Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.
Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?
#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Untuk pertama kalinya mereka benar-benar berada dalam satu kamar sebagai suami istri. Tira berdiri di dekat jendela, memandangi lampu-lampu kota yang berkilauan dari kejauhan. Hari yang begitu panjang akhirnya selesai. Akad, pesta, keluarga, tamu, ucapan selamat, bahkan kemunculan Dimas yang sempat membuatnya kesal, semuanya sudah lewat. Sekarang hanya ada dirinya dan Fahri. Lelaki yang beberapa minggu lalu masih terasa seperti orang asing, tetapi malam ini sudah menjadi orang yang paling dekat dengannya.
Fahri meletakkan beberapa barang di atas meja, kemudian menatap istrinya. “Capek?” tanyanya.
Tira mengangguk. “Banget.”
“Mau istirahat?”
“Sebentar.” Tira tersenyum. “Aku masih belum terbiasa.”
“Dengan apa?”
“Dengan status. Aku sekarang istri Abang.”
Fahri tertawa kecil. “Memangnya sebelum ini apa?”
Tira memukul lengannya pelan. “Ya bukan istri.”
“Sekarang sudah.” Fahri mendekat, lalu berdiri di sampingnya. Untuk beberapa saat mereka sama-sama memandang keluar jendela. Tidak ada percakapan. Anehnya, keheningan itu tidak terasa canggung. Fahri kemudian berkata pelan, “Kamu sudah siap mengarungi samudra kehidupan bersamaku, Sayang?”
Tira menoleh. Ada senyum malu di wajahnya. “Siap, Sayang.” Ia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Fahri. “Ke mana pun kamu pergi, aku siap ikut bersamamu, suamiku.”
Fahri membalas genggamannya. Mereka sama-sama tahu pernikahan bukan cerita yang hanya berisi pesta dan bulan madu. Akan ada hari ketika mereka berbeda pendapat. Akan ada hari ketika salah satu lelah. Akan ada hari ketika kesabaran diuji. Tetapi mereka memilih berjalan bersama. Dua orang yang sebelumnya bahkan tidak saling mengenal akhirnya menjadi suami istri. Dua orang yang tidak pernah merencanakan pertemuan mereka kini harus belajar memahami satu sama lain.
Tira tidak pernah menyangka bahwa lelaki asing yang dipilih ayahnya justru akan menjadi seseorang yang perlahan membuat hatinya tenang. Ia juga tidak tahu bahwa Fahri sebenarnya bukan lelaki asing bagi keluarganya.
Jauh sebelum Fahri mengenal Tira, ayah Tira sudah mengenalnya lebih dahulu. Fahri berasal dari kampung yang sama dengan ayah Tira. Sejak kecil, Fahri sudah menjadi yatim piatu. Ia tidak tumbuh dalam keluarga besar yang lengkap seperti kebanyakan anak lain. Ia dibesarkan oleh kakek dan neneknya. Hidupnya sederhana. Tidak ada kemewahan yang bisa dibanggakan. Tidak ada orang tua yang bisa menjadi tempatnya bergantung. Ia tumbuh dengan kedua tangannya sendiri dan didikan dua orang tua sepuh yang mengajarinya satu hal penting kalau tidak punya banyak harta, setidaknya jangan miskin akhlak.
Ayah Tira beberapa kali melihat Fahri sejak masih muda. Ia melihat bagaimana anak itu selalu menyapa orang yang lebih tua, membantu tetangga tanpa banyak bicara, dan tidak pernah merasa rendah hanya karena hidupnya sederhana. Ketika ada kerja bakti, Fahri datang lebih dahulu.
Ketika ada tetangga sakit, ia ikut mengantar. Ketika kakek dan neneknya membutuhkan sesuatu, ia tidak pernah mengeluh. Bagi orang lain, Fahri mungkin hanya lelaki biasa. Pekerjaannya biasa. Penampilannya sederhana. Hartanya tidak berlimpah. Tetapi bagi ayah Tira, ada sesuatu yang jauh lebih mahal daripada semua itu. Budi pekertinya.
