Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.
Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.
Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1 Kesalahan
Suara sirene ambulans memecah hiruk-pikuk malam yang mulai lengang. Lampu merah berputar cepat di atas kendaraan berwarna putih itu yang memantul di dinding kaca gedung rumah sakit yang menjulang tinggi.
Rumah sakit Citra Kasih tidak pernah berhenti dari pasien, rumah sakit tidak mengenal waktu istirahat, malam siang tetap sama saja.
Mobil ambulans meluncur masuk ke area Instalasi Gawat Darurat, remnya berdecit pelan saat berhenti tepat di depan pintu otomatis yang langsung terbuka lebar.
Pintu belakang terbuka dengan sigap. Dua petugas medis turun dengan wajah serius, mendorong brankar yang membawa seorang pasien dalam kondisi darurat.
Wajahnya dipenuhi dengan luka, pendarahan dari kepalanya terus saja keluar meski sudah ditangani sebelumnya saat berada di dalam mobil ambulance.
Beberapa perawat berlari dari dalam ruang IGD, dengan cepat menangani pasien tersebut sebelum memasuki ruang IGD, mengganti selang oksigen.
"Keadaan pasien menurun! Tekanan darah tidak stabil," salah satu perawat memberi informasi.
Keadaan pasien benar-benar parah dengan nafas yang tidak stabil, para perawat yang sudah bersiaga langsung menyambut, tangannya cetakan memindahkan brankar masuk ke dalam lorong IGD yang terang benderang.
Sepatu mereka berderap cepat di lantai, suara roda brankar beradu dengan keramik mengisi ruang yang dipenuhi ketegangan.
Beberapa tenaga medis lain ikut bergerak, membuka jalan, menyiapkan alat, dan saling bertukar instruksi dengan suara tegas namun terkontrol.
Aroma antiseptik yang khas semakin terasa ketika mereka melewati pintu menuju ruang tindakan.
"Dokter Zivanna, pasien datang dalam keadaan kritis," ucap salah satu perawat memberi laporan kepada Dokter yang baru saja meneguk air putih.
"Sudah di bawa ke IGD?" tanya Dokter wanita cantik menggunakan hijab tersebut.
"Sudah Dokter," jawab Suster.
Zivanna menghela nafas dan kemudian meninggalkan Tumbler tersebut berjalan memasuki ruang IGD.
Di dalam, suasana berubah semakin intens. Lampu putih menyinari setiap sudut ruangan, memantulkan wajah-wajah serius yang fokus pada satu tujuan.
Dalam hitungan detik, pasien sudah dipindahkan ke ranjang tindakan, alat-alat mulai bekerja, dan waktu seakan berjalan lebih cepat dari biasanya.
Di luar ruangan, pintu tertutup kembali. Suara sirene telah berhenti, tetapi ketegangan yang dibawanya masih tertinggal, menggantung di udara rumah sakit yang tak pernah benar-benar tidur.
"Dokter, pasien mengalami kecelakaan tunggal, mengalami pendarahan hebat dan tadi saat di mobil ambulans sudah diberikan penanganan darurat," salah satu perawat memberi informasi Zivanna yang masih berdiri di samping tempat tidur pasien tersebut tanpa melakukan tindakan apa-apa
"Serius hanya aku Dokter yang menangani pasien ini?" batin Zivanna tiba-tiba saja gelisah.
Bib.....
Suara dari monitor jantung mulai berbunyi menandakan pasien semakin darurat.
"Dokter bagaimana ini?" perawat mulai panik dan begitu juga dengan Zivanna.
Entah mengapa tiba-tiba saja dia menjadi gugup, tangannya gemetar dan bahkan tidak berani untuk memulai apapun pada pasien yang semakin darurat itu.
Sementara dua suster mencoba untuk membersihkan darah di bagian kepalanya.
"Berikan saya pompa jantung!" titah Zivanna terdengar ragu.
Perawat hanya menjalankan instruksi dan langsung memberikan kepada Zivanna.
Zivanna memegang kedua alat tersebut dengan kepanikan di wajahnya, antara harus melakukan dan tidak pada pasien dengan nafas tersengal-sengal tersebut.
"Bismillah....." ucapnya lirih
Saatnya memulai untuk memberi pertolongan kepada pasien tersebut dengan menempelkan alat mesin jantung tepat di dadanya.
"Zivanna....." belum sempat melakukan tindakan itu suara lancang berteriak membuatnya kaget dengan menoleh ke arah pintu gawat darurat.
Seorang Dokter tampan berjubah putih, memperlihatkan aura tajamnya dengan sorot mata menatap Zivanna seperti monster yang hendak menerkam. Zivanna perlahan mengangkat alat tersebut dengan tangan bergetar.
Langkah pria itu mendekatinya membuatnya semakin takut dengan kesulitan menelan ludah.
"Kau gila melakukan tindakan ini!" ucapnya terdengar marah, Zivanna sepertinya melakukan kesalahan.
