NovelToon NovelToon
Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:23.2k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.

Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."

Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:

*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*

Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.

Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.

*Setiap. Kata.*

Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."

Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.

Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.

Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.

Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Pengkhianat

"Faisal berkhianat."

Kalimat Steven membuat udara PIK villa langsung berubah.

Boba masih meringkuk di carrier, belum mengerti bahwa manusia dewasa punya hobi rumit bernama pengkhianatan korporat. Aku berdiri di foyer dengan jaket Bandung yang belum kulepas, sementara Reynard menatap layar ponsel seperti seseorang baru saja menekan tombol perang.

"Ruang kerja," katanya.

Dalam tiga menit, rumah bergerak.

Pak Hadi membawa Boba dan perlengkapannya ke area yang sudah disiapkan Sari. Anto menghubungi tim keamanan. Sari menatapku, ragu apakah harus membantuku naik atau ikut panik.

"Aku ikut," kataku pada Reynard.

Ia berhenti.

"Ini urusan kerja."

"Ong Corporation sudah muncul di kepalaku sejak Ko Steve datang. Jangan pura-pura ini cuma kerja."

Reynard menatapku.

Aku hampir lupa bahwa ia bisa mendengar kalimat berikutnya di dalam kepalaku.

Kalau mereka menyerang jalur Liem juga, ini menyangkut keluargaku. Dan kalau menyangkut keluargaku, aku berhak tahu.

Matanya sedikit berubah.

"Ikut. Dengarkan saja."

Ruang kerja Reynard berubah menjadi pusat komando kecil. Steven muncul di layar besar, wajahnya tidak lagi bercanda. Di sampingnya ada pria berwajah tajam yang diperkenalkan sebagai Reza, kepala intelijen Aegis Security.

"Faisal memimpin operasi Surabaya selama dua tahun," kata Reza. "Aksesnya ke rute pengiriman, jadwal tim, dan kontrak vendor cukup luas."

Steven menyambung, "Tadi pagi rute Liem Security yang membawa perangkat elektronik dari pelabuhan dialihkan. Truknya diserang, barang hilang, sopir luka ringan. Polanya bersih. Mereka tahu titik buta CCTV."

Aku menegang.

Liem Security.

Jason dan Bryan belum muncul dalam hidupku sekarang, tapi nama keluarga itu tetap punya kaitan dengan Keira. Dan Herman, seburuk apa pun cara ia diam selama ini, masih ayah hukum tubuh ini.

[Data baru tersedia.]

[Faisal.]

[Status: kepala operasi Surabaya Aegis Security.]

[Afiliasi rahasia: pembayaran dari perusahaan cangkang terkait Ong Corporation.]

[Motif: utang judi, dendam karena tidak dipromosikan, janji posisi dari pihak Ong.]

Aku menatap panel itu.

Lengkap sekali.

Terlalu lengkap untuk diabaikan.

Masalahnya, aku tidak bisa berkata, halo semuanya, sistem gosip lintas dimensi baru saja membuka biodata pengkhianat.

Reynard duduk di kursinya, diam.

Tapi aku melihat jarinya mengetuk meja sekali.

Ia menunggu.

Menunggu pikiranku?

Baik. Kalau benar dia bisa menebak dari ekspresiku atau apa pun, mari kita buat informasi ini rapi.

Aku pura-pura mengambil notes di meja, lalu mulai menulis seolah mencatat pembicaraan.

Faisal. Utang judi. Perusahaan cangkang. Ong. Janji promosi. Rute Liem dialihkan dari dalam.

Reynard menunduk melihat tulisanku.

Tidak ada perubahan wajah.

Tapi ia langsung bertanya pada Reza, "Cek rekening Faisal enam bulan terakhir. Fokus transaksi dari perusahaan cangkang Singapura. Cari pola terkait judi."

Reza terdiam setengah detik. "Kami belum..."

"Lakukan."

"Siap."

Steven menatap layar dengan alis naik. "Kau dapat dari mana?"

"Intuisi."

Aku hampir tersedak.

Intuisi? Itu namanya pencurian data dari kepala istri, Pak.

Reynard tidak menoleh, tapi sudut bibirnya bergerak tipis.

Dalam dua puluh menit, Reza kembali dengan wajah lebih tegang.

"Benar. Ada transfer berulang dari PT Laut Selatan Global. Pemilik akhirnya terkait jaringan Ong Corporation. Faisal juga punya transaksi besar di situs judi online."

Steven bersiul pelan. "Intuisi istri barumu menular?"

Reynard mengabaikannya. "Hubungkan ke rute Liem."

Reza membuka peta digital. Titik-titik merah muncul di jalur Surabaya. "Rute dialihkan lewat akses yang hanya diketahui tiga orang. Salah satunya Faisal."

"Panggil dia ke video meeting," kata Reynard.

"Sekarang?"

"Sekarang."

Lima belas menit kemudian, wajah Faisal muncul di layar. Pria itu berusia akhir tiga puluhan, memakai kemeja lapangan Aegis Security, wajahnya berusaha tampak tenang.

"Tuan Muda," katanya. "Saya baru dengar soal insiden Liem Security. Tim saya sedang bantu investigasi."

Bohong.

Panel Si Kepo berkedip.

[Tingkat kebohongan: tinggi.]

Reynard bersandar. "Kau tahu rute dialihkan."

Faisal berkedip. "Maaf?"

"Rute pengiriman. Titik buta CCTV. Jadwal sopir. Semua keluar dari aksesmu."

"Tuan Muda, saya tidak mungkin..."

Reynard mengangkat satu jari. Reza menampilkan data transfer di layar.

