Rumah tangga Xena dan Reyhan terlihat sempurna, penuh cinta dan kesetiaan. Apalagi dari dulu hingga sekarang, Reyhan selalu memperlakukan Xena dengan baik. Malah cenderung meratukan istrinya tersebut.
Tapi semuanya hancur ketika terdengar kabar bahwa Reyhan diam-diam menikahi wanita lain demi mendapatkan keturunan karena Xena tak kunjung hamil. Lebih menyakitkan lagi, wanita itu adalah tetangga mereka sendiri yang selama ini terlihat baik di depan Xena.
Dikhianati setelah semua pengorbanannya, Xena memilih pergi. Tapi sebelum itu, ia membongkar identitas dan rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dari suaminya. Saat kebenaran terungkap, Reyhan baru sadar bahwa wanita yang ia sia-siakan ternyata bukan wanita biasa, dan penyesalannya datang ketika semuanya telah terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Terasa Perbedaan
Tanpa Xena di rumah terasa sangat berbeda bagi Reyhan. Bedanya kali ini ia tidak perlu repot-repot merapikan tempat tidur atau membuat kopi sendiri. Nadine dengan senyum manis yang dipaksakan menutupi rasa lelahnya, sudah berdiri di samping tempat tidur sambil membawakan kemeja kerja Reyhan yang sudah disetrika rapi.
"Mas, ini bajunya sudah siap. Sarapan juga sudah aku tata di meja makan. Nanti malam mau makan apa? Biar aku siapkan," ujar Nadine lembut.
Reyhan tersenyum tipis, merasa terhibur. Tuh kan, Nadine sebenarnya penurut dan bisa melayaniku dengan baik, batinnya egois. Dari urusan pakaian, sarapan, hingga urusan ranjang semalam, Nadine memang melayaninya tanpa cela.
Namun kenyamanan itu mengikis rasa puas Reyhan saat ia melangkah ke ruang tengah dan dapur. Matanya yang terbiasa melihat rumah dalam keadaan berkilau dan rapi seketika mengernyit. Tumpukan barang berserakan. Di dapur, ada sisa blenderan bubur bayi yang belum dicuci, dan lantai terasa agak lengket.
"Nadine, ini rumah kok agak berantakan? Biasanya jam segini sudah bersih semua," tegur Reyhan sambil mengancingkan kemejanya.
"Aduh Mas, maaf ya. Urus bayi itu repot sekali, waktu aku habis buat mandiin Aksara dan nyiapin keperluan Mas Reyhan. Makanya untuk urusan bebersih rumah, tadi aku sudah panggil jasa cleaning service panggilan lewat aplikasi. Bentar lagi orangnya datang kok. Kalau gak pakai jasa begitu, ya terpaksa aku biarkan berantakan dulu, Mas pasti maklum kan?"
Reyhan manggut-manggut, meski dalam hati merasa heran. Dulu Xena mengurus rumah sebesar ini sendirian, bahkan sembari menjaga Aksara dalam beberapa hari, tapi hunian mereka selalu rapi tanpa ada satu pun debu yang lolos.
Keheranan Reyhan mencapai puncaknya saat ia hendak berangkat kerja. Nadine menahannya di pintu depan sambil menyodorkan ponselnya yang menampilkan sebuah rincian catatan digital.
"Mas, ini aku mau minta uang lebih untuk minggu ini."
Reyhan mengernyitkan dahi. "Uang lebih? Kan uang bulanan yang kemarin baru saja aku kasih, Ndin?"
"Yah, uang yang kemarin mana cukup, Mas. Ini dijabarkan ya: baju-baju kerja Mas dan sprei kasur terpaksa aku masukin ke laundry premium biar cepat dan gak capek. Belum lagi bayar jasa bersih-bersih rumah harian yang aku bilang tadi, terus biaya popok dan susu formula Aksara. Pengeluaran kita membengkak, Mas," keluh Nadine.
Reyhan membaca rincian itu, kepalanya langsung berputar memori saat bersama Xena. Selama bertahun-tahun menikah, Xena tidak pernah sekali pun menyodorkan rincian biaya tambahan seperti ini. Rumah selalu bersih, baju selalu wangi, dan makanan selalu siap tanpa Reyhan tahu dari mana semua dana itu berasal. Yang ia tahu, uang bulanan dari dia selalu dirasa cukup.
