Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.
Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.
Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.
Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: SISIK DI PERGELANGAN TANGAN
Turun dari lereng Gunung Wuyin yang terisolasi bukanlah perkara mudah, terutama saat angin dingin terus berhembus kencang membawa kepingan es. Shen Rui berjalan di depan, memotong semak-semak yang tertutup salju tebal dengan gagang pedangnya untuk membuka jalan. Di belakangnya, perempuan tanpa nama itu melangkah perlahan. Tubuhnya yang lemah membuat setiap pijakan terasa amat berat, tetapi ia memaksakan diri agar tidak tertinggal.
Sesekali, matanya menatap punggung Shen Rui—sosok pria berwajah tegas dengan mantel bulu serigala yang memancarkan aura dingin namun misterius. Ada sesuatu yang tak terjelaskan dalam dadanya; rasa asing yang ganjil namun terasa begitu dekat, seolah-olah ia telah mengenal cara berjalan pria itu sejak ribuan tahun lalu.
Setibanya di kaki gunung, hamparan salju tebal perlahan tergantikan oleh tanah berlumpur yang membeku. Di ujung lembah, tatanan lampu lentera berminyak memancarkan cahaya kekuningan yang temaram di antara rimba pepohonan. Desa Wuxi, sebuah pemukiman kecil terpencil yang dihuni oleh para pencari kayu dan pemburu, menjadi perhentian pertama mereka.
Dua orang warga desa yang sedang mengangkut kayu bakar mendadak berhenti ketika melihat Shen Rui berjalan menembus kabut malam. Pakaian Shen Rui—jubah tempur bersulam garis perunggu khas Paviliun Tianjian—langsung dikenali oleh mereka. Di wilayah perbatasan yang rawan oleh serangan binatang buas dan siluman, keberadaan pemburu dari Paviliun Tianjian disambut dengan kombinasi antara rasa hormat dan ketakutan mendalam.
"Tuan Pemburu..." salah seorang pencari kayu menyapa dengan tubuh agak membungkuk. Namun, tatapannya membeku saat beralih pada perempuan di belakang Shen Rui. Pakaian sutra putihnya yang kotor oleh tanah dan wajah sepucat pualam membuat warga desa berbisik-bisik penuh kecurigaan.
"Sediakan kamar paling ujung di perumpunan kayu," perintah Shen Rui tegas tanpa membuang waktu. Ia melempar sekeping kepingan perak ke tangan sang pencari kayu. "Dan bawakan baskom berisi air hangat serta obat luka."
Warga desa itu menangguk cepat. "Baik, Tuan. Segera kami siapkan."
Gubuk kayu di sudut desa itu sederhana dan jauh dari kata mewah. Sebuah perapian tua menyala samar di sudut ruangan, melemparkan bayang-bayang panjang ke dinding kayu yang berderit ditiup angin luar.
Perempuan itu duduk di tepi tempat tidur kayu beralas kain linen kasar. Rasa dingin yang menusuk perlahan memudar seiring kehangatan api perapian, namun rasa pusing di kepalanya belum juga mereda. Mengingat masa lalu terasa seperti mencoba menatap ke dalam telaga beracun—gelap, pekat, dan menimbulkan rasa sakit menusuk di belakang pelipisnya.
Shen Rui meletakkan baskom kayu berisi air hangat dan kain bersih di atas meja kecil dekat tempat tidur. Ia melepaskan mantel serigalanya, menyisakan jubah abu-abu ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh tegap seorang prajurit.
"Tanganmu terluka," kata Shen Rui singkat seraya mengarahkan pandangannya ke lengan baju kiri perempuan itu.
Perempuan itu menunduk. Kain sutra putih di bagian lengan kirinya memang telah robek akibat tersangkut batu cadas sewaktu ia terbangun di bawah pohon plum tadi. Darah merah segar merembes tipis dari goresan panjang di pergelangan tangannya.
"Aku bisa mengobatinya sendiri..." bisik perempuan itu pelan, merasa canggung dengan kehadiran pria asing yang menatapnya begitu tajam.
"Jangan membantah," potong Shen Rui dingin. Ia menarik bangku kayu dan duduk di samping tempat tidur. Ia mengambil kain bersih, membasahinya dengan air hangat, lalu secara perlahan meraih pergelangan tangan kiri perempuan itu.
Sentuhan kulit Shen Rui yang hangat dan kasar membuat perempuan itu sedikit terperanjat. Namun, Shen Rui bergerak sangat teratur. Ia mengusap sisa darah yang mengering di sekitar luka goresan tersebut.
