"Ini bukan tentang pergi meninggalkanmu. Ini beasiswa, Alfa. Kesempatan sekali seumur hidup yang diberikan Ibu Amara untukku bekerja dan belajar di Paris. Hanya tiga tahun..."
"Tiga tahun?!" Alfa tertawa sumbang, langkah kakinya maju mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Zia bisa merasakan aura intimidasi yang pekat.
"Kamu menyebut tiga tahun itu hanya? Kamu mau meninggalkanku di sini sendirian, sementara kamu bersenang-senang di Paris?!"
Zia menatap wajah pria yang teramat dicintainya itu dengan pandangan kabur oleh air mata. Alfa selalu seperti ini. Posesif, mengekang, dan selalu ingin memegang kendali penuh atas hidupnya. Namun, selama ini Zia selalu mengalah. Bagi Zia yang sebatang kara, kekangan Alfa adalah wujud dari rasa sayang yang teramat dalam.
Tapi apakah kali ini Zia kembali mengalah? Atau dia akan mengikuti kata hatinya? Pergi mengejar cita - citanya dan meninggalkan Alfa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum Siap Kembali
"Ma, lihat deh, game yang dipasang Papa Rayyan seru banget!"
Celetukan riang Sabrina memecah lamunan Zia di dalam kabin pesawat first class yang sedang melaju membelah awan menuju Jakarta. Bocah sembilan tahun itu tampak sangat fokus, jemari mungilnya bergerak lincah di atas layar tablet yang sengaja disiapkan Rayyan sebelum mereka berangkat.
Zia tersenyum tipis, mengusap lembut rambut putrinya.
"Iya, seru banget. Tapi jangan terlalu dekat melihat layarnya, Ina,"
Zia kembali menyandarkan punggungnya pada kursi pesawat, menatap kosong ke luar jendela kabin di mana hamparan awan putih membentang luas. Di dalam hatinya, Zia terus merapalkan doa, mencoba meyakinkan hatinya sendiri untuk menjadi jauh lebih kuat saat menginjakkan kaki kembali di Indonesia.
Dia tahu, kembali ke Jakarta berarti dia harus belajar dengan keras untuk benar-benar melupakan masa lalu, sebuah masa lalu yang begitu pahit, yang hingga detik ini masih sering lewat di pikirannya tanpa izin dan menyisakan rasa sesak di dada.
Sebenarnya, ada bagian dari diri Zia yang sangat menyayangkan keputusan Rayyan yang menyuruhnya kembali ke Indonesia.
"Andai saja kemarin aku lebih tegas pada Rayyan..." batin Zia bergegas gusar.
"Andai aku ngotot untuk tetap tinggal di Singapura dan menikah di sana saja, mungkin aku tidak harus setakut ini sekarang,"
Membayangkan kota Jakarta membuat benteng pertahanan yang dia bangun selama sembilan tahun terakhir di Singapura rasanya kembali goyah. Dia takut bayang-bayang Alfa Abraham kembali mengusik ketenangan hidupnya dan Sabrina.
"Mama... Mama kenapa?" Sabrina mendadak meletakkan tabletnya, menatap wajah Zia dengan mata bulatnya yang jernih penuh rasa ingin tahu.
"Kok Mama melamun terus dari tadi? Mama sakit?"
Zia tersentak kecil, lalu buru-buru mengubah raut wajahnya menjadi lebih ceria. Dia menggenggam tangan kecil Sabrina, menatap lekat mata putrinya.
"Nggak, Mama tidak apa-apa, Sayang. Mama cuma berpikir... Sabtuna, Mama mau tanya sesuatu boleh?"
"Tanya apa, Ma?"
"Sabrina... sayang tidak sama Papa?" tanya Zia, suaranya sedikit merendah, ingin meyakinkan diri tentang fondasi masa depan mereka.
Sabrina langsung mengangguk dengan sangat antusias tanpa keraguan sedikit pun di wajahnya.
"Sayang banget, Ma! Lebih dari apa pun!" Bocah itu langsung memeluk lengan Zia dengan manja.
"Ina bahkan sudah tidak sabar ingin melihat Mama dan Papa Rayyan cepat-cepat menikah di Jakarta nanti. Biar Papa Rayyan bisa jadi papa beneran untuk Ina setiap hari, tidak perlu bolak-balik Singapura lagi,"
Mendengar pengakuan tulus yang keluar dari mulut anaknya, keraguan di dalam dada Zia perlahan-lahan mulai terkikis. Sentuhan kata-kata Sabrina seolah menjadi penawar rasa takutnya.
Demi kebahagiaan putrinya yang menganggap Rayyan sebagai poros dunianya, Zia memantapkan hatinya. Dia harus siap menghadapi apa pun yang menantinya di Jakarta nanti, karena dia tahu, Rayyan tidak akan pernah membiarkannya berjuang sendirian lagi.
"Tante Amaraaa!!!"
Pekikan nyaring Sabrina seketika menggema di area pintu keluar kedatangan Bandara Soekarno-Hatta.
