semoga suka ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak org, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagian 15
"Aluna, itu tuan Aryan kenapa sih? kok kayak orang linglung gitu" tanya Nisa yang sedang bersama Aluna di dapur.
"hmm, emang kenapa?" tanya balik Aluna
"ihhh, kau enggak lihat kah Aluna. tuan Aryan dari bangun pagi tadi udah kayak orang nggak bertenaga gitu"
"hmm, iya kayaknya" Aluna menganggukkan kepalanya, mengerti maksud Nisa
"Lo nggak ada niatan buat nanya gitu?" tanya Aya yang sedang memakan buah-buahan segar.
"heh! Lo dapat dari mana itu buah? jangan-jangan Lo nyuri ya!!" teriak Nisa, membuat Aluna dan Aya yang masih ada di sana menutup kedua telinganya.
"aduhh, bisa nggak sih jangan teriak-teriak gitu! sakit ini kuping gue" Aya mengusap-usap telinganya yang sedikit sakit gara-gara teriakan Nisa
"hehehe solly" Nisa cengengesan menatap wajah Aya
"jadi gue tanya lagi, Lo dapat dari mana itu buah?"
"ya gue beli lah di depan sana. kebetulan tadi ada tukang sayur lewat, jadi ya gue beli aja mumpung ada duit gue" jawab Aya sembari mengigit buah apelnya.
"ooh, gue pikir Lo nyuri tadi" ucap Nisa dengan wajah polosnya.
"anjir, mana mungkin lah gue nyuri" sinis Aya menatap wajah sok polos Nisa yang menurutnya sangatlah aneh.
Aluna yang melihat tingkah kedua temannya hanya bisa menggelengkan kepalanya lelah.
"jadi Lo nggak mau apa nyamperin tuan Aryan?"
"hmm, gue takut Aya. biasanya kalo mas Aryan lagi kayak gitu pasti lagi banyak kerjaan, jadi gue nggak berani deketin dia" jawab Aluna lirih
"Alah, kenapa takut sih. siapa tahu tuan Aryan lagi nggak mikirin pekerjaan kan. coba aja dulu" ucap Nisa
lalu dengan entengnya, tanpa bersalah sedikitpun, Nisa malah menarik apel Aya yang lagi enak-enaknya dinikmati. malah tiba-tiba apelnya itu sudah di tangan Nisa. hal itu membuat Aya marah, menatap Nisa sinis. sedangkan Nisa bodoh amat dengan tatapan mematikan Aya.
"udahlah Aluna. coba samperin aja dulu" ucap Nisa sambil mendorong tubuh Aluna pelan menjauh dari dapur.
"eh Nisa!!"
setelah kepergian Aluna, Aya yang masih menatap nyalang ke arah Nisa tiba-tiba saja Aya menerjang tubuh Nisa. dan akhirnya, pertempuran pun dimulai.
Aini yang baru saja keluar dari kamar menatap kedua temannya yang sedang saling mencakar. dia hanya menatapnya dengan wajah lelah, lalu berlalu dari sana, meninggalkan mereka berdua yang masih saja mencakar satu sama lain.
•
"mas, kamu kenapa?" tanya Aluna menghampiri Aryan yang sedang terduduk di sofa dengan kepala menunduk.
tapi Aryan tidak langsung menjawab pertanyaan Aluna. dia terus saja menundukkan kepalanya.
Aluna yang sudah sedikit khawatir dengan kondisi suaminya mulai ikut duduk di sampingnya.
"mas, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Aluna lagi
Aryan pun mendongakkan kepalanya, menatap ke arah Aluna dengan wajah suram
Aluna yang melihat wajah suaminya sedikit tersentak karena ternyata kedua mata suaminya tiba-tiba memerah dengan kantung hitam di sekitar matanya.
"mas, ada apa ini? kenapa dengan matamu?" tanya Aluna dengan cemas
"mas?"
Aryan menggelengkan kepalanya pelan lalu berucap "aku semalam tidak bisa t-tidur Aluna"
flashback on
"enghh! ada apa ini? kenapa aku sangat susah sekali untuk tidur" kesal Aryan pada dirinya sendiri yang tidak bisa tidur.
