"Kamu di diagnosa kanker otak stadium 3,tapi masih gejala awal jadi tingkat kesembuhan masih ada 75 % lagi,asal secepatnya operasi"
"Jika aku tidak operasi?"
"Jangan gila,kau bahkan tidak akan bertahan sampai 5 bulan"
"Kalau begitu biarkan saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hantari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Segera operasi
Setelah lebih dari satu jam berada dalam ruang kontrol,kini Adeline akhirnya sadar setelah efek bius habis.
Ia merasakan kepalanya sedikit sakit hingga seluruh tubuhnya juga begitu lemah.
"Dok,kenapa rasanya semakin sakit begini?",tanya nya memegang kepalanya dengan sedikit rekanan.
"Itu efek pengobatan dan proses penjinakan, beberapa hari terakhir ke depan kau harus cukup kuat untuk menahan rasa sakit",jelas dokter Aland, rasanya Ia tidak tega mengatakan pada wanita itu kalau kondisinya sangat buruk sekarang."Tapi kau jangan takut,kami sudah menyiapkan obat pereda rasa sakit"
Dokter wanita paruh baya,dia adalah Dokter Inggrid yang akan ikut melakukan operasi pada Adeline,Ia juga sama seperti dokter Aland tidak tega melihat kondisi wanita itu.
"Adeline,jangan khawatir kami akan melakukan segala cara agar kau bebas dari kanker dan bisa hidup dengan normal tanpa rasa sakit lagi nanti"
"Terimakasih dok"
Setelah beberapa saat berbincang bincang tentang operasi yang akan datang, Adeline kini telah keluar hanya tersisa dokter Aland dan dokter Inggrid yang juga bersiap pergi.
"Aku tidak tega mengatakan pada nya kalau sel tumor itu berkembang sangat cepat,dan hampir menyatu dengan jaringan-jaringan otak yang perlahan akan memutus sel dan jaringan otaknya."
Dokter Aland menghela nafas frustasi,Ia tau saat pertama kali memeriksa Adeline Ia sudah lihat kalau sel tumor itu sudah lama tanpa perawatan dan penanganan sama sekali,hingga memasuki stadium 3 Ia baru datang untuk operasi.Dan Ia tau kalau itu akan sulit.
"Dokter inggrid,ini tidak benar.Dia harus tau kondisinya yang semakin memburuk,tumor di dalam otaknya berkembang begitu cepat dan hampir merusak jaringan-jaringan otak,ini sangat berbahaya dan harus segera operasi"
Dokter Inggrid yang akan pergi menghentikan langkahnya,dan kemudian berbalik melihat dokter Aland yang berdiri di antara meja kerjanya.
"Sebenarnya apa alasan anda dokter inggrid menyembunyikan hal sebesar ini darinya?,saya kenal anda yang selalu peduli pada pasien dan selalu profesional dan sangat meninggikan kesehatan pasien"
"Saya tau jadwal operasi di permaju tiga hari lagi dok.Tapi dok,tiga hari lagi dia akan bertemu dengan ibunya setelah sekian lama.Tidak bisa kah kita menunda 1 hari lagi, setidaknya dia akan bertemu dengan ibunya dan akan ada yang mendampingi nya saat Ia terbangun nanti setelah selesai Operasi"
Dokter Aland sedikit tertegun, terlebih saat melihat dokter Inggrid yang sudah menitikkan air mata,Ia menghela nafas karna tau apa yang sedang di pikirkan oleh rekan nya.
Ia hampir lupa,kenapa rekan nya itu menjadi dokter spesialis kanker yang hebat, Dokter Inggrid sudah menjadi dokter spesialis kanker sejak usia muda,namun meski Ia adalah dokter spesialis kanker, nyatanya Ia kehilangan putrinya karna penyakit kanker yang di idap, putrinya meninggal sesaat setelah operasi hampir berhasil.
Tidak berhasil, karna pada kenyataannya kanker/tumor pada putrinya adalah tumor ganas dan sangat cepat merusak sel otak,hingga telah merusak jaringan sel otak putrinya hingga menghentikan pembuluh darahnya, dan putrinya meninggal sebelum sadar setelah operasi selesai,dan Ia tidak bisa berbicara pada putrinya untuk terakhir kalinya.
Dan semua itu persis seperti Adeline sekarang,dia juga memiliki tumor ganas yang tingkat kesembuhan nya hanya 35 persen.
