"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"
[DARK ROMANCE]
[OBSESI]
[CEO]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDB 5
Malam itu..
Layla baru pulang dari kerja lembur di toko. Ia mendapati seorang pemuda sedang diserang oleh pria bertopeng di gang yang gelap.
Pemuda itu terhuyung beberapa langkah.
Darah mengalir deras dari perutnya.
Pria bertopeng itu kembali mengangkat pisaunya.
"Mati kau!" ucap pria bertopeng itu.
Tepat ketika pisau itu hendak ditusukkan lagi, suara wanita terdengar nyaring.
"Berhenti!" ucap Layla.
Layla berlari sambil mengangkat ponselnya.
Dengan tegas ia berkata,
"Polisi sudah dalam perjalanan!"
Pelaku menoleh panik, lalu segera kabur memasuki gang sempit.
Layla buru-buru menolong pemuda itu dengen tindakan pertolongan pertama sambil memanggil ambulance.
Teryata pemuda itu adalah Zhao Lee.
Tangan Layla berlumuran darah, nafas Zhao Lee yang mulai melemah dan akhirnya Zhao Lee tak sadarkan diri di tempat.
''La-Layla...'' ucap Zhao Lee lirih.
Itu kalimat terakhir yang di ucapkan Zhao Lee sebelum pingsan.
Layla memangil keras nama Zhao Lee dengan mimik wajah cemas dan ketakutan.
Beruntung Zhao Lee selamat dari kejadian itu, perlu tindakan operasi untuk menutup lukanya. Sekarang ia sedang di rawat intensif di IGD rumah sakit.
Layla menemani Zhao Lee dan mengurusnya dengan telaten. Ia melakukannya karena merasa iba pada Zhao Lee, ternyata dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain paman angkatnya itu, namun sang paman masih berada di luar negri karena tugas penting.
Orang-orang yang di cintai Zhao Lee telah tiada, belum lagi persaingan bisnis yang ketat antar keluarga yang membuat situasi Zhao Lee semakin runyam. Itulah yang ia tangkap dari cerita Pamannya.
Mengetahui situasi sulit Zhao Lee, Layla berfikir sejenak,
"Aku masih tetap masuk kerja di pabrik. Tapi untuk toko bunga, aku izin beberapa hari. Tidak ada pilihan lain. Kasian ia sendirian di sana," kata Layla.
Kemudian dia memutuskan untuk cuti sementara dari pekerjaan part timenya, ia menelfon bosnya untuk memberitau.
Layla merogoh tasnya dan mengambil ponsel.
"Hallo bos, aku tidak bisa datang ke toko untuk beberapa hari. Temanku sedang berada di rumah sakit, ia tidak punya siapa-siapa untuk menjaganya dan walinya sedang tidak ada di tempat. Jadi aku putuskan untuk menjaganya sementara waktu sampai walinya datang," Layla
Riri menjawab di seberang telepon.
"Baiklah aku mengerti,"
Telepon terputus...
Yang Layla tidak ketahui, Zhao Lee sebenarnya sudah sadar setelah operasi. Namun, ia memilih berpura-pura belum siuman agar Layla tetap berada di sisinya.
Untuk pertama kalinya ada seseorang yang menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Bukan karena uang. Bukan karena jabatan.
Hanya karena rasa kemanusiaan.
Selama hidupnya, Zhao Lee terbiasa melihat orang mendekatinya karena nama, kekuasaan, atau hartanya.
Layla adalah orang pertama yang menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya.
Tiga hari berikutnya saat Layla baru pulang kerja dari pabrik, ia bingung karena Zhao Lee tidak ada di ruangannya.
Ia tidak tau kalau Zhao Lee sudah pindah ke bangsal VIP.
Kemudian Layla bertanya ke perawat yang ada di sana.
Layla panik..
"Maaf sus pasien yang bernama Zhao Lee dimana ya?" tanya Layla.
Sang perawat pun mencari datanya di komputer lalu menjawab.