Bocah sembilan tahun itu langsung melepas genggaman tangannya dari Zia, bahkan membiarkan koper kecilnya tertinggal begitu saja di atas lantai bandara. Dengan langkah kaki yang teramat lincah, Sabrina berlari kencang menerobos kerumunan orang, menuju ke arah seorang wanita paruh baya yang berdiri anggun di dekat barisan pembatas.
Di belakang wanita itu, dua orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam pekat, pengawal pribadi utusan Rayyan berdiri waspada, siap mengamankan situasi.
"Ya ampun, keponakan Tante yang paling cantik!" Amara langsung merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dengan mata yang berkaca-kaca karena haru.
Hap!
Sabrina langsung melompat ke dalam pelukan Amara, melingkarkan kedua lengan kecilnya di leher Amara. Amara dengan penuh semangat mengangkat tubuh Sabrina dan menggendongnya, membiarkan kaki bocah itu bergelayut di pinggangnya sementara dia menghujani pipi Sabrina dengan kecupan bertubi-tubi.
Zia yang baru saja menyusul sambil menarik koper Sabrina hanya bisa meringis ngeri melihatnya.
"Aduh, Mbak... turunkan saja Sabrinanya. Ternyata Mbak masih kuat ya gendong Sabrina, padahal sekarang dia sudah banyak sekali makannya,"
Sabrina langsung cemberut di dalam gendongan, menatap ibunya dengan sebal.
"Mama ih, Ina tidak gendut ya!"
"Bukan gendut, Sayang, tapi gemoy," goda Zia sambil terkekeh pelan. Dia beralih menatap Amara dengan cemas.
"Kemarin saja waktu di Singapura, Papa sampai bilang kalau Sabrina ini sudah gemoy dan berat sekali. Papa bilang, pinggang Mama nanti bisa encok kalau nekat gendong Sabrina lama-lama,"
Amara justru tertawa lepas, sama sekali tidak memedulikan peringatan Zia. Dia justru semakin mempererat dekapannya pada tubuh Sabrina, mengusap punggung bocah itu dengan penuh kasih sayang.
"Biarkan saja Papa bicara apa, Tante sama sekali tidak merasa berat. Tante ini sudah rindu berat sama keponakan Tante yang paling menggemaskan ini. Rasanya seperti bertahun tahun nggak ketemu,"
"Padahal bulan kemarin baru aja ketemu," celetuk Sabrina.
Amara menatap wajah Sabrina dengan tatapan yang luar biasa gemas.
"Pokoknya, nanti malam sampai di rumah baru, Ina boboknya sama Tante Amara saja di kamar, ya? Biar Mama bobok sendiri di kamarnya, setuju?"
"Setuju banget, Tante! Nanti Tante harus dongengin Ina sebelum tidur, ya!" sahut Sabrina kompak, langsung menyandarkan kepalanya di bahu Amara dengan manja.
Amara perlahan menurunkan kaki Sabrina ke lantai setelah puas meluapkan rasa rindunya, namun tangannya tetap menggandeng jemari mungil bocah itu. Wanita setengah paruh baya itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Zia.
"Zia... selamat datang kembali di rumah, sayang," bisik Amara dengan suara yang mendadak serak karena menahan haru.
Tanpa berkata-kata lagi, Zia langsung melangkah maju dan menghambur ke dalam pelukan Amara. Kedua wanita itu berpelukan dengan sangat erat di tengah ramainya suasana bandara. Di dalam pelukan hangat Amara, seluruh sisa-sisa rasa takut dan kecemasan yang sempat membayangi pikiran Zia sepanjang perjalanan di atas pesawat seketika runtuh dan menguap tak berbekas.
Mobil mewah yang membawa mereka membelah jalanan ibu kota yang mulai padat sore itu. Di bangku tengah, Sabrina sudah menyandarkan kepalanya di pangkuan Amara, sementara Zia duduk di kursi depan di samping pengemudi. Dua pengawal utusan Rayyan duduk di baris paling belakang dan di kursi kemudi, memastikan perjalanan mereka tetap aman terkendali.
"Zia, Mbak benar-benar mau protes sama calon suamimu itu," ujar Amara dengan nada ketus yang dibuat-buat, memecah keheningan di dalam mobil.
"Si Rayyan itu keterlaluan ya. Kenapa dia harus membelikan rumah dan butik untukmu di kawasan elit Menteng? Itu kan jauh sekali dari butik milik Mbak di Jakarta Selatan!"
Zia menoleh ke belakang, menahan senyum tipisnya.
"Memangnya kenapa, Mbak? Kemarin Rayyan bilang, kawasan itu yang paling strategis untuk mangsa pasar baruku,
"Ya tetap saja jauh! Mbak kan jadi susah kalau mendadak kangen sama Sabrina dan ingin langsung bertemu," keluh Amara lagi, tangannya mengusap-usap rambut Sabrina yang mulai memejamkan mata.