"Coba kamu hemat-hemat seperti Xena, Ndin. Dia bisa bikin rumah selalu bersih dan rapi tapi tidak pernah ada biaya lebih yang keluar seperti ini. Pakai saja uang bulanan yang sudah ku kasih kemarin," ujar Reyhan agak jengkel.
"Gak bisa, Mas. Uangnya gak cukup kalau cuma pakai uang itu. Harus ada tambahan pokoknya," sahut Nadine mulai merongrong.
"Lho, kamu biasanya tak minta uang tambahan itu kemarin-kemarin bagaimana? Kenapa sekarang pas tinggal di sini jadi beda?" tanya Reyhan bingung.
"Ya beda, Mas. Waktu aku tinggal sendirian di rumah Kelapa Muda, uang dari Mas Reyhan memang cukup banget. Pas ada Aksara juga awalnya kerasa cukup karena baru beberapa hari. Tapi pas kita sudah tinggal bersama di rumah ini, ditambah harus mengurus keperluan Mas Reyhan juga, uang bulanan dari Mas itu langsung amblas gak bersisa. Coba deh, Mas, uang yang tadinya dialihkan buat Mbak Xena, sekarang dikasih ke aku semua."
Reyhan memijit pelipisnya yang mendadak pening. "Bulan ini gak bisa, Ndin. Aku belum gajian. Baru bisa nanti pas gajian datang."
Nadine akhirnya mengangguk terpaksa. "Ya sudah, pas gajian awas ya kalau gak ditambah."
Ternyata, guncangan finansial itu tidak hanya dialami oleh Reyhan di rumahnya. Di tempat lain, Bu Mirna pun sedang mengalami kepanikan yang luar biasa.
Bu Mirna pergi ke RS untuk berobat dan menebus obat-obatan rutinnya. Namun saat berada di depan kasir, petugas administrasi menggelengkan kepala setelah menggesek kartu asuransi kesehatan milik Bu Mirna.
"Maaf, Ibu Mirna, kartu asuransinya tidak bisa diklaim. Statusnya sudah tidak aktif atau diblokir oleh pihak pemegang polis utamanya," ujar petugas kasir.
Wajah Bu Mirna seketika memucat. "Lho, kok bisa gitu? Mbak salah lihat kali! Coba dicek lagi, biasanya gratis kok tinggal gesek!"
"Tetap tidak bisa, Bu. Total biayanya satu juta dua ratus ribu rupiah. Mau dibayar tunai atau debit?"
Bu Mirna panik setengah mati. Di dompetnya hanya ada uang seratus ribu rupiah. Dengan tangan gemetaran, ia segera menjauh dari antrean dan menekan nomor telepon anak kesayangannya, Reyhan.
"Halo, Rey! Ini kenapa asuransi Ibu jadi gak aktif?! Ibu gak bisa bayar biaya berobat nih. Kamu kirimi uang sekarang ya, Ibu lagi di depan kasir malu dilihatin orang."
Di seberang telepon, Reyhan terkejut. "Kok bisa gitu, Bu? Kemarin-kemarin Ibu bayar bagaimana? Kenapa bisa gak aktif?"
"Lha, kamu ini gimana sih, Rey?! Ibu nanya ke kamu, malah kamu balik nanya ke Ibu! Kamu gak bayarin angsurannya ya setiap bulan? Apa sebenarnya kamu sudah kasih budget uangnya, tapi uang itu dibawa kabur sama si Xena?! Memang kurang ajar perempuan itu! Pergi saja masih bikin susah orang tua. Segala bawa kabur uang kamu yang buat Ibu berobat!" sembur Bu Mirna penuh prasangka buruk.
Reyhan mengernyit heran di meja kerjanya. "Bu, aku bahkan gak pernah mem-budget-kan uang untuk itu. Aku makanya nanya, itu angsuran bagaimana prosesnya setiap bulan buat biaya asuransi kesehatan Ibu?"
Seketika hening melanda sambungan telepon itu. Keduanya sama-sama bingung. Selama ini Bu Mirna mengira anak laki-laki kebanggaannya itulah yang diam-diam membayar biaya kesehatannya sebagai wujud bakti anak. Sementara Reyhan sama sekali tidak tahu-menahu soal polis asuransi tersebut, karena selama ini seluruh pengelolaan uang bulanan diatur oleh Xena.