"Pasien sudah pindah ke bangsal VIP untuk pemulihan dan yang memindahkan adalah walinya, Pak Chen" ucap perawat itu.
Layla menghela nafas lega.
Ia meninggalkan Rumah sakit dengan tenang.
Sedangkan di bangsal VIP, Zhao Lee sedang berharap-harap cemas kedatangan Layla.
Ia sampai menanyakan wanita itu kepada pamannya.
"Paman Chen, apa wanita itu sudah datang? Biasanya jam segini dia sudah datang menjengukku. Apa karena dia tidak tau aku sudah pindah?" tanya Zhao Lee bertubi-tubi.
Ia penasaran dimana wanita itu sekarang.
Paman Chen menjawab tenang,
"Saya rasa sekarang dia sudah tau Tuan, perawat pasti sudah memberitahukannya," jawab
Zhao Lee merasa kesal karena kepindahannya yang tiba-tiba, raut wajahnya cemberut seperti anak kecil.
Dengan wajah itu ia protes kepada pamannya.
"Ini semua gara-gara paman, kenapa buru-buru pindah sih?"
Paman Chen menghela nafas panjang, lalu ia menjawab pertanyaan itu dengan tenang.
"Tuan, tolong jangan kekanak-kanakan, anda harus segera pulih agar bisa memimpin perusahaan lagi. Saya punya kabar bagus, perusahaan keluarga Berenice mau melakukan kerjasama dengan perusahaan kita, namun dengan syarat anda harus menikah dengan putri satu-satunya penerus keluarga itu. Bagaimana?" ucap Paman Chen.
Mendengar syarat itu, Zhao Lee merasa kesal kepada musuhnya, ia curiga perusahaan miliknya ingin di akuisisi sepihak dengan dalih pernikahan politik.
Zhao Lee mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.
"Sial! Mereka memang tidak pernah berubah!" ucap Zhao Lee.
Lalu melanjutkan perkataannya kembali dengan di selimuti rasa marah,
"Dulu mereka memaksa kakek menyerahkan perusahaan yang dibangunnya dari nol. Kakek menolak, begitu juga orang tuaku. Tapi orang itu terlalu serakah, sehingga keluarga kami kalah. Karena itu kami membangun kembali perusahaan baru sendiri." ucap Zhao Lee.
"Tuan...," ucap Paman Chen.
Paman Chen khawatir jika Zhao Lee bertindak gegabah.
Zhao Lee tertawa getir lalu mengatakan,
''Begitu perusahaan orang tuaku mulai berkembang... mereka mati dalam kecelakaan yang disebut polisi sebagai kecelakaan tunggal."
Tatapan Zhao Lee berubah dingin.
"Aku tidak pernah percaya itu kecelakaan,'' tambah Zhao Lee.
Tangan Zhao Lee masih mengepal erat.
Dengan semangat yang menggebu-gebu dan perasaan dendam yang mendalam, Zhao Lee mengucapkan sumpah yang tak pernah akan di ingkarinya,
"Mereka sudah mengambil terlalu banyak dariku. Kali ini giliranku yang akan mengambil semuanya dari mereka."
Senyum licik tergores di wajahnya yang tampan.
Zhao Lee menutup matanya sebentar lalu berkata,
"Tapi masih ada satu hal yang harus ku lindungi terlebih dahulu,"
ia tersenyum saat mengingat wanita itu.
Paman Chen mengerti apa yang di maksud Tuannya.
"Ya Tuan, saya akan membantu anda apapun itu. Keluarga anda sangat berarti bagi saya," kata Paman Chen.
Zhao Lee menatap wajah pamannya.
Ia tersenyum.
"Terimakasih paman" kata Zhao Lee.
Paman Chen tersenyum mendengar ucapan terimakasih yang keluar dari mulut Zhao Lee.
Anak yang dulu ia asuh dari umur 5 tahun sekarang sudah dewasa dan menjadi pemimpin perusahaan keluarga yang menggurita.
