Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Keheningan
Langkah Nara yang melambat di anak tangga terakhir kini membawanya tepat berhadapan dengan Zaid Albani Mahendra.
Langkah-langkah kecil itu terasa bagai perjalanan menuju dunia baru yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya
Di hadapan ratusan pasang mata yang menyaksikan, Zaid mengulurkan tangannya. Nara ragu sejenak, merasakan dingin di jemarinya sendiri sebelum akhirnya menyambut uluran tangan bernuansa hangat dan kukuh itu.
Prosesi penyerahan mas kawin dan pembatalan wudhu berlangsung begitu khidmat.
Saat Zaid menempelkan ibu jarinya di kening Nara sembari melafazkan doa secara perlahan, hembusan napas hangat pria itu menyapu keningnya.
Ada getaran aneh yang menjalar di tengkuk Nara, sebuah perasaan asing yang menuntut tempat di hatinya yang masih kalut.
Nara kemudian mencium punggung tangan Zaid, menandai tunduknya ia pada ikatan pernikahan yang baru saja diresmikan.
Suasana haru membuncah ketika pembawa acara mengarahkan kedua mempelai menuju pelaminan anggun bernuansa sage green dan gold di area taman belakang.
Lantunan instrumen petikan kecapi dan suling yang dipadu dengan aransemen modern mengalun lembut, membalut suasana pesta taman yang intim tersebut.
Satu per satu tamu undangan mulai berbaris untuk memberikan selamat. Raut kebahagiaan tampak terpancar jelas dari para relasi bisnis Pak Rahardja Widodo maupun keluarga besar Zaid.
Pak Firman Abimanyu melangkah pertama bersama istrinya, Dessy Kumalasari. Pria paruh baya bernuansa wibawa itu menepuk bahu Zaid agak keras, menatap keponakannya dengan bangga.
"Selamat, Zaid. Kamu sudah memegang amanah besar sekarang," ujar Pak Firman dengan suara bass-nya yang hangat. "Jagalah Nara sebagaimana kamu menjaga kehormatan keluargamu sendiri."
Zaid mengangguk hormat, mengukir senyum tipis yang terkesan sangat sopan, namun tak tersirat emosi mendalam di sana.
"Terima kasih, Paman. Insya Allah, Zaid akan ingat pesan Paman."
Tante Dessy beralih merengkuh Nara ke dalam pelukan hangat beraroma parfum mawar yang lembut.
"Selamat datang di keluarga besar kami, Nara sayang. Kamu kelihatan cantik sekali hari ini."
"Terima kasih banyak, Tante... eh, Ibu," sahut Nara agak gugup, masih menyesuaikan diri dengan panggilan baru tersebut.
"Panggil Mama saja, biar makin dekat seperti Adel memanggil Mama" ralat Dessy diselingi tawa kecil yang menenangkan.
Di belakang mereka, Adel menyenggol lengan Nara pelan sembari mengedipkan sebelah matanya goda.
"Selamat ya, Kakak Ipar! Kalau Mas Zaid mulai dingin dan kaku seperti kulkas dua pintu, bilang sama aku ya, nanti aku omongin ke papaku."
Nara hanya tertawa canggung menanggapi kelakar Adel, sementara Zaid di sampingnya hanya menoleh sekilas tanpa memberikan reaksi berarti.
Ekspresi Zaid tetap tenang, terlalu tenang untuk seorang pria yang baru saja melepas masa lajangnya.
Selanjutnya, giliran Rika dan Siska yang melangkah mendekati pelaminan dengan mata berbinar-binar. Rika langsung memeluk Nara erat-erat, hampir mengabaikan tatanan sanggulnya sendiri.
"Ra... selamat ya! Aku beneran masih nggak nyangka kamu nikah hari ini. Tapi kamu bener-bener anggun banget, kayak ratu!" bisik Rika terharu.
"Makasih ya, Ka, Ka Siska... makasih sudah bantu aku dari pagi tadi," bisik Nara tulus.
Siska menyalami Zaid dengan membungkuk sopan. "Selamat ya, Pak Zaid. Mohon jaga sahabat kami baik-baik."
"Terima kasih," jawab Zaid singkat, padat, dan lugas. Jawaban khas dari seorang pengusaha yang terbiasa efisien dalam berkata-kata.
❤️
❤️
Selama hampir dua jam, Nara dan Zaid berdiri menyambut sapaan, jabatan tangan, serta kilatan kamera fotografer.
Sunggingan senyum yang terukir di bibir Nara perlahan terasa seperti topeng yang berat.
Kakinya yang mengenakan high heels lima sentimeter mulai terasa kebas dan pegal. Setiap kali pandangannya beradu dengan pandangan Zaid, ia tidak menemukan kehangatan seorang suami yang baru menikahi belahan jiwanya.
Yang ia temukan hanyalah sepasang mata tajam yang dingin, tenang, dan penuh rahasia.
