NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Transmigrasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nyvara

Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Jam di sudut kanan bawah layar monitor menunjukkan pukul 23:45 WIB. Jam bagi sebagian orang sudah masuk ke sesi istirahat malam. Tapi, suasana di lantai empat puluh lima Gedung Adidaya Tower terasa seperti kuburan beton, dingin, sunyi, dan hampa. Hanya terdengar dengungan pelan dari pendingin ruangan sentral dan ketukan ritmis jari di atas keyboard mekanik. ​Sarah, 38 tahun, Head of Human Resources Department (HRD) PT Adidaya Tbk, memijat pangkal hidungnya yang terasa kebas. Kacamata berbingkai tipis yang bertengger di hidungnya sudah terasa seberat barbel. Di atas meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni kokoh, berserakan puluhan map berwarna merah dan kuning. Masing-masing map berisi nasib ratusan karyawan, lembar evaluasi kinerja, grafik absensi, dan yang paling krusial: Rekomendasi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

​Perusahaan konglomerasi ini sedang berada di ambang kebangkrutan. Manajemen atas telah memberikan mandat mutlak kepada Sarah, pangkas 30% beban operasional dari sektor sumber daya manusia dalam waktu tiga bulan, atau perusahaan akan tenggelam. Bagi sebagian orang, memecat ratusan karyawan adalah beban moral yang menghancurkan jiwa. Namun bagi Sarah, ini adalah audit tahunan. Ini adalah metrik, angka, dan Key Performance Indicator (KPI). Ia tidak melihat wajah manusia di dalam map-map itu; ia melihat inefisiensi, kebocoran anggaran, dan redundansi posisi.

​"Ibu Sarah..." sebuah suara parau memecah keheningan.

​Sarah mendongak, di ambang pintu ruangannya yang terbuat dari kaca buram, berdiri Rina, staf HRD juniornya. Wajah gadis berusia 24 tahun itu pucat pasi, matanya berkantung hitam seperti panda yang kurang gizi. Rina memegang setumpuk dokumen rekapitulasi pesangon dengan tangan gemetar.

​"Ya, Rina? Apakah rekapitulasi divisi sales sudah selesai?" tanya Sarah dengan nada datar, tanpa intonasi empati sedikit pun. Suaranya terdengar seperti robot pengawas yang sedang bekerja, efisien, dingin, tanpa kompromi.

​"Sudah, Bu. Tapi... maaf, Bu. Apakah saya boleh pulang sekarang? Anak saya di rumah sedang demam tinggi, asisten rumah tangga saya baru saja menelepon," Rina memohon, suaranya bergetar menahan tangis sambil dalam hati berdo'a semoga tuhan memberinya keselamatan dari sosok seniornya itu.

​Sarah terdiam sejenak. Ia menatap Rina dari ujung rambut hingga ujung kaki. Di mata Sarah, Rina adalah aset perusahaan. Saat ini, aset tersebut sedang mengalami penurunan performa akibat intervensi masalah domestik. Berdasarkan Standard Operating Procedure (SOP) perusahaan, jam kerja lembur di masa krisis adalah kewajiban. Namun, Sarah juga tahu bahwa menahan karyawan yang pikirannya bercabang hanya akan menghasilkan human error yang fatal dalam dokumen legal. Dan itu tidak akan berakhir bagus, tingkat kerugian akan lebih tinggi dari profit penggunaan, jadi biarlah.

​"Tinggalkan dokumennya di meja saya, Rina. Kamu boleh pulang," ucap Sarah akhirnya.

​"Terima kasih! Terima kasih banyak, Bu Sarah!" Rina membungkuk berkali-kali, seolah baru saja diselamatkan dari tiang gantungan.

​"Tapi ingat," potong Sarah cepat, membuat gerakan Rina terhenti. "Besok pagi pukul 07:00 WIB, saya ingin kamu sudah ada di meja kerjamu untuk mengecek ulang seluruh kalkulasi pajak pesangon ini. Kesalahan satu digit saja bisa membuat perusahaan dituntut di Pengadilan Hubungan Industrial. Dan jika itu terjadi, namamu yang akan saya jadikan tameng pertama. Mengerti?"

​Rina menelan ludah dengan susah payah. "M-mengerti, Bu. Saya pamit."