Dokter Aland akhirnya menghela nafas dan mengangguk."Baiklah,kita akan menunda operasi 1 hari setelah dia bertemu dengan ibunya"
"Terimakasih,saya akan memantau kesehatan nya sampai operasi 4 hari lagi"
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terulang kembali,dia harus sembuh"
"Pasti"
"Iya dok,kalau begitu saya permisi"
"Baiklah, silahkan"
Sesaat setelah dokter Inggrid keluar,Dua orang wanita dengan berbeda usia masuk ke ruangan dokter Aland.
"Surprise!!!",sapa salah seorang wanita yang usianya paling tua dengan senyum sumringah.
"Mama?,kenapa tiba-tiba?"
Senyum wanita paruh baya itu menghilang,"Pa,sejak pagi tadi mama udah telpon papa berkali-kali,sampai siang ini mama masih menunggu panggilan balik papa tau"
Dokter Aland melihat ponselnya dan menghela nafas,melihat puluhan panggilan tak terjawab dari istrinya itu."Maaf ma,sejak pagi tadi ada pasien yang cukup serius untuk di tangani, sampai siang ini baru selesai"
Wanita paruh baya itu mendengus,"Mama mengerti pa.Karna itu mama langsung datang ke sini sekalian bawa calon menantu kita"
"Pa"
Wanita muda yang sejak tadi diam dan hanya memperhatikan, tersenyum sembari berjabat tangan dengan dokter Aland dengan mencium tangan buku tangan calon mertuanya itu.
Dokter Aland tersenyum sopan,dan mengusap pucuk kepala perempuan muda yang sangat sopan itu.
"Pa,aku bawa Shara ke sini karena mau ngajak papa untuk makan siang bersama,sekalian Leo juga.Kita makan berempat untuk lebih mengenalkan Shara sama Leo, bagaimana pun pertunangan akan cuma hitung hari lagi"
"Baiklah,Leo dimana sekarang?"
"Dia sedang dalam perjalanan ke resto yang udah mama boking Pa,udah ayo cepat"
Saat ini Adeline tengah duduk bersama Tristan di sebuah kafe, ketika seseorang memperhatikan mereka dengan tidak senang.
"Jadi gimana,mama aku tinggal di mana?"
Tristan terkekeh dengan ketidak sabaran Adeline saat ini,"Sabar, aku juga belum buka amplopnya", Tristan mengeluarkan ampolop kuning besar,yang isinya data-data seseorang,yang Ia terima dari seseorang teman nya.
"Tapi tunggu dulu deh,bukan nya kamu itu paling tidak suka pakai topi kupluk kayak gitu, katanya pengap dan bikin gatel-gatel,tapi kok sekarang itu topi nangkring terus ya di sana,gak di lepas?"
"Tidak, sebenarnya aku sedikit tidak enak badan dan tidak bisa kena angin,jadi aku pakai topi",jawab Adeline cepat namun berusaha tenang,Ia sudah memutuskan untuk tidak memberitahu Tristan tentang kesehatan nya sekarang.
Namun hal itu justru membuat Tristan panik dan khawatir,hingga tangan besarnya langsung menempel pada dahinya."Kenapa tidak bilang,kalau begitu kita tidak usah bertemu di luar tadi,lebih baik tadi aku datang ke tempat mu saja"
"Apa kau sudah pergi ke dokter,kalau belum kita pergi sekarang saja"
Tristan sudah berdiri di tempatnya dengan wajah paniknya yang benar-benar terlihat jelas di wajahnya.
"Nggak usah-nggak usah, tadi aku udah ke dokter kok.Dan sebenarnya aku juga sudah lebih baik,makanya bisa keluar.Kita langsung buka amplop nya aja sekarang"
"kamu yakin?,kamu memang kelihatan pucat dan lemas banget", khawatir Tristan masih belum sepenuhnya pudar.
Adeline tersenyum sembari menggeleng,"Nama nya juga belum sembuh sepenuhnya"
Tadinya Ia berencana memakai rambut palsu setelah cukur rambut,tapi dokter mengatakan kalau itu akan mengganggu kesehatan kepalanya,lem rambut palsu dapat menganggu kesehatan kulit kepalanya.
Semangat kk..
pengen lihat adel bangkit dan melihat karma si dua perempua jahat itu