NovelToon NovelToon
Setelah Kata Usai

Setelah Kata Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Menikah dengan Kerabat Mantan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Fahri Sohil Munawar

Beberapa hubungan berakhir bukan karena rasa cinta yang pudar, melainkan karena rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
​Diputus sepihak oleh Putri membuat Alex terjebak dalam labirin pertanyaan tanpa jawaban. Rasa patah hati membawanya pada titik terendah, memaksa Alex merangkak bangkit dan menata ulang takdirnya lewat kata demi kata yang ia tulis.
​Kehadiran Syafa seperti cahaya senja yang tenang—menghangatkan hatinya yang beku dan membantunya menyembuhkan luka. Namun, saat batas antara masa lalu dan masa depan semakin kabur, Alex dihadapkan pada kenyataan pahit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
​"Setelah Kata Usai" adalah perjalanan emosional tentang bagaimana menyembuhkan diri dari pengkhianatan, memahami arti melepaskan, dan menemukan cinta sejati di tempat yang paling tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahri Sohil Munawar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Hati mulai berbicara

Hai, Lex..."

Sebuah pesan masuk meretas keheningan pagi. Tumben sekali jam segini ada nomor tak dikenal menghubungi ponselnya.

Dengan mata remang-remang, Alex mengusap layarnya seraya bangkit menduduki tepi tempat tidur. "Iya, siapa?" balasnya singkat.

"Gue Angel."

Mata Alex seketika melotot membaca balasan itu. Rasa kantuknya hilang menguap tanpa sisa. Pagi-pagi begini, dadanya langsung dihantam gemuruh panas oleh sosok wanita yang sudah merusak hubungannya dengan Putri dan menghancurkan hatinya berkali-kali.

"Oh," jawab Alex sedingin es. Ia enggan memperpanjang atau mengorek kembali sampah masa lalu yang sudah membusuk.

"Lex... boleh kita ketemu?" tanya Angel lewat pesan berikutnya.

Emosi Alex yang sempat tertahan akhirnya mendidih juga. Jemarinya menari cepat di atas layar. "Mau ngapain lagi? Lo belum puas sama drama yang udah Lo buat? Mau Lo apa sih, Angel?!"

"Nggak gitu, Lex... Gue sayang sama Lo. Gue pengen kita kayak dulu lagi," balas Angel.

Alex tertawa sumbang membaca kalimat manis tanpa dosa itu. "Idih! Mana cowok yang dulu Lo bangga-banggakan sampai Lo tega ninggalin gue? Dulu gue sesayang itu sama Lo, Ngel! Nggak usah pura-pura amnesia, dasar munafik!"

"Lex, please... Gue pengen ketemu Lo buat yang terakhir kali. Gue pengen jelasin apa yang sebenarnya terjadi."

Alex terdiam mematung. Kobaran amarah di dadanya perlahan berbenturan dengan rasa penasaran yang mendalam. Apa tujuan Angel menyebarkan foto-foto itu? Apa maksudnya muncul lagi saat hidup Alex baru saja mau tertata?

Demi mendapatkan jawaban dan menyudahi kerumitan ini agar tidak berbuntut panjang dengan Putri nanti, Alex akhirnya mengalah.

"Oke. Nanti malam," ketik Alex singkat, menahan geram.

Usai percakapan sengit itu, Alex berusaha menetralkan pikirannya. Hari ini ia tidak ada jadwal kuliah, jadi ia bersiap untuk berangkat lebih awal menjaga toko fotokopi milik pamannya.

Namun, di tengah perjalanan menunggangi motornya, timbul dorongan aneh di dalam benak Alex. Entah angin apa yang bertiup, ia mendadak ingin mengambil jalur memutar yang terpaut lumayan jauh dari rute biasanya jalur yang kebetulan melintasi depan rumah Syafa.

Saat motornya perlahan melintas di depan pagar tinggi itu, tebakannya tepat. Sosok wanita berhijab itu tampak sedang berdiri sendirian di pinggir jalan dengan wajah gelisah, jemarinya tak berhenti mengusap layar ponsel. Sepertinya ia sedang kesulitan mendapatkan jemputan.

