Kehidupanku berakhir saat ditikam tunangan dan adik tiriku sendiri.
Tapi saat aku membuka mata, aku ber Reinkarnasi menjadi Ratu es putri yang dibuang keluarga kerajaan karena "tidak punya kekuatan".
Apes? Enggak. Karena aku membawa [Sistem Es Dewa].
Misi: Selamat, Balas Dendam, dan Jadi Ratu!
Keluarga yang mengusirku? Tunggu saat aku membekukan kerajaan kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI ALIANSI DAN PERSIAPAN PERANG
Gemuruh kepanikan yang disebarkan oleh Kekaisaran Suci tidak membuat Elena berkedip sedikit pun. Di dalam Aula Singgasananya yang kini telah berevolusi menjadi Aula Es Abadi, layar virtual sistem melayang di depannya, memproyeksikan pergerakan titik-titik merah dari arah selatan. Seratus ribu pasukan Aliansi Tiga Kerajaan Besar telah mulai bergerak, membelah wilayah perbatasan seperti lautan manusia yang haus darah.
[Sistem: Aliansi Benua telah melintasi perbatasan luar radius 200 kilometer.]
* [Komposisi: 100.000 Prajurit Zirah Berat, 10 Penyihir Agung Lingkaran 7, dan 3 Ksatria Bintang Sembilan Lingkaran 8.]
* [Waktu Estimasi Tiba di Garis Depan: 48 Jam.]
"Seratus ribu..." Elena bergumam, jemarinya yang ramping mengetuk lengan kursi singgasana.
"Jumlah yang sangat besar bagi mereka, namun hanya tumpukan poin sistem di mataku. Frost, bagaimana kondisi Altar Kebangkitan Jiwa Es?"
Frost, yang kini berada dalam wujud menengah setinggi lima belas meter dengan sisik berlian es yang memancarkan pendar keperakan, mendengus berat. "Altar telah sepenuhnya aktif, Elena. Jiwa-jiwa para prajurit Silversnow yang mati ketakutan kemarin telah disaring. Hanya yang memiliki kebencian dan kepatuhan yang tersisa."
"Bagus. Sistem, buka menu Altar Kebangkitan Jiwa Es dan sisa poin saat ini," perintah Elena.
[Sistem: Menu Altar Dibuka.]
* [Poin Sistem Saat Ini: 23.500 Poin.]
* [Unit Khusus Tersedia: Frost Wraith Rider (Ksatria hantu es penunggang kuda bayangan, setara Lingkaran 5 Tahap Puncak): 1.500 Poin per unit.]
* [Unit Khusus Tersedia: Ice Chimera (Makhluk buas es berkepala tiga dengan nafas pembeku, kekuatan Lingkaran 6): 5.000 Poin per unit.]
Elena menganalisis potensi ancaman dari tiga Ksatria Bintang Sembilan yang berada di Lingkaran 8. Kekuatan fisik pendekar pedang tingkat tinggi di level itu mampu membelah gunung es hanya dengan satu tebasan aura bertarung. Golem Es Kuno miliknya mungkin bisa menahan mereka sejenak, tetapi untuk memusnahkan seratus ribu pasukan sekaligus, dia membutuhkan distorsi di medan perang.
"Beli dua unit Ice Chimera dan sembilan unit Frost Wraith Rider," ucap Elena dingin.
[Sistem: Memproses Pemanggilan... Sukses. Sisa Poin: 0 Poin.]
BOOOMM!
Halaman luar istana berguncang hebat ketika dua lingkaran sihir hitam keperakan berdiameter tiga puluh meter terbuka di tanah. Dari dalam lubang magis tersebut, merangkak keluar dua makhluk raksasa berkepala tiga yang tubuhnya terbuat dari perpaduan es abadi dan tulang belulang monster kuno Ice Chimera. Kepala singa es di tengah mengeluarkan raungan rendah, sementara kepala kambing es dan ular es di kanan-kirinya mendesis, menyebarkan kabut beracun yang membekukan udara.
Di samping mereka, sembilan ksatria berkuda tanpa wajah dengan jubah hitam pekat dan zirah es biru tua berbaris rapi. Kuda-kuda bayangan mereka melangkah tanpa menyentuh tanah, meninggalkan jejak api biru yang dingin di atas salju.
"Dengan ini, garis pertahanan depanku sudah lengkap," Elena bangkit dari singgasananya. Jubah kebesarannya berkibar saat dia berjalan menuju tepi balkon, menatap ke arah luar pelindung kubah Domain Abadi Dewa Es.
"Sistem, optimalkan seluruh Menara Meriam Es Penghancur Jiwa di sepanjang dinding benteng baru. Atur mode tembakan ke: Pemusnahan Massa Otomatis."
[Sistem: Menara Meriam Es Dikonfigurasi. Siap melepaskan tembakan beruntun saat musuh memasuki radius 5 kilometer.]
Elena mengepalkan tangannya, merasakan debaran Immortal Ice Heart miliknya yang berdetak seirama dengan fluktuasi mana di seluruh hutan Frozen Abyss. "Aliansi Benua... kalian mengira jumlah kalian bisa menenggelamkan es dewa milikku? Aku akan memastikan bahwa tidak ada satu pun dari seratus ribu prajurit itu yang akan melihat musim semi lagi."