Wajah Faisal memucat.

Steven, yang sejak tadi diam, berkata, "PT Laut Selatan Global. Kau mau jelaskan?"

"Itu pembayaran konsultasi."

"Konsultasi judi?" tanyaku pelan tanpa sadar.

Semua orang menoleh.

Aku membeku.

Keira, selamat. Kau baru saja berbicara di ruang perang pria-pria berbahaya.

Faisal menatapku lewat layar, tampak meremehkan. "Nyonya Muda mungkin tidak paham urusan operasional."

Oh.

Salah besar.

Aku tersenyum.

"Mungkin. Tapi saya paham orang yang takut biasanya menjawab dengan merendahkan penanya, bukan menjawab bukti."

Steven menutup mulut, jelas menahan tawa.

Reynard menatap Faisal. "Jawab."

Keringat muncul di pelipis Faisal.

Reza menambahkan layar kedua. "Kami juga menemukan riwayat pesan terenkripsi. Belum terbuka semua, tapi ada kata kunci Ong, jadwal, dan bonus."

Faisal berubah pucat total.

"Saya dijebak."

"Oleh siapa?" tanya Reynard.

"Saya tidak tahu. Mungkin orang Liem sendiri. Mereka ingin menutup kegagalan pengamanan."

Amarahku naik.

Menyeret orang lain untuk menutup dosa sendiri. Menjijikkan sekali, tapi setidaknya konsisten dengan tema minggu ini.

[Data tambahan: Faisal mengirim lokasi truk 17 menit sebelum penyerangan.]

Aku menulis angka 17 di notes.

Reynard melihatnya.

"Reza, cek timestamp lokasi."

Reza mengetik cepat. Lalu wajahnya mengeras. "Ada. Faisal mengirim koordinat 17 menit sebelum insiden."

Steven tidak tertawa lagi.

Faisal berdiri dari kursinya. "Data itu palsu!"

"Duduk," kata Reynard.

Satu kata.

Faisal duduk lagi.

Wajah Reynard di bawah Topeng Perak tampak nyaris tanpa emosi. Justru itu yang membuat ruangan terasa dingin.

"Mulai saat ini, aksesmu dicabut. Kau diberhentikan dari Aegis Security. Semua perangkat perusahaan disita. Tim legal akan menyerahkan bukti awal ke kepolisian. Kalau kau bekerja sama, mungkin kau masih bisa menjelaskan siapa di Ong yang membelimu."

"Tuan Muda, saya punya keluarga..."

"Sopir yang kau korbankan juga punya keluarga."

Faisal terdiam.

Video meeting berakhir dengan wajahnya hancur.

Ruangan tetap sunyi beberapa detik.

Lalu Steven mengembuskan napas. "Ong bergerak lebih cepat dari prediksi."

Reza mengangguk. "Kalau mereka bisa membeli kepala operasi, mereka mungkin punya kontak lain."

Reynard menatap peta. "Bekukan semua akses Surabaya. Audit Makassar dan Balikpapan. Hubungi Jason Liem. Katakan rutenya sudah diamankan ulang dan kerugiannya akan diganti oleh Aegis sampai investigasi selesai."

Aku menatapnya.

Ia tidak hanya melindungi perusahaannya. Ia juga memastikan keluarga Liem tidak dijadikan korban kedua.

Mungkin karena aku.

Mungkin karena itu memang caranya bekerja.

Keduanya membuat dadaku terasa aneh.

Setelah Reza keluar dari panggilan, Steven menyandarkan punggung. "Ko Rey, ini bukan cuma soal kontrak."

"Aku tahu."

"Mereka menguji kita."

"Biarkan."

Suara Reynard datar.

"Mulai malam ini, kita balas menguji mereka."

Steven tersenyum tipis. "Itu baru Ko Rey."

Aku memeluk notes di dada.

Di luar ruang kerja, Boba menggonggong kecil, seperti memberi tanda dunia rumah masih berjalan.

Reynard menoleh padaku. "Kau lelah?"

"Sedikit."

"Istirahat."

"Kau?"

"Masih ada rapat."

Aku mengangguk, tapi sebelum keluar, Si Kepo menampilkan satu baris lagi.

[Peringatan: Ong Corporation tidak hanya mengincar pasar.]

[Kemungkinan target akhir: Wijaya Group.]

Aku berhenti di pintu.

Reynard menatapku.

Aku tidak perlu bicara. Pikiranku sudah terlalu keras.

Mereka tidak cuma mau rute logistik. Mereka mau seluruh Wijaya Group.

Reynard memandang Steven di layar.

"Steve."

"Ya?"

"Mulai dari sekarang, perlakukan Ong Corporation sebagai ancaman terhadap seluruh grup."

Steven terdiam.

Lalu wajahnya berubah serius.

"Dimengerti."

1
Dian Utami
karakter kaira lemah
aku
beuh monica blm jera itu 😌
aku
asik bgt naomi ini keren
aku
bab ini bikin pandangan mertua berasa jd intel ngintai bandar narkoba 😌🤣
aku
tor misal kalo kata batin bisalah di tambah tanda kutip huruf cetak miring biar tahu readernya 🙏
aku
catatan yg membagongkan ya 😌😌
Gustinur Arofah
ceritanya sangat bagus, kata katanya rapih tapi sayank ko blm ada yg baca. 💪💪💪💪
Retno Isma
baru baca nyampe bab 4. tapi sejauh ini bagus novelnya. pemilihan katanya pinter bgt kakk author. ga terlalu kaku tapi ga terlalu santai juga.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih
Retno Isma
🌷🌷🌷🌷
Retno Isma
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!