Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Langkah Ringan Tanpa Penyesalan
Gerbang besi rumah mewah itu tertutup dengan bunyi berderit pelan. Mahira berdiri di trotoar jalan yang masih sepi, menghirup udara pagi Kota Bandung yang dingin dengan dada yang terasa sangat lapang.
Di tangan kanannya, ia memegang erat sebuah koper tua berwarna cokelat kusam, satu-satunya barang yang ia bawa saat melangkah keluar dari rumah tersebut.
Di dalam koper itu tidak ada perhiasan emas, baju-baju bermerek hasil belanjaan mingguan, atau kartu ATM pemberian Ziko. Isinya hanya beberapa potong dress katun usang, kain sarung peninggalan almarhum ayahnya, serta mukena putih yang sudah mulai menipis karena sering dicuci.
Mahira sengaja meninggalkan semua kemewahan yang pernah diberikan Ziko di dalam kamar belakang. Ia tidak menyentuh harta gono-gini sepeser pun, tidak juga berniat menuntut nafkah iddah mut'ah yang menjadi haknya secara hukum. Bagi Mahira, harga diri dan kebebasannya jauh lebih berharga daripada seluruh total kekayaan yang dimiliki Ziko.
Sebuah mobil sedan hitam mewah bermerek keluaran terbaru perlahan berhenti tepat di depan tempat Mahira berdiri. Kaca mobil bagian tengah diturunkan, menampilkan sosok Jessi yang langsung tersenyum lebar begitu melihat sahabatnya.
"Mahira! Masuk, Ra!" panggil Jessi dengan nada riang.
Mahira memasukkan kopernya ke dalam bagasi dengan bantuan sopir Jessi, lalu menduduki kursi penumpang di samping sahabatnya.
Begitu pintu mobil tertutup rapat, Jessi langsung memeluk Mahira dengan erat, meluapkan seluruh rasa rindu dan khawatirnya yang tertahan selama tiga tahun ini.
"Ya ampun, Ra... kamu kurusan banget. Tapi aku senang akhirnya kamu bisa keluar dari penjara itu," ucap Jessi setelah melepaskan pelukannya, matanya memandangi wajah Mahira dengan seksama.
Mahira hanya menyunggingkan senyum tipis. Wajahnya tetap datar, namun sorot matanya tidak lagi kosong saat ia berada di dalam rumah Ziko. "Aku baik-baik saja, Jes. Terima kasih ya sudah mau menjemputku sepagi ini."
"Kamu ini bicara apa, sih? Seperti sama siapa saja," sahut Jessi sambil menepuk pelan punggung tangan Mahira. Ia lalu memberi isyarat kepada sopirnya untuk mulai melajukan mobil menuju kawasan perumahan elite di daerah Bandung Utara, tempat apartemen pribadi milik keluarga Mahira berada.
Di sepanjang perjalanan, Jessi membuka tablet kerjanya dan menunjukkan beberapa dokumen digital kepada Mahira. "Ra, sesuai perintahmu tadi malam, surat penolakan resmi untuk perusahaan Adhi Jaya Perkasa sudah terkirim ke email kantor mereka tepat pukul delapan tadi. Staf administrasi kita juga sudah menyebarkan memo internal ke seluruh anak perusahaan Grand Wijaya Group untuk memutus semua rantai bisnis dengan Ziko."
"Bagus," jawab Mahira pendek. Suaranya terdengar sangat datar, seolah ia sedang mendengarkan laporan cuaca biasa, bukan laporan tentang kehancuran bisnis suaminya.
Jessi melirik koper tua cokelat di bagasi lewat kaca spion tengah, lalu beralih menatap Mahira dengan heran. "Tapi jujur ya, Ra... aku masih tidak habis pikir. Kenapa kamu sama sekali tidak mengambil aset atau menuntut harta sepeser pun dari Ziko? Padahal selama tiga tahun ini kamu sudah diperlakukan seperti pembantu di sana. Kamu berhak membuat dia miskin lewat pengadilan cerai."
Mahira menoleh ke arah jendela, memandangi deretan pohon dan bangunan kota yang bergerak cepat di luar. "Untuk apa, Jes? Mengambil uang atau hartanya hanya akan membuat Ziko merasa bahwa aku masih bergantung pada apa yang ia miliki. Aku ingin keluar dengan bersih. Aku ingin dia tahu bahwa sejak awal, aku tidak pernah butuh sepeser pun uangnya untuk bertahan hidup."
Mahira menarik napas pendek sebelum melanjutkan, kali ini dengan nada yang terdengar lebih dingin. "Lagipula, tanpa aku menuntut harta gono-gini pun, perusahaannya sudah berada di ambang kehancuran. Menonton mereka jatuh karena kesombongan mereka sendiri jauh lebih menarik daripada menyita aset mereka lewat meja hijau."
Jessi bergidik ngeri mendengar kalimat datar yang diucapkan Mahira, namun di saat yang sama ia merasa sangat kagum. Mahira yang sekarang bukan lagi Mahira yang lemah dan penurut seperti tiga tahun lalu saat pertama kali terbuai oleh janji manis Ziko.
Sikap tidak peduli dan caci maki yang ia terima di rumah itu telah menempa karakternya menjadi sosok wanita yang sangat tegas, tenang, dan berbahaya bagi para musuhnya.
"Oke, aku paham jalan pikiranmu," kata Jessi seraya menutup tabletnya. "Lalu, setelah ini apa rencanamu? Apartemen pribadimu sudah dibersihkan dan siap ditempati. Pakaian baru, fasilitas, dan semua kebutuhanmu sudah aku siapkan di sana. Pengacara keluarga juga sudah mulai mendaftarkan gugatan ceraimu ke Pengadilan Agama pagi ini."
"Aku mau istirahat dulu hari ini, Jes," jawab Mahira, memalingkan kembali wajahnya menatap Jessi. "Besok, aku akan mulai datang ke kantor pusat Grand Wijaya Group. Sudah saatnya aku mengambil kembali posisi yang selama ini aku tinggalkan."
Jessi tersenyum puas mendengarnya. "Nah, ini baru sahabatku. Jajaran direksi pasti akan sangat terkejut melihat pewaris tunggal keluarga Wijaya akhirnya kembali memimpin langsung dari atas kursi utama."
Mobil terus melaju membelah jalanan Kota Bandung yang mulai ramai oleh aktivitas pagi. Di dalam kabin mobil yang sejuk, Mahira menyandarkan punggungnya ke kursi dengan rileks.
Koper tua di bagasi belakang adalah simbol akhir dari masa lalunya yang kelam sebagai seorang istri yang tertindas. Mulai detik ini, tidak akan ada lagi Mahira yang bisa diinjak-injak harga dirinya dengan kata-kata kasar. Lembaran baru kehidupannya telah resmi dimulai.