Suatu ketika, setelah Fahri dewasa dan mulai bekerja sebagai pegawai BUMN, ayah Tira melihatnya pulang kampung. Mereka berbincang cukup lama. Dari percakapan itu, ayah Tira semakin yakin bahwa anak muda yang dulu ia kenal sebagai bocah yatim itu telah tumbuh menjadi lelaki yang bisa dipercaya. Karena itulah ketika memikirkan masa depan Tira, nama Fahri muncul di kepalanya. Bukan karena Fahri paling kaya. Bukan karena pekerjaannya paling bergengsi. Bukan pula karena keluarga Fahri memiliki sesuatu yang bisa menguntungkan mereka. Justru sebaliknya. Ayah Tira memilihnya karena ia tahu bagaimana Fahri memperlakukan manusia. “Lelaki yang baik belum tentu kaya,” pernah dikatakan ayah Tira kepada istrinya. “Tapi kalau akhlaknya baik, insyaAllah dia tahu bagaimana menjaga keluarganya.” Itulah alasan sebenarnya di balik perjodohan tersebut.
Tira baru mengetahui semuanya setelah menjadi istri Fahri. Ia pernah bertanya kepada ayahnya, “Kenapa Ayah yakin sekali sama Abang?”
Ayahnya hanya menjawab, “Karena Ayah sudah mengenalnya jauh sebelum kamu. Bahkan ketika kita pulang kampung, Ayah selalu mengusahakan mencari dia, ayah lega jika sudah bertemu. Anak itu punya kebaikan hati yang membuat Ayah terkesan. Rasa-rasa sayang kalau dia tak menjadi bagian keluarga kita."
Sekarang Tira mulai mengerti. Ia teringat bagaimana Fahri mengurus pernikahan mereka. Tidak banyak bicara, tetapi hampir semuanya dipikirkan. Ia mencari tahu apa yang disukai Tira dari keluarganya. Ia menyiapkan rumah tanpa diminta. Ia tidak pernah membuat Tira merasa sedang membeli cinta dengan harta. Bahkan ketika Dimas datang dan hampir mengacaukan pesta mereka, Fahri tidak membuat keributan. Ia hanya berdiri di depan Tira dan menjaga agar masalah tidak menjadi lebih besar.
Tira menatap suaminya yang malam itu sedang membuka koper. Lelaki itu sama sekali tidak terlihat seperti pahlawan dalam cerita. Tidak tampan secara berlebihan, tidak pandai merayu, bahkan kadang terlalu serius. Tetapi ada ketenangan yang membuat Tira merasa aman. “Bang.”
Fahri menoleh. “Iya?”
“Abang tahu tidak kenapa Ayah memilih Abang?.”
Fahri tersenyum. “Kenapa?”
“Katanya Abang orang baik.”
Fahri tertawa kecil. “Ayah melebih-lebihkan.”
“Nggak” Tira menggeleng. “Bahkan saat bertemu Abang, aku tiba-tiba yakin.”
Fahri tersenyum. “Saya juga.”
Malam itu, Tira akhirnya memahami sesuatu. Kadang-kadang hidup tidak memberikan seseorang apa yang kita minta. Kita meminta cinta yang sudah kita kenal selama bertahun-tahun, tetapi justru diberi seseorang yang sama sekali asing. Kita menangisi pintu yang tertutup, padahal di depan kita ada pintu lain yang diam-diam sudah dibukakan.
Tira tidak tahu apakah Fahri akan menjadi cinta terbesar dalam hidupnya. Namun malam itu ia mulai percaya bahwa mungkin cinta tidak selalu datang lebih dahulu sebelum pernikahan. Kadang cinta justru tumbuh setelah dua orang berani memutuskan untuk saling menjaga. Dan Fahri, lelaki yatim piatu yang sejak kecil hanya memiliki kakek dan nenek sebagai tempat pulang, kini memiliki seorang istri. Tira. Sementara Tira, perempuan yang selama delapan tahun menunggu seorang lelaki berani mengajaknya menikah, akhirnya mendapatkan seorang suami. Bukan lelaki yang ia tunggu. Tetapi lelaki yang datang dengan keberanian itu.
***
Malam semakin larut ketika Tira selesai membersihkan wajah dan keluar dari kamar mandi dengan piyama sederhana. Ia berhenti begitu melihat Fahri yang sedang duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponsel. Lelaki itu mengangkat kepala. Mata mereka bertemu. Keduanya sama-sama diam. Tira mendadak merasa suasana kamar terlalu sunyi.
"Panas," kata Tira, sembari duduk di ujung kasur. Ia berusaha untuk tenang meskipun sebenarnya jantungnya deg-degan.
"Masa? Padahal ACnya nyala." Fahri melihat AC kamar. "Atau jangan-jangan kamu takut, ya?" Fahri tersenyum jahil.