Zaid menjalankan perannya sebagai pengantin pria dengan sangat sempurna di depan publik, namun terasa sangat jauh dan berjarak secara emosional.
Sore harinya, ketika matahari mulai menggelincir ke ufuk barat dan para tamu undangan telah berpamitan pulang, riuk pikuk perayaan bertransformasi menjadi keheningan yang canggung.
Karangan bunga di sepanjang jalan depan rumah masih berdiri megah, namun atmosfer di dalam rumah Rahardja Widodo telah bergeser.
Bunda Mayang menuntun Nara kembali ke lantai dua. Kamar utama Nara kini telah berubah total menjadi kamar pengantin.
Kelopak bunga mawar merah dan putih ditaburkan di atas sprei sutra berwarna krem. Aroma terapi beraroma lavender dan sandalwood menguar lembut dari diffuser di sudut ruangan, menciptakan suasana romantis yang dirancang khusus untuk sepasang pengantin baru.
"Istirahatlah dulu, Nak. Kamu kelihatan capek banget," ujar Bunda Mayang lembut sembari mengelus pipi Nara. "Bunda turun dulu ya, mau bantu membereskan catering di bawah."
"Iya, Bunda. Terima kasih," sahut Nara pelan.
Setelah ibunya berlalu dan menutup pintu, Nara berdiri terpaku di tengah kamar. Ia menatap hiasan bunga melati yang menjuntai di kepala ranjang, lalu beralih menatap pantulan dirinya di cermin besar.
Kebaya mewahnya terasa menekan dada, menyisakan sesak yang belum sempat ia muntahkan sejak pagi.
Suara kenop pintu yang diputar memecah lamunan Nara. Jantungnya seketika melonjak ke tenggorokan.
Zaid melangkah masuk ke dalam kamar. Pria itu sudah melepas peci dan ronce bunga melati yang sebelumnya menghiasi beskap putihnya.
Dua kancing teratas kemejanya sudah dibuka, melonggarkan kesan kaku yang melekat sepanjang acara tadi.
Ia menutup pintu rapat-rapat, lalu menguncinya dari dalam dengan bunyi klik yang terdengar begitu nyaring di telinga Nara.
Seketika itu juga, topeng keramahan yang ditunjukkan Zaid di depan para tamu menguap tanpa sisa. Wajahnya kembali pada raut aslinya, dingin, datar, dan tak tersentuh.
Nara membalikkan badan, berdiri kaku di dekat meja rias. Tangannya meremas pinggiran meja kayu tebal itu untuk menopang tubuhnya yang mendadak lemas.
Zaid tidak langsung berjalan mendekatinya. Pria itu melepaskan jam tangan mewahnya dan meletakkannya di atas nakas dengan denting halus.
Tatapannya kemudian menyapu sekeliling kamar yang dipenuhi hiasan romantis tersebut, sebelum akhirnya tertuju lurus pada Nara.
Tidak ada kata-kata manis. Tidak ada rangkulan hangat. Kebahagiaan pengantin baru yang seharusnya memenuhi ruangan itu menguap digantikan oleh atmosfer yang canggung dan menekan.
"Kamu bisa membersihkan diri duluan," suara Zaid memecah keheningan. Intonasi suaranya datar, tanpa nada kehangatan sedikit pun.
Nara menelan ludah yang terasa kesat.
"Zaid, kamu nggak mau mandi dulu? Nggak apa-apa kalau Mas mau duluan."
Zaid menatap Nara dingin, matanya meneliti wajah cantik di hadapannya yang kini menyiratkan keletihan dan rasa cemas yang samar.
"Saya butuh memeriksa beberapa email pekerjaan sebentar di sofa. Kamu duluan saja."
Zaid kemudian berjalan melintasi ruangan menuju sofa panjang di dekat jendela besar.
Ia mendudukkan dirinya di sana, mengeluarkan ponsel dari saku celananya, dan langsung fokus pada layar tanpa memedulikan Nara lagi.
Sikap dingin Zaid seolah menjadi tamparan realita bagi Nara. Pernikahan ini memang tidak berlandaskan cinta sejak awal.
Ini adalah ikatan yang lahir dari kesepakatan keluarga, kompromi, dan takdir yang saling bertaut rumit.
Namun, diperlakukan seperti orang asing di kamar pengantinnya sendiri tetap saja menorehkan denyut nyeri yang asing di dada Nara.
Dengan langkah pelan dan kepala tertunduk, Nara berjalan menuju kamar mandi membawa pakaian ganti.
Ia sengaja menghabiskan waktu lebih lama di dalam shower, membiarkan air hangat membasahi tubuhnya dan meluruhkan sisa-sisa riasan tebal di wajahnya.
Di bawah kucuran air, Nara memejamkan mata erat-erat. Bayangan masa lalunya bersama Devino sempat melintas, namun dengan cepat ia tepis. Ia tahu, tidak ada jalan untuk berbalik. Ia kini adalah istri sah Zaid Albani Mahendra.
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