Aryan terus melakukan berbagai cara agar dirinya bisa cepat tertidur, tapi tetap saja usaha itu sia-sia.
lalu pandangannya teralihkan ke arah Aluna yang sudah tertidur pulas di atas kasur tipisnya. Aryan pun langsung bangun dari tidurnya dan berjalan menghampiri Aluna.
dia menatap wajah tenang itu yang sedang tertidur dengan nyenyak ya. Dengan tangan yang diulurkan ke arah Aluna secara gugup, tapi dia sama sekali tidak menyentuh pundak Aluna. Malahan tangannya masih terangkat di udara.
dengan perasaan berkecambuk dan gelisah, Aryan pun menarik kembali tangannya dan berjalan menjauh dari Aluna. lalu berlalu dari sana meninggalkan kamarnya dengan wajah yang ditekuk.
flashback end
"Aluna... tolong aku" ucap Aryan lirih
"iya, mas apa? katakan saja" Aluna memegang kedua tangan suaminya di pangkuannya
"A-aku lelah sekali Aluna. aku ingin istirahat" napas Aryan memburu, menatap wajah Aluna dengan wajah letih.
"iya, mas kita istirahat ya, tapi bukan di sini. di kamar aja ya" ucap Aluna lembut
Aryan menggelengkan kepalanya pelan
"Di sini saja, Aluna. aku udah nggak s-sanggup"
Aluna hanya bisa menganggukkan kepalanya menatap khawatir ke arah sang suami yang saat ini terlihat sangat berbeda.
Aryan yang sudah tidak sanggup menahan rasa lelah ini, dia pun langsung memeluk tubuh Aluna erat dan memejamkan matanya.
Aluna menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, lalu mengelus rambut Aryan dengan lembut.
sedangkan di sisi lain.
"heh! Aya, ayo ke sini sebentar!"
"apa sih, Nisa?" tanya Aya yang sedang mengompres bekas cakaran dari Nisa.
"ihh, udah ayo sini cepat!!"
"iya-iya, sabar kenapa sih" Aya menghampiri Nisa yang sedang mengintip dari balik pintu dapur.
"coba Lo lihat di sana, Aya" tunjuk Nisa ke arah Aluna dan Aryan yang sedang tertidur sembari berpelukan di ruang tamu.
Aya pun menolehkan kepalanya ke arah yang ditunjuk oleh Nisa. tiba-tiba saja matanya membulat sempurna dan mendekatkan dirinya ke tubuh Nisa yang masih celingak-celinguk melihat pasangan di sana.
"wahhh, ini sungguh luar biasa" Aya menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.
"ya kan. tuan Aryan itu sebenarnya udah jatuh cinta sama Aluna, cuman ketutup aja sama gengsinya"
Aya mengerinyitkan dahinya "tapi kau yakin? tuan Aryan nggak lagi capek aja kan? bisa aja tuan Aryan kayak gitu karena lagi capek aja sama kerjaannya, makanya dia peluk Aluna"
"Ehmm, aku nggak yakin juga sih"
"Lo nggak ingat tuan Aryan itu kan suka banget sama si nenek lampir itu. jadi firasat aku mengatakan kalo tuan Aryan hanya sekedar lelah aja" ucap Aya yang terus menatap ke arah ruang tamu.
"hmm, kayaknya iya deh. tapi gue tetap gak terima ya kalo sampai itu terjadi. gue masih berharap kalo suatu saat nanti tuan Aryan benar-benar cinta sama Aluna"
"kalo tuan hanya menjadikan Aluna sebagai mainannya, Lo bakal apa?" tanya Aya yang sudah menatap wajah Nisa yang masih menatap intens ke arah pasangan itu.
"kalo sampai tuan Aryan main-main sama Aluna, awas aja gue bakal bunuh itu manusia" jawab Nisa, lalu memukul-mukul telapak tangannya dengan wajah bengis.
"emang Lo berani?"
"berani lah!"
"Lo lagi gak lupa kan. kalo tuan Aryan itu siapa?"
seketika Nisa langsung terdiam.
"gue sebenernya setuju sih sama ucapan Lo. tapi kita juga harus hati-hati. Nanti, mengingat tuan Aryan itu sangat.... humm ya gitulah" ucap Aya lalu berlalu dari sana
•
Aluna terus mengelus rambut hitam suaminya yang sedang tertidur menyandar di dadanya.
lalu dia menarik sebuah selimut yang sempat dia minta tolong pada Aini untuk diambilkan dari kamarnya.
Aluna menyelimuti seluruh tubuh mereka hingga sampai di leher sang suami, lalu bersenandung kecil.
Aryan tentu sangat nyaman dengan posisi ini, apalagi dengan usapan lembut dari Aluna.
"selamat tidur, mas. dan semoga mimpi indah" ucap Aluna lembut, lalu ikut tertidur bersama sang suami.
maaf kalo ada typo dan terlihat gak nyambung 🙏🏻😁 btw jangan lupa di like sama komen nya makasih ❤️