NovelToon NovelToon
Cinta Salah Alamat

Cinta Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cintapertama / Lari Saat Hamil
Popularitas:839
Nilai: 5
Nama Author: Yourfaa

Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.

"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”

Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.

***

"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.

Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.

Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.

"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CSA 15

“Kakak pulang hari ini. Nanti jika ada waktu Kakak akan ke sini lagi menjengukmu, oke.” Amelia berpamitan pada Angkasa yang sedari tadi bergelayut manja di kakinya.

“Kata Ibu kalau sudah janji harus ditepati. Aku akan menunggu Kakak di sini.” Angkasa berusaha kuat, tapi suaranya terdengar sangat lesu. Belum lagi bibirnya yang tertekuk ke bawah.

“Baiklah, Angkasa kita yang paling hebat. Nanti Kakak bawakan hadiah lagi.” Gadis itu mengelus pelan kepala bocah itu.

“Oke.” Angkasa langsung semringah mengingat hadiah sebelumnya yang sangat disukainya. Itu adalah paket miniatur super hero.

Setelahnya Amelia segera kembali ke ruangan Rosa. Hari ini mereka akan pulang dan ketiganya akan menempati rumah baru yang telah lama disiapkan oleh Hanan untuk Rosa, hanya saja selama ini mereka belum menempatinya karena istrinya itu tak ingin kesepian. Sekarang sudah ada Amelia yang akan menemani wanita itu sehingga dia akhirnya berubah pikiran.

Rumah itu berada di area pegunungan, begitu asri dan penuh dengan pemandangan hijau yang menyegarkan mata.

“Pemandangan di sini benar-benar bagus. Mas Hanan benar-benar tahu seleraku. Terima kasih, Mas.” Rosa memandangi area sekitar rumah dengan raut berbinar.

Pemandangan gunung adalah favorit wanita itu dan Hanan benar-benar mengutamakan selera istrinya dalam pembangunan rumah mereka. Mulai dari lokasi, arsitektur, sampai furniture di dalamnya.

“Mel, bagaimana pemandangannya? Bagus, ‘kan?”

Amelia yang ditanya demikian hanya mengangguk singkat dengan senyum tipis yang terkesan dipaksakan.

Dalam hal selera, sebenarnya dua bersaudara itu sangat berbeda jauh. Jika Rosa sangat menikmati pemandangan hijau yang asri, Amelia lebih menyukai birunya lautan dan langit yang menyatu, bahkan gadis itu cenderung tak menyukai udara sejuk pegunungan yang anehnya terasa menyesakkan. Dia lebih tenang menghirup aroma asin lautan yang berpadu dengan ramainya debur ombak.

Berada di pegunungan ini nyaris seperti siksaan bagi Amelia, padahal mereka belum lama tiba.

“Aku benar-benar benci pegunungan.”

Setiap langkah Amelia terasa berat. Dia tertinggal di belakang sementara Hanan dan Rosa sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah dua tingkat itu.

“Kamarmu ada di sebelah kiri.” Hanan berucap tanpa menoleh. Dia sibuk menuntun Rosa naik ke lantai dua, padahal Hanan sudah menyarankannya tidur di kamar lantai satu agar tidak perlu bolak-balik dan menguras tenaga istrinya hingga kelelahan, tapi Rosa bersikeras ingin tinggal di lantai dua agar bisa melihat pemandangan gunung dengan bebas.

Amelia berjalan menuju kamarnya tanpa kata. Dia meletakkan barang-barangnya dan beralih menuju dapur karena sekarang sudah hampir jam makan siang. Di sana, semua bahan makanan sudah diisi dan gadis itu mengambil ayam, telur, tak lupa juga beberapa sayur.

Tak lama mulai terdengar suara pisau dan talenan beradu hingga air yang mengucur dari wastafel.

Saat memasak, tak ada satu pun yang bisa mengalihkan perhatian Amelia. Salah satu keahlian yang dikembangkan oleh gadis itu selama ini adalah kemampuan memasaknya. Terbukti dari latihan bertahun-tahun rasa masakannya tak pernah mengecewakan. Apalagi selama ini dia yang selalu menangani makanan di rumahnya.

“Apa yang kamu masak, Mel? Baunya harum sekali.” Rosa turun dari lantai dua setengah berlari.

“Aku masak ayam kari, telur dadar, acar mentimun, dan sambal, tapi Mbak tidak boleh mengambil sambalnya, cukup lauknya saja.” Amelia menoleh dan tampak serius mengatakan kalimat akhirnya.

“Oke-oke. Kamu selalu tampak galak jika berurusan dengan makananku.” Rosa mengambil tempat duduk di ruang makan.