-----------------
Sementara itu, di dataran rendah yang berjarak seratus kilometer dari perbatasan Kekaisaran Es Dewa, kemah-kemah militer Aliansi Tiga Kerajaan berdiri membentang sejauh mata memandang. Panji-panji berlambang Matahari Suci, Singa Emas, dan Elang Perak berkibar gagah di bawah tiupan angin yang mulai mendingin.
Di dalam kemah komando utama yang hangat oleh sihir api tingkat tinggi, tiga sosok raksasa di dunia pendekar pedang sedang duduk mengelilingi peta taktik. Mereka adalah tiga Ksatria Bintang Sembilan dari Kekaisaran Suci.
Sir Leon sang Pembelah Badai, Sir Reinhardt sang Perisai Suci, dan Nona Valerica sang Pemburu Bayangan. Ketiganya adalah pendekar Lingkaran 8 yang reputasinya telah menggetarkan benua selama puluhan tahun.
"Laporannya mengatakan bahwa Uskup Agung Malakai tewas dalam satu serangan," Sir Reinhardt membuka suara, suaranya berat seperti hantaman palu besi. Dia mengelus pelindung dadanya yang tebal. "Gadis Elena itu pasti menguasai artefak kuno tingkat dewa yang tertidur di Frozen Abyss. Sihir es biasa tidak mungkin memiliki daya hancur seperti itu."
"Artefak atau bukan, di hadapan seratus ribu pasukan gabungan dan sepuluh Penyihir Agung, kekuatannya akan terkuras habis," Sir Leon mendengus tak peduli, matanya menatap tajam ke arah posisi ibukota Silversnow di peta. "Sihir area seluas apa pun memiliki batas konsumsi mana. Kita bertiga akan memimpin barisan depan. Begitu dia meramal mantra besar miliknya, aku sendiri yang akan membelah kepalanya dengan pedang badai ini."
Nona Valerica, yang wajahnya setengah tertutup topeng kulit hitam, memutar belati peraknya dengan santai. "Jangan meremehkan musuh yang bisa menghancurkan Pasukan Salib dalam hitungan menit, Leon. Instingku mengatakan tempat yang dia bangun sekarang bukan lagi sekadar hutan terlarang. Itu adalah wilayah kekuasaannya yang mutlak. Angin yang bertiup dari utara semalam... membawa hawa kematian yang sangat murni."
"Hmph! Ketakutan hanya milik mereka yang lemah, Valerica!" Leon berdiri, menghunus pedang besarnya yang langsung memancarkan aura angin keemasan yang memotong meja taktik menjadi dua. "Besok fajar, kita akan meruntuhkan gerbang es miliknya. Aku ingin melihat apakah es dewa yang dia banggakan bisa menahan tebasan Lingkaran 8 milikku!"
Di belakang mereka, sepuluh Penyihir Agung Lingkaran 7 yang mengenakan jubah merah bersulam emas mulai merapal sihir perlindungan skala besar untuk seluruh pasukan, mencoba menciptakan perisai hangat guna menghalau hawa dingin ekstrem yang mulai merayap dari arah Frozen Abyss. Mereka sangat percaya diri bahwa dengan kekuatan penuh benua ini, membersihkan satu gadis buangan adalah hal yang terlalu mudah.
Mereka tidak pernah tahu, bahwa badai yang mereka tuju bukan lagi badai alam biasa. Itu adalah badai yang dikendalikan oleh seorang penguasa sistem yang haus akan pembalasan dendam.
----------------
Dua hari berlalu dalam ketegangan yang mencekam.
Di depan gerbang berlian hitam Kekaisaran Es Dewa, Elena berdiri tegak di atas menara pengawas utama. Di sampingnya, Frost telah kembali ke wujud raksasanya, sayapnya yang diselimuti es abadi sesekali mengepak, menciptakan badai salju lokal di sekitar benteng. Di bawah mereka, dua Golem Es Kuno, dua Ice Chimera, dua puluh Ice Vanguard Knight, sembilan Frost Wraith Rider, dan puluhan Frost Specter telah berdiri dalam formasi pertempuran yang sunyi namun menindas.
Dari ujung cakrawala utara, tanah mulai bergetar hebat. Gemuruh derap langkah seratus ribu pasukan Aliansi akhirnya terdengar. Barisan zirah emas, perak, dan merah membentang luas, memancarkan aura pertarungan yang membubung tinggi ke langit, mencoba mengusir awan hitam buatan Elena.
Sir Leon memimpin di barisan paling depan, menunggangi kuda perang berlapis baja. Ketika dia melihat kemegahan benteng es berlian hitam milik Elena, matanya berkilat serakah. "Arsitektur yang luar biasa! Tempat ini akan menjadi pangkalan militer baru Kekaisaran Suci setelah kita mengeksekusinya!"
Elena menatap lautan manusia di bawahnya dengan pandangan dingin yang mutlak. Layar sistemnya berkedip cepat, memberikan notifikasi terakhir sebelum pembantaian semesta dimulai.
[Sistem: Pasukan Musuh telah memasuki Radius Tembak Menara Meriam Es Penghancur Jiwa.]
[Misi Utama: Pertahankan Kekaisaran Es Dewa Dimulai.]
Elena mengangkat tangan kanannya yang dibalut sarung tangan es transparan, lalu mengayunkannya ke bawah dengan gerakan yang sangat anggun namun penuh tiran.
"Nyalakan meriamnya," bisik Elena. "Dan biarkan seluruh benua ini mendengar lagu kematian mereka."