Alex memelankan laju motornya lalu menepi tepat di hadapan Syafa.

"Assalamu’alaikum, Ukhti," sapa Alex memecah lamunan Syafa.

Syafa mengelus dadanya kaget. "Astaghfirullah! Wa’alaikumsalam... Lo ngapain di sini?"

"Nggak apa-apa, cuma lagi pengen lewat sini aja," jawab Alex berbohong tipis. "Lo sendiri ngapain berdiri di luar? Nunggu ojol?"

Syafa mendesah pelan dengan raut wajah cemberut yang menggemaskan. "Iya nih, susah banget dapet ojol dari tadi. Mana si Karin nggak bisa jemput lagi."

Melihat raut panik Syafa, Alex menepuk jok belakang motornya. "Ya udah, ayo bareng gue aja."

 

Syafa menatap Alex ragu. "Serius? Nggak kerepotan?"

"Ayo, udah... santai aja," puji Alex meyakinkan.

Setelah Syafa naik, Alex memacu motornya membelah jalanan kota menuju kampus. Di sepanjang perjalanan, terpaan angin pagi mengiringi obrolan ringan di antara mereka.

"Eh, Lo bukannya nggak ada kelas ya hari ini?" tanya Syafa sedikit berteriak menembus deru angin.

"Emang nggak ada," sahut Alex dari balik helm.

"Terus ini Lo mau kemana? Mau langsung ke tempat fotokopi?"

Alex tersenyum tipis di balik visor helmnya. "Nah, itu tahu.”

Sesampainya di halaman kampus, Syafa turun dari jok belakang motor Alex. Mengarahkan tatapannya tepat ke mata Alex, ukiran senyum manis merekah di wajah mahasiswi Psikologi itu.

​"Makasih ya, Lex," tutur Syafa tulus.

​"Iya, santai aja. Gue duluan ya... semangat presentasinya!" balas Alex tersenyum tipis.

​"Oke, hati-hati di jalan ya kamu!" sahut Syafa melambaikan tangan.

​Setelah lambaian tangan itu menghilang, Alex kembali memutar selongsong gas motornya menuju toko fotokopi milik pamannya. Namun, baru beberapa meter melaju dari tempat ia menurunkan Syafa, mendadak dua sosok berdiri menghadang di tengah jalan.

​Umam dan Andre.

​Ckiieettt!

​Alex menginjak rem mendadak. Beruntung, rem motornya cukup pakem sehingga tidak menyenggol tubuh kedua sahabatnya itu.

​"Huuuh... untung nggak ketabrak!" gerutu Alex elus dada, heran dengan kelakuan nekat temannya.

​Umam langsung memburu dengan muka menggoda, menyenggol lengan Alex. "Ciye, ciye... Baru kemarin kenal, sekarang udah main jemput-jemputan aja tuh cewek!"

​Alex mendengkus, mencoba bersikap biasa. "Apaan sih? Gue cuma kebetulan lewat tadi. Kasihan dia nggak dapat jemputan."

​"Alah, basi alasan Lo, Lex!" goda Umam tertawa mengejek.

​"Udah, udah, minggir! Gue mau ke toko nih," usir Alex menepis tangan Umam.

​"Ya udah, ntar sore gue sama Andre ke toko Lo ya!" teriak Umam saat Alex mulai melajukan motornya. 

​"Oke, gue tunggu," sahut Alex dari balik helm.

​Suasana toko fotokopi siang itu cukup lengang. Di tengah denting mesin yang terdiam, seorang wanita melangkah masuk mendekati meja kasir. Alex menatap wajah itu asing sejenak, sebelum ingatan kelamnya merekam kembali siapa sosok di hadapannya.

​Angel.

​"Lex..." panggil Angel pelan.

​Dahi Alex berkerut. "Lo ngapain ke sini?" tanya Alex dingin, bingung dari mana Angel bisa mengetahui keberadaannya.

​"Gue mau jelasin soal Putri... Boleh?" tanya Angel dengan tatapan memohon, berharap Alex mau memberinya kesempatan berbicara.