Uang bulanan dari Reyhan yang sudah diam-diam ia bagi dua untuk Nadine pun dirasanya cukup-cukup saja karena Xena tak pernah mengeluh. Reyhan baru menyadari satu hal, ternyata Xena-lah yang selama ini membayar seluruh biaya asuransi ibunya menggunakan uang pribadinya sendiri, dan kini setelah Xena menggugat cerai, wanita itu mencabut semua fasilitas tersebut.
Bu Mirna yang sudah kepalang pusing dan malu di depan kasir memotong pemikiran Reyhan dengan tergesa-gesa. "Sudah, sudah! Gak usah dibahas sekarang! Ibu pusing! Kirimi saja uangnya sekarang, Rey, gak pakai lama!"
Reyhan menghela napas berat, dompetnya sendiri sudah menipis seusai acara Aksara. "Minta kirimin sama Bapak saja dulu, Bu. Nanti pas gajian aku ganti uang Bapak."
"Hadah! Makin pusing saja." keluh Bu Mirna frustrasi.
Mau tidak mau Bu Mirna menutup telepon dan menghubungi suaminya yang sebenarnya pengangguran dan tidak punya penghasilan tetap. Benar saja, saat dimintai bantuan biaya, suaminya justru bertanya, "Duit dari mana? Kamu tahu sendiri aku gak kerja, malah minta uang ke aku."
Makin kesal saja, dan Bu Mirna hampir saja membanting ponselnya ke lantai. Detik kemudian ia teringat pada Tante Rika, adik kandungnya sendiri. Bu Mirna menelepon Rika untuk meminta bantuan.
"Iya, aku transfer sekarang uangnya. Tapi ingat ya, ini hitungannya pinjam, bukan cuma-cuma. Nanti kalau Reyhan sudah gajian, pokoknya harus diganti plus dengan bunganya."
Akhirnya dengan berutang pada adiknya sendiri yang mana si adik sering dibantu keuangannya oleh Reyhan, Bu Mirna baru bisa menebus obatnya hari itu dengan perasaan dongkol yang luar biasa.
Sementara itu, kondisi Reyhan di kantornya jauh lebih mengenaskan. Kepalanya serasa mau pecah memikirkan rincian biaya dari Nadine dan fakta mengenai asuransi ibunya yang ternyata ditanggung oleh Xena.
Di tengah lamunannya yang carut-marut, sebuah notifikasi email masuk ke ponselnya. Jantung Reyhan berdegup kencang saat melihat nama laboratorium medis tempat ia melakukan tes DNA rahasia beberapa hari lalu.
Hasilnya sudah keluar, gumam Reyhan. Ia membuka dokumen tersebut. Matanya dengan cepat menyapu deretan istilah medis yang rumit hingga pandangannya terpaku pada baris kesimpulan di bagian paling bawah.
Berdasarkan analisis lokus DNA di atas, Probabilitas Kebapakan (Probability of Paternity) antara REYHAN dan AKSARA adalah 0%. Dengan demikian, Reyhan Pratama BUKAN merupakan ayah biologis dari anak yang bernama Aksara Pratama.
Deg.
Dunia Reyhan runtuh seketika. Kepalanya berputar dan pandangannya mengabur. Ia hampir saja pingsan di kursi kerjanya jika tidak berpegangan pada tepi meja. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya.
Hasil tes DNA itu mutlak. Aksara bukanlah anak kandungnya.
Kata-kata Xena tempo hari bergema di dalam kepalanya bahwa dirinya yang mandul, bukan Xena. Dan itu berarti, Nadine telah membohonginya sejak awal. Nadine menjebaknya dengan kehamilan palsu hasil hubungan dengan pria lain, memanfaatkan kebodohannya untuk menghancurkan rumah tangganya yang sempurna bersama Xena.
Nasi telah menjadi bubur, dan bubur itu kini telah membusuk. Reyhan telah kehilangan Xena, kehilangan rumah hadiah anniversary, dan kini ia mendapati dirinya harus menanggung beban hidup seorang wanita penipu beserta anak dari pria lain.
Rasa sedih berubah menjadi marah yang membakar seluruh dadanya. Rasa dikhianati dan ditipu ini membuat darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun. Tangannya terkepal begitu kuat. Gigi-giginya bergemeletuk menahan murka yang tak lagi bisa dibendung.
NADINE!!!!
Bersambung.