Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.
Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.
Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.
Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 – Pangeran yang Tak Bisa Berdansa.
“Sudah, pokoknya tidak ada penolakan lagi!” tegas Raja Nolan dengan nada suara yang tak lagi bisa diganggu gugat.
“Mau tidak mau, kau harus menerima undangan ini dan pergi ke sana. Lagipula, ini adalah bagian dari tugas wajibmu sebagai seorang Pangeran Kerajaan Aureliania!”
“Baiklah... Ayahanda....” jawab Edward pasrah, menunduk tak sanggup lagi membantah kehendak ayahnya.
Dengan langkah lemas dan pundak terkulai lesu, sang Pangeran berjalan keluar meninggalkan aula singgasana, didampingi oleh Bernard yang berjalan setia di belakangnya.
Di sepanjang lorong istana yang megah, Edward hanya bungkam sembari terus merenungi nasibnya.
Jujur saja, ia sama sekali belum pernah berdansa dengan siapa pun seumur hidupnya.
Setiap kali acara besar istana digelar, Edward selalu memilih untuk mengisolasi diri di sudut paling sunyi akibat rumor-rumor mengerikan yang melekat pada dirinya. Jangankan berdansa, pengalaman mengobrol secara santai dengan seorang wanita saja ia tidak punya.
Apalagi sosok yang harus ia dampingi besok adalah seorang Putri Mahkota—pewaris sah dari Kerajaan Nivalis!
Salah mengambil langkah sedikit saja, bukan hanya reputasinya yang hancur, tetapi nama baik Kerajaan Aureliania pun bisa ikut tercoreng. Edward tentu sangat tidak ingin mengecewakan kedua orang tua angkatnya yang telah melimpahkan kasih sayang sebesar itu padanya.
Edward menghela napas panjang.
Sepertinya memang tidak ada pilihan lain... Aku harus belajar berdansa dari nol... batinnya pasrah.
Seketika, Edward menghentikan langkah kakinya di tengah lorong.
Tindakan mendadak itu membuat Bernard yang berjalan tepat di belakangnya langsung ikut berhenti, menaikkan sebelah alisnya heran.
Sebelum sang Pelayan sempat bertanya, Edward dengan gerakan secepat kilat berbalik badan. Ia memosisikan tubuhnya, lalu secara dramatis jatuh bertumpu pada satu lutut di hadapan Bernard.
Dengan raut wajah yang amat serius dan tatapan mata yang dalam, Edward mengulurkan tangannya seraya berkata,
“Maukah kau... berdansa denganku?”
Cring—
Seketika itu juga, suasana di lorong istana mendadak hening mencekam.
Tidak jauh dari sana, seorang pelayan wanita yang tengah berjalan membawa keranjang cucian penuh seketika mematung di tempat. Matanya melotot lebar dan mulutnya menganga tak percaya menyaksikan pemandangan surealis di depannya.
Bernard membeku sejenak, sebelum akhirnya memecah keheningan dengan ucapan polos yang terlontar secara spontan.
“Gimana?”
Edward menghela napas pendek, lalu kembali menatap Bernard dengan raut wajah yang tak kalah serius.
“Aku bilang, maukah kau berdansa denganku?”
“I-iya, saya mendengar Anda dengan sangat jelas, Tuan Muda!” sahut Bernard panik, mengibas-ngibaskan tangannya. “Tapi maksudnya itu... gimana?!”
“Ayolah, Bernard, bantu aku sedikit!” pusing Edward menjelaskan. “Aku ini sedang latihan cara mengajak Putri Iselyna berdansa nanti! Kau tahu sendiri, kan, betapa buruknya aku dalam hal-hal seperti ini?”
Seketika itu juga, Bernard mengembuskan napas lega yang amat panjang, seraya menyeka butiran keringat dingin yang mendadak membasahi dahinya.
“Fiuh... Saya kira Anda memiliki maksud lain...” gumam sang Pelayan bersyukur.
“Maksud lain? Maksudnya bagaimana?” tanyanya polos.
“Tidak ada. Lupakan saja, Tuan Muda,” Bernard berdeham keras untuk menutupi rasa canggungnya. “Jadi... Anda ingin belajar berdansa, benar?”
“Tentu saja!” ujar Edward dengan nada mantap.
“Aku tidak ingin mengecewakan Ayahanda dan Ibunda. Aku sudah berutang teramat banyak pada mereka berdua. Bagaimanapun caranya, aku ingin membuat mereka bangga saat acara besar itu berlangsung nanti.”
Bernard menatap Tuan Mudanya lembut, sebelum akhirnya tersenyum tipis.