​Setelah Rina menghilang di balik pintu lift, Sarah kembali sendirian. Ia meraih cangkir kopinya yang keempat malam ini. Kopi hitam pekat tanpa gula, sudah dingin dan terasa pahit menyengat di lidah, namun ia menelannya seperti meminum air kehidupan.

​Tiba-tiba, sebuah rasa nyeri yang tajam menusuk dada kirinya. Sarah meringis, memegang dadanya dengan tangan kiri. Nyeri itu menjalar perlahan ke lengan dan rahangnya, ia menarik napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungnya.

​"Asam lambung," gumamnya pada diri sendiri, meyakinkan otaknya bahwa tubuhnya baik-baik saja. Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan sebotol antasida, mengunyah dua tablet sekaligus tanpa air tanpa mempedulikan rasa pahit yang memenuhi area mulutnya lalu kembali menatap layar monitor.

​Sarah adalah definisi nyata dari workaholic. Ia telah mengabdikan seluruh masa mudanya untuk menaiki tangga korporat. Saat teman-teman sebayanya sibuk pergi kencan, menikah, dan mengunggah foto bayi mereka di media sosial, Sarah sibuk mengambil sertifikasi manajemen SDM, mengikuti seminar hukum ketenagakerjaan, dan memecat manajer-manajer korup. Baginya, cinta masuk kedalam kategori investasi dengan Return on Investment (ROI) yang paling tidak stabil dan wanita itu sangat benci sesuatu yang tidak stabil. Baginya karier adalah angka pasti yang bisa dikalkulasi. Ia tidak punya suami atau apapun yang nama status romansa lainnya yg punya patner, tidak punya anak, bahkan kucing peliharaan pun tidak punya karena ia tahu jika dirinya tidak memiliki waktu untuk memberi makan makhluk hidup lain. Semua ritme hidupnya berada pada kendali dan keputusan penuh ditangannya.

​"Fokus, Sarah. Tinggal divisi pemasaran dan produksi," bisiknya, memaksa matanya yang mulai buram untuk kembali membaca rentetan baris di Microsoft Excel.

​Setiap baris yang ia blok dengan warna merah berarti satu keluarga besok akan kehilangan mata pencahariannya. Apakah ia peduli? Secara profesional, ya. Ia memastikan pesangon mereka dihitung sesuai Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Secara emosional? Tidak. Perusahaan adalah sebuah kapal besar. Jika kapal ini kelebihan muatan dan mulai tenggelam, membuang sebagian penumpang agar mayoritas bisa selamat adalah langkah logis yang tidak bisa dihindari. Itulah filosofi HRD ala Sarah.

​Pukul 03:30 dini hari, laporan akhir setebal 150 halaman akhirnya selesai dicetak. Mesin printer berbunyi bising, mengeluarkan lembar demi lembar yang berisi strategi restrukturisasi paling agresif dalam sejarah PT Adidaya. ​Sarah menyusun lembaran tersebut, memastikan tidak ada satupun kesalahan dalam urutan lembar demi lembar lalu kemudian menjilidnya dengan rapi dalam map kulit berwarna hitam eksklusif. Ia mengelus sampul map itu seperti seorang seniman yang baru saja menyelesaikan mahakarya lukisannya. Ini adalah tiketnya menuju posisi Chief Human Resources Officer (CHRO), ini adalah puncak dari segalanya.

​Rasa nyeri di dadanya kembali menyerang, kali ini jauh lebih kuat hingga membuatnya terbatuk. Napasnya menjadi pendek-pendek. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan di dahi dan pelipisnya.

​"Hanya tinggal presentasi jam 9 pagi nanti," batinnya, mengabaikan alarm bahaya yang dikirimkan oleh sistem biologis tubuhnya. Ia menyandarkan kepalanya di kursi, menutup mata sejenak, berniat beristirahat selama satu jam sebelum fajar menyingsing. Ia tidak tahu, bahwa itu adalah awal dari akhir segalanya.

-_----------

Hai ketemu lagi, akhir-akhir ini saya lagi coba nyusun cerita dengan berbagai tema belum pernah ku jadikan sebagai tema utama dalam cerita ku sebelum-sebelumnya. Awalnya sempat kepikiran mau buat tema romansa romantis, tp nggak jadi karena mengingat saya ini bahkan jauh dari dua kata itu. Jadi ya coba buat cerita Transmigrasi aja, bukan tema baru tapi menurut saya cukup menarik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!