NovelToon NovelToon
Kembalikan Anakku, Adinata

Kembalikan Anakku, Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: doubleareya

Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.

Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.

Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.

Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Pertama kali Nadine mengidam

Nadine keluar dari kamarnya dengan wajah tidak semangatnya.

“Kenapa, Nad? Tidurnya tidak nyenyak?”

Nadine melangkahkan kakinya sambil menggelengkan kepala. Ia mendudukkan dirinya di sebelah tubuh sang tante.

“Tante.” Nadine memeluk tubuh sang tante.

Tante Almi menaruh piring yang berisikan potongan mangga ke atas meja. Tangannya beralih membalas pelukan Nadine. “Kenapa, sayang. Cerita ke tante.” Tante Almi mengelus punggung Nadine yang tertutupi oleh gaun rumahan berwarna biru muda.

Nadine melepas tubuhnya dari pelukan sang tante. Ia menghidupkan ponselnya. “Nadine tiba-tiba saja ingin makan ini.”

Tante Almi dan Andin mendekatkan tubuh mereka untuk melihat gambar yang ditunjukkan oleh Nadine di ponsel milik Nadine.

Tante Almi menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya. “Tante buatkan, ya. Pasti cucu tante yang ingin mencoba menu tersebut, ya.” Tante Almi mengelus rambut Nadine.

“Andin bantu, ya, Bun.”

Gambar yang Nadine tunjukkan berisikan telur rebus, udang, brokoli dan jagung manis yang dipotong dan dicampurkan di sebuah wadah dengan saus yang terlihat menggugah selera.

“Maaf, ya, Tan. Nadine merepotkan tante dan Andin.”

Andin menggelengkan kepalanya dengan tegas. “Aku dan bunda tidak merasa direpotkan, ya, Nad. Tidak usah merasa tidak enak hati, Nadine. Bersikap santai saja dengan kami. Nanti aku buatkan yang enak, ya untuk kamu dan keponakan aku.”

“Tidak tahu kenapa, aku jadi merasa agak sedih.” Nadine berganti memandang plafon rumah untuk menahan air matanya yang ingin keluar.

Tante Almi dengan cepat memeluk tubuh Nadine. “Tidak apa-apa kalau kamu ingin menangis, Nad. Hormon ibu hamil memang mudah berubah.”

Tumpah juga air mata Nadine di bahu sang tante. Tante Almi bergerak pelan mengelus rambut Nadine sambil menggumamkan kalimat penyemangat untuk Nadine.

“Susu yang kamu beli sudah kamu minum, Nad?”

Nadine menganggukkan kepalanya yang disandarkan di bahu sang tante. “Andai mama memperlihatkan kasih sayang mama ke aku, ya, Tan. Pasti rasa sedihku tidak berkali-kali lipat. Tidak dianggap anak oleh keluargaku dan sekarang aku juga menjadi janda yang sedang hamil. Bingung rasanya ingin menangis atau menertawakan kehidupan rasa sakitnya berasal dari orang tua.”

“Tante tidak mengerti pemikiran orang tua kamu, Nad. Mereka yang menghadirkan kamu ke dunia ini, seharusnya mereka juga yang bertanggung jawab untuk kehidupanmu di dunia. Mereka malah hanya ingin mendapatkan sukacitanya saja.” Tante Almi menggelengkan kepalanya ketika ingatannya terlintas wajah Nadine sewaktu kecil yang bersembunyi di belakang tubuhnya dengan penuh ketakutan karena tidak sengaja menyenggol cangkir kopi hingga pecah. Hadira—mama Nadine membawa sebuah kayu panjang yang akan dipukulkan ke tubuh kecil Nadine. Untung saja dirinya datang tepat waktu.

Ia membawa Nadine pulang ke rumahnya selama beberapa hari dan membiarkan Nadine bermain dengan penuh kebahagiaan bersama dengan Andin.

