NovelToon NovelToon
Aku Bertahan Untuk Membalasmu

Aku Bertahan Untuk Membalasmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:39.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

"Selama ini, aku bertahan bukan karena masih mencintaimu, Arsen. Bukan juga karena aku lemah. Tapi, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk membuat kalian menyesal."

Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.

Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.

Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.

Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.

Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.

Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Wawancara

Keesokan paginya, suasana di rumah Arsen mendadak ricuh.

Arsen menuruni anak tangga dengan setelan piyama yang masih melekat di tubuhnya. Wajahnya tampak kesal, sementara suaranya menggema di seluruh ruangan.

"Alena! Alena!" teriaknya berulang kali. Namun, tidak ada jawaban.

Keributan itu pun menarik perhatian Hana dan Danis yang baru keluar dari kamar mereka.

"Ada apa, Arsen? Kenapa pagi-pagi sudah berteriak seperti itu?" tanya Hana dengan kening berkerut.

Arsen mengembuskan napas kasar. "Alena tidak menyiapkan air mandi dan pakaian kerjaku, Ma."

Hana tampak terkejut. "Apa? Kenapa bisa begitu? Bukannya selama ini dia selalu menyiapkan semua keperluan mu?"

Arsen menggeleng dengan wajah masam. "Mana aku tahu? Beberapa hari ini dia tidur di kamar lain. Tadi aku ke kamarnya tapi, dia sudah tidak ada."

Dan, tepat saat itu, Santi datang dari dapur dan meletakkan sepiring nasi goreng di atas meja makan. Mendengar percakapan mereka, ia pun mendekat.

"Maaf, Tuan," ucapnya hati-hati. "Nyonya sudah pergi sejak pagi."

Arsen langsung menoleh. "Apa? Pergi? Ke mana?"

Santi menggeleng pelan. "Nyonya tidak mengatakan apa-apa. Tapi, beliau berpakaian sangat rapi, seperti hendak pergi bekerja."

Mendengar itu, rahang Arsen mengeras. "Pergi bekerja?" ulangnya pelan.

Ia mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha menahan amarah yang tiba-tiba muncul.

"Sepertinya, aku sudah terlalu memanjakannya sampai dia mulai bertindak sesuka hati," geramnya dengan tatapan berubah tajam. "Awas saja kamu, Alena."

Setelah mengatakan itu, Arsen berbalik dan kembali menaiki anak tangga dengan langkah berat.

Sementara itu, orang yang mereka bicarakan sudah jauh meninggalkan rumah.

Alena sedang dalam perjalanan menuju perusahaan WIN Group.

Pagi ini, ia membawa tekad baru. Ia teringat nasihat Nadia untuk lebih percaya diri dan menjawab setiap pertanyaan wawancara dengan tegas, agar statusnya sebagai ibu rumah tangga tidak lagi dipandang sebelah mata.

Dengan pakaian rapi dan map berisi berkas di pangkuannya, Alena menatap jalanan di depan dengan penuh harapan.

Di dalam hati, ia terus memanjatkan doa.

"Semoga kali ini berhasil. Semoga aku diterima bekerja dan bisa membuktikan bahwa aku juga mampu."

Senyum tipis pun terukir di bibirnya. Ia kembali merasakan semangat untuk memperjuangkan masa depannya sendiri.

Tapi ternyata, kenyataan yang Alena hadapi tidak semudah yang ia bayangkan.

Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya ia tiba di sebuah gedung megah dengan logo besar WIN Group yang terpampang di bagian depan. Jantungnya berdebar pelan. Ini adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.

Alena menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu melangkah masuk ke dalam gedung.

Ia menghampiri meja resepsionis dengan senyum sopan.

"Permisi. Saya mendapat panggilan wawancara untuk hari ini," ucapnya.

"Atas nama siapa?" tanya Resepsionis.

"Alena Revi Ananta."

Resepsionis itu segera memeriksa data di komputer. "Baik, Bu Alena. Silakan langsung menuju lantai tiga. Proses wawancara sedang berlangsung di sana."

"Terima kasih."

"Sama-sama. Semoga berhasil."