“Ah... Sayang sekali. Jujur saja, saya ini kurang lebih sama seperti Anda, Tuan Muda. Dulu saat masih muda, saya bahkan sama sekali tidak mendapatkan pasangan di pesta dansa.”
Mendengar pengakuan jujur itu, Edward seketika menundukkan kepalanya, tampak amat kecewa.
“Tapi...” lanjut Bernard menggantungkan kalimatnya. “Saya kenal seseorang yang sangat lihai dalam urusan seperti ini.”
Mata Edward seketika berbinar cerah. “Benarkah?!”
Bernard memegangi dagunya, mengingat-ingat.
“Jika di jam-jam seperti sekarang, biasanya orang itu sedang berada di dapur utama istana. Jika kita beruntung, dia mungkin sedang punya waktu luang dan tidak terlalu sibuk dengan urusan istana.”
“Kalau begitu tunggu apa lagi?! Ayo kita segera menemui orang itu sekarang!” seru Edward antusias.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, sang Pangeran langsung bangkit berdiri dan melesat berlari, meninggalkan pelayannya di belakang.
“A-ah! Tunggu saya, Tuan Muda!” seru Bernard panik seraya menaikkan celananya dan berlari cepat menyusul sang Pangeran.
***
Meski hari masih sangat pagi, suasana dapur utama istana sudah tampak amat sibuk.
Para koki kerajaan sibuk memotong, mengupas, dan mengolah berbagai bahan makanan untuk persiapan jamuan makan siang. Sementara itu, belasan pelayan istana tampak hilir mudik membantu membawakan bahan-bahan segar serta sayuran yang dibutuhkan.
Di antara kesibukan yang riuh itu, tampak sosok Emma.
Sebagai pelayan pribadi Ratu sekaligus Kepala Pelayan Wanita tertinggi, wanita itu turut memikul tanggung jawab penuh atas higienitas serta efisiensi kerja di dapur istana demi memastikan seluruh sajian dihidangkan tepat pada waktunya.
Matanya yang jeli mengawasi setiap gerak-gerik para pegawai—mulai dari memeriksa tingkat kesegaran bahan makanan, hingga mengontrol area penerimaan barang di gudang istana yang berada tak jauh dari sana.
Sesaat kemudian, pandangan Emma menangkap kehadiran Edward dan Bernard yang melangkah masuk ke area dapur.
Menyadari kedatangan sang Pangeran, Emma dengan sigap membungkukkan tubuhnya penuh hormat, yang seketika diikuti serentak oleh seluruh staf dan koki di dapur.
““Salam hormat kami untuk Yang Mulia Pangeran Edward.”” sapa mereka membahana.
Emma melangkah maju menghampiri kedua tamu tak terduga itu.
“Yang Mulia, mohon maaf sebelumnya... Namun ada gerangan apa hingga Yang Mulia berkenan hadir ke tempat ini?” tanya Emma sopan.
“Apakah ada perintah khusus dari istana, ataukah Anda ingin memesan hidangan tertentu? Hamba bisa menyampaikannya secara langsung pada Kepala Koki jika Anda menginginkan menu khusus untuk makan siang nanti.”
“Ah, bukan seperti itu. Sebenarnya kami datang kemari khusus untuk menemuimu, Mrs. Emma,” sela Bernard tenang.
“Menemuiku?” Emma menaikkan sebelah alisnya heran.
Tanpa membuang waktu, Bernard segera menjelaskan seluruh situasi—mulai dari rasa cemas dan kecanggungan yang melanda sang Pangeran, hingga ide untuk melatih Edward agar lihai berdansa saat acara besar di Kerajaan Nivalis lusa nanti.
Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Bernard, Emma mengalihkan pandangannya pada Edward.
“Jadi... Anda meminta hamba untuk melatih Anda berdansa. Apakah benar begitu, Yang Mulia Pangeran?”
“Iya!” jawab Edward mantap tanpa ragu sedikit pun. “Apakah kau bisa melatihku?”
Emma menyunggingkan senyuman hangat penuh percaya diri, lalu menundukkan kepalanya sedikit.
“Tentu saja bisa, Yang Mulia.”
Kepala Pelayan itu menatap sang Pangeran dengan binar mata yang mantap.
“Hamba berjanji akan melatih Anda hingga benar-benar lihai... Sampai-sampai Tuan Putri dari Kerajaan Nivalis itu dipastikan akan terpesona dengan keterampilan berdansa Anda, Yang Mulia.”
Jangan lupa ke naskah aku juga ya