Saat kain basah itu membersihkan jejak darah merah, sebuah fenomena ganjil mendadak terjadi tepat di depan mata Shen Rui.
Darah yang mengalir dari luka perempuan itu tidak menetes seperti darah manusia biasa. Begitu menyentuh udara hangat ruangan, cairan merah itu memancarkan pendar perak yang sangat tipis. Bersamaan dengan itu, lapisan kulit lunak di sekitar luka bergetar halus—lalu bertransformasi.
Srrr...
Dari bawah lapisan kulit mulus pergelangan tangan perempuan itu, muncul sekumpulan sisik berwarna putih bening bagai kristal. Sisik-sisik tipis itu tersusun sangat rapi, saling menutupi luka goresan tersebut bagaikan perisai alami yang berusaha menyembuhkan dirinya sendiri. Pendar cahaya mistis memantulkan pola-pola geometris di atas sisik ular tersebut sebelum akhirnya perlahan meredup dan tenggelam kembali ke bawah jaringan kulit manusia, seolah tak pernah ada.
Proses itu hanya berlangsung selama dua detik. Namun bagi Shen Rui, dua detik itu sudah lebih dari cukup.
Tangan Shen Rui yang memegang kain basah mendadak membeku di udara. Matanya membesar, dipenuhi oleh kejut dan ketegangan yang seketika membakar seluruh inderanya.
'Sisik ular murni...' batin Shen Rui.
Jantungnya berdetak kencang. Doktrin puluhan tahun dari Paviliun Tianjian bergema dahsyat di dalam kepalanya: Siluman ular putih adalah manifestasi malapetaka tertinggi. Jika sisik peraknya terlihat, ia harus dimusnahkan sebelum menguasai wujud manusianya.
Secara refleks, tangan kanan Shen Rui langsung bergerak menuju gagang pedang pembasmi iblis yang tersandar di sebelah bangkunya. Otot-otot lengannya menegang siap mencabut bilah baja suci itu untuk menembus dada perempuan di depannya.
Perempuan itu merasakan perubahan aura mendadak dari Shen Rui. Pria itu kini menatap pergelangan tangannya dengan tatapan membunuh yang sangat pekat—tatapan dari seorang pemburu yang baru saja menemukan buruan paling berbahaya.
"Tuan Shen... ada apa?" tanya perempuan itu bingung. Ia memegangi pergelangan tangannya sendiri, tidak menyadari apa yang baru saja terjadi pada kulitnya.
Ia memandang Shen Rui dengan mata peraknya yang polos dan tidak berdosa. Tidak ada niat jahat, tidak ada haus darah siluman, dan tidak ada kebohongan di sana. Yang ada hanyalah kejujuran seorang manusia yang bingung atas ancaman yang mendadak mengarah padanya.
Genggaman tangan Shen Rui pada gagang pedangnya bertambah erat hingga buku-buku jarinya berbunyi. Bilah bajanya merespon dengan getaran tipis... namun lagi-lagi, pedang itu menolak memancarkan pendar emas pembasmi iblis. Pedang pusaka Paviliun Tianjian itu justru terasa berat dan enggan mencabut diri dari sarungnya.
'Kenapa?' amuk Shen Rui dalam hatinya. 'Mengapa Pedang Zhaoyang menolak bereaksi pada siluman ini?'
Shen Rui menghembuskan napas berat. Ia mengendurkan pegangan tangannya dari pedang, lalu perlahan menarik tangannya kembali. Ia membuang mukanya sejenak ke arah perapian untuk menetralkan gejolak emosinya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Shen Rui dengan suara yang terkesan dipaksakan dingin. "Lukamu sudah berhenti berdarah."
Perempuan itu menatap pergelangan tangannya yang memang kini sudah bersih tanpa celah luka sedikit pun, seolah goresan batu cadas tadi hanyalah ilusi semata. Ia menatap Shen Rui yang kini berdiri dan membelakanginya, melangkah menuju jendela gubuk untuk melihat kegelapan malam.
"Istirahatlah," ujar Shen Rui datar tanpa menoleh. "Besok pagi kita akan menentukan kemana kau harus pergi."
Di balik kegelapan di luar jendela, bulan separuh mulai merayap naik menembus awan hitam Desa Wuxi. Dan Shen Rui tahu, rahasia di balik perempuan tanpa ingatan ini jauh lebih berbahaya dari sekadar yang diajarkan oleh perguruannya.