Alena mengangguk sambil tersenyum tipis. Setelah itu, ia berjalan menuju lift dan menekan tombol lantai tiga.

Begitu pintu lift terbuka, ia langsung melihat ruang tunggu yang sudah dipenuhi para pelamar lain. Sebagian tampak sibuk mempelajari berkas, sebagian lagi menunggu dengan wajah tegang.

Melihat banyaknya pesaing membuat rasa gugup kembali muncul.

"Tenang, Alena. Kamu sudah mempersiapkan semuanya dengan baik," batinnya menyemangati dirinya sendiri.

Ia menarik napas perlahan lalu, duduk di kursi kosong di antara para pelamar lainnya.

Waktu berlalu cukup lama. Satu per satu nama dipanggil untuk memasuki ruang wawancara. Hingga akhirnya, namanya di panggil.

"Alena Revi Ananta."

Alena segera berdiri. "Ya."

Ia merapikan pakaiannya sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan.

Di sana telah duduk seorang pria berkacamata dengan postur tegap dan ekspresi profesional. Tatapannya tajam, seolah mampu membaca isi pikiran seseorang hanya dengan sekali pandang.

"Silakan duduk, Bu Alena," ujar pria itu, yang tidak lain adalah Doni.

Alena sedikit mengernyit. Suara itu terdengar familiar. Tapi, ia segera mengabaikan perasaannya. Saat ini fokus utamanya adalah wawancara.

"Terima kasih." Ia duduk dengan posisi tegak.

Doni membuka map berisi berkas lamaran. "Baik. Sebelum kita mulai, silakan perkenalkan diri Anda."

Alena mengangguk. "Nama saya Alena Revi Ananta. Usia dua puluh tujuh tahun. Saya memiliki pengalaman bekerja di bidang marketing serta finance and accounting."

Doni mengangguk pelan sambil membaca CV yang ada di tangannya.

"Menarik." Ia membalik beberapa lembar dokumen. "Di sini tertulis, Anda pernah bekerja sebelum akhirnya berhenti."

"Benar, Pak."

"Lalu, selama beberapa tahun terakhir Anda menjadi ibu rumah tangga."

"Ya."

Doni mengangkat pandangannya. "Bukankah itu akan menjadi kendala? Dunia kerja terus berkembang. Banyak hal berubah dalam beberapa tahun terakhir."

Alena sudah menduga pertanyaan seperti itu akan muncul. Ia mengingat nasihat Nadia dan menegakkan bahunya.

"Saya tidak berpikir demikian, Pak."

Doni tampak tertarik. "Oh, ya?"

"Selama menjadi ibu rumah tangga, saya memang tidak bekerja di perusahaan. Tapi, saya tetap belajar dan mengikuti perkembangan yang ada. Selain itu, kemampuan dasar yang saya miliki tidak hilang begitu saja hanya karena saya berhenti bekerja untuk sementara waktu."

Doni tersenyum tipis. "Jawaban yang cukup percaya diri."

Alena membalas dengan senyum sopan.

Doni kemudian menutup map di hadapannya dan menyatukan kedua tangannya di atas meja.

"Jujur saja, Bu Alena. Kami selalu melakukan pemeriksaan latar belakang terhadap setiap kandidat yang melamar di perusahaan ini."

Alena mengangguk pelan. "Saya mengerti."

"Karena itu, kami mengetahui bahwa Anda adalah istri dari Arsen Bhaskara."

Ekspresi Alena sedikit berubah mendengar nama suaminya yang tiba-tiba disebut.

"Ya, itu benar."

Doni menatapnya beberapa saat. "Kalau begitu, saya penasaran. Tuan Arsen adalah salah satu rekan bisnis penting perusahaan kami. Beliau memiliki perusahaan besar dan posisi yang sangat mapan. Lalu, mengapa Anda memilih melamar pekerjaan di sini?"

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.

Alena masih terdiam. Ia tidak menyangka pertanyaan tersebut akan muncul.

Apakah mereka curiga padanya dan mengira ia dikirim Arsen untuk mencari informasi perusahaan?

Sementara Alena berusaha menyusun jawaban, di ruangan lain seseorang sedang memperhatikan jalannya wawancara dengan penuh minat.