“Pesan bunda untuk 2 anak perempuan yang paling bunda sayangi. Untuk mendapatkan keturunan di perut kita sendiri butuh perjuangan panjang dan melelahkan bagi fisik dan mental. Kalau anak kalian sudah lahir, sayangilah mereka. Jangan takut untuk mengorbankan seluruh hal yang kamu miliki untuk kebahagiaan anakmu.” Tante Almi memandang Andin dan berganti memandang Nadine. “Kalau bunda tiada suatu saat nanti, kalian harus tetap mengingat bunda, ya.”

“Bun, katanya lebih baik menikah terlambat dibandingkan menikah dengan orang yang salah. Benar tidak, Bun?”

Nadine menegakkan tubuhnya. “Benar, An. Tidak usah menikah cepat, muda atau terburu-buru. Kenali pasanganmu dan keluarganya dengan benar-benar sampai kamu mengerti.”

“Tapi omongan tetangga gimana soal waktu menikah yang berbeda dengan teman-temannya?” Andin melahap potongan mangga terakhir. Membawanya masuk ke dalam mulut untuk ia kunyah.

“Andin, perihal jodoh dan ajal, Tuhan sudah menentukan waktu dengan sebaik-baiknya. Omongan orang lain seharusnya tidak usah dijadikan sebagai beban,” ucap Tante Almi. “Nadine, kamu kalau ingin memanggil tante dengan sebutan ‘bunda’ seperti panggilan Andin ke bunda. Bunda tidak merasa risih.”

Nadine meringis. “Sebenarnya Nadine ingin memanggil dengan sebutan ‘bunda’ juga, tapi Nadine merasa tidak enak hati untuk memanggilnya seperti Andin memanggil ‘bunda’.”

Andin tertawa kecil. “Sudah dari dulu aku menyuruhmu memanggil bundaku dengan sebutan ‘bunda’ juga, Nadine, tapi kamu sendiri yang selalu merasa tidak enak hati. Hey, Nadine aku ingatkan sekali lagi, ya. Aku tidak merasa keberatan dengan keberadaanmu.”

Sedari kecil, Nadine sudah selalu diminta untuk memanggil Om Divaz dan Tante Almi dengan sebutan ayah dan bunda, tetapi Nadine selalu menggelengkan kepalanya dan memberi kalimat penolakan. Alasannya selalu sama.

Nadine menatap wajah Tante Almi dan Andin secara bergantian. “Beneran tidak apa-apa, ya?”

“Tidak apa-apa, Nadine.” Suara Andin benar-benar terdengar meyakinkan. “Panggil ayah dan bunda juga, sama sepertiku ketika memanggil.”

“Bunda Almi,” panggil Nadine disambut dengan senyuman bahagia di bibir Andin dan Tante Almi. “Bunda, Andin dan ayah harus melihat bayi Nadine setelah lahir nanti, ya. Tentu melihatnya setelah dokter dan suster sudah membersihkan bayi Nadine.”

“Aku jadi merasa tidak sabar untuk menyambut keponakan aku.”

Tante Almi mengelus perut Nadine. “Apalagi bunda, bunda sudah tidak sabar dipanggil ‘nenek’.”

“Bun,” panggil Andin. “Masa baru lahir langsung bisa bicara, Bun?”

“Andin! Kamu ini, ya.”

Andin mengeluarkan tawa yang kencang begitupun dengan Nadine yang ikut tertawa terbawa suasana.

“Bunda ke dapur, ya. Bunda mau siapkan makanan yang sedang cucu bunda idamkan.”

1
doubleareya
Halo, teman-teman 👋🏻👋🏻 Terima kasih sudah membaca cerita Adinata - Nadine yaaa, aku mau minta tolong kepada teman-teman untuk memberi dukungan cerita ini dengan suka dan komentar yaaa 🤍 🤍 Aku sangat terbuka dengan saran dan kritik yang baik untuk cerita ini yaa 😙💛
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!