdebar saat melihat Mark sudah duduk di sana, menunggu kami. Dia mengenakan seragam ketua OSIS, wajahnya tenang namun terlihat ada perubahan halus di matanya—sedikit lebih jauh, lebih dewasa. Saat melihat kami berjalan berpegangan tangan, ia tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan seolah mengonfirmasi apa yang sudah ia yakini sejak semalam.

Kami duduk di hadapannya, dan sebelum aku sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau menjelaskan, Mark berbicara lebih dulu dengan nada yang tenang dan tulus.

"Kau tidak perlu menjelaskan apa pun, Lily," ucapnya lembut, menatapku dengan tatapan yang penuh pengertian. "Aku melihatnya semalam. Dan aku sudah tahu sejak lama hatimu condong ke arah Ethan. Aku tidak kecewa karena pilihanmu—aku hanya kecewa karena bukan aku yang kau pilih. Tapi itu bukan salahmu, dan bukan salahnya juga."

"Mark…" suaraku sedikit bergetar. "Kau adalah orang yang sangat baik bagiku. Dan aku tidak pernah bermaksud menyakitimu. Kalau bisa memilih dua orang sekaligus, aku pasti akan memilih kalian berdua. Tapi hati ini hanya bisa memilih satu."

Mark tersenyum lebih lebar, senyum yang tulus meski ada kesedihan di dalamnya. "Aku tahu. Dan itu hal yang paling aku kagumi darimu—kau selalu jujur pada hatimu sendiri. Itulah yang membuatmu begitu istimewa, Lily. Jangan pernah berubah." Lalu ia menatap Ethan, menjulurkan tangannya untuk bersalaman. "Jaga dia baik-baik, Ethan. Kalau kau menyakitinya, aku tidak akan ragu untuk mengambilnya darimu."

Ethan menjabat tangannya dengan erat, tatapannya penuh rasa hormat. "Aku berjanji. Aku akan menjaganya seumur hidupku. Dan kau tetap sahabatku, Mark. Tidak ada yang berubah soal itu."

Mark mengangguk, lalu kembali tersenyum padaku. "Dan kau, Lily… jangan merasa bersalah padaku. Aku akan tetap ada di sini, sebagai temanmu, sebagai pelindungmu. Dan siapa tahu… mungkin suatu hari nanti, aku juga akan menemukan orang yang ditakdirkan untukku. Dan saat itu tiba, aku akan bahagia untuk kalian berdua."

Hari itu, beban berat yang selama ini aku pikul di hatiku akhirnya terangkat sepenuhnya. Kami bertiga makan siang bersama seperti biasa, tertawa, bercerita, dan saling menyindir—persis seperti dulu, hanya saja sekarang tidak lagi ada rahasia atau ketegangan yang tersembunyi di antara kami. Persahabatan kami tidak hancur, justru semakin kuat karena kami saling jujur dan menghargai perasaan satu sama lain. Dan itu adalah anugerah terindah yang aku miliki selain cintaku pada Ethan.

1
little girl
terima kasih ya sudah mampir 😍😍
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!