“Itu demi kebaikan Mbak juga.” Amelia mencuci tangannya dan membawa sambal ke meja makan sebagai menu pelengkap yang dia buat hari ini.

Hanan menyusul dan duduk di samping Rosa tanpa suara. Amelia duduk terakhir cuma dan duduk di depan keduanya. Dia menyiapkan nasi untuk kakaknya dan suaminya dengan tenang sebelum menyajikan untuk dirinya sendiri.

Suara denting sendok dan piring menandakan makan siang telah dimulai dan Rosa yang sudah terbiasa dengan masakan Amelia benar-benar menikmati rasa makanan di lidahnya setelah sekian lama memakan makanan rumah sakit yang terasa membosankan.

“Seperti biasa, Mel, masakanmu selalu enak, tapi tumben sekali kamu membuat kari ayam? Kenapa tidak pernah membuatnya jika di rumah?” Rosa bertanya di sela-sela kunyahannya.

Amelia yang sedari tadi fokus pada makanannya menaikkan pandangan dan menatap kari ayam di depannya.

”Hanya ingin.”

“Hanya ingin membuat makanan favorit seseorang.”

Rosa mengangguk beberapa kali dan kembali menyuapkan makanannya.

“Lain kali buat lebih sering. Aku suka kari ayam buatanmu.”

Hanan di sampingnya juga sama fokusnya dengan makanan miliknya. Harus dia akui bahwa makanan di depannya memang enak, apalagi kari ayam merupakan makanan favoritnya yang tak pernah dia katakan kecuali pada keluarganya dan Rosa. Namun, dia sudah tidak pernah memakannya sejak lama.

Amelia dengan cepat menyelesaikan makannya dan beranjak lebih dulu saat Hanan dan kakaknya masih sibuk dengan piring masing-masing.

“Mbak, aku ke kamar dulu. Nanti biar aku yang membereskan piringnya.”

Tanpa menunggu jawaban dari kakaknya, Amelia menghilang dari ruang makan. Gadis itu tiba-tiba mengingat sesuatu yang terasa kurang sejak dia pulang dari rumah sakit. Begitu sampai di kamarnya, dia menggeledah tas beserta pakaiannya.

“Tidak ada. Kenapa aku baru sadar gantungan kuncinya tidak ada?” Kepanikan mulai menghiasi wajah cantik Amelia. Gadis itu sampai mencari pada tas yang sama berkali-kali, tapi masih tak menemukan apa yang dicarinya.

Dia berusaha mengingat-ingat kapan benda itu terakhir kali berada di tangannya. Rumah sakit akhirnya menjadi ingatan terakhir.

“Bagaimana ini? Jika terjatuh di sana pasti akan sulit ditemukan.” Amelia keluar dari kamarnya. Menyambar jaket dan kunci motor sebelum berlari menuju halaman.

Mendengar suara motor yang menyala membuat Rosa yang berada di halaman belakang bereaksi. Dia berlari hingga halaman depan dengan napas terputus-putus.

“Mbak, kenapa berlari seperti itu?” Amelia mematikan mesin motornya dan menghampiri kakaknya yang berkeringat deras.

“Kamu mau ke mana?” Rosa tak menjawab pertanyaan adiknya itu.

“Hanya ingin ke rumah sakit, ada barangku yang tertinggal di sana. Sebaiknya Mbak masuk dulu.”

Amelia terpaksa menunda niatnya ke rumah sakit. Kakaknya saat ini lebih penting. Wanita itu benar-benar pucat.

“Sa, apa yang terjadi?” Hanan terburu-buru menghampiri istrinya yang bersandar lemah di sofa.

Wanita itu tersenyum dan menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Hanya sedikit sesak napas dan berkeringat karena berlari.”

“Berlari? Apa yang membuatmu berlari di siang bolong seperti ini?” Hanan mengetatkan rahangnya menahan emosi. Bukan pada istrinya, tapi penyebab wanita itu rela berlari saat kesehatannya dipertaruhkan.

“Tidak perlu dibahas, aku hanya penasaran karena mendengar suara motor menyala tadi. Aku pikir itu Mas, tapi ternyata Amelia yang katanya ingin pergi ke rumah sakit karena barangnya ada yang tertinggal.”

Begitu mendengar nama Amelia, mata Hanan langsung menyorot tajam pada gadis itu yang menghela napas panjang.

“Maaf, ini salahku.” Amelia tak tahu harus membela diri seperti apa saat tatapan pria itu sudah lebih dulu menyiratkan kebencian tanpa perlu penjelasan.

“Mas, ini bukan salah Amel.” Rosa mulai protes.

“Salahnya atau bukan, tapi dia penyebab kamu berlarian. Bagaimana jika kamu kembali drop? Apa dia bisa menyembuhkanmu?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!