"Kemarin waktu Mbak telepon dan protes hal yang sama, tahu tidak apa jawaban si Rayyan itu? Dia dengan santainya bilang, Zia harus punya butik di kawasan elite agar ramai, Tante. Apalagi pakaian yang dijual Zia itu koleksi eksklusif untuk kalangan menengah ke atas. Coba kamu dengar itu!"
Zia terkekeh pelan mendengar tiruan suara Rayyan yang diucapkan oleh Amara.
"Lalu, Ibu balas apa?"
"Mbak langsung semprot dia! Apa kamu pikir butik Mbak itu butik murahan, hah? Sampai-sampai butikmu harus dipisahkan jauh-jauh begitu?" Amara mendengus, namun sedetik kemudian wajahnya kembali melunak menjadi senyuman jenaka.
"Tapi ya sudahlah, untung Mbak pintar. Mbak bilang saja pada Rayyan, kalau jalannya jauh dan macet, Mbak bakal sering-sering menginap di rumah barumu nanti. Mbak tidak peduli kalau Rayyan nanti berkunjung dan merasa terganggu karena ada Mbak di sana,"
"Tentu saja tidak terganggu, Mbak. Justru aku senang sekali kalau Mbak sering menginap," sahut Zia tulus.
"Lagipula, Rayyan memang sengaja memilih rumah yang ukurannya sangat besar untuk kami,"
Amara mengangguk-angguk setuju.
"Iya, Rayyan sudah mengirimkan foto-foto rumahnya ke Ibu minggu lalu. Memang besar sekali. Di bagian depannya ada bangunan toko dua lantai yang luas untuk butikmu, kan?"
"Benar, Mbak. Kemarin Rayyan bilang, besok kalau tidak lusa, kontainer yang membawa barang-barang, mesin jahit, dan seluruh koleksi baju hasil rancanganku dari Singapura sudah akan sampai di Jakarta. Jadi, begitu semua barang ditata, butik sudah bisa langsung mulai dibuka," jelas Zia dengan binar mata penuh semangat.
Memulai kembali kariernya di tanah air dengan fasilitas sehebat ini adalah impian yang menjadi kenyataan.
"Mbak yakin toko barumu nanti pasti akan langsung ramai luar biasa, Zia," puji Amara dengan nada bangga yang meledak-ledak.
"Secara kamu itu kan desainer internasional yang fotonya masuk majalah mode di mana-mana. Nanti orang-orang yang datang ke butikmu pasti bukan cuma mau beli baju, tapi sekalian mau minta tanda tangan dan foto bersama desainer cantiknya!"
"Ah, Mbak bisa saja. Aku kan masih harus banyak belajar lagi di pasar Indonesia," jawab Zia merendah, wajahnya merona tipis karena pujian Amara.
Di tengah obrolan seru kedua wanita itu, Sabrina yang semula dikira sudah tertidur pulas mendadak membuka matanya. Bocah sembilan tahun itu mengubah posisinya menjadi duduk tegak di samping Amara, melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah yang mendadak serius.
"Kalau Ina sudah besar nanti, Ina tidak mau jadi desainer kayak Mama," celetuk Sabrina tiba-tiba, membuat Zia dan Amara seketika menoleh terkejut.
"Lho, kenapa? Padahal kemarin Sabrina bilang suka melihat sketsa-sketsa baju Mama,"
"Ina tidak mau karena Mama sibuk terus," sahut Sabrina jujur, bibirnya sedikit dikerucutkan.
"Waktu di Singapura, Mama sering pulang malam kalau sedang ada pameran baju. Kadang sampai lupa makan karena sibuk menggambar pola. Ina tidak suka melihat Mama capek,"
Zia tertegun mendengar penuturan polos dari putrinya. Rasa bersalah sempat menyergap hatinya, menyadari bahwa perjuangannya membangun karier di luar negeri memang kadang menyita waktunya bersama Sabrina.
"Lalu, keponakan Tante yang paling pintar ini kalau besar nanti mau jadi apa, hmm?" tanya Amara lembut, merangkul pundak Sabrina dan mengecup pipinya untuk mencairkan suasana.
Sabrina langsung mendongak, menatap Amara dan Zia bergantian dengan binar mata yang dipenuhi tekad yang bulat.
"Ina ingin jadi dokter saja, Tante!"
"Biar nanti kalau Mama lagi capek bekerja atau sedang sakit, ada Ina yang langsung mengobati Mama di rumah," jawab Sabrina dengan suara lantang yang dipenuhi rasa sayang yang tulus.
"Ina tidak mau lihat Mama sakit lagi seperti waktu itu. Ina mau jadi dokter yang hebat supaya bisa menjaga Mama dan Papa terus,"
Zia mengulurkan tangannya ke belakang, menggenggam erat tangan kecil Sabrina dan mengecupnya berkali-kali.
"Terima kasih ya, Anak pintar... Mama sayang sekali sama Sabrina," bisik Zia dengan suara yang serak menahan tangis bahagia.