"Minggir!" Dokter tersebut langsung mendekati pasien dan menyenggol tubuh Zivanna sampai tergeser ke belakang.
Dokter tampan itu kemudian terlihat menangani pasien
Mulai memeriksa tekanan darahnya, lalu memberi arahan kepada perawat untuk menghentikan pendarahan.
Zivanna di belakang Dokter yang memiliki tinggi di 178 itu terlihat mengintip-ngintip apa yang Dokter tersebut ternyata berhasil menangani pasien dengan kondisi stabil.
Setelah melakukan pemeriksaan secara intens pada pasien darurat tersebut, akhirnya dilanjutkan dengan beberapa prosedur yang dilanjutkan oleh perawat dan juga Dokter pengganti.
Saat ini Zivanna menunduk berada di lorong rumah sakit hampir bersandar pada tembok dengan keberadaan Dokter yang baru saja menegurnya berdiri di depannya. Dokter Pradikta yang biasa disebut Dokter Dikta. Dokter senior di rumah sakit merupakan Dokter spesialis bedah.
"Apa kau ingin jantung pasien berhenti?" Dikta menekan suaranya memarahi juniornya itu.
"Bagaimana mungkin kau bisa tiba-tiba melakukan RJP pada pasien yang masih memiliki nafas normal, masih sadar, apa yang ada dipikiran kamu saat melakukan tindakan seperti ini hah!" kemarahan yang besar semakin diperlihatkan pada Zivanna.
"Ma_ _ maaf Dokter," ucap Zivanna dengan lirih.
"Saya benar-benar tidak mengerti dengan kamu Zivanna, bagaimana mungkin kamu bisa lulus menjadi Dokter, untuk menangani pasien gawat darurat saja kamu tidak mampu, apa kamu tidak menyadari, kamu hampir saja membunuh pasien!" tegas Dikta .
"Saya minta maaf Dokter, saya hanya sendirian berada di ruang IGD, tidak ada Dokter lain, jadi saya kebingungan harus berbuat apa," jawab Zivanna.
"Ini rumah sakit dan menjadi Dokter tidak harus memiliki teman dalam setiap gawat darurat yang dihadapi. Kamu pikir Dokter-Dokter di rumah sakit ini harus mendampingi kamu dalam segala hal. Jika kamu tidak ingin berurusan dengan pasien sendirian, maka lebih baik kamu jangan pernah menjadi Dokter!" tegas Dikta.
Zivanna hanya menunduk dan tidak menjawab lagi. Apa yang dia lakukan ternyata merupakan kesalahan yang sangat fatal, tidak mudah dimaafkan begitu saja.
"Saya benar-benar tidak tahu harus berbicara apa dengan kamu. Kamu seperti anak kecil yang harus diawasi terus!" ucap Dikta geleng-geleng kepala dan kemudian langsung pergi.
Zivanna baru mengangkat kepala dan melihat kepergian dari Dokter senior itu.
"Setiap apa yang aku lakukan pasti selalu salah di matanya, tidak pernah sehari saja tidak dimarahi oleh Dokter Dikta," gumam Zivanna dengan sewot.
*****
Zivanna terlihat berjalan di koridor rumah sakit dengan wajahnya lesu dan lelah, bagaimana tidak tadi malam dia harus berjaga karena memang mendapatkan tugas pada shift malam, lumayan banyak pasien dan untung saja hanya melakukan 1 kesalahan dan langsung ditangani Dokter Dikta, selebihnya Zivanna hanya memeriksa pasien dengan biasa saja.
"Mungkin orang tuanya orang yang berpengaruh, makanya bisa menjadi Dokter tetapi tidak tahu apa-apa," suara bisik-bisik itu membuat Zivanna menoleh ke sebelahnya dan terlihat ada dua perawat yang tak lain ikut bersamanya berada di ruang IGD tadi malam.
"Bisa-bisa dia melakukan RJP pada pasien yang masih bernapas, untung saja pasien itu tidak mati di tangannya," wanita itu terus saja membicarakannya.
"Isss, gosip aja," batin Zivanna tanpa kesal dan memilih mempercepat langkahnya daripada telinganya semakin sakit mendengarkan gunjingan para perawat.
Zivanna meski menjadi Dokter, tetapi di rumah sakit itu dia bukanlah orang yang cukup disegani, karena selalu melakukan kesalahan dan bahkan sering dimarahi di depan banyak orang.
Zivanna sudah terbiasa dan lebih baik menerima karena memang kesalahannya cukup besar.
Bersambung....
...Para pembaca saya kembali memberikan karya terbaik, besar harapan saya karya terbaru saya dapat booming dan disukai banyak orang, tetapi semua tidak terlepas dari dukungan para pembaca yang selama ini setia membaca karya-karya saya, sedikit banyaknya dukungan dari kalian memberikan semangat yang luar biasa kepada saya. ...
...Jangan lupa untuk terus membaca dari bab 1 sampai bab akhir dan jangan menabung bab, setiap bab memiliki kejutan. ...
...Terima kasih para pembaca, salam cinta dari saya author....