Dia adalah Kenan.

Dia duduk di balik meja kerjanya dengan laptop terbuka di hadapannya, menampilkan rekaman langsung dari ruang wawancara.

Earphone terpasang di telinganya, membuat setiap kata yang Alena ucapkan terdengar jelas.

Tatapan pria itu menyipit saat melihat ekspresi terkejut Alena.

"Jadi, apa jawaban yang akan kau berikan, Alena?" gumamnya pelan.

1
Muft Smoker
jgn marah2 kek ,, namany juga ank2 ,, 😂😂😂😂 ,,
nakal sdkit gpp ,, yg penting nnti kek dapet cucu menantu idaman ,,
nunik rahyuni
bocah nakal lg kasmaran kakek..relakan saja hp jadulnya...untuk kelancaran menjemput calon cucu menantu🤣🤣🤣
Ma Em
Alena semangat ya dan kamu jgn mau direndahkan Arsen , Kenan pasti bohong pada Alena bahwa dia menggantikan kakek Rendra .
sunaryati jarum
Orang panik juga bisa lupa.sampai menggandeng tangan.orang tidak merasa.Untuk.Arsen Emak beritahu ya kamu memiliki masalah kesuburan jadi diaknosa saat masih jadi suami Alena kemungkinan kecil membuat pasangan kamu hamil
Muft Smoker: atuh perlu di pertanyakan atuh mak ,, ank di kandungan erina????😲😲😲😲😲
total 1 replies
sunaryati jarum
Astaga kirain emak Kenan baca pesan di Hp Alena, ternyata.hp kakek Rendra dibaea🤣🤣🤣
sunaryati jarum
O yang baca Tuan Kenan,ya.Sudaj berani baca pesan di Hp Alena
Yeni Astriani
ternyata saingan terberat Kenan dalam mendapatkan perhatian Alena Kakek Rendra sampai mencuri hape kakek nya sendiri biar gak bisa kencan sama Alena.
aduhh😂😂😂
nunik rahyuni
kan...kenan nakal..orsng tua dikerjai...sampai seisi rumah di balik cuma cari hp..tp sang cucu yg licik menguntit nya🤣🤣g ada nyali nya kenan...klo suka bilang bos
Heny
SUAMI YG GK BERSYUKUR DPT ISTRI SETIA DAN BAIK HATI
Heny
Main cabtik Alena
Heny
Alena yg sabar
nunik rahyuni
yg di beri kbr si kakek tp notif nya msuk di hp kenan jg🤣🤣🤣l modus kenan licik
Muft Smoker
jgn2 yg nerima pesan bukan kek rendra tp si kenan ,,
😂😂😂😂
sunaryati jarum
Bosnya suka kamu,dia bayar dengan dana pribadi ,dia mengatakan dana perusahaan agar kamu tidak menolak.Untuk urusan Arsen di perusahaan ASN kamu tidak perlu kawatir,dari hasil sidang dan terungkapnya fitnah Arsen padamu, Arsen sudah tidak mendapatkan kepercayaan lagi.Apalagi jika perselingkuhannya diungkap, mungkin para pemegang saham memintanya mundur
sunaryati jarum
Semangat dan sukses Alena.Dan emak ingin segera melihat kehancuran Arsen dan keluarganya termasuk selingkuhannya
sunaryati jarum
Kenan Pepet Alena dengan dalih menemani kakek Rendra.Cerdas juga bisa memanfaatkan kedekatan kakeknya dengan Alena 🤣🤣🤣👋👋
Ma Em
Semangat Alena semoga kamu makin sukses selalu bahagia tinggalkan masa lalu menuju masa depan yg bahagia , semoga Arsen tdk akan pernah bahagia bersama selingkuhan nya dan mendapatkan balasan yg lbh menyakitkan .
Muft Smoker
tdk perlu memandang lg kebelakang Alena ,, anggap aj mereka mimpi buruk yg perlu km lupain ,,
Muft Smoker
tkuut kesaing ma kakek ny sndriii yx kenan😂😂😂😂😂
sunaryati jarum
Arsen yang menghubungi atau ada bukti baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!