​Alex menarik napas panjang, lalu mengangguk singkat. "Oh... oke."

​"Jadi gini, Lex. Sebenarnya... foto yang diterima Putri saat itu emang berasal dari gue. Tapi... itu semua atas suruhan Putri sendiri," tutur Angel perlahan.

​Alex membeku. "Maksudnya?"

​Angel menghela napas, keberaniannya terkumpul. "Putri itu sebenarnya udah lama pengen putus dari Lo. Pas masih pacaran sama Lo pun, dia sebenarnya udah suka sama Marko. Tapi karena Putri nggak mau kelihatan jahat atau jadi pihak yang mutusin, dia nge-chat gue... minta tolong buat bikin skenario seolah-olah Lo yang jalan sama gue."

​Mendengar pengakuan itu, bagai ada hantaman keras yang meremukkan dada Alex. Dunia seolah berhenti berputar sejenak. Namun, Alex berusaha keras mempertahankan raut wajah tegar, menyembunyikan badai kekecewaan yang mengamuk di dalam hatinya.

​"Terus... apa yang Lo dapat dari rencana busuk dia?" tanya Alex dengan suara tertahan.

​Mata Angel meredup rasa bersalah. "Gue kira... setelah Lo putus sama Putri, Lo bakal nyari gue lagi, Lex. Waktu itu gue juga baru putus dan butuh pelampiasan. Eh, ternyata setelah kejadian itu, cowok gue malah balik lagi. Maaf ya, Lex..."

​Alex menatap Angel tanpa ekspresi. "Oh, gitu. Ya udah, makasih infonya," sahut Alex sedingin es.

​Tidak ada bentakan, tidak ada amarah yang meledak. Namun di balik sikap dinginnya, rasa sakit hati Alex telah berubah menjadi kebencian yang mendalam. Penyesalannya pernah mencintai Putri sirna seketika, digantikan oleh kepastian bahwa wanita itu tak akan pernah punya tempat lagi di hidupnya.

​Melihat respons Alex yang begitu datar, Angel akhirnya sadar ia tak bisa berbuat banyak lagi.

 "Ya udah, Lex... Gue cuma mau Lo tahu cerita sebenarnya. Tolong jangan kasih tahu Putri dulu ya."

​"Oke," jawab Alex singkat.

​Angel pun melangkah pergi meninggalkan toko. Tinggallah Alex seorang diri, mencoba kembali fokus pada tumpukan kertas di meja. Pamannya baru saja mengirim pesan bahwa ada banyak pesanan fotokopi yang harus diselesaikan hari ini.

​Namun, pikiran Alex terlanjur bising. Ia tak pernah menyangka, hubungan yang ia jaga mati-matian berlanjut tahunan harus kandas hanya karena manipulasi murah dan alasan yang sama sekali tidak masuk akal.

​Di tengah sibuknya jemari Alex merapikan berkas-berkas, ponsel di mejanya bergetar. Sebuah pesan baru masuk dari Syafa.

​Syafa: "Lex, ntar bisa anterin gue pulang nggak?"

​Alex menatap layar ponselnya cukup lama. Di antara reruntuhan rasa sakit akibat kebohongan masa lalu, sebuah pesan sederhana dari Syafa mendadak terasa seperti setetes air di tengah padang pasir.

​[ AKHIR BAB 10 ]

1
Putry Chan
deskripsi terlalu bertele-tele, belum nyambung.
judul dan tagar tidak nyambung " dusta yang sempurna" tema balas dendam, romansa fantasi tapi deskripsi nya hanya berbicara putus cinta dan trauma tidak ada unsur kebohongan, fantasi, atau persaingan.
tidak memancing penasaran.
kurang emosi yang terasa

dan cover tulisan belum menyatu
kurang memikat mata
belum ada menggambar isi cerita
Fahri Sohil Munawar: terimakasih kak atas sarannya akan saya perbaiki terimakasih mohon bimbingannya
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
Fahri Sohil Munawar: makasih kak sudah mampir 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!