"Bisakah paman membantuku untuk mencari informasi tentang wanita itu? Namanya Layla Nurmala. Dia yang menolong ku," pinta Zhao Lee.
"Saya mengerti. "Saya akan meminta tim keamanan mencari identitas wanita itu," ucap paman Chen.
Ini pertama kalinya Zhao Lee tertarik dengan wanita.
Biasanya ia hanya akan mengirim paman Chen untuk bertemu orang-orang yang ingin menemuinya, tanpa peduli siapapun itu.
Bayangan Layla masih begitu membekas di hadapannya.
Senyumnya, sentuhan lembutnya, matanya semuanya yang melekat pada diri Layla masih terbayang-bayang jelas di hadapannya.
Senyum manis merekah di wajah Zhao Lee saat mengingat Layla, walaupun belum banyak moment yang di lalui bersama, tapi setiap waktu bersama Layla itu berharga baginya.
Tak sengaja Zhao Lee melihat keluar jendela dan melihat Layla berjalan melewati taman rumah sakit. Entah mengapa dadanya terasa sesak saat tau wanita itu tak akan menemuinya lagi.
Zhao Lee terlalu terpaku melihat Layla pergi menjauh dari area rumah sakit hingga tak terlihat lagi sosok itu.
"Ahhh aku jadi penasaran apa dia pulang dengan selamat ya,'' gumam Zhao Lee.
Beberapa hari kemudian paman Chen kembali menemui Tuannya.
"Saya sudah mencari dokumen yang di butuhkan. Semua ada di map coklat ini" ucap paman Chen
Paman Chen menyodorkan map itu di depan Zhao Lee.
Zhao Lee menerima map itu lalu membukanya.
Matanya terbelalak melihat isi laporan yang begitu lengkap.
Di dalam map itu terdapat riwayat hidup Layla secara lengkap. Masa kecilnya, pernikahannya dengan Hendi, kecelakaan yang merenggut suami dan calon bayinya, hingga alasan ia merantau ke Singapura. Zhao Lee membaca setiap lembar tanpa melewatkan satu kata pun.
Zhao Lee tersenyum tipis.
"Paman memang selalu bisa di andalkan," ucap Zhao Lee.
Paman Chen tersenyum mendengar pujian itu.
Lalu ia bertanya penasaran...
"Baiklah aku mengerti, bagaimana dengan Sechpia?"
Zhao Lee sedikit mengangkat ujung bibirnya.
"Tentu saja aku tidak tertarik dengan wanita itu, ia hanya target balas dendam ku. Aku sudah tau semua tentang seluk beluk wanita sampah itu," ucap Zhao Lee serius.
Paman Chen menghela nafas.
Lalu...
"Ini pertama kalinya anda tertarik dengan wanita, apa semenarik itu wanita yang bernama Layla ini?" tanya paman Chen.
Dengan raut wajah yang dingin Zhao Lee mengintimidasi paman Chen.
"Paman jangan coba-coba untuk mencari labih dari yang aku perintahkan," ucap Zhao Lee.
Zhao Lee merasa cemburu karena mengira Paman Chen juga tertarik kepada Layla.
"Ternyata Tuan Zhao Lee adalah tipe pencemburu berat," gumam Paman Chen.
Keringat dingin mengucur di dahinya. Ia tidak berani melanjutkan pertanyaan lebih dalam lagi.
Zhao Lee melihat ke arah luar jendela. Ia menatap langit sore.
Ia tersenyum tipis.
Zhao Lee berkata dalam hatinya...
"Kali ini aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi, Layla."
Zhao Lee meremas laporan itu hingga kusut.
Bukan karena kesal, melainkan rasa ingin memiliki yang begitu besar.
...****************...
Ini novel pertama ku semoga kalian enjoy bacanya ya temen-temen.
Terimakasih yang udah dukung aku
semoga hidup kalian lancar jaya..❤️
Jangan lupa like, komen, share, gift juga boleh, kasih bintang juga boleh...☺️
bener² keinginan author yang dicurahkan ke tulisan loh gaa🤭🤭